
Ketika Olivia, Jericho, dan Louis sudah sampai di lobi, Jericho yang berencana untuk makan malam bersama Olivia, tanpa terlihat ragu, membawa Olivia agar terus berjalan bersamanya ke pelataran parkir, di mana mobilnya berada.
Lain lagi dengan Louis, yang sedari tadi sering tertangkap basah oleh Olivia, saat dia sedang mencuri-curi pandang ke arah Olivia.
Louis tampak ragu-ragu untuk membiarkan Olivia pergi dengan Jericho begitu saja, tapi di saat yang sama, dia juga kelihatannya tidak berani untuk menahan Olivia di depan Jericho.
Bisa jadi, Louis mungkin mengira, kalau Olivia memang memiliki hubungan lebih dari teman dengan Jericho.
Hingga akhirnya mereka berpisah jalan, setelah Olivia bersama Jericho pergi ke mobil pribadi milik Jericho, Louis tetap tidak berkata apa-apa kepada Olivia.
Louis justru tampak berdiri terpaku di dekat mobilnya, sambil memandangi dari kejauhan, ketika mobil Jericho berlalu pergi dari tempat itu.
"Bagaimana kelanjutannya?" tanya Jericho.
"Apa maksud anda, Sir?" Olivia balik bertanya.
"Louis. Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengannya?" Jericho memperjelas maksud pertanyaannya.
"Hmm ... Saya tidak tahu, dan saya juga tidak terlalu mau memikirkannya lagi," jawab Olivia.
"Jadi maksudmu, kamu akan melupakan cinta tak berbalasmu itu?" tanya Jericho, sambil tersenyum lebar, dan hampir tertawa.
"Sir ...! Apa anda sedang mengejekku?" ujar Olivia.
"Pffftt ...! Maafkan aku ... Aku hanya bercanda," sahut Jericho.
"Berapa lama? ... Maksudku, sudah berapa lama kamu tertarik padanya?" lanjut Jericho, seolah-olah tanpa beban.
Namun, sikap Jericho yang tampak seolah-olah dia sudah berteman lama dengan Olivia, justru membuat Olivia merasa nyaman untuk berbincang-bincang dengan Direkturnya itu.
Dan sama sekali tidak membuat Olivia merasa tersinggung, walaupun Jericho bertanya tentang masalah pribadi Olivia, seperti sekarang ini.
"Sejak aku diterima bekerja di perusahaan anda," jawab Olivia pelan.
"Oh, my!" Jericho tampak terkejut dengan pengakuan Olivia.
"Ckckck ...! Entah aku harus merasa salut padamu, atau justru merasa kasihan. Hahaha!" ujar Jericho lalu tertawa lepas.
"Sir ...! Please ...! Anda menertawakanku?" kata Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jericho lalu menggapai tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat. "Sorry ...!"
"Aku harap kamu bisa baik-baik saja, dan bisa mengatasinya. Entah nanti kamu akan move on, atau mungkin kamu akan mengakui perasaanmu padanya," kata Jericho pelan.
"Apapun pilihanmu nanti, ingatlah kalau kamu itu berharga. Jadi, jangan sampai melakukan hal yang bodoh, hanya demi cinta. Agar kamu nanti tidak menyesalinya. Okay?!" lanjut Jericho.
"Siap, Sir!" sahut Olivia, sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
***
Di depan sebuah restoran, Jericho menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di sana.
Restoran itu tampaknya sudah tutup, tapi Jericho tetap terlihat yakin, untuk makan malam di tempat itu.
"Sir! Bukannya restoran ini sudah tutup?" tanya Olivia kebingungan.
"Iya. Tapi pemilik restoran ini, dan Chef-nya, adalah kenalanku. Jadi, mereka memberiku kesempatan, untuk tetap bisa makan malam di sini malam ini," jawab Jericho.
Perkataan Jericho bukanlah omong kosong.
Ketika mereka berdua mendekat ke pintu depan restoran, seseorang kemudian segera membukakan pintu bagi Jericho dan Olivia, agar mereka bisa masuk ke dalam restoran itu.
"Selamat malam!" sapa seseorang yang berpakaian seragam pelayan, menyambut Jericho dan Olivia. "Silahkan masuk!"
"Terima kasih," sahut Jericho, lalu terus berjalan masuk bersama Olivia, dan diantar oleh pelayan itu sampai ke salah satu meja.
"Jericho! My bro!" Seseorang yang lain, tampak menghampiri Jericho dan Olivia yang baru saja duduk.
Jericho kemudian berdiri dan berpelukan dengan orang itu, sambil saling menepuk-nepuk punggung, antara satu sama lain.
Olivia pun ikut berdiri, dan melihat gerak-gerik Jericho dan teman laki-lakinya di situ.
Saat Olivia memperhatikan baik-baik orang itu, Olivia merasa kalau dia mengenal orang sedang bersama Jericho.
Teman laki-laki Jericho, yang memakai kemeja polos lengan panjang yang digulung sedikit di bagian kedua lengannya, dan dipadankan dengan celana jeans panjang, tampak familiar di mata Olivia.
Jericho seolah-olah hendak memperkenalkan Olivia dengan temannya laki-lakinya, namun teman laki-laki Jericho itu segera menyela perkataan Jericho, hingga Jericho tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Olivia? Apa kamu masih mengingatku?" Teman laki-laki dari Jericho, yang sekaligus menjadi pemilik restoran tempat Olivia berada sekarang ini, ternyata adalah Hansen.
Olivia rasanya tidak bisa mempercayai akan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Hansen yang tersenyum lebar, tampak mengulurkan salah satu tangannya ke arah Olivia, seolah-olah ingin agar Olivia berjabat tangan dengannya.
"Eh! ... Kalian sudah saling mengenal?" Jericho terlihat bingung.
Ketika Olivia menjabat tangan Hansen, laki-laki itu lalu mengecup dengan lembut punggung tangan Olivia.
Olivia yang benar-benar terkejut karena bisa bertemu dengan Hansen di situ, ditambah lagi dengan perlakuan Hansen yang mencium tangannya, membuat Olivia tidak bisa berkata apa-apa.
Olivia benar-benar terdiam terpaku, seolah-olah kehilangan kemampuannya untuk bicara.
"Aku bertemu denganmu di taman kota kemarin pagi. Apa kamu sudah lupa?" Hansen mungkin mengira, kalau Olivia sudah tidak mengingatnya lagi.
"Ugh ...? Maafkan aku ... Hansen?!" ujar Olivia yang baru tersadar.
__ADS_1
"Yups! ... Aaahh ...! Melegakan ... Aku kira kamu tidak akan mengingatku," ujar Hansen kepada Olivia, sambil tetap tersenyum.
"Silahkan duduk!" Hansen menggeserkan kursi untuk Olivia, agar Olivia bisa duduk dengan nyaman.
"Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal?" tanya Jericho, lalu ikut duduk hampir secara bersamaan dengan Hansen, yang juga duduk bergabung di situ.
"Aku melihatnya sedang joging di taman kota," jawab Hansen.
"Apa kamu juga berolahraga di taman?" tanya Jericho kepada Hansen. "Sungguh tidak biasa. Bukannya kamu biasanya berolahraga di gym?"
"Hahaha! ... Tapi benar-benar tidak ada penyesalan, ketika aku pergi berolahraga di taman. Karena aku jadi bisa bertemu, dan berkenalan dengan Olivia."
Cara bicara Hansen yang mengeluarkan apa yang dipikirkannya, terdengar seolah-olah sangat ringan dan tanpa beban.
Hansen juga seakan-akan tidak bisa berhenti tersenyum, sambil menatap Olivia.
"Olivia! Kali ini, apa aku bisa mendapatkan nomor kontak pribadimu?" tanya Hansen.
"Hansen! Please ...! Kamu mungkin hanya akan membuat Olivia merasa tidak nyaman," sela Jericho.
"Hmm ... Benarkah? Atau kamu yang tidak nyaman kalau aku mendekatinya? Hahaha!" ujar Hansen kepada Jericho, sambil tertawa.
"Hufftt ...!" Setelah tampak mendengus kasar, Jericho lalu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf Olivia ... Hansen memang selalu seperti itu," ujar Jericho.
"Tapi, karena aku yang begini kan, hingga kamu tetap berteman denganku?!" Hansen menimpali, seolah-olah sedang mengejek Jericho.
"Tidak apa-apa, Sir!" sahut Olivia.
"Eh! Kalau aku dengar caramu bicara kepada Jericho, kelihatannya kalian tidak terlalu dekat, ya?!" celetuk Hansen.
"Kalau begitu, aku bisa mengenalmu lebih dekat, kan?!" lanjut Hansen buru-buru, seolah-olah sedang menggoda Olivia.
"Hansen!" Lagi-lagi, Jericho tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, Olivia. Aku hanya bercanda. Tapi, aku serius ingin mendapatkan kontak pribadimu," ujar Hansen, lalu mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya.
"Bisakah aku mendapatkannya? Aku tidak akan menggangumu sesuka hatiku. Aku hanya ingin mendapat kesempatan, untuk bisa lebih mengenalmu saja."
Kali ini, Hansen bicara dengan nada suaranya yang rendah, dan Hansen tampak sudah siap, untuk menyimpan nomor kontak Olivia di ponselnya itu.
"Kamu tidak perlu memberikannya, kalau kamu merasa tidak nyaman," kata Jericho kepada Olivia.
"Tidak apa-apa, Sir," sahut Olivia, lalu menyebutkan angka-angka dari nomor pribadinya.
"Terima kasih!" Hansen tampak antusias.
__ADS_1
"Nanti kita bisa joging bareng! Daripada kamu hanya bersama temanmu yang manipulatif. Siapa namanya? Umm ... Louis, ya?!" lanjut Hansen.
"Hansen!" Jericho tampak sangat terkejut, akan pernyataan Hansen kepada Olivia itu.