
Hingga sudah waktunya bagi Jonah untuk tidur, dan menjadi kesempatan bagi Olivia, untuk berpamitan pulang, Jericho dan Laura masih tidak terlihat di sana.
Hanya Johan saja yang menemani Olivia, yang bermain dengan Jonah, sambil berbincang-bincang dengannya, tentang perjalanan ke luar kota, yang Johan lakukan malam tadi.
Menurut Johan, seharusnya dia belum bisa kembali ke kota ini, karena ternyata, pertemuan yang dia lakukan pagi tadi, belum berjalan sesuai dengan keinginannya.
Tapi karena Johan tidak mau melewatkan undangan dari Jonah, makanya Johan terpaksa kembali ke kota ini.
Dengan demikian, kemungkinan besar, Johan akan kembali bepergian ke luar kota di besok hari, di pagi-pagi sekali.
Bertepatan dengan Olivia yang akan pulang, begitu juga dengan Johan, yang harus kembali ke rumahnya untuk beristirahat, agar dia bisa siap untuk melakukan perjalanan, besok pagi.
Oleh karena itu, Johan kemudian menawarkan diri, untuk mengantarkan Olivia pulang ke apartemennya.
Sebelum Olivia pergi bersama Johan, Olivia sempat kebingungan untuk berpamitan pulang, karena Jericho maupun Laura yang tidak ada di sana.
Ketika Olivia bertanya kepada pekerja di rumah Jericho, menurut mereka, Jericho dan Laura, sedang berbincang-bincang serius di dalam ruang kerja.
Dan para pekerja di rumah Jericho itu, tidak ada satupun yang berani, untuk mengganggu perbincangan antara Jericho dan Laura.
Sehingga akhirnya, Olivia hanya bertitip pesan kepada salah satu pekerja di rumah Jericho itu, kalau dia berterima kasih atas undangan, dan pelayanan yang dia terima di situ.
***
"Untuk perjalanan ke kota xxx, apa aku sudah bisa menjemputmu di hari Minggu sore?" tanya Johan.
"Kalau kita bisa tiba di sana di malam hari, maka keesokan paginya, kita sudah bisa langsung bekerja," lanjut Johan, menjelaskan maksudnya.
Olivia memandangi Johan, yang sesekali mendapat pencahayaan dari lampu jalan, yang mereka lewati di perjalanan menuju ke apartemen Olivia, sambil memikirkan perkataan Johan barusan.
"Terserah anda saja, Sir," kata Olivia. "Kira-kira, jam berapa anda akan menjemput saya?"
"Hmm ... Mungkin sekitar jam lima sore. Tapi nanti aku kabari lagi, kalau ada perubahan," jawab Johan.
"Karena, kalau pertemuan besok masih belum berjalan lancar, maka aku mungkin akan tetap tinggal di kota xx, sampai hari Minggu nanti....
...Mau tidak mau, aku harus langsung berangkat ke sana, dari kota xx. Tanpa kembali ke kota ini lagi....
... Tapi kalau memang begitu keadaannya, nanti aku akan mengutus supir perusahaan, untuk mengantarkanmu," lanjut Johan lagi.
Olivia mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil membayangkan bagaimana lelahnya, CEO dari perusahaan tempat Olivia bekerja itu.
Tentu tidaklah mengherankan, jika Johan sampai bisa jatuh sakit waktu itu.
Jadwal pekerjaannya yang padat, sampai-sampai, saat pegawainya bisa berlibur di akhir pekan, tapi tidak begitu dengan Johan.
Sebagai seorang CEO, Johan tetap sibuk dengan pekerjaannya, agar perusahaan dapat tetap mempertahankan kejayaannya, dan bahkan bisa semakin berkembang.
Etos kerja, dari sosok Johan memang patut diacungi dua jempol.
"Sir! Kalau anda harus kembali ke kota ini, hanya untuk menjemput saya, sebaiknya anda tidak perlu melakukannya. Karena, akan jadi terlalu melelahkan bagi anda, nantinya....
__ADS_1
... Saya bisa memakai transportasi umum. Atau kalau memang anda akan mengirimkan mobil perusahaan, maka saya bisa berangkat sendiri ke sana," kata Olivia.
"Hmm ... Begitu, ya?! Kamu tidak perlu menggunakan transportasi umum. Aku akan mengutus mobil perusahaan saja, kalau begitu," ujar Johan.
"Baik, Sir!" sahut Olivia, sambil tersenyum.
***
Setibanya di depan gedung apartemen Olivia, Johan yang kelihatannya akan mengantarkan Olivia, sampai ke pintu masuk gedung, ditahan oleh Olivia.
"Anda tidak perlu mengantar saya ke dalam, Sir ... Anda bisa langsung pulang. Anda pasti masih sangat lelah, karena perjalanan yang anda lakukan....
... Jadi saya rasa, anda sebaiknya segera pulang untuk beristirahat. Terima kasih, karena sudah mengantarkan saya pulang, Sir!" ujar Olivia.
"Sama-sama, Olivia!" sahut Johan.
Olivia lalu beranjak keluar dari mobil, yang pintunya telah dibukakan oleh supir pribadi Johan.
"Hati-hati di jalan, Sir!" kata Olivia, yang menyempatkan diri, untuk berdiri sebentar di dekat mobil Johan.
"Iya ... Sleep well, Olivia! ... Bye!" kata Johan.
"Iya, Sir! ... Bye!" Olivia lalu berjalan mengarah ke pintu gedung, dan saat itu juga, mobil Johan terlihat berlalu pergi dari sana.
***
Sembari berbaring di atas tempat tidurnya, Olivia memeriksa ponselnya, yang tadinya ketika Olivia masih berada di rumah Jericho, benda itu sempat berkali-kali mengeluarkan suara tanda, kalau ada pesan yang masuk di sana.
Isi dari pesan Hansen, adalah permohonan maafnya kepada Olivia, karena dia tidak bisa menepati janjinya, untuk bertemu dengan Olivia besok.
Daddy dari Hansen jatuh sakit, dan Hansen akan menemani mommy-nya, yang menjaga daddy-nya di rumah sakit.
Hansen juga menuliskan, kalau dia mungkin akan lebih sibuk dari pada biasanya, karena dia yang harus mengambil alih, semua pekerjaan daddy-nya, selama daddy dari Hansen itu, masih dirawat di rumah sakit.
Menurut isi pesannya, Hansen sangat menyesalkan, karena dia mungkin telah mengecewakan Olivia.
Namun, Hansen meminta pengertian dari Olivia, kalau untuk beberapa waktu ke depan, dia mungkin akan lebih jarang berkomunikasi dengan Olivia.
Hansen juga masih mengirimkan pesan, yang memberitahu Olivia, kalau dia pasti akan benar-benar merindukan Olivia, di hari-harinya yang akan jadi lebih padat dengan pekerjaannya.
Olivia lalu membalas pesan dari Hansen, dan memberitahu kepada laki-laki itu, kalau dia tidak akan mempermasalahkan, tentang pembatalan janjinya.
Olivia justru menyuruh Hansen, agar lebih memfokuskan pikirannya pada pekerjaannya saja dulu.
Dan Olivia juga menuliskan harapannya, agar daddy dari Hansen bisa baik-baik saja, dan semoga orang tua Hansen itu, bisa lekas sembuh.
Hingga Olivia tertidur malam itu, Olivia tidak mendapatkan pesan balasan yang baru lagi, dari Hansen.
***
Berhubung hari ini Olivia tidak rencana apa-apa, Olivia memilih untuk merapikan kamar apartemennya saja, dan membawa kain-kain yang kotor ke tempat laundry.
__ADS_1
Karena sudah terbiasa, Olivia tetap bangun di pagi-pagi sekali, seperti hari kerja biasanya.
Secangkir kopi, dan sepotong roti panggang beroleskan selai kacang, menjadi sarapan Olivia, sebelum pergi ke tempat laundry mandiri.
Sembari menikmati sarapannya, Olivia memeriksa ponselnya, kalau-kalau ada sesuatu, atau informasi yang baru di sana.
Pesan yang dikirimkan Olivia kepada Hansen, masih bercentang satu. Kalau begitu, kemungkinan besar, ponsel Hansen sedang dalam kondisi tidak aktif, sejak malam tadi.
Sedikit rasa cemas, timbul di hati Olivia, akan seberapa buruknya kondisi Sir Nolan, daddy Hansen sekarang ini.
Olivia pernah bertemu dengan daddy Hansen, namun tidak sempat saling menyapa, ketika Olivia pergi ke luar kota bersama Louis, beberapa minggu yang lalu.
Sir Nolan memang terlihat kurang bugar, seolah-olah dia memang sedang sakit, atau mungkin karena dia yang terlalu lelah bekerja.
Olivia bisa beranggapan demikian, karena mengingat pekerjaan daddy Hansen, yang kurang lebih sama seperti Johan.
Sedangkan kalau dilihat-lihat, kemungkinan besar, daddy dari Hansen itu, usianya masih lebih tua dari Johan.
Tentu jika dipaksa bekerja dan kurang istirahat, maka suatu waktu, tubuhnya tidak akan mampu menahan lelahnya lagi.
Menurut Olivia, seharusnya Jericho maupun Hansen, sudah bisa mengambil alih pekerjaan orang tuanya, agar daddy mereka itu bisa beristirahat, dan menikmati masa tuanya.
Tapi, kembali lagi, Olivia belum mengenal dengan baik, bagaimana Sir Nolan, Hansen, Jericho, maupun Johan.
Olivia hanya melihat sepintas, dan sebagiannya lagi, Olivia mungkin mendengar sedikit-sedikit informasi, tentang orang-orang itu.
Tidaklah mungkin Olivia bisa menilai seseorang, hanya berdasarkan penglihatan sekilasnya, atau dari pembicaraan orang-orang saja, bukan?
Kecuali, Olivia memang bisa menghabiskan banyak waktu bersama dengan mereka, hingga dia bisa mengenali karakter, maupun kepribadian dari orang-orang itu.
Dan untuk mengetahui bagaimana sifat, ataupun tabiat asli dari seseorang itu, rasanya, tidaklah semudah apa yang dibayangkan.
Olivia sudah berteman dengan Louis, kurang lebih lima tahun lamanya, dan hampir sebagian besar waktu yang dimiliki oleh Olivia, dihabiskannya bersama dengan laki-laki itu.
Seharusnya, Olivia tentu sudah mengenal Louis dengan cukup baik, bukan?
Tapi kenyataannya, walaupun demikian adanya, sampai saat ini, Olivia masih belum bisa mengetahui dengan baik, akan watak asli dan jalan pikiran dari Louis, teman laki-laki Olivia itu.
'All that glitters is not gold!' — William Shakespeare.
Tidak semua yang kelihatan baik, memang benar baik adanya.
Dengan demikian, jika dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan seseorang, maka Olivia memang harus melihat, kenali dan pelajari, barulah dia bisa berpendapat, akan baik atau buruknya orang itu.
***
Ketika Olivia mengantar kain-kain yang kotor ke tempat laundry, Olivia menangkap bayangan sosok dari seseorang, yang rasanya cukup dia kenali.
Dan ternyata memang benar.
Claire terlihat berada di dekat tempat untuk mencuci, dan mengeringkan pakaian itu.
__ADS_1
Dan Claire tidak sendirian, dia sedang bersama seseorang, duduk bersebelah-sebelahan di bangku taman.