
Sesuai dengan janji yang Olivia sepakati bersama Johan semalam, ketika Olivia turun ke lobi, Johan terlihat sudah menunggu Olivia di sana.
Sebelum mereka menuju ke gedung kantor cabang yang ada di kota itu, untuk melakukan pertemuan, Olivia masih menyempatkan diri untuk sarapan bersama Johan, di restoran di hotel tempat mereka menginap itu.
Johan kemudian segera membawa Olivia pergi bersamanya, ketika sudah mendekati waktunya untuk pertemuan dengan Walikota, para investor, dan perwakilan dari masyarakat kota itu.
Jika Olivia bisa bicara jujur, semakin mendekati waktu baginya melakukan presentasi, Olivia sekarang ini jadi semakin merasa gugup.
Dan kelihatannya, Johan menyadari kecemasan dan keraguan Olivia itu, hingga dia berkata,
"Tenang saja! ... Kamu pasti bisa melakukannya."
Setibanya di gedung kantor cabang di kota xx itu, Olivia bersama dengan Johan, segera diantar oleh seseorang yang bertugas menyambut kedatangan mereka, menuju ke ruang konferensi.
Betapa terkejutnya Olivia ketika mereka sudah berada di ruang khusus untuk rapat itu, dan bertemu dengan beberapa orang yang sudah menunggu mereka di sana.
Salah satu dari orang-orang itu, adalah Angelo, senior dan sekaligus mantan kekasih Olivia, waktu dia masih berkuliah dulu.
Namun tampaknya, bukan hanya Olivia saja yang terkejut, atas pertemuan mereka yang tidak di sangka-sangka.
Angelo bahkan sampai terlihat melebarkan matanya, saat dia beradu pandang dengan Olivia, dan begitu juga dengan gerakan mulut Angelo, yang seolah-olah sedang berkata, 'oh, my goodness', tanpa mengeluarkan suaranya.
Setelah berganti-gantian berjabat tangan dengan orang-orang di situ, tibalah giliran Olivia untuk berjabat tangan dengan Angelo.
"Hai, Sir!" sapa Olivia, sambil berjabatan tangan dengan Angelo.
"Hai, Miss Lane!" Angelo balas menyapa Olivia.
Sambil tetap memasang raut wajah terkejutnya, Angelo seolah-olah tidak mau melepaskan tangan Olivia dari genggamannya.
"Lama kita tidak bertemu ... Kamu masih terlihat cantik, seperti dalam ingatanku," kata Angelo, sambil tersenyum lebar, dan menatap Olivia lekat-lekat.
"Terima kasih atas pujiannya, Sir!" sahut Olivia, berbasa-basi.
Karena merasa kalau mereka berdua telah berjabat tangan terlalu lama, dan mungkin akan menarik perhatian orang lain, Olivia lalu mencoba untuk melepaskan tangannya, dari pegangan tangan Angelo.
Akan tetapi, Angelo seolah-olah masih tidak ingin melepaskan tangannya dari Olivia, dan bahkan terasa sedikit meremas tangan Olivia di situ.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih yang baru, sekarang ini?" tanya Angelo, tampak berhati-hati.
"Belum, Sir ... Tapi saya rasa, kita tidak bisa membahas tentang hal itu di sini," sahut Olivia.
"Perfect! ... Sekarang aku bisa mengharapkanmu kembali," ujar Angelo, dengan senyumannya yang terlihat semakin lebar.
"Miss Lane! ... Sir Angelo Sullivan! ... Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Johan yang menegur mereka, akhirnya bisa membuat Angelo melepaskan tangan Olivia.
"Saya—" Olivia belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Angelo sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Miss Olivia Lane menjadi kekasihku, waktu kami masih di universitas," kata Angelo, tanpa terdengar ragu.
Olivia benar-benar terkejut dan merasa malu karena pernyataan dari Angelo itu, yang seolah-olah laki-laki itu merasa bangga, karena pernah menjadi kekasih Olivia.
"Benarkah?" Sambil memasang raut wajah serius, Johan seolah-olah ingin memastikan kebenaran dari pernyataan Angelo.
__ADS_1
"Kami—" Lagi-lagi, Olivia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Angelo yang lebih mendominasi pembicaraan itu.
"Tentu saja! ... Kami bahkan belum resmi memutuskan hubungan kami," jawab Angelo, mantap.
"Hmm ... Maafkan saya. Tapi saya harus mengajak asisten saya, Miss Lane, untuk melakukan persiapan ulang, sebelum pertemuan kita dimulai," kata Johan.
"Baiklah!" sahut Angelo, lalu mencondongkan kepalanya ke salah satu sisi wajah Olivia, kemudian berbisik di telinga Olivia, dengan berkata,
"I still love you, honey.... Kita harus bicara, setelah pertemuan ini berakhir. Karena kamu masih berhutang penjelasan kepadaku."
"Miss Lane! ... Sebaiknya kita pergi sekarang!" kata Johan, dengan nada suara yang tegas.
Olivia tidak sempat menanggapi perkataan Angelo, dan dengan terburu-buru mengikuti Johan, yang mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi kosong, yang telah disediakan untuk mereka.
Tidak berapa lama, Angelo juga terlihat ikut duduk di salah satu kursi kosong, yang tepat berhadapan dengan Olivia.
Olivia yang pada dasarnya memang sudah merasa gugup, semakin tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya, yang meningkat tajam, karena Angelo yang senyum-senyum sambil menatapnya.
Entah lingkaran kebetulan seperti apa, hingga Olivia bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu, yang sekarang ini telah menjadi salah satu investor, untuk proyek yang dikerjakan oleh Andersen's Construction.
Olivia benar-benar kesulitan untuk menenangkan dirinya sendiri, sampai dia harus berkali-kali menghela nafas panjang, dan menghembuskannya secara perlahan, sambil menatap bahan presentasi yang ada di tangannya.
Setelah semua orang yang diundang, untuk ikut di dalam pertemuan itu sudah datang, rapat di tempat itu kemudian segera dimulai.
Ketika sudah menjadi giliran Olivia untuk melakukan presentasi, Olivia hampir tidak berani untuk melihat ke arah Angelo, yang tampak seolah-olah lupa caranya berkedip lagi, saat dia menatap Olivia.
Berbeda lagi situasinya dengan Johan.
Tidak seperti saat rapat koordinasi waktu itu, di mana Johan senantiasa memandangi Olivia, dan selalu terlihat mengembangkan senyumannya yang lebar.
Dari apa yang bisa ditangkap oleh penglihatan Olivia, Johan justru lebih banyak melihat ke arah Angelo, sambil memasang raut wajah yang serius, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya tentang Angelo.
Tetapi Olivia tidak terlalu mau memikirkan tentang gerak-gerik kedua orang itu, dan benar-benar hanya terkonsentrasi pada presentasinya saja, agar dia tidak melakukan kesalahan.
Ketika Olivia selesai menyampaikan presentasinya, Johan lalu menggantikan Olivia, dengan berdiri di paling depan, untuk menanggapi pertanyaan dari orang-orang yang ada di situ.
Sementara itu, Olivia yang sudah kembali duduk di kursinya, melihat Angelo yang tampaknya tidak berkonsentrasi dengan rapat yang masih berlangsung, dan justru lebih terfokus kepada Olivia.
Setiap kali Olivia beradu pandang dengan Angelo, laki-laki itu pasti akan menggerakkan mulutnya, seolah-olah dia sedang berkata, 'I love you'.
Olivia harus akui, kalau dadanya masih berdebar-debar saat bertemu kembali dengan Angelo, yang pernah menjadi kekasihnya selama kurang lebih tiga tahun itu.
Olivia dan Angelo, mau tidak mau harus berpisah, saat Angelo yang harus pindah dan tinggal di luar negeri, karena urusan di dalam keluarganya.
Karena jarak yang memisahkan, dan tidak tahu kapan mereka bisa bertemu kembali, Olivia kemudian membiasakan diri, untuk melupakan hubungannya dengan Angelo.
Olivia bahkan mengganti nomor ponsel, juga memblokir semua media sosialnya dari media sosial milik Angelo, agar laki-laki itu tidak bisa menghubunginya lagi.
Semua itu Olivia lakukan, agar dia bisa benar-benar melupakan Angelo, dan tidak berharap lagi, untuk bisa kembali menjadi kekasihnya.
Menurut Olivia, jika dia sampai kembali berhubungan dengan Angelo, maka dia mungkin tidak akan bisa merelakan laki-laki itu lagi.
***
__ADS_1
Setelah rapat itu berakhir, dan semua orang di sana saling berjabat tangan, sambil berbincang-bincang santai, Angelo yang tampaknya sudah selesai bertemu dengan orang-orang penting di situ, kemudian terlihat segera menghampiri Olivia.
"Aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin bicara denganmu sekarang," kata Angelo, sambil tersenyum, dan mengulurkan sebelah tangannya, seolah-olah sedang mengajak Olivia untuk ikut bersamanya.
"Olivia! ... Kita harus pergi sekarang!" kata Johan, yang tiba-tiba sudah berada di dekat Olivia.
Olivia melihat ke arah Angelo dan Johan secara bergantian, lalu menghentikan pandangannya ke arah Angelo, kemudian berkata,
"Maafkan saya ... Tapi saya rasa, sekarang ini bukanlah waktu yang tepat."
Angelo tampak kecewa, tapi dia juga tidak memaksakan kehendaknya kepada Olivia.
"Tolong tunggu sebentar, Sir!" kata Angelo, sambil menatap Johan.
"Olivia! ... Berikan nomor ponselmu!" kata Angelo kepada Olivia.
Tetapi dengan cepat, Johan lalu berkata,
"Kami terburu-buru. Ada yang harus segera kami lakukan."
Johan seolah-olah sedang menghalang-halangi Angelo, untuk mendapatkan nomor kontak Olivia.
Sehingga Angelo yang terlihat masih meraba-raba jasnya, seolah-olah dia sedang mencari ponselnya, kemudian berhenti bergerak.
Olivia mengenal dengan baik bagaimana karakteristik Angelo, dan bisa menilai senyuman di wajah laki-laki itu, bagaimana saat Angelo sedang senang, ataupun saat dia sedang merasa kesal.
Sehingga Olivia tahu, kalau saat ini, saat Johan yang tampak memaksa agar Olivia segera pergi dengannya, senyuman yang mengembang di wajah Angelo, adalah senyumannya untuk menutupi kekesalannya.
Dengan tergesa-gesa, Angelo lalu terlihat mengeluarkan satu lembar kartu nama, dan memberikannya kepada Olivia.
"Pastikan untuk menghubungiku! ... Aku akan menunggumu," kata Angelo, pelan.
Olivia yang tidak mau membuat Johan menunggu lebih lama lagi, kemudian menerima kartu nama itu, lalu berpamitan dengan Angelo.
"Bye, Angelo!" kata Olivia.
"Bye, Olivia! ... See you soon!"
Setelah Olivia mendengar perkataan dari Angelo, Olivia segera berjalan pergi bersama dengan Johan.
Olivia masih sempat menoleh ke belakang, dan melihat Angelo yang masih memandanginya.
Angelo tampak membuat gerakan tangan, untuk memberi tanda, agar Olivia menghubunginya.
Olivia kemudian lanjut berjalan bersama Johan, tanpa sempat menanggapi isyarat dari Angelo tadi.
***
"Kita akan pergi ke mana, Sir?" tanya Olivia, ketika mereka sudah tiba di pelataran parkir gedung kantor cabang itu, dan Olivia masuk ke dalam mobil Johan.
Johan yang juga sudah masuk ke dalam mobilnya, lalu menatap Olivia lekat-lekat.
"Apa kamu tahu, kalau Angelo sudah bertunangan?" Johan tidak menjawab pertanyaan Olivia, melainkan mengajukan pertanyaan baru kepada Olivia.
__ADS_1