
Kelihatannya, Johan tidak mau berlama-lama membiarkan Olivia merasa salah tingkah, hingga dia segera mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa kamu tidak keberatan kalau aku banyak bertanya tentangmu? Aku benar-benar ingin mengenalmu dengan lebih baik," ujar Johan.
Olivia menunda untuk menjawab Johan, karena kedatangan seorang pelayan yang menyajikan makanan pembuka, ke atas meja mereka.
"Silahkan, Sir! Tidak masalah. Apa yang ingin anda tanyakan?" sahut Olivia.
"Bagaimana kabar daddy-mu?" tanya Johan.
"Daddy sudah meninggal dunia, Sir," jawab Olivia.
"Oh, my! ... Maafkan aku, Olivia," ucap Johan.
"Tidak apa-apa, Sir ... Daddy sudah wafat sejak saya masih dua belas tahun," kata Olivia.
Johan kemudian tampak menyesap sedikit wine dari dalam gelasnya, lalu berkata,
"Ketika mommy-mu berhenti kerja, dia pindah ke kota xxx. Waktu itu, aku menyarankannya untuk bekerja di kantor cabang yang ada di sana....
... Tapi, aku tidak mendengar sesuatu tentangnya lagi. Apa dia masih sempat bekerja lagi?"
"Setahu saya tidak, Sir ... Menurut cerita mommy dan daddy, sejak pindah ke sana dan menikah dengan daddy, mommy tidak bekerja kantoran lagi....
... Hingga daddy wafat, barulah mommy kembali bekerja, di sebuah coffee shop." Olivia menjelaskan, sambil meletakkan gelas wine, yang cairannya baru saja disesapnya sedikit.
"Silahkan dimakan!" kata Johan.
"Terima kasih, Sir!" ucap Olivia, lalu mulai menikmati makanannya bersama Johan.
"Apa mommy-mu menikah lagi setelah daddy-mu wafat?" Johan tampak memanfaatkan kesempatannya, untuk benar-benar mencari tahu, tentang apa saja yang terlintas di benaknya.
"Tidak. Mommy tetap sendiri, sampai dia meninggal dunia," jawab Olivia pelan.
Johan lalu tampak terdiam untuk beberapa saat lamanya, dengan pandangan matanya yang sedikit tertunduk, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana dengan sekolahmu? Kamu berkuliah di mana?" tanya Johan saat dia mengangkat pandangannya lagi, dan melihat ke arah Olivia.
"Saya berkuliah di universitas xxx," jawab Olivia.
Johan tampak melebarkan matanya, menatap Olivia lekat-lekat, lalu tersenyum lebar, namun dia tidak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Ada apa, Sir?" tanya Olivia setelah beberapa saat kemudian, dan Johan masih belum mengatakan sesuatu.
"Tidak apa-apa," ujar Johan, lalu menyuapkan sedikit makanannya.
"Yang aku tahu, standar tes kemampuan untuk masuk di universitas itu sangat tinggi. Kalau kamu sampai bisa berkuliah di sana, berarti kamu orang yang pintar...
... Tapi biayanya kuliah di tempat itu juga tinggi. Aku tidak tahu bagaimana pergumulan yang kalian alami, dan rasanya tidak pantas kalau aku bertanya tentang hal itu....
... Yang pasti, saat melihatmu sekarang ini, jujur saja, aku benar-benar merasa kagum padamu, dan mendiang kedua orang tuamu," lanjut Johan, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
"Terima kasih atas pujiannya, Sir," ucap Olivia.
***
Sembari menikmati makan malamnya, sesekali Johan masih bertanya tentang bagaimana pekerjaan Olivia di kantor.
Dan Olivia menjawabnya dengan jujur, tentang apa yang dia rasakan di tempat kerjanya, yang dia anggap sebagai pekerjaan yang bagus dan setimpal dengan perjuangannya, sampai bisa diterima bekerja di perusahaan milik Johan itu.
Johan sempat menanyakan kalau Olivia ingin dipromosikan untuk kenaikan jabatan, bahkan sempat menawarkan posisi pekerjaan yang bekerja langsung kepadanya.
"Seandainya nanti kamu mau menjadi asistenku, maka kamu bisa beritahu saja langsung padaku," ujar Johan.
Namun Olivia tidak mau membebani Johan.
Sama seperti Jericho, Johan juga berkata kalau tes itu akan dilakukan secara fair, tanpa ada intervensi dari pihak-pihak tertentu, jadi kalau Olivia memang mampu, maka Olivia bisa mendapatkan jabatan itu.
Sampai mereka berdua menghabiskan sajian makan malamnya, Olivia dan Johan bisa berbincang-bincang santai, seolah-olah Olivia dan Johan sudah saling mengenal dalam waktu yang lama.
Dan jika Olivia bisa berkata jujur, dia merasa senang, dan menikmati waktunya yang berlalu bersama Johan di restoran itu.
Karena Johan yang murah senyum, dan cara bicaranya yang tenang, membuat Olivia merasa nyaman untuk berinteraksi dengannya.
Olivia bahkan hampir melupakan, kalau Johan itu terpaut usia sangat jauh dibandingkan dengannya, dan ditambah lagi Johan adalah CEO di tempatnya bekerja.
Sepintas penilaian Olivia, jika membanding-bandingkan antara Jericho dan Johan, kedua bosnya itu sama-sama memiliki kepribadian yang menyenangkan, untuk menjadi lawan bicaranya.
***
Salah satu pelayan restoran, kemudian menghampiri meja Olivia dan Johan, yang sudah dirapikan dari peralatan bekas makan yang kotor.
"Permisi, Sir! ... Madam! ... Apa anda sudah menentukan, hidangan penutup apa yang anda inginkan, Sir? ... Madam?" tanya pelayan itu.
__ADS_1
"Es krim cokelat, satu!" kata Johan mengatakan pesanannya kepada pelayan, lalu melihat ke arah Olivia. "Kamu mau apa?"
"Sama dengan anda, Sir ... Es krim rasa cokelat," sahut Olivia.
Johan tampak bingung melihat Olivia, tapi dia segera mengalihkan pandangannya, dan kembali melihat ke arah pelayan. "Dua es krim cokelat!"
"Baik, Sir! ... Madam! ... Permisi!" Pelayan itu kemudian berlalu pergi, setelah mencatat pesanan Johan dan Olivia.
"Apa kamu memang suka es krim cokelat? Kamu bisa memesan yang lain, dan tidak perlu harus menyamakan dengan pesananku," celetuk Johan.
"Sir! ... Itu adalah dessert terbaik!" sahut Olivia, sambil tersenyum lebar.
"Pffftt ...!" Johan tertawa tertahan. "Benarkah? Karena itu juga dessert favoritku."
Setelah pesanan es krim mereka diantarkan pelayan, mereka menikmati manis dan dinginnya makanan penutup itu, sambil sesekali bertatap-tatapan dan tertawa kecil.
"Kamu tidak sedang menertawakanku, yang menyukai makanan penutup untuk anak kecil, kan?" tanya Johan tiba-tiba.
"Pffftt ...! Tentu saja tidak, Sir," sahut Olivia.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
Seolah-olah Johan telah salah bicara. Setelah dia bertanya kepada Olivia, Johan lalu tampak seperti salah tingkah. Bahkan wajah Johan terlihat merah padam, saat itu juga.
"Maafkan aku," lanjut Johan buru-buru.
Sebenarnya bagi Olivia, pertanyaan Johan itu terlalu bersifat pribadi, dan terdengar mendadak, dan cukup mengejutkannya.
Namun setelah melihat gelagat Johan yang terlihat menyesal, apalagi bosnya itu sampai meminta maaf, Olivia jadi tidak bisa merasa tersinggung, dan menganggapnya hal yang biasa saja.
"Tidak apa-apa, Sir ... Karena saya yang tadi sudah memberikan anda izin, untuk bertanya tentang saya," kata Olivia, sambil tersenyum untuk menenangkan Johan.
"Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku itu. Aku tahu, kalau itu pertanyaan yang tidak pantas untuk aku tanyakan padamu," ujar Johan.
"Hmm ... Bagaimana, ya?! Asalkan anda tidak menertawakan saya saja, karena saya belum menemukan seseorang, yang mau mengajakku berkencan," ujar Olivia, tanpa beban.
"You've got to be kidding me!" ujar Johan, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Olivia barusan.
"Apa mungkin karena pekerjaan di perusahaanku, yang terlalu menghabiskan banyak waktumu?" lanjut Johan, sambil menautkan kedua alisnya, tampak khawatir.
"Pffftt ...! Please, Sir ...! Tidak seperti itu. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku hanya belum menemukan yang cocok saja," sahut Olivia.
__ADS_1
"Hmm ... Begitu, ya?! Rasanya sulit dipercaya, jika wanita yang cantik dan pintar sepertimu, lalu belum memiliki pasangan," ujar Johan.