Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 25


__ADS_3

Sampai akhirnya pelayan restoran mulai menyajikan makanan pesanan di atas meja mereka, Louis masih terlihat seperti orang kebingungan.


Matanya bergerak liar, dan hanya sesekali saja Louis melihat ke arah Olivia.


Tampak jelas kalau ada yang ingin dikatakan oleh Louis kepada Olivia, namun Louis seolah-olah tidak tahu harus memulainya dari mana.


Walaupun demikian, Olivia hanya bertingkah biasa dan masa bodoh di depan Louis, seakan-akan dia tidak menyadari kalau Louis tampak sedang gelisah saat itu.


Setelah menelan sesendok makanan yang sudah halus digiling gigi-giginya, barulah Olivia akhirnya menegur Louis.


"Ada apa? Kenapa kamu belum makan?" tanya Olivia. "Hari ini pekerjaan memang tidak terlalu padat. Tapi, tetap saja kita tidak mungkin terlambat kembali ke kantor, kan?!"


Louis lalu mulai memakan makan siangnya, sambil tetap memandangi Olivia.


"Olivia! Jadi maksudmu, kamu tertarik kepada Sir Andersen?" tanya Louis.


"Ugh ...? Kamu masih memikirkan hal itu?" Olivia malah balik bertanya.


Louis menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Aku hanya sedikit penasaran. Daripada tidak ada yang kita bicarakan."


"Hmm ... Bagaimana, ya?! Kalau merasa tertarik, ya sudah tentu. Apalagi, Sir Andersen ternyata adalah orang yang menyenangkan," ujar Olivia jujur.


Olivia kemudian kembali berkata,


"Jika saja Sir Andersen sampai mengajakku berkencan, tentu aku akan menerimanya. Bagaimana—"


Olivia masih berbicara, namun di saat itu juga Louis tampak tersedak, hingga dia terbatuk-batuk. "Uhhuuk! ... Uhhuuk!"


" ... menurutmu? Tidak mungkin kan, kalau Sir Andersen adalah laki-laki hidung belang?" lanjut Olivia.


Louis terlihat mengelap wajahnya, dengan beberapa lembar tissue.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu merasa kalau perkataanku yang berandai-andai, bahwa Sir Andersen mungkin mengajakku berkencan itu, terlalu mustahil?" tanya Olivia.


"Bukan begitu ...!" sahut Louis pelan.


"Lalu apa? Kamu bahkan sampai tersedak, seolah-olah perkataanku itu terlalu mengejutkan, atau mengherankan," ujar Olivia.


"Olivia ...! Jangan salah paham ...! Aku memang terkejut dengan pernyataanmu, tapi bukan berarti aku meremehkanmu," sahut Louis.


"Kamu itu wanita yang cantik dan pintar di mataku. Dan aku rasa, semua orang yang mengenalmu, pasti juga akan berpikir demikian," lanjut Louis.


Olivia lalu teringat akan perkataan Hansen dan Jericho, bahwa kemungkinan besar, Louis sebenarnya menyukai Olivia.


Demi memuaskan rasa penasaran, sekalian membuktikan kebenaran dugaan Hansen dan Jericho, Olivia terpikir untuk mencoba menekan Louis lebih jauh.


"Kalau begitu, menurutmu apa aku bisa mencoba, agar bisa lebih dekat dengan Sir Andersen?" tanya Olivia.


Louis tampak tersentak.


"Berhubung aku sudah lama tidak pernah berkencan, tentu akan lebih baik kalau aku mulai berkencan lagi. Apalagi, kalau bisa berkencan dengan laki-laki seperti Sir Andersen," lanjut Olivia.

__ADS_1


"Olivia! Apa kamu serius?" Kali ini, Louis terlihat kesal.


"Tentu saja!" ujar Olivia semakin bersemangat untuk menggoda Louis.


Wajah Louis tampak merah padam, seolah-olah dia semakin kesal setelah mendengar jawaban Olivia.


"Apa kamu pikir berkencan itu, hanya untuk bermain-main saja?" tanya Louis, dengan nada suaranya yang meninggi.


"Siapa yang bilang aku hanya mau bermain-main? Usiaku sudah bukan remaja lagi," sahut Olivia, ringan tanpa beban.


Louis tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. "Aku pergi ke toilet sebentar!"


Tanpa sempat Olivia berkata apa-apa, Louis segera pergi dari meja tempat Olivia duduk.


"Huuffft ...!" Olivia mendengus kasar.


Gelagat Louis memang tampak seolah-olah dia menyukai Olivia, dan tidak ingin jika Olivia sampai berkencan dengan orang lain.


Tapi Olivia tetap tidak bisa merasa yakin akan hal itu.


Sepanjang pengalaman Olivia yang pernah berkencan sewaktu dia masih berkuliah, laki-laki yang tertarik kepadanya, pasti akan mengutarakan rasa sukanya kepada Olivia lebih dulu.


Olivia tidak pernah bertemu laki-laki yang tertarik kepadanya, lalu bertingkah seperti Louis.


Menurut Olivia, tingkah Louis itu, justru lebih mirip seperti kakak laki-laki yang posesif, yang tidak ingin adik perempuannya memiliki pacar.


Seolah-olah Olivia adalah adik perempuan Louis, yang bisa membuat Louis merasa iri dan cemburu, jika Olivia sampai menyayangi orang lain, dan melebihi dari rasa sayang Olivia kepadanya.


***


Louis hanya memakan makanan penutupnya sedikit, dan sama sekali tidak menyentuh hidangan utamanya lagi.


Louis juga tidak mau bicara apa-apa kepada Olivia, dan benar-benar hanya terdiam.


Hingga akhirnya mereka kembali ke kantor, dengan menggunakan mobil Louis, karena jam makan siang yang sudah berakhir, Louis tetap mengunci mulutnya rapat-rapat.


Olivia juga tidak mau membuka percakapan lebih dulu, karena menurutnya, jika Louis mau bertingkah seperti anak kecil, maka Olivia tidak perlu meladeninya.


Dan Olivia cukup membiarkannya sampai Louis merasa puas, dan kembali menjadi dirinya sendiri lagi.


***


Setibanya di kantor, sebelum memasuki lift, Olivia dan Louis berpapasan dengan Jericho di lobi.


Olivia menghentikan langkahnya, ketika dia melihat Jericho yang seolah-olah sedang menghadangnya.


Begitu juga Louis yang ikut berhenti berjalan, dan berdiri terdiam di dekat Olivia dan Jericho.


"Hai, Sir!" sapa Olivia.


Jericho tampak melihat ke arah Olivia dan Louis, bergantian.

__ADS_1


Sambil menatap Olivia, Jericho lalu berkata, "Kamu sudah makan siang?"


"Iya, Sir! Kami baru saja kembali dari makan siang di luar," jawab Olivia.


"Padahal rencananya tadi, aku mau mengajakmu makan siang bersamaku. Tapi, pekerjaanku baru selesai, dan aku tidak mau membuatmu menungguku terlalu lama," ujar Jericho.


Jericho tampak santai berbicara dengan Olivia, dan seolah-olah dia tidak menganggap keberadaan Louis di situ.


"Hmm ... Kalau begitu, silahkan pergi makan siang, Sir ... Saya tidak akan menahan anda lebih lama," kata Olivia, lalu bergeser sedikit ke samping, untuk memberi jalan bagi Jericho.


Jericho tidak segera berjalan, melainkan sempat menatap Olivia lekat-lekat untuk beberapa sesaat, lalu sekilas melihat ke arah Louis, kemudian kembali melihat Olivia lagi.


"Aku pergi dulu! Bye, Olivia! ... Louis!" ujar Jericho.


"Iya, Sir!" sahut Louis.


"Iya, Sir! ... Hati-hati di jalan!" sahut Olivia.


Jericho kemudian berjalan lebih dulu, barulah Olivia melanjutkan langkahnya menuju ke lift, dan Louis juga mengikuti Olivia.


Tidak berapa lama setelah Olivia dan Louis berada di dalam lift yang bergerak naik, ponsel Olivia lalu berbunyi.


"Ding!"


'Kamu terlihat cantik hari ini. Jadi janganlah kamu cemberut. Fighting!'


Pesan dari Jericho yang juga di sematkan emotikon senyum, membuat Olivia juga jadi ikut tersenyum saat membacanya.


Olivia lalu segera membalas pesan dari Jericho itu.


'Terima kasih, Sir.'


"Apa ada yang menarik?" tanya Louis tiba-tiba.


"Ugh ...?" Olivia kebingungan.


"Kamu senyum-senyum sendiri dengan ponselmu. Apa ada yang menarik di situ?" Louis mengulang pertanyaannya


"Ooh ...! Aku hanya membaca pesan," sahut Olivia datar.


"Dari siapa?" tanya Louis lagi.


Olivia tidak menjawab pertanyaan Louis, melainkan hanya menatapnya sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah tanda penunjuk lantai, di atas pintu lift.


Dan saat itu juga, pintu lift kemudian terbuka.


Olivia segera melangkahkan kakinya, keluar dari dalam lift, dan Louis yang ikut berjalan bersamaan dengan Olivia, segera menahan tangan Olivia dan menggenggamnya dengan erat.


"Lepaskan tanganku! Kita sedang berada di kantor. Walaupun kita hanya berteman, tapi bisa-bisa ada yang salah paham, lalu bergosip yang tidak-tidak," ujar Olivia.


Ketika Olivia hendak melepaskan tangannya dari pegangan Louis, laki-laki itu justru semakin mempererat genggamannya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Louis melepaskan tangan Olivia.

__ADS_1


"Apa kamu mau hang out denganku, sepulang kerja nanti?" tanya Louis.


"Hmm ... Lihat saja nanti!" sahut Olivia.


__ADS_2