Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 22


__ADS_3

Suasana di dalam restoran terasa sedikit canggung, karena Jericho tampaknya merasa kesal dengan Hansen, temannya itu, yang mungkin dianggapnya terlalu banyak bicara.


Namun, Olivia juga tidak tahu caranya untuk meredakan suasana yang sedikit tegang itu, hingga dia hanya bisa terdiam saja.


Hingga makan malam disajikan di atas meja.


Hansen yang hanya menikmati segelas wine, lalu kembali berkata,


"Maafkan aku Olivia, tapi aku orang yang lebih suka bicara jujur. Louis itu menyukaimu. Tapi, dia tipe laki-laki yang brengsek. Laki-laki sepertinya, tidak akan mau mengaku lebih dulu karena ego....


... Dia mau agar wanita yang disukainya berada di dalam kendalinya, hingga mengaku lebih dulu kepadanya. Lalu dia yang akan mengatur arah hubungan selanjutnya."


"Hansen! Please ...! Sudah cukup!" ujar Jericho, yang tampak makin kesal.


"Ada apa denganmu? Aku hanya mencoba melindungi Olivia, sebelum dia jatuh cinta pada laki-laki manipulatif seperti itu!" sahut Hansen.


Jericho yang melihat ke arah Hansen tampak melebarkan matanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Oh, my gosh!" ujar Hansen tiba-tiba. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Hansen sekarang ini.


"Olivia! Kamu sudah jatuh cinta kepadanya?" Hansen tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam, dan memasang raut wajah serius, sambil melihat ke arah Olivia.


Olivia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, saat masalah pribadinya yang malah jadi pembahasan mereka di situ.


Bahkan Hansen yang sama seperti Jericho, yang baru-baru saja dikenal oleh Olivia, juga sudah ikut terlibat dalam masalah pribadi Olivia itu.


"Dengarkan aku! Jauhi laki-laki itu! Kamu hanya akan merasa sengsara dibuatnya!" ujar Hansen tegas, dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Hansen! Kamu sudah kelewatan!" Jericho pun ikut menaikkan nada suaranya.


"Tidak apa-apa, Sir ... Saya rasa, apa yang dikatakan oleh Hansen itu, mungkin memang benar," ujar Olivia, sungguh-sungguh.


Olivia bukan hanya sedang berusaha menenangkan kedua laki-laki itu agar tidak berdebat karenanya.


Melainkan, karena Olivia memang merasa, kalau apa yang dikatakan oleh Hansen itu, memang sesuai dengan apa yang dia rasakan, selama dia dekat Louis.


"Huuufft ...!" Hansen mendengus kasar.


"Maafkan aku ... Aku mungkin hanya membuatmu merasa tidak nyaman," ucap Hansen kepada Olivia, pelan.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu justru membuka jalan pikiranku," sahut Olivia jujur.

__ADS_1


"Tapi ... Hansen! Aku benar-benar penasaran. Apa kamu sudah mengenal Louis, sebelumnya?" lanjut Olivia.


"Tidak. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Apa kamu lupa, kalau aku juga baru berkenalan dengannya?" ujar Hansen.


"Lalu bagaimana kamu bisa menduga, kalau Louis adalah orang yang manipulatif?" tanya Olivia, untuk memuaskan rasa penasarannya.


"Hmm ... Bagaimana cara menjelaskannya, ya?!" kata Hansen, yang tampak mengerutkan alisnya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.


"Jericho! Bagaimana menurutmu? Karena jika dibandingkan denganku, aku rasa kamu mungkin lebih mengenal Louis," ujar Hansen, seolah-olah sedang meminta bantuan saran dari Jericho.


"Aku juga tidak tahu cara menjelaskannya. Tapi kalau menurut dugaanku, perkiraanmu tentang Louis itu, memang benar adanya," sahut Jericho.


"Maafkan aku, Olivia," lanjut Jericho, seolah-olah dia baru saja salah bicara.


"Tidak apa-apa, Sir! ... Bukan kesalahan anda. Karena saya sendiri yang ingin mencari tahu," ujar Olivia.


"Kami sama-sama adalah lelaki. Jadi rasanya, sudah menjadi sifat alamiah kami, yang bisa menilai sesama kami laki-laki. Mungkin itu penjelasan yang cocok," kata Hansen.


Olivia yang masih menatap Hansen, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jericho.


Namun Jericho tampak mengangkat kedua bahunya, seolah-olah sedang mengisyaratkan, kalau itu terserah Olivia untuk percaya atau tidaknya, akan ucapan Hansen.


"Hmm ... Dia pasti bersikap baik padamu, dan pada orang-orang di sekitarnya yang bisa kamu lihat, kan? Tarik ulur, saat mengekspresikan rasa tertariknya padamu...


Olivia terdiam untuk beberapa saat, sambil memikirkan perkataan Hansen.


Cukup mengherankan bagi Olivia, bagaimana Hansen bisa tahu semua itu, yang menurut Olivia memang sesuai dengan sikap Louis selama ini.


"Cukup bertemu satu kali saja dan melihat gerak-geriknya, aku sudah bisa menilainya," kata Hansen tampak yakin.


Rasanya Olivia tidak bisa mempercayai perkataan Hansen. Tapi mau bagaimana lagi?


"Yang pastinya, Louis itu menyukaimu, Olivia. Sisanya, tinggal terserah kamu saja....


... Kalau kamu memang masih ingin menjadi kekasihnya, maka kamu cukup mengakui perasaanmu saja padanya," ujar Jericho menimpali.


"Heh! ... Apa kamu mau menjerumuskan Olivia?" bantah Hansen.


"Hansen! ... Bukan kamu atau aku yang bisa menilainya dengan lebih baik. Pilihan tetap berada di tangan Olivia," ujar Jericho.


Hansen akhirnya hanya bisa terdiam, dan tidak mengomentari perkataan Jericho lagi.

__ADS_1


Olivia kemudian memandangi Jericho dan Hansen bergantian, sambil berpikir.


Jika saja Olivia tidak bertemu dengan Jericho dan Hansen, maka Olivia mungkin tidak akan pernah tersadar, karena dia yang sudah dibutakan oleh cintanya kepada Louis.


Lalu, entah tindakan bodoh seperti apa saja, yang mungkin masih akan dilakukan oleh Olivia di kemudian hari, jika dia tetap tidak bisa berpikir panjang.


"Sir! ... Hansen! ... Apa kalian tahu? Aku senang bisa berkenalan dengan kalian berdua," ujar Olivia sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Hansen, seolah-olah ingin memastikan.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya. Tentu saja!"


"Ckckck ...! Kelihatannya, kamu akan membuatku benar-benar jatuh cinta padamu," kata Hansen.


Jericho dan Olivia sama-sama tampak tersentak, lalu menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Eh! Apa nanti Jericho mungkin akan cemburu? Tapi, aku tidak perduli. Siapa yang cepat, dia yang dapat," ujar Hansen sambil tersenyum lebar, seolah-olah sedang mengejek Jericho.


"Hansen!" ujar Jericho, dengan raut wajahnya yang tampak merah padam.


"Pffftt ...! Hahaha! ... Hansen! Ada-ada saja kamu ini!" Ujar Olivia, yang tidak bisa menahan rasanya untuk tertawa.


***


Sembari menikmati makan malam mereka yang terlambat, Olivia, Jericho, dan Hansen bisa berbincang-bincang santai, di dalam restoran milik Hansen itu.


Sesekali mereka tertawa lepas bersama-sama, karena kejadian konyol di masa lalu, ketika Jericho dan Hansen masih kanak-kanak, yang diceritakan oleh Hansen.


Hansen yang kelihatannya memiliki sifat humoris, dan memang terbiasa untuk bicara apa adanya, dengan mudahnya bisa membuat Olivia jadi akrab dengannya.


Olivia juga jadi mengerti, kalau mungkin karena gaya Hansen yang santai dan terbuka, hingga Jericho bisa tetap menjadi sahabatnya, sejak mereka masih di primary school.


Bahkan menurut Olivia, banyak sisi kepribadian dari Jericho yang jadi terbuka dan terlihat dengan jelas, saat Jericho sedang bersama-sama dengan Hansen di situ.


Hingga makan malam sudah mereka habiskan, Olivia dan Jericho tidak segera beranjak pulang, dan masih asyik berbincang-bincang dengan Hansen.


Setelah malam sudah cukup larut, barulah mereka beranjak pergi dari restoran milik Hansen itu, dan Jericho mengantarkan Olivia pulang ke apartemennya.


"Terus terang, aku tadi benar-benar merasa khawatir, kalau-kalau kamu mungkin jadi tersinggung atas kelakuanku dan Hansen, yang menjadikan masalah pribadimu sebagai bahan pembicaraan," ujar Jericho.


"Hmm ... Awalnya saya memang cukup merasa sebal. Tapi lama kelamaan, saya jadi mengerti tujuan anda dan Hansen, yang membicarakan tentang hal itu, Sir," kata Olivia.

__ADS_1


"Jadi, anda tidak perlu merasa terbeban. Karena saya memang butuh saran dan pengingat, agar saya tidak sampai bertingkah bodoh, seperti yang hampir saya lakukan siang tadi," lanjut Olivia.


__ADS_2