
Laura.
Wanita yang berwajah cantik itu, kemungkinan besar memang belum mengetahui siapa Olivia, dan apa hubungannya Olivia dengan keluarga Andersen, hingga Olivia bisa berada di acara makan malam keluarga itu.
Walaupun demikian, sikap arogan dan sombong yang ditunjukkan Laura kepada Olivia, rasanya, sulit untuk bisa ditoleransi.
Jika saja Olivia bisa berkata terus terang saat ini, maka dia tentu akan mengungkapkan, kalau dia merasa sangat tersinggung, saat Laura merendahkannya seperti itu.
Olivia bahkan sempat terpikir untuk segera pergi dari rumah Jericho, jika saja dia tidak memiliki beberapa pertimbangan, yang membuatnya tetap bertahan.
Yang pertama.
Jika Olivia segera berpamitan pulang, sedangkan acara makan malam itu baru saja dimulai, maka Olivia mungkin akan terlihat seperti orang yang kasar dan tidak berpendidikan.
Olivia akan terlihat seolah-olah kehilangan sopan santunnya, hingga tidak bisa menghargai sang pemilik rumah, dan para tamu undangannya yang lain.
Dan yang menjadi pertimbangan Olivia yang kedua, dan yang paling mempengaruhi keputusannya, adalah Jonah.
Anak itu tentu akan merasa sangat kecewa, jika Olivia pulang begitu saja, dan Olivia tidak menepati janji untuk menemaninya bermain.
Olivia baru saja akan menanggapi perkataan dari Laura, namun kelihatannya, pertanyaan yang dilontarkan Laura untuk kedua kalinya itu, bukan hanya menarik perhatian dari Olivia saja.
Karena Jericho sudah lebih dulu membantah Laura, dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Jaga mulutmu! Kalau kamu tidak tahu, apa yang sedang kamu bicarakan!" kata Jericho, yang terlihat gusar.
"Memangnya siapa dia ini?" Laura tampak tidak mau kalah.
Hampir secara bersamaan dengan perdebatan antara Jericho dan Laura itu, terdengar suara Johan yang mengatakan sesuatu kepada Olivia.
"Olivia ...! Kamu tidak perlu mendengarkannya. Dia tidak tahu apa-apa," kata Johan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Johan lalu menatap Laura lekat-lekat, kemudian berkata,
"Laura! Sebaiknya kamu memikirkan dulu baik-baik, sebelum kamu berkata apa-apa lagi kepada Olivia....
... Dan jika kamu berani menyinggungnya lagi, berarti sama saja seperti kamu sedang menghinaku."
Saat Johan berbicara, walaupun dia sama sekali tidak menaikkan nada suaranya, namun ketegasan dari maksud perkataannya masih bisa terdengar.
Begitu juga dengan raut wajah, dan tatapan mata Johan ke arah Laura, yang menampakkan dengan jelas keseriusannya, bahwa Johan tidak sedang bermain-main, atau hanya asal bicara saja.
"Dan asal kamu tahu saja. Kamu tidak akan pernah sanggup, untuk membayarnya dengan uangmu." Johan lanjut berbicara kepada Laura, tanpa mengubah nada suaranya.
Sontak, perkataan dari Johan, seolah-olah seperti sebuah belati yang tajam, yang sedang ditodongkan di leher Laura.
Sehingga, walaupun Laura masih menampakkan rasa tidak sukanya, namun wanita itu akhirnya hanya bisa terdiam, untuk beberapa waktu lamanya.
Akan tetapi, diamnya Laura, tampaknya bukanlah hanya sekedar diam saja.
__ADS_1
Laura justru mungkin sedang memikirkan, apa yang bisa menjadi alasannya, agar bisa membuat ketegangan terus terjadi di situ.
Olivia bisa beranggapan demikian, karena ketika Johan memberikan sepiring kecil berisikan potongan buah-buahan kepada Jonah, Laura kembali mengeluarkan suaranya.
"Jonah! Kembali ke tempat dudukmu di sebelah sini!" kata Laura, tegas.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya, Jonah menyahut perintah dari Laura dengan berkata,
"No, mommy! ... Aku mau duduk di sini saja."
Kelihatannya, respon dari Jonah, yang seolah-olah tidak menghargainya, hanya membuat Laura semakin kesal, dan dijadikan sebagai kesempatan bagi Laura, untuk membuat keributan.
Seperti api yang dituangkan gasoline, kemarahan Laura, seolah-olah akan meledak saat itu juga.
Dan ternyata benar saja dugaan Olivia itu.
"Jonah! Apa kamu tidak bisa menuruti perkataan mommy?" Seketika itu juga, Laura membentak Jonah.
Namun sikap kasar dari Laura itu, kelihatannya, berimbas kepada Jericho, sampai ikut terpicu kemarahannya, hingga Jericho kemudian membentak Laura.
"Laura! Sudah cukup! Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri!" ujar Jericho.
Seketika itu juga, suasana di ruang makan itu, mendadak menjadi terasa tegang.
Semua orang dewasa yang berkumpul di meja makan itu, berhenti memakan makanannya, dan seolah-olah tidak ada yang bisa bergerak, ataupun bersuara apa-apa lagi.
Olivia yang tidak ingin memperkeruh suasana, jika dia mungkin hanya akan salah bicara, juga memilih untuk tetap berdiam diri, sambil memandangi Johan, Jericho dan Laura, secara bergantian.
Jericho yang tersandar di kursi, terlihat sangat gusar, menundukkan pandangannya, dan hanya menatap piring makannya di atas meja.
Johan yang memasang raut wajah biasa saja, tampak bersikap masa bodoh, dan tetap terlihat sibuk, dengan memberikan perhatiannya kepada Jonah.
Sedangkan Laura yang melipat kedua tangannya di depan dadanya, malah memperlihatkan dengan jelas, kalau dia masih menahan kekesalannya, akan segala sesuatunya yang ada di situ.
Karena menurut penilaian Olivia, bahwa kemarahan Laura mungkin bisa kembali meletus kapan saja, dan mungkin Jonah yang akan mendapat imbasnya lagi, Olivia lalu terpikir untuk berbicara dengan Jonah.
"Jonah tidak mau duduk di dekat mommy dan daddy?" tanya Olivia, setengah berbisik.
"Tidak, Miss ... Aku mau duduk di dekatmu dan grandpa," jawab Jonah.
"Tidak apa-apa, Olivia. Biarkan saja Jonah duduk di sini. Laura tidak akan bisa bertindak lebih jauh," kata Johan menimpali.
***
Yang terjadi selanjutnya, kurang lebih sama seperti yang dikatakan Johan, karena Laura memang tidak berkata apa-apa lagi setelahnya, yang bisa membuatnya kembali bersitegang, dengan tiga generasi Andersen itu.
Walaupun menurut Olivia, suasana di tempat itu terasa tidak begitu nyaman, namun makan malam bersama itu masih berlanjut, sampai semua yang hadir di situ, selesai menghabiskan makanannya.
Selain dari Jericho dan Laura, yang entah kemana perginya mereka berdua, Olivia, Johan, Jonah, dan para tamu undangan yang lain, kembali ke ruangan yang menjadi tempat awal kedatangannya.
__ADS_1
Di ruangan itu, para tamu tampak bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, dan terlihat santai, berkumpul sambil berbincang-bincang.
Sementara Olivia, yang menemani Jonah bermain Lego di lantai, masih terbayang-bayang akan kejadian di ruang makan tadi.
Johan yang duduk di sampingnya, mungkin menyadari, kalau Olivia masih memikirkan tentang keributan, yang diawali oleh Laura.
"Dia memang seperti itu, sejak pertama kali Jericho memperkenalkannya kepadaku. Dan sampai sekarang, sifatnya masih belum berubah," celetuk Johan.
"Ugh ...? Apa yang anda katakan, Sir?" tanya Olivia, yang tidak awas akan perkataan Johan yang tiba-tiba.
"Laura ... Kamu tidak perlu memikirkan perilaku wanita itu," kata Johan.
Olivia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, mempersiapkan dirinya sebelum dia berbicara kepada Johan.
"Sir! ... Sebenarnya, saya merasa ikut bertanggung jawab atas keributan tadi. Saya memaklumi kesalahpahaman dari Laura, hingga dia berkata seperti itu kepada saya....
... Karena seharusnya, saya memang tidak bertindak terlalu jauh, dengan mengambil alih untuk mengurus Jonah. Sementara kedua orang tuanya, ada di situ bersamanya."
Dengan berhati-hati, Olivia mengutarakan rasa bersalahnya, kepada Johan.
Karena, setelah Olivia memikirkannya ulang, walaupun dia menyayangi Jonah, tapi perbuatannya yang melangkahi kewenangan dari kedua orang tua Jonah, tentu tidak bisa dibenarkan.
"Tidak apa-apa. Itu bukanlah kesalahanmu. Aku tahu kalau kamu pasti menyayangi Jonah. Dan sama sepertiku, kamu tentu tidak mau melihat Jonah bersedih....
... Jika saja kamu tidak ada, untuk menghiburnya, maka aku tidak bisa membayangkan, bagaimana Jonah akan melalui situasi di malam ini," sahut Johan.
Johan lalu mengusap kepala Jonah yang sibuk bermain, dengan lembut dan perlahan.
"Walaupun Jonah masih kecil, tapi dia anak yang pintar. Dia pasti bisa membedakannya sendiri, siapa yang sungguh-sungguh menyayanginya....
...Dan menurutku, walaupun hubungan antara Jericho dan Laura, tidak berakhir dengan baik, tapi rasanya tidak mungkin, jika Jericho akan mengajarkan Jonah, untuk membenci Laura....
... Jadi, kalau Jonah tidak menyukai Laura, meskipun Laura adalah mommy-nya, dan lebih suka untuk dekat denganmu, itu berdasarkan pendapat dari Jonah sendiri."
Mendengar perkataan dari Johan itu, membuat Olivia jadi terpikir, akan sikap Jonah, ketika mereka diajak untuk makan malam, hingga mereka semua berada di ruang makan tadi, sampai ke saat ini.
Begitu juga, saat anak itu menanggapi perkataan Laura, dan bagaimana ketika Jonah berinteraksi dengan Olivia, yang jika dibanding-bandingkan, memang terlihat jauh perbedaannya.
Seolah-olah, Jonah memang tidak menyukai keberadaan Laura, dan hanya sekedar formalitas saja, karena statusnya sebagai anak dari Laura.
Bahkan menurut Olivia, Jonah tampak seolah-olah ingin membangkang kepada mommy-nya itu.
Tapi tentu saja, Olivia tidak bisa menarik kesimpulan lebih jauh, dan hanya sekedar menjadi penilaiannya sepihak tanpa memiliki arti apa-apa.
Karena Olivia tidak tahu dengan pasti, akan bagaimana sebenarnya hubungan antara Jonah dan Laura.
Dan begitu pula hubungan antara Laura, Jericho, dan Johan, yang kesemuanya dari mereka, baru saja dikenal oleh Olivia, dan dia belum mengetahui dengan pasti, akan bagaimana kepribadian mereka masing-masing.
Yang pastinya, kejadian tadi, menjadi pengalaman dan pengajaran bagi Olivia, agar ke depannya nanti, dia harus lebih berhati-hati dalam bertindak, supaya dia tidak menimbulkan kesalahpahaman yang baru.
__ADS_1