
Sekembalinya ke kantor, Olivia segera membantu Roe, rekan kerja Olivia yang sudah menunggu kedatangan Olivia, dengan raut wajah yang tidak sabaran.
Sedangkan Louis, terlihat duduk di meja kerjanya, dan langsung sibuk dengan pekerjaannya sendiri di situ.
Di luar tadi, waktu Olivia berkata bahwa benda-benda yang baru dipakainya itu, adalah pemberian dari Johan dan Jericho, Louis tampak sangat terkejut saat mendengarnya.
Walaupun demikian, Louis tidak berkomentar buruk kepada Olivia, dan dia hanya bertanya saja kepada Olivia.
Louis mengungkit tentang tanggal ulang tahun Olivia, yang tinggal dua hari lagi.
Dan kata Louis tadi, dia ingin hanya tahu, apakah mungkin, jika kedua orang Andersen itu sengaja memberikan Olivia hadiah, sebagai kado ulang tahun.
Tetapi Olivia tetap berkata jujur, kalau dia sampai bisa menerima hadiah-hadiah itu, karena rasa terima kasih dari para Andersen's, yang merasa terbantu olehnya.
***
Ketika Olivia masih sibuk membantu pekerjaan Roe, dari ujung mata Olivia, dia bisa melihat, kalau Claire tampak berjalan menghampiri meja kerja Louis.
Namun Olivia tidak merasa terganggu, ataupun cemburu melihatnya, seperti yang dia rasakan beberapa hari yang lalu.
Olivia bahkan terpikir, jika saja hubungan antara Louis dan Claire semakin membaik, maka bisa saja kalau Louis akan mengajak Claire, yang menjadi rekannya di pesta pernikahan adiknya nanti.
Dan jika Claire mau menemani Louis, maka Louis tidak perlu memaksa Olivia lagi, untuk ikut bersamanya mengunjungi keluarganya di luar negeri.
Dengan adanya Claire yang menggantikan Olivia, maka Olivia tentu tidak akan merasakan pengalaman canggung di depan keluarga Louis, seperti bayangan yang pernah terlintas dalam benak Olivia.
Tentu saja itu adalah yang terbaik, menurut Olivia.
Akan tetapi, kelihatannya apa yang dibayangkan oleh Olivia, tidaklah berjalan lancar.
Karena, saat Olivia masih belum kembali ke meja kerjanya, Claire terlihat sudah beranjak pergi dari meja Louis.
Claire yang melangkahkan kakinya dengan cepat, tampak sangat tergesa-gesa keluar dari ruang kerja mereka itu.
Dan yang paling menarik perhatian Olivia, dia sempat menangkap raut wajah Claire yang sedang berlalu pergi itu, yang tampak sedih, dan bahkan seolah-olah wanita itu akan menangis.
Apa yang baru saja terjadi?
Ada masalah apa antara Louis dan Claire, hingga Claire bisa terlihat gusar dan sesedih itu, sambil setengah berlari keluar dari ruang kerja?
Walaupun sebenarnya Olivia merasa penasaran, namun rasa penasaran Olivia itu, belumlah cukup untuk membuatnya sampai pergi bertanya kepada Louis.
Olivia juga tidak akan menyusul Claire, walaupun hanya untuk sekedar menghibur wanita itu, berhubung dirinya juga tidaklah seakrab itu dengan Claire.
Dengan demikian, Olivia berpura-pura bodoh saja, dan seolah-olah dia tidak melihat apa-apa.
Setelah beberapa waktu kemudian, dan Olivia sudah selesai membantu Roe dengan pekerjaannya, Olivia lalu kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
Dan Olivia mendapati selembar map berkas baru, yang sudah tergeletak di atas meja kerjanya itu.
Olivia lalu segera memeriksa berkas itu, dan lanjut mengerjakan tugasnya, tanpa memikirkan tentang hal antara Louis dan Claire, lagi.
***
"Roe! ... Roe!" Olivia berseru memanggil rekan kerjanya, sambil berdiri dari kursinya, namun tidak bergeser dari sana.
Wanita yang menjadi rekan kerja Olivia itu kemudian berdiri, hingga bagian kepalanya terlihat dari pembatas meja.
"Ada apa, Olivia?" tanya Roe.
"Tolong kamu bawa ke sini, berkas yang tadi kamu kerjakan!" kata Olivia memberi arahan.
"Tunggu sebentar!" jawab Roe, lalu menghilang di pembatas meja untuk sekilas saja, dan Roe kemudian terlihat berdiri lagi, sebelum Olivia sempat duduk di kursi kerjanya.
"Kamu mau yang ada di dalam flashdisk, atau berkas fisiknya saja?" tanya Roe.
"Bawa berkas fisiknya saja!" sahut Olivia, Lalu duduk kembali di kursi kerjanya.
Tidak berapa lama Olivia menunggu, Roe sudah menghampiri meja kerja Olivia, dan menyerahkan lembaran kertas berisi data-data, kepada Olivia.
"Ada apa?" tanya Roe, yang tampak kebingungan.
"Ada yang ingin aku pastikan," jawab Olivia, tanpa mengalihkan pandangannya dari tulisan demi tulisan, yang tertera di lembaran-lembaran kertas di tangannya itu.
Olivia lalu membanding-bandingkan data dari dua berkas, yang baru saja diserahkan Roe, dan berkas yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Aku tidak tahu," jawab Roe, yang kelihatannya semakin kebingungan, dan sedikit panik, seolah-olah dia telah melakukan kesalahan.
"Kedua berkas ini, berasal dari dua daerah yang berbeda. Tidak mungkin bisa memiliki data yang identik," ujar Olivia, sambil berpikir keras.
"Apa menurutmu aku yang mengacau, Olivia?" tanya Roe dengan suara bergetar.
Olivia tidak menjawab pertanyaan Roe yang masih berdiri di dekat meja kerjanya, melainkan terpikirkan untuk segera membuka basis data perusahaan, yang bisa di akses dari komputernya.
Untuk beberapa waktu Olivia memeriksa dengan membaca tampilan layar komputernya, Olivia segera mengetahui, siapa yang mengacaukan pekerjaan mereka.
"Bukan salahmu," kata Olivia, sambil berdiri dari tempat duduknya. "Tunggu sebentar!"
Olivia lalu menghampiri meja kerja Louis, dan berkata,
"Louis! Aku pinjam data dari daerah xx, sebentar!"
Louis tampak mengangkat wajahnya, dan menatap Olivia lekat-lekat.
"Untuk apa? Berkas itu sudah diantar ke ruangan Sir Hart, pagi tadi," ujar Louis.
__ADS_1
"Apa kamu tidak memeriksanya lagi? Menurutku, data itu tertukar dengan data dari daerah lain," sahut Olivia.
"Apa kamu yakin?" tanya Louis, yang tampak tersentak.
"Seingatku, data perbandingannya sesuai dengan data dari daerah xxx, yang ada di mejaku sekarang. Dan aku rasa....
... Claire yang telah salah menginput data di basis data utama. Itu sebabnya aku ingin memeriksa berkas itu lagi," jawab Olivia, menjelaskan.
"Huuffft ...!" Louis mendengus kesal. "Pekerjaannya sangat sepele, tapi dia tidak bisa mengerjakannya dengan benar."
Louis bersungut-sungut, meluapkan kekesalannya atas pekerjaan Claire yang dianggapnya tidak becus, kepada Olivia.
"Jangan menyalahkannya dulu! Karena itu masih dugaanku saja," kata Olivia, sambil berjalan menjauh dari meja kerja Louis.
"Kamu mau ke mana?" tanya Louis yang ikut berdiri, dan menyusul Olivia.
"Aku akan pergi ke ruangan Sir Hart ... Aku rasa dia pasti belum menandatanganinya, karena tadi dia ikut di dalam rapat," sahut Olivia.
"Kamu tidak perlu ikut denganku. Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku bisa pergi sendiri," lanjut Olivia, sambil terus berjalan.
"Tidak. Aku akan ikut denganmu. Sir Hart pasti bertanya-tanya, dan dia mungkin bisa salah paham padamu. Sedangkan itu, juga adalah kesalahanku, yang tidak memeriksa ulang berkasnya," ujar Louis, bersikeras.
Olivia yang tidak mau berdebat dengan Louis, akhirnya hanya terdiam, dan membiarkan Louis untuk ikut dengannya mendatangi Sir Hart, di ruangannya.
Di dalam ruangan Sir Hart, Olivia menjelaskan duduk persoalannya kepada manajernya itu, dan Sir Hart tampaknya mau mengerti, dan tidak memperpanjang masalah itu.
Sir Hart menyerahkan kepada Olivia, berkas yang Olivia butuhkan, tanpa banyak berkomentar.
Setelah beberapa waktu Olivia memeriksa semua berkas, yang terkumpul di mejanya bersama dengan Louis, dugaan Olivia memang terbukti, kalau Claire lah yang mengacau pekerjaan mereka.
Dan tentu saja, Louis juga ikut ambil bagian dalam kesalahan itu, karena dia yang tidak teliti dalam memeriksa berkas, yang disodorkan kepadanya.
"Louis! ... Aku bukan ingin mencampuri urusan pribadimu. Tapi sebagai teman dan rekan kerjamu, aku berharap agar kamu dan Claire, bisa memisahkan antara masalah pribadi...,
... dan urusan pekerjaan. Atasi masalah pribadi kalian dengan baik, agar tidak mempengaruhi dan mengganggu pekerjaan kita," ujar Olivia, pelan.
Walaupun Olivia merasa kalau dia sudah cukup berhati-hati, saat mengatakan apa yang dia pikirkan, agar Louis tidak tersinggung, namun kelihatannya Louis tidak terima dengan perkataan Olivia itu.
"Apa maksudmu? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Claire!" ujar Louis, ketus.
"Louis! ... Aku melihatnya hampir menangis, setelah berbicara denganmu tadi. Dan sampai sekarang ini, dia masih belum kembali ke ruangan ini....
... Aku tidak mau tahu, apa hubungan antara kalian berdua. Yang aku tahu, aku harus bekerja ekstra, hanya untuk kalian berdua yang tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja."
Dari yang awalnya Olivia ingin bicara baik-baik, namun karena melihat reaksi Louis, yang seolah-olah akan memarahinya, hanya membuat Olivia merasa kesal.
Sehingga tanpa berpikir panjang lagi, Olivia mengutarakan apa saja yang dia pikirkan kepada Louis, tanpa memperdulikan, apakah Louis akan tersinggung, hingga benar-benar marah kepadanya.
__ADS_1
Seketika itu juga, Louis tampaknya menyesal, karena sempat berbicara dengan nada tinggi kepada Olivia.
"Maafkan aku, Olivia ... Aku tidak sengaja menaikan suaraku tadi," ucap Louis, pelan.