Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 38


__ADS_3

Hansen yang menceritakan tentang bagaimana dia mengawali bisnisnya, sampai bisa seperti sekarang ini, benar-benar menarik perhatian Olivia.


Hingga mereka berdua sudah selesai makan malam, Olivia seakan-akan lupa, akan berapa lama waktu yang telah dihabiskannya bersama Hansen, di dalam restoran milik Hansen itu.


Apalagi saat Hansen menunjukkan foto-foto lama, yang menjadi kenang-kenangan akan jejak perkembangan restorannya itu, dari masa lalu sampai sekarang ini, kepada Olivia.


Olivia benar-benar merasa kagum, akan kepintaran dan kejelian Hansen, dalam mencari dan menemukan peluang, dan memanfaatkannya sampai dia bisa berhasil.


Padahal saat mereka berbincang-bincang itu, Olivia jadi tahu, kalau Hansen tidaklah memiliki latar belakang pendidikan yang berlebihan.


Hansen memiliki gelar yang sama seperti Olivia, mengambil jurusan kuliah yang sama, dan bahkan berkuliah di universitas yang sama seperti Olivia.


Namun cara berpikir Hansen yang kritis, yang membuat perbedaan yang sangat jauh, antara dirinya dengan Olivia.


Hansen yang bersemangat, agar dia tidak hanya berada di bawah bayang-bayang kesuksesan orang tuanya, membuatnya bisa menapaki kesuksesannya sendiri.


Menurut Olivia, orang yang memiliki jalan pikiran seperti Hansen, tentu sulit untuk ditemui.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan daddy-mu? Siapa yang akan melanjutkannya nanti?" tanya Olivia, penasaran.


"Tentu saja aku yang akan meneruskannya. Aku adalah anak mereka satu-satunya. Mereka tidak akan bisa membuangku, walaupun mereka sudah bosan melihatku,"  jawab Hansen.


"Hahaha!" Olivia tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangannya, dan Hansen juga tampak tersenyum lebar melihatnya.


"Hmm ... Kalau begitu, kamu berarti orang yang sangat sibuk," ujar Olivia.


"Tidak sepenuhnya benar. Karena aku masih sempat berkencan, walaupun tidak ada satupun yang berhasil....


... Mungkin karena aku kurang menarik, hingga tidak ada wanita yang mau berhubungan serius denganku," kata Hansen.


"Kamu pasti bercanda," sahut Olivia, sambil tersenyum.


"Hey! Kamu tidak percaya? Apa kamu tidak lihat? Jericho bahkan sudah punya anak. Sedangkan aku ...? Hmm...!" ujar Hansen.


"Mungkin kamu yang terlalu pemilih. Karena merasa kalau kamu adalah laki-laki yang tampan, dan juga sukses. Benar tidak?" sahut Olivia, bercanda.


Sebelum Hansen menanggapi lagi, akan perkataan Olivia tentang berkencan, Olivia segera mengalihkan pembicaraan mereka, untuk membahas tentang hal yang masih membuat Olivia merasa penasaran.


"Hansen! ... Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya, hingga kamu bisa menjalankan dua bisnis yang berbeda, sekaligus," lanjut Olivia terburu-buru.


"Kamu tahu saja, kalau Andersen's mendapat proyek di mana-mana. Dengan begitu, perusahaan daddy-ku juga ikut mendapat imbas dari kesuksesan mereka....


... Untuk sementara ini, daddy-ku masih sanggup mengurus perusahaannya, dan aku cukup membantu sebagiannya saja. Tapi tentu ada waktunya, dia akhirnya harus beristirahat," kata Hansen.


Tentu saja Olivia mengetahui dengan baik, tentang perusahaan konstruksi tempatnya bekerja itu.


Apalagi beberapa tahun belakangan ini, perusahaan milik Johan itu, yang memang sudah merajai seluruh penjuru negeri, kini semakin melebarkan sayapnya, hingga merambah ke luar negara.

__ADS_1


"Mau tidak mau, aku harus mencari orang yang bisa aku percaya, untuk mengatur bisnis restoranku. Agar aku bisa fokus, untuk menjalankan perusahaan daddy-ku," lanjut Hansen.


Sedikit rasa iri, timbul di hati Olivia setelah mendengar perkataan Hansen.


Karena menurut Olivia, orang-orang seperti Hansen dan Jericho, adalah orang-orang yang sudah berhasil, tapi masih mendapatkan kesempatan lain, untuk menjadi lebih sukses lagi.


Sedangkan orang-orang kelas bawah seperti Olivia, mencari lowongan kerja sampai bisa diterima bekerja saja, sudah merasa cukup kesulitan.


Seakan-akan, orang kaya bisa dengan mudahnya untuk menjadi semakin kaya.


Sedangkan menjadi kebalikannya, orang-orang yang miskin, seolah-olah harus mencari keajaiban, agar mereka juga bisa merasakan keberhasilan.


Namun rasa iri hati Olivia itu, bukanlah untuk membuatnya membenci keberadaan dari orang-orang yang sukses dan kaya.


Melainkan menjadi pemacu semangat Olivia, agar dia bisa lebih banyak belajar, akan bagaimana cara berpikir, dari orang-orang yang sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka.


Dan mana tahu, kalau mungkin saja di suatu waktu nanti, Olivia juga bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman dari orang-orang seperti Hansen, hingga bisa membuatnya merasakan kesuksesan yang sama.


"Olivia! ... Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Hansen tiba-tiba, hingga membuyarkan pemikiran Olivia.


"Ugh ...? Pffftt ...!" Olivia sebenarnya cukup terkejut dengan pertanyaan Hansen barusan.


Namun karena Olivia tahu, kalau Hansen adalah orang yang senang bercanda, dia akhirnya hanya tertawa, sambil melihat ke arah Hansen.


"Ckckck! ... Lamaranku hanya ditertawakan olehmu," ujar Hansen, yang tampak tersenyum lebar.


"Bagaimana kalau orang yang mendengarnya, lalu menanggapinya secara serius?" lanjut Olivia lagi.


"Siapa yang bilang, kalau aku sedang bercanda? Aku memang serius melamarmu," sahut Hansen, yang tampak tidak mau kalah.


"Hansen ...! Stop it! Candaanmu itu sudah tidak lucu lagi. Bagaimana mungkin kamu bisa melamar seseorang, yang baru saja kamu temui?


... Kamu bahkan belum mengenalku dengan baik. Apa kamu tidak takut, kalau aku nanti hanya memanfaatkanmu?" ujar Olivia, sambil tersenyum, dan hampir tertawa.


"Hmm ... Begitu, ya?!" Hansen tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi, kalau aku sudah mengenalmu lebih baik, maka aku bisa memintamu untuk menikah denganku? Kalau begitu, kamu harus berkencan denganku!"


Setelah Hansen selesai bicara, dia lalu tersenyum lebar, dan mengedipkan sebelah matanya kepada Olivia.


"Pffftt ...!" Olivia yang masih menganggap kalau Hansen hanya bercanda, tertawa tertahan melihat tingkah Hansen itu.


"Sudah cukup bercandanya ...! Pipiku sakit karena terlalu banyak tersenyum," ujar Olivia pelan, lalu melihat waktu di arloji yang ada di pergelangan tangannya.


"Ada apa? ... Apa kamu sudah bosan bersamaku?" tanya Hansen, yang tampak kecewa.


"Tidak, bukan begitu," jawab Olivia. "Tapi sekarang sudah mulai larut. Apa kamu tidak mau segera beristirahat?"

__ADS_1


"Hmm ... Padahal baru kali ini, aku bisa berdua saja denganmu...." Hansen tampak benar-benar kecewa, dan memasang raut wajah lesu.


"Geez ...! Baiklah! Aku masih bisa menemanimu lebih lama," kata Olivia. "Apa ada yang ingin kamu lakukan?"


"Apa kamu pernah pergi ke tempat food truck berkumpul?" tanya Hansen, yang terlihat kembali bersemangat.


"Iya, aku pernah ke sana. Malah baru-baru ini saja, aku pergi ke sana bersama Sir Andersen," jawab Olivia.


"Jericho atau Johan?" tanya Hansen kebingungan.


"Sir Jericho," jawab Olivia lagi.


"Kalau kamu sering-sering bersama dengan Jericho, maka kamu mungkin tidak akan pernah menerima lamaranku, yang ingin menikahimu," kata Hansen.


"Hansen! ... Apa-apaan kamu ini?" ujar Olivia.


"Huuffft...!" Olivia mendengus pelan. "Sir Andersen itu Atasanku, rasanya tidak nyaman membicarakannya seperti itu, walaupun hanya sekedar candaan saja."


"Okay, okay! ... Maafkan aku," ujar Hansen, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan mengajak Olivia untuk ikut bersamanya. "Ayo kita pergi!"


***


Di dalam mobil Hansen, yang mengarah ke lokasi di mana food truck biasanya berkumpul, untuk menjajakan dagangannya di sana, Hansen sepertinya masih memikirkan tentang Olivia dan Jericho.


Hingga akhirnya mereka tiba, di tempat yang menjadi tujuan mereka.


Dan sebelum mereka berdua keluar dari dalam mobil Hansen yang sudah terparkir, Hansen lantas segera menahan Olivia, agar tetap duduk di dalam mobil bersamanya.


Hansen kemudian berkata,


"Olivia ...! Kamu mungkin menganggap Jericho adalah Atasanmu, dan hubungan kalian hanyalah sebatas antara Atasan, dan karyawannya saja....


... Tapi aku rasa, Jericho mungkin tertarik untuk memiliki hubungan lebih dari itu denganmu. Sama sepertiku, yang ingin berkencan denganmu."


Seketika itu juga, Olivia terbelalak.


Dan saking terkejutnya, Olivia tidak tahu harus berkata apa, untuk menanggapi perkataan Hansen barusan, hingga dia hanya bisa terdiam saja, sambil menatap Hansen.


"Kamu tidak perlu cemas! Aku tidak akan terburu-buru, apalagi memaksamu untuk menjadi kekasihku. Aku tahu kalau kamu pasti butuh waktu, untuk memikirkannya....


...Aku hanya meminta kesempatan darimu, agar kamu tetap mau berteman denganku. Dan jangan menghindar dariku, hanya karena pengakuanku ini....


...Aku juga berharap, agar kita bisa lebih sering menghabiskan waktu berdua saja, sehingga kita bisa saling mengenal dengan lebih baik....


...Tentu aku juga tidak akan menghalang-halangimu, untuk mengenal orang yang lain, selain aku....


... Sampai kamu merasa yakin, kalau kamu memang sudah siap untuk menjadi kekasihku. Atau mungkin kamu nantinya, lebih memilih orang lain untuk jadi kekasihmu."

__ADS_1


Hansen bicara panjang lebar, dengan nada serius, namun tetap terdengar tenang, menurut Olivia.


__ADS_2