
Karena Olivia yang telah berjanji kepada Johan, kalau dia akan menyalakan kembali ponselnya, maka ketika dia sudah di dalam rumah, Olivia segera ke kamarnya, dan menyambungkan ponselnya ke pengisi daya.
Melihat Jonah yang masih tertidur, Olivia kembali berjalan keluar dari kamar, dan pergi ke bagian belakang rumah.
Olivia lalu duduk kembali di atas tempat tidur gantung, sambil tetap berusaha mengingat-ingat, apa yang telah dia lewatkan, yang menurutnya berhubungan dengan pekerjaan di kota, yang menjadi tempat tujuan Johan.
"Ada apa? ... Apa kamu mencemaskan daddy?" tanya Jericho, yang baru saja menyusul Olivia di situ, kemudian ikut duduk di samping Olivia.
"Ugh? ... Iya," sahut Olivia, sedikit tersentak.
"Apa kira-kira masalah yang bisa terjadi di sana?" lanjut Olivia.
"Hal seperti itu sudah biasa terjadi. Kadang-kadang, ada oknum yang mengatasnamakan penduduk kota, yang kemudian berdemonstrasi....
... Atau ada kendala dengan suplai barang. Atau mungkin saja, ada insiden di lokasi kerja," jawab Jericho, yang terdengar seolah-olah dia memang sudah terbiasa, dengan hal seperti itu.
"Tapi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Ini bukan kali pertamanya bagi daddy, yang tiba-tiba saja melakukan perjalananan kerja tanpa rencana," lanjut Jericho, lagi.
"Saya memang mencemaskan daddy anda. Tapi saya juga sedang memikirkan sesuatu, yang rasanya ada yang saya ketahui tentang kota xxx, tapi terlupakan," sahut Olivia.
"Hmm ... Mungkin karena kamu sering membaca laporan yang masuk. Itu sebabnya kamu bisa berpikir begitu," kata Jericho.
Olivia tersentak, lalu buru-buru berkata,
"Saya baru ingat! ... Laporan dari kota itu, baru saja saya lihat, di hari Jumat kemarin, sebelum saya mengurus cuti. Claire memperlihatkannya pada saya....
... Waktu itu, saya memang kurang fokus dengan pekerjaan saya. Tapi rasanya, tidak ada masalah apa-apa dari laporan itu. Lalu kenapa tiba-tiba saja, pekerjaan di sana dihentikan?"
Olivia mulai meragukan dirinya sendiri.
Jangan-jangan pekerjaannya hari itu tidak dilakukannya dengan benar, karena Olivia yang kurang berkonsentrasi pada saat bekerja saat itu.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, sekarang ini. Kalau daddy sudah selesai rapat besok, kita bisa tahu apa masalahnya," ujar Jericho.
Walaupun Jericho berkata seperti itu, tapi tetap saja Olivia cemas, kalau-kalau karena kesalahannya, hingga mengacau pekerjaan di kota xxx.
Olivia lalu terpikir untuk menghubungi Louis, namun lagi-lagi, dia harus mengurungkan niatnya itu, karena Olivia teringat, kalau sekarang ini, Louis mungkin sedang dalam perjalanan kembali dari luar negeri.
Sisa waktu di hari itu akan terasa sangat panjang bagi Olivia, yang benar-benar cemas, dengan kemungkinan bahwa dia telah melakukan kesalahan.
***
__ADS_1
Karena Jonah yang memilih untuk mengulang kegiatannya membakar marshmellow, seperti malam tadi, sehingga sejak Jonah terbangun dari tidur siangnya, Olivia, Jonah dan Jericho, hanya sibuk mempersiapkan halaman bagian belakang rumah.
Hampir seperti saat Johan bersama mereka, di tengah halaman kemudian dinyalakan api unggun.
Jericho kemudian memasak makan malam, untuk mereka nikmati sambil duduk di depan api unggun, sementara Olivia mengawasi Jonah yang membakar marshmellow.
"Kelihatannya, besok pagi kita harus pergi berbelanja untuk mengisi lemari es," celetuk Jericho, lalu menyodorkan piring-piring berisi makan malam, kepada Jonah dan Olivia.
"Yeay! ... Spaghetti and meatballs!" Jonah terlihat kegirangan, ketika melihat menu makanan yang dibuat oleh Jericho.
"Aku harap kamu akan menyukainya, sama seperti Jonah," kata Jericho, sambil tersenyum.
"Terima kasih, Sir!" ucap Olivia, sambil melihat makanan di piringnya. "Saya tidak tahu kalau anda pintar memasak."
Jericho tidak segera menanggapi perkataan Olivia, dan justru berjalan masuk ke dalam rumah.
Lalu ketika Jericho kembali, Jericho terlihat membawa sebuah piring makan malam lagi untuk dirinya sendiri, kemudian ikut duduk di bangku di dekat Olivia.
"Waktu masih di universitas, aku dan Hansen biasanya merasa lapar di tengah malam, setelah selesai mengerjakan tugas kuliah, atau hanya sekedar menonton film....
... Walaupun begitu, tidak ada satupun dari kami, yang mau keluar dari apartemen. Mau tidak mau, kami berdua belajar memasak, agar bisa makan di dalam apartemen saja," kata Jericho.
"Anda dan Hansen tinggal dalam satu apartemen?" tanya Olivia.
"Kamu dulu tinggal di mana? Maksudku, waktu kamu berkuliah," lanjut Jericho.
"Saya tinggal di asrama," jawab Olivia.
"Bagaimana ceritanya, hingga kamu bisa saling mengenal dengan Angelo?" tanya Jericho, yang seolah-olah tidak mau, jika mereka hanya menikmati makan malam, tanpa berbincang-bincang.
"Hmm ... Tidak sengaja. Waktu itu saya sedang mencari buku di perpustakaan, tapi saya tidak menemukan buku yang saya cari. Karena sudah ada orang lain, yang meminjamnya lebih dulu....
...Ketika saya berjalan keluar, di salah satu bangku, yang ada di dekat gedung perpustakaan, ada seseorang yang berbaring di sana, sambil menutup wajahnya dengan buku yang saya butuhkan....
...Sebenarnya, saya tidak mau mengganggunya. Tapi karena tugas kuliah yang harus segera saya selesaikan, mau tidak mau, saya harus menyapanya lebih dulu....
... Waktu itu, Angelo terlihat kesal karena saya dianggap mengganggu tidurnya. Apalagi, buku itu ternyata adalah miliknya pribadi, dan bukanlah buku dari perpustakaan," kata Olivia, bercerita.
"Tapi akhirnya, Angelo mau meminjamkannya. Dengan syarat, saya mau memberikan nomor ponsel saya kepadanya....
... Agar dia bisa menghubungi saya, dan memastikan, kalau saya tidak akan menghilangkan bukunya itu," lanjut Olivia.
__ADS_1
"Jadi sejak saat itu, kamu jadi bisa berhubungan dengannya? Hanya karena sebuah buku itu?" tanya Jericho, tampak menekankan pertanyaannya.
"Iya ... Kami jadi sering bertemu, karena dia juga jadi sering meminjamkan buku-buku miliknya. Sekaligus memberi saran, yang bisa membantu saya, dengan tugas-tugas kuliah saya," jawab Olivia.
"Angelo sungguh beruntung," celetuk Jericho, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tsk! ... Kalau aku melanjutkan MBA-ku di universitas itu, aku juga mungkin bisa bertemu denganmu," lanjut Jericho.
"Pffftt...! Rasanya, tetap kecil kemungkinannya," sahut Olivia, sambil tertawa.
Sembari mereka menikmati makan malam, dan berbincang-bincang itu, sesekali, Olivia dan Jericho berganti-gantian mengawasi Jonah, sekaligus mendengarkan celotehannya.
***
Setelah mereka semua sudah selesai makan malam, dan bahkan bermain bersama Jonah, hingga malam sudah mulai larut, Jonah yang sudah kelelahan, akhirnya meminta agar diantar Olivia untuk pergi tidur.
Sembari menemani Jonah, dengan berbaring di atas tempat tidurnya, Olivia memeriksa ponselnya yang sudah menyala.
Panggilan tidak terjawab dari Angelo, hingga mencapai puluhan kali, terlihat di tampilan layar ponsel Olivia itu.
Begitu juga dengan pesan singkat yang dikirimkan oleh Angelo untuknya, yang terlihat menumpuk berisikan pertanyaan, tentang di mana Olivia berada.
Tapi Olivia melewatkan pesan dari Angelo itu begitu saja, dan justru melihat pesan yang ada dalam percakapan grup dari rekan-rekan kerjanya, yang tampak sibuk dengan pesan yang masuk, secara bersahut-sahutan.
Olivia terbelalak, dan bahkan hampir meloncat dari tempat tidurnya, ketika melihat isi percakapan dari rekan-rekan kerjanya itu.
Rumor yang mengatakan bahwa Andersen's Construction sedang dalam masalah, menjadi topik pembahasan dari rekan-rekan kerja Olivia.
Kemungkinan adanya kebocoran data perusahaan, yang sekarang ini juga mungkin sudah dimiliki oleh perusahaan pesaing, membuat harga saham Andersen's Construction, menjadi anjlok.
Olivia merasa agak panik, karena data yang bocor, menurut rumor dari rekan-rekannya, adalah data dari kantor cabang di kota xxx, di mana Johan dipanggil untuk mengikuti rapat koordinasi.
Ketika melihat Jonah sudah tertidur, Olivia kemudian bergegas turun dari tempat tidur itu, dan berjalan ke luar dengan cepat, untuk menemui Jericho.
"Sir! ... Apa anda sudah mendengar informasi, tentang kantor cabang di kota xxx?" tanya Olivia, dengan terburu-buru, ketika dia tiba di dekat Jericho.
"Informasi apa? Ponselku ada di kamar," kata Jericho, terlihat menautkan kedua alisnya.
"Coba anda lihat ini! Apa mungkin ini hanya rumor?" kata Olivia, sambil menyerahkan ponselnya, kepada Jericho.
__ADS_1
Lipatan di kening Jericho terlihat semakin dalam, ketika dia membaca tampilan yang ada di layar ponsel Olivia, seolah-olah dia sedang berpikir keras di situ.
"Tunggu sebentar! ... Aku ambil ponselku dulu!" ujar Jericho, lalu bergegas pergi, masuk ke dalam rumah.