
Keesokan harinya, di hari Minggu pagi, Olivia sudah siap dengan mengenakan pakaian olahraganya, dan dilapisi dengan selembar jaket.
Tinggal sepatunya saja yang belum terpakai, dan seperti biasanya, Louis sudah menunggu di luar gedung apartemen Olivia, untuk pergi berolahraga, dengan joging bersama di taman kota.
"Iya ... Tunggu sebentar!" kata Olivia, memberitahu Louis lewat sambungan telepon, kalau tidak lama lagi, Olivia pasti keluar dari kamarnya.
Dengan terburu-buru, Olivia mengikat tali sepatunya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, sebelum beranjak keluar dari kamar, dan bergegas menemui Louis.
"Ke taman kota seperti biasa, bukan?! Ada teman-temanku menunggu di sana," ujar Louis, ketika Olivia dan dirinya, baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Iya," sahut Olivia, singkat.
Louis kemudian mulai memacu mobilnya di jalan raya, sementara Olivia memandang keluar, dari jendela di sampingnya.
Tidak terlalu jauh dari gedung apartemen tempat tinggal Olivia, di antara deretan bangunan tinggi yang berjejer di sana, Olivia melihat klinik yang menjadi tempat Dave bekerja.
Selama ini, klinik khusus untuk kesehatan mulut dan gigi itu, walaupun jaraknya dekat dengan tempat tinggalnya, tapi Olivia tidak pernah merawat giginya di sana.
Olivia selalu saja pergi ke rumah sakit umum, yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor tempat Olivia bekerja.
Yang jadi alasannya, Olivia kesulitan untuk membuat janji temu dengan dokter gigi, pada saat libur akhir pekan.
Karena biasanya, di hari-hari libur seperti itu, daftar tunggu pasti akan terisi penuh dengan pasien, yang memiliki tujuan yang sama seperti Olivia.
Hanya pada hari-hari kerja saja, Olivia bisa dengan mudahnya mendaftarkan dirinya, untuk pemeriksaan giginya.
Dengan demikian, Olivia memilih untuk membuat janji temu dengan dokter gigi di rumah sakit umum, karena jaraknya yang tidak jauh dari kantor.
Agar supaya, Olivia bisa keluar sebentar dari kantor, meskipun masih di jam kerja, dan mendatangi rumah sakit, untuk merawat giginya.
Dan kebetulan saja, tidak lama lagi, Olivia sudah harus menjalani perawatan untuk giginya, yang memang biasanya dia lakukan secara rutin, dengan waktu berjangka.
Kalau seperti sekarang ini, saat Olivia sudah memiliki kenalan yang bekerja di klinik, yang ada di dekat apartemennya itu, mungkin akan menjadi kesempatan yang menguntungkan bagi Olivia.
Karena nanti, Olivia mungkin bisa menghubungi, dan meminta bantuan dari Dave, agar bisa memasukkan nama Olivia ke dalam daftar tunggu pasien, di hari libur.
Dan jika Dave bisa membantunya, agar bisa mendapatkan janji temu di hari libur kerja, maka Olivia tidak perlu lagi mencuri waktu di kantor, hanya untuk memeriksakan kondisi giginya, dan merawatnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Louis, tiba-tiba, dan membuat Olivia sedikit tersentak.
"Klinik ... Klinik gigi yang ada di dekat apartemenku itu," jawab Olivia.
"Ada apa dengan klinik itu? Bukannya, kamu biasanya pergi ke rumah sakit?" tanya Louis, yang terdengar bingung.
"Kemarin, aku bertemu dengan Claire di dekat tempat laundry. Claire sedang bersama Dave, temannya. Yang ternyata adalah seorang dokter gigi, dan bekerja di klinik yang ada di dekat apartemenku itu....
... Aku diberikan kartu nama oleh Dave. Jadi, mungkin aku bisa membuat janji temu di akhir pekan. Agar nanti, aku tidak perlu izin keluar dari kantor lagi," jawab Olivia, menjelaskan.
__ADS_1
Louis lalu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah dia memang mengerti maksud dari Olivia.
Dan setelah itu, hingga Louis dan Olivia sudah tiba di taman kota, tidak ada yang lagi yang mereka perbincangkan.
Padahal, mengingat waktu itu, Louis seolah-olah masih ingin membicarakan sesuatu tentang Claire, kepada Olivia.
Tapi saat ini, Louis tampaknya tidak mau untuk lanjut membahas, tentang pertemuan Olivia dengan Claire.
Dan Olivia juga memang tidak tertarik, untuk memulai pembahasan tentang hubungan pribadi, antara Claire dan Louis.
Bahkan, Olivia justru lebih suka, jika mereka hanya sama-sama terdiam seperti sekarang ini.
***
Olivia bersama Louis, sudah berlari dua putaran di lintasan joging, ketika beberapa teman Louis, menghadang langkah mereka berdua.
Walaupun demikian, mereka tidak berhenti berlari, dan tetap lanjut berlari secara bergerombol.
Di putaran yang ke-tiga, Olivia sudah merasa tidak sanggup lagi, jika dia harus terus berlari, dan akhirnya hanya bisa berjalan santai saja.
Sampai Olivia merasa kalau olahraganya hari itu sudah cukup, dan dia sudah bisa beristirahat, dengan duduk berselonjor di atas rerumputan di taman itu.
Sementara itu, Louis dan teman-temannya, masih lanjut berlari, hingga beberapa putaran tambahan, sebelum mereka juga beristirahat, dan ikut duduk di atas rerumputan, bersama Olivia.
Olivia mengenali hampir semua wajah dari teman-teman Louis, yang duduk bersamanya sekarang ini, yang hampir kesemuanya dari mereka adalah laki-laki.
Itu sebabnya, Olivia bisa ikut berbincang-bincang dengan teman-teman dari Louis itu, yang membahas tentang salah satu dari mereka, yang akan melangsungkan acara pernikahan, dalam waktu dekat ini.
Dalam perbincangan itu, tersebutlah kalau salah satu dari teman Louis yang akan menikah itu, tenyata melamar sahabat wanitanya, yang sudah menjadi temannya dalam waktu lama, untuk dijadikannya sebagai istrinya.
Mungkin karena pembahasan itulah, sehingga tiba-tiba, salah satu dari teman Louis, lalu berkata kepada Olivia.
"Olivia! ... Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Belum," jawab Olivia.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak berkencan dengan Louis saja? Kalian sudah berteman cukup lama, bukan? Mungkin saja, kalian berdua juga bisa sampai menikah," ujar salah satu dari teman Louis.
Perkataan dari salah satu dari teman Louis itu, terdengar seolah-olah dia hendak menjodohkan Olivia dan Louis, agar menjadi pasangan kekasih.
Dan di saat itu juga, kelihatannya Louis ingin menanggapi perkataan temannya itu, tapi Louis segera mengurungkannya, karena Olivia yang tidak bisa menahan diri lagi, hingga dia akhirnya lebih dulu tertawa di situ.
"Pffftt ...! Kamu pasti bercanda! ... Tidak. Aku lebih suka, kalau kami hanya berteman saja, seperti sekarang ini," kata Olivia.
Seketika itu juga, baik Louis maupun teman-temannya yang lain, tampak hanya terdiam, dan saling memandang, antara satu sama lain.
Olivia lalu berkata,
__ADS_1
"Dia—teman louis—mungkin beruntung, sampai bisa menikah dengan teman lamanya. Tapi belum tentu, kalau aku dan Louis yang mencobanya, lalu bisa mengalami hal yang sama....
... Coba bayangkan, kalau sampai kami gagal. Jangankan menikah, hubungan pertemanan kami, yang sudah terjalin lama dan baik, justru mungkin akan ikut terputus."
"Benar katamu! Mereka semua ini tidak berpikir panjang." Salah satu dari teman Louis yang lain, lalu ikut menanggapi perkataan Olivia.
"Lagi pula, walaupun sudah berteman sangat lama, itu tetap tidak bisa dijadikan jaminan, bahwa kita sudah bisa mengetahui, bagaimana sifat asli dari sahabat kita itu," lanjut teman Louis, yang membenarkan perkataan Olivia tadi.
Setelah salah satu dari teman Louis itu berkata demikian, barulah semua teman-teman Louis yang lain, tampaknya ikut menyetujui akan jalan pikiran dari Olivia.
Tidak berapa lama, perbincangan mereka di situ, kemudian berubah arah, dan mulai membahas tentang pekerjaan mereka masing-masing.
Dan di sela-sela perbincangan mereka, Louis kemudian berbisik-bisik kepada Olivia.
"Apa kamu bersungguh-sungguh dengan perkataanmu tadi?" tanya Louis.
Kebingungan, membuat Olivia hanya terdiam untuk sejenak, karena pertanyaan Louis itu.
"Perkataanku yang mana?" Olivia balik bertanya.
"Tentang kita, yang menurutmu, sebaiknya hanya tetap berteman saja," jawab Louis.
"Kamu masih memikirkan tentang hal itu? Sudah sejak tadi kita mengganti topik pembicaraan, tapi kamu masih memikirkannya?" tanya Olivia, memastikan.
Louis tidak segera menjawab Olivia, dan hanya terdiam saja.
"Iya ... Aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Kamu juga tentunya tidak mau, jika situasi di antara kita nanti jadi canggung, bukan?" ujar Olivia.
Untuk beberapa saat Olivia menunggu, barulah Louis terlihat menganggukkan kepalanya, seolah-olah dia setuju dengan pendapat Olivia.
"That's great!" ujar Olivia, lalu kembali memperhatikan pembicaraan teman-teman Louis, tentang pekerjaan mereka di situ.
Sesekali Olivia tertawa bersama teman-teman Louis yang lain, saat membahas kekonyolan yang terjadi di lingkungan kerja masing-masing.
Namun Louis, kelihatannya tidak terlalu bersemangat, untuk ikut ambil bagian di dalam perbincangan di situ.
Hingga akhirnya, Louis mengajak Olivia untuk pulang lebih dulu, meninggalkan teman-temannya yang lain, yang masih terlihat asyik berbincang-bincang.
***
"Ada apa denganmu?" tanya Olivia, karena melihat Louis yang tampak lesu, ketika Louis dan dirinya, sudah masuk ke dalam mobil Louis.
"Ugh ...? Tidak ada apa-apa. Aku hanya kelelahan," sahut Louis, lalu menyalakan mesin mobilnya, kemudian mulai memacu kecepatannya, dan melaju di jalan raya.
"Ooh...!" Olivia memaklumi kalau Louis kelelahan. Mengingat Louis dan teman-temannya tadi, yang berjoging dengan jumlah putaran yang lebih banyak, daripada biasanya.
"Kalau begitu, sepulangnya kita nanti, kamu istirahat saja. Kita tidak perlu jalan-jalan lagi. Karena aku juga harus bersiap-siap, untuk berangkat ke luar kota nanti sore," kata Olivia.
__ADS_1
"Ke luar kota? Kenapa mendadak? Kamu tidak memberitahu apa-apa sebelumnya." Louis tampak bingung dan keheranan.