Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 52


__ADS_3

Louis tampaknya tidak bisa menyembunyikan kegusarannya, karena rencana Olivia yang akan ke luar kota, yang menurutnya sangat tiba-tiba.


Hingga Louis memasang raut wajah cemberut, karena Olivia yang belum menjelaskan alasannya.


"Rencana untuk ke luar kota, sudah ada sejak dua hari yang lalu. Aku hanya tidak terpikir untuk memberitahumu ... Aku akan ke kota xx, dan tetap berada di sana selama dua hari," kata Olivia.


"Hmm ... Itu kota asalmu, bukan? Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" tanya Louis.


"Bukan untuk urusan pribadi. Aku memang belum tahu, ada apa yang sebenarnya. Hanya saja, CEO kita yang memintaku, agar ikut dengannya....


... Dan dia sudah meminta persetujuan dari Sir Hart, agar aku bisa izin untuk tidak bekerja, selama dua hari itu," kata Olivia, menjelaskan.


"Kalau begitu, mungkin ada pekerjaan baru di kota itu. Tapi, di sana ada kantor cabang. Untuk apa Sir Andersen membawamu?" ujar Louis.


"Aku rasa, mungkin karena orang-orang di kota itu, banyak yang aku kenali," sahut Olivia.


"Dengan begitu, mungkin Sir Andersen berpikir, bahwa akan jadi lebih mudah untuk berurusan dengan penduduk di sana, jika aku yang berhadapan langsung dengan mereka."


Olivia lanjut berbicara mengutarakan dugaannya, dan kelihatannya Louis juga setuju dengan dugaan Olivia itu.


"Kendaraan apa yang akan kamu tumpangi nanti?" tanya Louis.


"Memangnya kenapa? Apa kamu mau mengantarku?" tanya Olivia, sekedar untuk menggoda Louis.


Dan sebelum Louis sempat menanggapi perkataannya, Olivia lanjut berkata,


"Sir Andersen akan mengirimkan mobil perusahaan, untuk menjemput dan mengantarku nanti."


"Hmm ... Aku memang akan mengantarkanmu, kalau kamu hanya akan menggunakan transportasi umum," sahut Louis.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan.


"Kamu pasti bercanda! Perjalanan ke sana, bukanlah perjalanan yang dekat. Kamu tidak akan sanggup, untuk langsung berkendara kembali ke sini," kata Olivia.


"Tidak jadi masalah. Aku juga bisa izin kalau hanya dua hari," sahut Louis.


"Yeah, right!" ujar Olivia asal-asalan. "Biar semua pekerjaan di kantor, nanti jadi kacau balau."


"Tsk! ... Padahal, aku belum pernah pergi ke kota itu. Tentu akan lebih menyenangkan, untuk berjalan-jalan di sana, kalau ada kamu yang bisa jadi pemandu jalan," kata Louis.


***


Setibanya di apartemen Olivia, Louis masih bertitip pesan, agar Olivia berhati-hati di jalan, dan agar Olivia menghubunginya, walau hanya untuk sekedar berkirim kabar.


Dan setelah kepergian Louis dari apartemennya, Olivia segera masuk ke dalam kamar apartemennya, dan membersihkan dirinya yang terasa lengket, karena dia yang berkeringat saat joging tadi.


Jasa layanan pesan antar, dimanfaatkan oleh Olivia, untuk memesan makan siangnya, dan dinikmatinya sendirian di dalam kamarnya.


Setelah itu, Olivia segera mempersiapkan barang bawaan, yang dipikirnya akan dibutuhkannya nanti, di kota tujuannya.


Ketika segala sesuatunya sudah beres dikemas oleh Olivia, penanda waktu masih menunjukkan hampir pukul tiga siang.

__ADS_1


Sedangkan menurut pesan dari Johan, yang masuk di ponsel Olivia di sekitar jam sebelas siang tadi, supir perusahaan baru akan menjemput Olivia, nanti di jam lima sore.


Untuk mengurangi rasa bosannya menunggu, hingga waktunya dia dijemput, Olivia berselonjor dan menyandarkan punggungnya di tempat tidurnya, sambil melihat-lihat tampilan di layar ponselnya.


Akan tetapi, semakin lama Olivia menatap layar ponselnya, Olivia malah jadi mengantuk.


Daripada Olivia tertidur di kamarnya, Olivia lalu terpikir untuk menikmati kopi, dan sepotong kue tart buah, di coffee shop yang ada di dekat apartemennya.


Olivia lalu mengganti pakaiannya, dengan pakaian yang sudah dia siapkan, untuk bepergian malam ini.


Sembari membawa tas yang menjadi barang bawaannya, Olivia pergi ke coffee shop, dan berniat untuk menunggu jemputannya di sana saja.


Sesuai dengan rencananya, di dalam coffee shop, Olivia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, dan sepotong tart buah.


Sembari menunggu pesanannya diantar, Olivia yang duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia di sana, jadi teringat akan Dave, dan itu bukanlah tanpa alasan.


Coffee shop yang letaknya paling dekat dengan apartemennya, adalah coffee shop yang bersebelahan dengan tempat laundry, yang biasanya Olivia datangi untuk membersihkan pakaiannya.


Dan sekarang ini, dari tempatnya duduk, Olivia bisa memandangi orang-orang yang berada di dalam tempat laundry dengan jelas.


Oleh karena itu, sehingga Olivia bisa terpikir akan Dave, yang bisa melihat Olivia membersihkan pakaiannya, jika Dave sedang berada di dalam coffee shop itu.


Pesanan Olivia baru saja diantar oleh seorang pelayan coffee shop, ketika Olivia mendengar suara seseorang yang menyapanya.


"Olivia?"


Olivia lalu menoleh ke sampingnya, melihat ke arah dari mana datangnya suara, dan Olivia cukup terkejut, akan pemandangan yang sekarang sedang dilihatnya.


Dave, orang yang baru saja terlintas di dalam pikiran Olivia, kini terlihat mengembangkan senyuman yang lebar di wajahnya, sambil berjalan menghampiri tempat Olivia duduk.


Olivia yang rasanya masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya, hampir tidak memperhatikan, akan apa yang baru saja dikatakan oleh Dave.


"Ugh ...? Tidak! Silahkan duduk!" kata Olivia, buru-buru.


Dave lalu duduk di kursi kosong, yang berhadapan dengan Olivia.


"Aku tidak menyangka, kalau kita akan bertemu lagi di sini," kata Dave, yang terdengar berbasa-basi.


Olivia belum sempat berkata apa-apa, namun seorang pelayan coffee shop, menghampiri meja, dan menuliskan pesanan yang disebutkan oleh Dave.


"Kenapa kamu membawa tas? Apa kamu akan bepergian?" tanya Dave, sambil melirik sebentar ke arah tas Olivia, yang diletakkan di lantai.


"Iya ... Aku akan ke luar kota. Tapi aku masih menunggu jemputan," jawab Olivia.


"Perjalanan kerja? Atau sekedar liburan?" tanya Dave lagi, lalu sebelum Olivia menjawabnya, Dave buru-buru lanjut berkata,


"Maafkan aku ... Aku mungkin terlalu banyak bertanya, dan mungkin hanya membuatmu merasa tidak nyaman."


"Tidak apa-apa," kata Olivia. "Aku akan bepergian untuk pekerjaan."


"Hmm ... Pekerjaanmu kelihatannya menyenangkan. Walaupun sedang bekerja, tentu masih bisa melihat-lihat di kota lain....

__ADS_1


... Tidak seperti pekerjaanku, yang hanya terdiam di satu tempat. Aku hanya bisa bepergian, jika di hari libur saja," kata Dave.


"Kamu pasti bercanda! Tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan, jika dibandingkan dengan menjadi seorang dokter gigi....


... Kamu bisa membuat orang menangis ketakutan, tapi tidak ada yang akan berani untuk menuntutmu," sahut Olivia, bercanda, lalu tersenyum.


"Hahaha!" Seketika itu juga, Dave tertawa lepas, hingga bahunya tampak tersentak-sentak.


"Aku tidak salah menilaimu. Kamu memang menyenangkan," ujar Dave, sambil tersenyum lebar. "Aku jadi menyesal, karena tidak berani menyapamu, sebelum-sebelumnya."


"Hmm ... Sekarang jadi kesempatanku untuk mencari tahu. Sejak kapan kamu melihatku?" ujar Olivia, penasaran.


"Sudah sejak beberapa bulan yang lalu," jawab Dave.


"Lihat!" Dave lalu menunjuk ke arah tempat laundry, lalu lanjut berkata,


"Dari sini, semua yang ada di sebelah sana, bisa terlihat dengan jelas, bukan?"


Walaupun Olivia sudah tahu maksud dari Dave, tapi dia tetap melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Dave.


"Iya ... Tapi rasanya tetap aneh, kalau ada orang yang memperhatikan gerak-gerik kita," kata Olivia, berterus terang.


Dave lalu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil menundukkan sedikit pandangannya, seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan.


"Benar katamu! Aku jadi seperti seorang penguntit, walaupun sebenarnya aku tidak merencanakannya," kata Dave, yang sudah kembali menatap Olivia.


"Waktu itu, aku sedang ada sedikit masalah. Dan ketika aku melihatmu, kamu seolah-olah tidak bisa berhenti tersenyum, sambil menatap layar ponselmu....


...Pada awalnya, aku merasa kesal, karena melihat seseorang..., maksudku, kamu yang bisa terlihat bahagia. Sedangkan aku, kalut dengan permasalahanku....


... Tapi lama kelamaan, aku malah bisa ikut tersenyum sepertimu. Walaupun aku tidak tahu, apa yang membuatmu bisa tersenyum selebar itu," lanjut Dave, berbicara panjang lebar.


Untuk beberapa saat kemudian, Dave lalu hanya terdiam, hingga Olivia berkata,


"Hanya itu saja penjelasanmu?"


"Ugh ...? Kamu masih mau mendengarnya?" Dave balik bertanya.


"Tentu saja! ... Tentu kamu harus meyakinkan ku, bukan?" sahut Olivia, lalu memberi kesempatan lagi bagi Dave, untuk berbicara.


Sambil menatap ke arah meja, Dave yang menumpukan kedua sikunya di atas meja, lalu memegang dagunya dengan sebelah tangannya, dan terlihat memijat-mijat dagunya di situ.


"Sejak saat itu, aku seolah-olah memang sudah membuat janji denganmu, setiap kali kamu pergi ke sana—tempat laundry—maka aku juga pasti sedang berada di sini. Dan gerak-gerikmu di tempat itu, selalu saja sama....


...Aku sebenarnya ingin menyapamu, tapi aku khawatir kalau-kalau kamu salah paham. Jika aku, seseorang yang asing, lalu secara tiba-tiba menghampirimu begitu saja....


... Dan jika aku bicara tentang yang aku katakan tadi, sebagai alasan untuk berkenalan denganmu. Kamu pasti akan menganggapku, sebagai orang aneh, bukan?"


Lagi-lagi, Dave berbicara panjang lebar, seolah-olah dia memang berusaha untuk meyakinkan Olivia, kalau dia bukanlah seorang penguntit.


"Jadi maksudmu, pertemuan kita bisa terjadi, benar-benar hanya karena takdir?" tanya Olivia, skeptis.

__ADS_1


"Sejujurnya, aku tidak percaya dengan takdir. Tapi aku juga tidak tahu, akan menyebutnya apa. Karena lagi-lagi, aku bisa bertemu denganmu....


... Bahkan sekarang ini, kita bisa duduk di dalam satu ruangan yang sama, dan memulai percakapan normal, seperti orang lain pada umumnya," jawab Dave.


__ADS_2