Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 57


__ADS_3

Pertanyaan Johan tentang seseorang yang bisa membuat Olivia tertarik, bisa segera dijawab oleh Olivia, tanpa merasa ragu-ragu.


"Belum ada, Sir," kata Olivia.


"Hmm ... Benarkah?" ujar Johan. "Kamu menyukai laki-laki yang seperti apa?"


"Saya tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Jadi ... Asalkan laki-laki itu baik dan bertanggung jawab, saya rasa mungkin itu sudah cukup," jawab Olivia. 


"Oh, iya! ... Dan tentu saja dia harus mencintai saya. Karena akan jadi memalukan, kalau hanya saya saja yang mencintainya," lanjut Olivia, buru-buru, lalu tersenyum lebar.


"Pffftt...!" Johan tertawa tertahan. 


"Tsk! ... Anda malah menertawakanku," ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Okay, okay! ... Maafkan aku," kata Johan, sambil tersenyum.


"Tipe laki-laki yang kamu inginkan itu, mudah ditemukan. Apa kamu tidak memiliki ketentuan khusus, akan laki-laki yang bisa membuatmu tertarik?


... Karena yang aku tahu, biasanya wanita lebih suka laki-laki yang tampan, pintar dan sukses, bukan?" lanjut Johan, tampak penasaran.


"Tidak, Sir ... Mungkin untuk sebagian besar wanita, memang memikirkan hal yang seperti itu lebih dulu," kata Olivia.


"Sedangkan yang pertama kali yang saya inginkan, adalah saya bisa mengenali kepribadian orang itu lebih dulu....


...Setelah saya mengetahui semua kelebihan dan juga kekurangannya, dan saya masih menyukainya, maka saya akan menerimanya. Kalau seandainya saja, dia lalu meminta saya untuk menjadi kekasihnya....


... Dan jika saja orang itu memiliki wajah yang tampan, dia pintar, ataupun dia adalah seseorang yang sukses, bagi saya, itu hanyalah bonus," lanjut Olivia.


"Menarik! ... Kalau begitu, siapapun dia itu, akan memiliki peluang yang sama, untuk menjadi kekasihmu. Benar begitu?" ujar Johan, sambil tersenyum lebar.


"Iya, Sir," jawab Olivia. 


"Hmm ... Tapi aku jadi penasaran. Apa ada alasannya, hingga kamu bisa memiliki pemikiran seperti itu?" tanya Johan.


"Daddy dan mommy saya, Sir," jawab Olivia.


"Wajah daddy tidak tampan. Dia juga hanya bekerja sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, dengan gajinya yang tidak seberapa.... 


... Tapi daddy, bisa membuat mommy dan saya bahagia. Dan mereka berdua bisa saling mencintai, sampai akhir hidupnya," lanjut Olivia menjelaskan.


Johan kemudian menatap Olivia lekat-lekat, sambil memasang raut wajah serius.


Setelah beberapa saat kemudian, dan Johan masih tetap bertahan seperti itu, Olivia jadi merasa sedikit canggung.


"Apa ada yang salah, Sir?" tanya Olivia, menegur Johan.


"Ugh? ... Tidak. Aku hanya teringat sesuatu," kata Johan, yang tampak tersentak.


Johan lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian berkata,


"Ayo kita pergi! Aku tahu salah satu tempat yang menarik di dekat sini. Dan aku rasa, kamu juga akan menyukainya."


Mendengar perkataan Johan yang mengajaknya, Olivia pun ikut berdiri dari tempat duduknya, dan ikut berjalan bersama Johan, keluar dari restoran itu.


***


Pintu gerbang berukuran besar, yang tersambung dengan pagar beton yang tinggi, hingga orang yang berada di depannya, tidak akan bisa melihat ada apa di baliknya.


'Sunflower Garden'.

__ADS_1


Demikian kata-kata yang tertera, dengan membentuk separuh lingkaran, di atas pintu gerbangnya, dan ke tempat itulah Johan membawa Olivia bersamanya.


Olivia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya.


"Tunggu apa lagi?" tanya Johan, yang tampak sudah bersiap, untuk beranjak keluar dari dalam mobilnya, yang sudah berhenti dan terparkir, tepat di depan pintu gerbang.


Olivia kemudian keluar dari dalam mobil, yang pintunya sudah dibukakan oleh supir pribadi Johan.


"Tempat apa ini?" tanya Olivia, penasaran.


"Sesuai dengan yang tertulis di sana! Tempat ini adalah perkebunan untuk bunga matahari," jawab Johan, sambil menunjuk ke bagian atas pintu gerbang.


Johan kemudian berjalan mendekat ke pintu gerbang, lalu menekan tombol di sebuah alat berbentuk kotak kecil, yang bisa dipakai untuk melakukan komunikasi dua arah, yang tertempel di pojok pagar.


Johan berbicara sebentar di depan alat itu, sementara Olivia menunggu di dekat Johan, sambil melihat-lihat ke sana kemari.


Pintu gerbang itu kemudian tiba-tiba terbuka.


Menurut Olivia, pintu gerbang itu berarti diatur dengan alat pengendali jarak jauh. Karena di balik pintu gerbang itu, tidak terlihat seorangpun yang berada di sana.


"Ayo kita masuk! Tempat ini milik kenalanku," kata Johan, sambil berjalan melewati pintu gerbang, bersama-sama dengan Olivia.


Selain sebuah rumah megah, yang berdiri di bagian tengah-tengah perkebunan, dan terlihat seperti pusat dari tempat itu, hampir di setiap penjuru arah, ke mana mata Olivia bisa memandang, terlihat dipenuhi dengan tanaman bunga matahari.


Sebagian dari tanaman itu, terlihat sudah kering dan siap dipanen, dan sebagiannya lagi, bunga mataharinya masih bermekaran, dan tampak segar.


"Kenalanku itu, sebenarnya tidak suka dengan bunga matahari. Tapi dia mau membuat perkebunan ini, karena istrinya yang sangat menyukainya," kata Johan.


"Kita tidak bisa bertemu dengan mereka hari ini. Karena mereka sedang berada di luar kota, sekarang," lanjut Johan lagi.


Olivia lalu melihat ke arah Johan untuk beberapa saat, sebelum dia kembali memandangi tanaman bunga matahari, sambil tetap berjalan bersebelah-sebelahan dengan Johan.


"Tidak apa-apa, Sir ... Saya hanya merasa, kalau kita datang di waktu yang tidak tepat. Karena kita yang berkunjung ke tempat ini, sedangkan pemiliknya tidak berada di sini," jawab Olivia.


"Tidak mungkin kalau kamu sampai menduga, bahwa kita sedang menerobos, bukan? Aku sudah minta izin pada mereka....


... Itu sebabnya, hingga pintu gerbang itu bisa terbuka," kata Johan, seolah-olah dia sedang membela diri.


"Bukan itu maksud saya, Sir ... Saya hanya ingin bertemu dengan pemilik tempat ini. Saya jadi penasaran, seperti apa kenalan anda itu dan istrinya," kata Olivia.


Setelah mereka hampir mencapai bangunan rumah, yang ada di tengah-tengah perkebunan itu, Johan lalu membawa Olivia untuk duduk di bangku, yang berada di dekat situ.


Johan lalu terlihat berjalan masuk di sela-sela tanaman bunga matahari, yang kelihatannya sudah hampir waktunya untuk dipanen.


Entah apa yang dilakukan oleh Johan di sana.


Tetapi ketika Johan kembali, Johan lalu menyodorkan segenggam biji bunga matahari, kepada Olivia.


"Kamu mau mencobanya?" tanya Johan.


Sambil menganggukkan kepalanya, Olivia lalu membuka kedua telapak tangannya, dan menerima biji-biji bunga matahari, yang diberikan oleh Johan.


Johan kemudian ikut duduk di bangku, bersampingan dengan Olivia, sambil menggigit biji bunga matahari, untuk mengeluarkan isinya.


"Karena pembicaraan kita tadi, aku jadi teringat akan tempat ini. Itu sebabnya, hingga aku mengajakmu ke sini," kata Johan, sambil tersenyum, dan menatap Olivia.


Olivia tidak menanggapi perkataan Johan, dan hanya mendengarkannya saja, sambil mengeluarkan isi dari biji bunga matahari, lalu menyantapnya.


"Bagaimana rasanya? Apa kamu menyukainya?" tanya Johan.

__ADS_1


Olivia menganggukkan kepalanya. "Iya."


"Apa kamu masih menginginkannya? Aku bisa mengambilkannya lagi untukmu," ujar Johan.


"Sudah cukup, Sir ... Saya tidak mau merepotkan anda," sahut Olivia.


"Tidak masalah ... Tunggu sebentar!" kata Johan, dengan suaranya yang terdengar tanpa beban.


Kelihatannya, Olivia memang tidak bisa melarang Johan, yang tampak tetap bersikukuh, untuk pergi mengambilkan biji bunga matahari, untuk Olivia. 


Johan yang sudah berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan lagi, dan memasuki sela-sela tanaman yang ada di depan mereka itu.


Dan ketika Johan kembali, dia membawa satu buah bunga matahari, yang terlihat sudah rontok sebagian biji-bijinya.


Olivia yang melihat tingkah Johan itu, tersenyum lebar, dan hampir tertawa.


Namun Johan tidak marah, melainkan dia justru ikut tersenyum, saat beradu pandangannya dengan Olivia.


Sambil dia kembali duduk di samping Olivia, Johan segera menyodorkan bunga matahari itu kepada Olivia. 


"Ini! ... Kamu bisa menikmatinya sepuasnya," kata Johan, sambil tetap tersenyum.


"Pffftt...! Hahaha! ... Terima kasih, Sir." 


Suara Olivia bergetar, karena dia yang tidak bisa menahan dirinya lagi, hingga dia akhirnya tertawa, sambil berbicara kepada Johan.


"Sama-sama," sahut Johan.


Olivia rasanya memang tidak bisa berhenti tertawa, karena bayangan Johan yang memegang bunga matahari, yang memiliki ukuran selebar piring makan, terus menerus melintas di benak Olivia.


Dan tampaknya, Johan mungkin merasa gemas karena Olivia. Sehingga Johan terlihat menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah dia sedang menahan dirinya, untuk tidak ikut tertawa.


"Rasanya akan jadi lebih enak, kalau biji itu sudah melalui proses pengolahan," kata Johan. "Kuaci ... Apa kamu sudah pernah mencobanya?" 


"Iya. Saya justru pernah merasakan kuaci yang diolah dari biji labu, dan dari biji semangka," jawab Olivia.


"Tapi, Sir! ... Apa hubungannya tempat ini, dengan pembicaraan kita tadi?" tanya Olivia.


"Bunga matahari ini, dan berikut juga dengan pemiliknya," jawab Johan.


Menurut Olivia, perkataan Johan itu, tidaklah menjawab pertanyaan Olivia tadi, dan justru hanya membuat Olivia menjadi bingung.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya tidak mengerti, akan apa maksud anda," kata Olivia.


"Katamu tadi, kamu lebih suka untuk mengenal seseorang dengan lebih baik terlebih dahulu, barulah kamu mau menjadi kekasihnya....


... Benar begitu, bukan?" ujar Johan, yang mengulang perkataan Olivia, saat mereka berada di restoran tadi.


"Iya," jawab Olivia singkat, agar Johan bisa segera menjelaskan maksudnya.


"Kata-katamu itu, mengingatkanku akan biji bunga matahari. Karena menurutku, kedua hal itu kurang lebih sama saja....


...Kamu menunggu dan mengamatinya, sampai bunga matahari itu cukup umurnya dan menghasilkan biji-bijinya, untuk mengetahui kualitasnya....


... Dan jika kamu menyukai bijinya walaupun masih mentah, maka kamu pasti akan lebih menyukainya lagi, saat biji-biji itu sudah diolah," kata Johan.


"Dan untuk pernyataanmu tentang kedua orang tuamu, juga mengingatkanku kepada kenalanku, yang menjadi pemilik tempat ini....


... Laki-laki yang mencintai wanitanya, pasti akan berubah, menjadi sosok yang diinginkan oleh wanita yang dicintainya itu," lanjut Johan.

__ADS_1


__ADS_2