
Walaupun Olivia berkata, kalau dia akan mendengarkan apa saja yang akan jadi curahan hati dari Louis, namun tentu saja bukanlah saat ini, yang menjadi waktunya yang tepat.
Apalagi, di dalam kafetaria terlihat padat dengan karyawan, yang menikmati makan siangnya di sana.
Olivia dan begitu juga Louis, tidak mendapatkan tempat duduk terpisah, yang sesuai bagi Louis, untuk menceritakan tentang hal pribadinya.
Dengan duduk bergabung dengan beberapa rekan kerja mereka, tentu saja menjadi tidak memungkinkan bagi Louis, agar bisa berbicara dengan tenang dengan Olivia.
Olivia yang jadi pusat perhatian sekarang ini, bahkan lebih sering berbincang-bincang dengan rekan kerjanya yang lain, dan tidak ada kesempatan untuk berbincang-bincang secara khusus dengan Louis.
Satu persatu dari rekan kerja Olivia, melontarkan pertanyaan ataupun memberi tanggapan, sekaligus pujian kepada Olivia, akan apa yang mereka pikirkan, yang tidak bisa mereka bicarakan saat sedang bekerja.
Baik membicarakan tentang hal yang berhubungan dengan pekerjaan, ataupun yang hanya sekedar ingin tahu, bagaimana hingga Olivia bisa terlihat dekat dengan Jericho dan Johan.
Menurut Olivia, bukanlah hal yang mengherankan, jika desas-desus di antara karyawan, bisa dengan mudahnya menyebar.
Apalagi jika berkaitan dengan Jericho maupun Johan, yang setiap gerak-gerik dari kedua orang laki-laki itu, memang senantiasa jadi pusat perhatian semua orang di dalam kantor.
Selama ini, Olivia memang tidak sempat memberitahu kepada rekan-rekan kerjanya, tentang apa yang terjadi pada waktu berlangsungnya pesta kantor.
Dan akhirnya, pada kesempatan kali ini, Olivia memanfaatkannya untuk menceritakan, tentang bagaimana kejadian yang tidak disangka-sangka, yang dialaminya waktu itu, hingga membuatnya bisa terlibat dengan Jericho dan Johan.
Olivia merasa perlu untuk menjelaskan tentang hal itu kepada rekan-rekan kerjanya, agar tidak ada isu menyimpang, yang mungkin bisa berkembang lebih jauh, di dalam perusahaan tempat mereka bekerja itu.
Dan setelah Olivia selesai bercerita, menurut penilaian Olivia, reaksi dari rekan-rekan kerjanya, kelihatannya cukup memaklumi, jika Jericho maupun Johan, tampak memberi perhatian lebih kepada Olivia.
Bahkan menurut mereka, Olivia justru harus mendapatkan balasan yang pantas, karena aksi heroik yang dilakukan Olivia, yang telah menyelamatkan Johan.
Namun Olivia bersikeras, kalau dia menganggap hal itu adalah suatu kebetulan belaka, dan tidak perlu dibesar-besarkan.
Olivia bahkan memberikan contoh, sebagai bahan pertimbangan bagi rekan-rekan kerjanya.
Tentang bagaimana jika di antara mereka, mengalami hal yang serupa seperti Olivia saat itu, yang tanpa sengaja menemukan orang yang membutuhkan bantuan.
Sudah barang tentu, kalau siapa pun itu, pasti akan berusaha untuk membantu orang yang yang dalam kesulitan itu sebisanya, tanpa memandang status dari orang yang dibantu tersebut, dan tanpa mengharapkan balasan apa-apa.
Sontak, pujian dari rekan-rekan kerja Olivia mengalir deras dari mulut mereka, membanjiri Olivia.
Karena rekan-rekan Olivia itu, menganggap kalau cara berpikir dari Olivia, patut untuk diacungi jempol.
Namun Olivia bukanlah orang yang senang berbangga diri, saat menerima pujian, sehingga dia tidak terlalu memperdulikan respon dari rekan-rekannya itu.
Olivia justru sibuk memikirkan, tentang apa saja isu yang mungkin sudah terlanjur menyebar, di antara para karyawan.
Hingga saat itu, Olivia meminta bantuan dari rekan-rekan kerjanya, agar mereka bisa membantu menjelaskan situasi yang sebenarnya, jika saja ada orang lain yang ingin mencari tahu, tentang apa hubungan antara Olivia, Jericho dan Johan.
__ADS_1
Dengan harapan, jika orang-orang itu bisa mengetahui hal yang sebenarnya, maka tidak akan ada kesalahpahaman yang bisa menciptakan isu yang tidak-tidak.
Dan rekan-rekan kerja Olivia, tampak setuju untuk membantunya, tanpa sedikitpun terlihat ragu.
Sampai akhirnya, Olivia, Louis, dan rekan-rekan kerja mereka yang lain selesai makan siang, dan waktu untuk beristirahat pun juga sudah habis, Louis hanya lebih banyak menjadi pendengar saja.
***
Tidak ada yang salah dari pekerjaan Olivia tadi.
Namun dugaan Olivia, mungkin saja justru karena itu, hingga Sir Hart memanggil Olivia, untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Padahal saat ini, Olivia masih ada pekerjaan lain, yang menunggunya untuk dia selesaikan, sedangkan jam kerja sudah hampir berakhir.
Ketika Olivia masuk ke dalam ruang kerja Sir Hart, Olivia mendapati, kalau bukan hanya Sir Hart saja yang ada di sana.
Kedatangan Olivia, disambut dengan senyum yang mengembang lebar di wajah Johan, yang terlihat duduk di sofa yang ada di ruang kerja Sir Hart, bersama-sama dengan Sir Hart.
"Halo, Olivia!" sapa Johan.
"Halo, Sir Andersen! ... Halo, Sir Hart!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" sahut Sir Hart, sambil menunjuk dengan telapak tangannya yang terbuka, mengisyaratkan agar Olivia mengambil tempat duduk, di bagian sofa yang kosong. "Silahkan duduk!"
"Sir Andersen ada permintaan untukmu. Itu sebabnya hingga kamu dipanggil ke sini," kata Sir Hart, setelah Olivia terduduk di sofa.
"Hari Senin nanti, saya ingin agar kamu ikut denganku bepergian ke kota xxx, selama dua hari. Saya sudah meminta izin dari Sir Hart, agar kamu bisa ikut," kata Johan.
"Sebenarnya, saya bisa saja menginformasikan tentang hal ini, besok. Tapi saya ada perjalanan ke daerah lain, malam ini....
... Dan kemungkinan besar, saya tidak akan kembali ke sini tepat waktu, sebelum jam bekerja usai. Dengan begitu, saya mungkin tidak sempat untuk bertemu langsung denganmu dan Sir Hart."
Johan buru-buru melanjutkan perkataannya, sebelum Olivia sempat menanggapi perkataan awalnya tadi.
"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Tapi apa saya boleh tahu? Kenapa sampai saya bisa diajak, untuk ikut dengan anda ke kota itu?" ujar Olivia, bingung.
"Kamu tentu familiar dengan kota itu, kan?! Dan saya rasa, penduduk di daerah xx, juga sebagian besar, mungkin kamu kenali," kata Johan.
Kota yang dimaksud oleh Johan, adalah kota yang menjadi tempat kelahiran Olivia, dan begitu juga daerah yang disebutkan oleh Johan tadi, yang menjadi tempat di mana rumah lama Olivia berada.
Dengan demikian, Olivia pasti sudah familiar akan daerah itu, yang menjadi tempat bagi Olivia, menghabiskan masa kecilnya sampai dia berusia remaja.
Dan sudah barang tentu, Olivia juga akan mengenali beberapa dari penduduknya, yang mungkin masih menetap di sana.
"Iya, Sir!" jawab Olivia.
__ADS_1
"Di hari Senin nanti, Olivia tidak perlu datang ke kantor. Karena menurut Sir Andersen, beliau yang akan mengatur janji denganmu secara langsung....,
... tentang di mana Sir Andersen akan menjemputmu nantinya," kata Sir Hart, memberi arahan.
"Baik, Sir!" sahut Olivia.
"Itu saja dulu, Olivia! Sekarang, kamu sudah bisa kembali ke ruanganmu," kata Sir Hart lagi.
"Baik, Sir! ... Kalau begitu, saya permisi dulu! ... Sir Andersen! Sir Hart!" ujar Olivia, lalu berdiri dan beranjak pergi dari ruang kerja Sir Hart.
Sambil Olivia berjalan kembali ke ruang kerjanya, Olivia memikirkan tentang ajakan Johan, yang menurutnya cukup mengejutkan dan mengherankan.
Untuk apa Johan mengajak Olivia ke sana?
Karena jika untuk urusan pekerjaan, Andersen's Construction memiliki kantor cabang di kota xxx, yang menjadi tujuan Johan itu.
Dengan demikian, seharusnya pegawai divisi humas yang ada di kantor cabang itulah, yang melakukan survey di daerah itu, jika memang di sana akan ada proyek yang akan dikerjakan.
Namun, Olivia tentu tidak bisa mempermasalahkan tentang ajakan Johan itu.
Karena menurut Olivia, pasti ada alasannya, hingga Johan sampai mengajak Olivia untuk ikut bersamanya.
***
Olivia sudah bersiap-siap untuk pulang, ketika lampu kilat di ponselnya terlihat berkelap-kelip, menandakan adanya panggilan telepon yang masuk di sana.
Ketika Olivia memeriksa ponselnya, ternyata Jericho yang menghubungi Olivia, dan Olivia segera menerima panggilan telepon itu.
"Halo, Sir!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" sahut Jericho dari seberang. "Apa kamu sudah pulang?"
"Belum, Sir ... Saya masih di kantor," jawab Olivia.
"Jadi, kamu masih di ruanganmu?" tanya Jericho lagi.
"Iya, Sir ... Ada apa?" sahut Olivia.
"Apa kamu bisa menungguku di situ? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Jericho.
"Iya ... Bisa, Sir!" jawab Olivia.
"Okay! Tunggu sebentar, ya?!" kata Jericho lagi.
"Baik, Sir!" sahut Olivia, lalu memutuskan sambungan telepon dari Jericho itu.
__ADS_1
Apa yang ingin dikatakan oleh Jericho kepada Olivia?
Dengan rasa penasaran, sambil menunggu kedatangan Jericho, Olivia melanjutkan kegiatannya merapikan meja kerjanya, agar dia bisa langsung pulang, setelah selesai bertemu dengan Jericho nanti.