
Walaupun Olivia, Jericho dan Johan berencana makan siang di luar bersama-sama, namun Jericho dan Johan memakai kendaraannya masing-masing.
Terang saja, kebingungan lalu terjadi di pelataran parkir, karena Olivia yang tidak tahu, apakah dia harus ikut di dalam mobil Johan atau Jericho.
Hingga akhirnya, Johan kemudian berkata, "Kamu ikut di mobilku saja! Sepulangnya nanti, kamu bisa ikut di mobil Jericho."
Olivia kemudian mengangguk setuju, dan begitu juga Jericho, yang tampaknya tidak terlalu keberatan akan saran dari Johan, daddy dari Jericho itu.
Di dalam mobil terpisah, Johan dan Olivia yang diantarkan oleh supir pribadi Johan, bisa duduk bersantai di jok penumpang bagian belakang.
Sedangkan Jericho, yang mengendarai mobilnya sendiri, terlihat menyusul dari belakang mobil Johan.
"Aku memiliki sesuatu untukmu," celetuk Johan, lalu tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerja, yang diletakkannya di lantai mobil.
"Rencananya, aku akan mengajakmu keluar makan malam bersamaku malam ini. Tapi, kebetulan kita bisa keluar makan siang bersama ...,
... aku jadi tidak sabar untuk mendapat tanggapan darimu, apa mungkin kamu akan menyukai pemberianku atau tidak," lanjut Johan.
Johan kemudian menyodorkan sebuah kotak perhiasan kepada Olivia.
Olivia benar-benar merasa ragu untuk menerima pemberian Johan itu, namun Johan justru membuka kotak perhiasan itu, dan tampak memaksa, agar Olivia mau menerimanya.
"Ayolah! Aku membelinya, karena aku tiba-tiba teringat padamu, ketika aku diajak rekan kerjaku mendatangi toko perhiasan," ujar Johan.
Sebuah arloji yang terlihat mewah, dan tentu saja tampaknya berharga sangat mahal, terpampang di dalam kotak perhiasan yang sudah terbuka itu.
"Tapi, Sir ... Kelihatannya, arloji ini sangat mahal. Rasanya, saya tidak pantas untuk mendapatkannya," kata Olivia, menolak pemberian Johan itu.
"Ini tidak mahal. Tapi apa mungkin tidak suka dengan modelnya? Aku akan mencarikan hadiah yang lain saja kalau begitu," ujar Johan tampak kecewa.
Olivia yang tidak mau mengecewakan Johan, apalagi hanya merepotkan Johan saja, dengan mencari hadiah yang lain, akhirnya mau saja menerima arloji dari Johan itu.
"Terima kasih banyak, Sir ... Arloji hadiah dari anda ini sangat indah," ucap Olivia bersungguh-sungguh.
Johan lalu tampak tersenyum lebar, lalu segera memakaikan arloji itu ke pergelangan tangan Olivia.
Perasaan Olivia kacau balau, karena dia sekarang ini, merasa seolah-olah kalau dia sedang berhutang kepada Johan.
Olivia tertunduk dan hanya bisa terdiam, sambil menatap arloji mewah dan secantik itu, yang kini sudah terpasang di tangannya.
"Ada apa Olivia? Kalau kamu tidak menyukainya, kamu bisa memberitahuku. Aku tidak akan memaksamu untuk memakainya," ujar Johan, pelan.
"Ugh ...? Maafkan saya, Sir ... Saya menyukainya, Sir ... Sungguh! Saya hanya tidak terbiasa, untuk menerima benda semewah ini sebagai hadiah," sahut Olivia.
__ADS_1
"Aku harap sejak saat ini, kamu akan terbiasa dengan hadiah dariku," ujar Johan.
"Sir ...? Apa maksud anda?" tanya Olivia kebingungan.
Menurut apa yang ditangkap oleh Olivia, dari perkataan Johan barusan, Johan sepertinya masih akan memberikan hadiah yang lain, di lain waktu.
"Setiap kali aku melihat sesuatu, lalu aku teringat padamu, maka aku akan membelikannya untukmu," jawab Johan, tanpa terlihat ragu.
"Sir! ... Apa anda mau saya berhutang kepada anda?" tanya Olivia, cemas.
"Pffftt ...!" Johan tampak tertawa tertahan.
"Tentu saja tidak. Saya justru yang berhutang nyawa padamu, dan tidak ada benda di dunia ini yang bisa dijadikan pengganti, untuk membayarkan hutang ku itu," kata Johan, sambil menatap Olivia.
"Aku juga senang, jika melihat apa yang aku pilih, lalu kamu menyukainya, dan terlihat indah saat kamu pakai," lanjut Johan, pelan.
Sambil tetap menatap Olivia, Johan juga menggenggam tangan Olivia, untuk beberapa saat.
Namun seolah-olah dia telah melakukan kesalahan, Johan kemudian buru-buru melepaskan tangan Olivia.
Johan bahkan dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya, hingga tampak jelas kalau dia sebenarnya sedang menghindari tatapan mata Olivia.
Menurut dugaan Olivia, Johan kelihatannya merasa malu, setelah mengatakan kalimat terakhirnya, sambil memegang tangan Olivia tadi.
Karena dari wajah hingga ke telinga, dan bagian leher Johan yang masih bisa terlihat di atas kerah kemejanya, tampak berwarna merah padam.
Akan tetapi, gelagat yang mungkin tanpa sengaja diperlihatkan oleh Johan kepada Olivia itu, justru dianggap Olivia sebagai hal yang lucu dan menggemaskan.
Olivia tersenyum lebar, dan berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa, agar Johan tidak merasa lebih malu lagi.
"Kita akan makan siang apa hari ini, Sir?" tanya Olivia, mencoba mengalihkan perhatian Johan.
"Oh, iya! ... Aku tadi lupa bertanya padamu, apa yang ingin kamu makan," ujar Johan.
"Hmm ... Saya akan makan apa saja, Sir ... Asalkan saya bisa mendapatkan es krim, sebagai makanan penutupnya," kata Olivia.
"Pffftt ...! Okay, okay!" sahut Johan, yang tampak sudah kembali bertingkah seperti biasa.
***
Di pelataran parkir sebuah restoran yang menjadi pilihan Johan, Olivia dan Johan masih menunggu Jericho, agar mereka bisa masuk ke dalam tempat itu secara bersama-sama.
Mereka bertiga duduk berbagi di satu meja yang sama, lalu segera memesan makan siang, yang menjadi pilihan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Bagaimana menurut daddy, tentang presentasi yang dilakukan oleh Olivia tadi?" tanya Jericho, membuka percakapan.
"Bagus! Olivia melakukannya dengan baik," jawab Johan.
"Kalau begitu, aku tidak salah saat memintanya untuk jadi presentator-nya kan?!" ujar Jericho.
"Anda berdua terlalu memuji saya, Sir...." ujar Olivia, menyela pembicaraan.
"Ooh ...! Ternyata kamu yang jadi dalangnya?!" ujar Johan kepada Jericho, lalu melihat ke arah Olivia dan Jericho bergantian.
"Bagus, bagus! ... Dengan begitu, kita semua jadi bisa melihat kemampuan Olivia," lanjut Johan buru-buru.
"Malam itu, aku tidak sengaja melihat hasil kerja Olivia," kata Jericho. "Karena itu aku jadi yakin, kalau dia akan mampu melakukan presentasi dengan baik."
"Malam? ... Olivia mengambil lembur?" tanya Johan, yang tampak mengerutkan alisnya, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
"Umm ... Iya, Sir! ... Saya kesulitan untuk menyelesaikan berkas itu dengan cepat. Terima kasih kepada Sir Andersen—" Olivia lalu melihat ke arah Jericho.
"... yang membantu saya, hingga bisa menyelesaikan pekerjaan saya dengan lebih cepat, dan mendapat kesempatan untuk melakukan presentasi hari ini," lanjut Olivia.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak banyak membantumu. Semua itu hasil kerjamu. Jadi, berbanggalah!" sahut Jericho.
"Hmm ... Aku jadi penasaran, apa yang dikatakan oleh Sir Dunes kepadamu tadi? Dia terlihat bersemangat, ketika kamu menyampaikan simulasi....
... Sir Dunes bahkan kelihatannya hanya menyapaku sekedar saja, dan terburu-buru untuk segera menemuimu," lanjut Jericho.
"Dia mengucapkan selamat, Sir ... Lalu memberitahu tentang rencananya yang akan pensiun," jawab Olivia.
Baik Jericho maupun Johan, lalu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Kalau menurutku, ide skenario-mu tadi memang menarik, dan tidak biasa. Wajar saja, jika Sir Dunes sampai bisa tertarik dengan cara berpikirmu," celetuk Johan.
"Terima kasih, Sir," sahut Olivia.
Oleh dua orang pelayan restoran, di atas meja mereka kemudian disajikan menu, yang menjadi pesanan mereka bertiga tadi.
Dan oleh karena itu, mereka menghentikan pembicaraan tentang pekerjaan, untuk sementara waktu, sampai para pelayan itu berlalu pergi dari sana.
Sebelum mereka mulai makan, Olivia sempat menangkap gerakan mata Jericho, yang tampak menatap arloji di pergelangan tangan Olivia, walaupun laki-laki itu tidak berkata apa-apa, dan tampak memasang wajah datar.
Menurut Olivia, benda mewah itu tentu akan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Apalagi saat dipakai Olivia, yang tidak terbiasa memakai sesuatu yang mencolok seperti itu.
__ADS_1
Olivia jadi serba salah.
Karena, kalau Olivia tidak mau memakai arloji pemberian Johan itu, maka Olivia mungkin hanya akan membuat Johan merasa sedih.