
Sebelum Olivia berpamitan dengan Dave, laki-laki itu masih menyempatkan diri untuk berbisik-bisik kepada Olivia, dengan berkata,
"Apa kamu memang harus melakukannya? Tidakkah kamu ingin mempertimbangkannya lagi?"
"I should do this ... Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Just wish me happiness! Karena Angelo pernah menjadi kekasihku, dan mungkin saja, aku bisa mencintainya lagi," kata Olivia.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu. Aku berharap, kita bisa bertemu lagi di masa yang akan datang," lanjut Olivia, sambil tersenyum.
"Sama-sama, Olivia ... Jangan ragu-ragu untuk menghubungiku jika ada sesuatu, ataupun kamu hanya sekedar ingin bertemu," kata Dave.
"Okay! ... Bye, Dave!" kata Olivia.
"Bye, Olivia! ... See you next time!" sahut Dave.
Olivia kemudian melihat ke arah Angelo, dan Angelo segera membawa Olivia berjalan bersamanya, keluar dari kafe itu.
***
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Olivia, setelah Angelo mulai berkendara dengan mobilnya.
"Kamu akan tahu setelah kita tiba di sana," jawab Angelo yang tersenyum, sambil melirik ke arah Olivia.
Sebuah toko perhiasan, ternyata menjadi tempat yang dituju oleh Angelo, sambil membawa Olivia bersamanya.
Olivia kemudian diajak Angelo untuk masuk ke dalam toko itu, dan diminta Angelo agar memilih perhiasan yang Olivia inginkan.
"Honey! ... Kamu melihat-lihat saja dulu! Ada yang harus aku urus sebentar," kata Angelo, lalu berjalan menjauh dari Olivia.
Olivia sama sekali tidak berminat untuk melihat-lihat perhiasan yang ada di dalam toko itu, dan hanya sekedar berkeliling dengan berjalan pelan, tanpa memperhatikan perhiasan yang dipajang di sana.
Sesekali, Olivia melirik ke arah Angelo, yang terlihat sibuk berbicara, dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Olivia masih merasa kalau dia mungkin akan menyesali keputusannya, untuk menerima lamaran Angelo, tapi itu mungkin lebih baik, daripada dia harus menyesal, jika melihat raut wajah kekecewaan dari Johan ataupun Jericho.
Sehingga Olivia berulang kali, menghibur dirinya sendiri, dengan membenarkan keputusan yang dia ambil, dan meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Angelo pasti bisa membuatnya jatuh cinta lagi, seperti di masa lalu.
Olivia yang tenggelam dalam pikirannya, benar-benar terkejut, ketika Angelo sudah berada di dekatnya lagi, dan berkata,
"Apa tidak ada yang kamu suka?"
"Ugh? ... Ooh! ... Aku hanya bingung, karena semuanya terlihat bagus," jawab Olivia, asal-asalan.
"Semuanya? ... Kamu mau semuanya?" tanya Angelo.
Tiba-tiba saja, dari gerak-gerik Angelo dan pegawai toko, Angelo tampak seolah-olah akan membeli semua perhiasan yang terpajang di lemari kaca, yang ada di depan Olivia.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Olivia, memastikan.
"Aku akan membeli semuanya. Kamu menyukainya, bukan?" sahut Angelo, terdengar tanpa beban.
"Oh, gosh! ... Angelo!" ujar Olivia, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percayanya, dengan apa yang akan dilakukan oleh Angelo itu.
"Lalu, kamu mau yang mana?" tanya Angelo.
__ADS_1
"Yang itu saja!" kata Olivia, asal menunjuk gelang, yang terpajang di situ.
"Hanya itu?" tanya Angelo, lagi.
"Iya ... Itu saja! ... Kamu tidak mungkin ingin membuatku terlihat seperti toko perhiasan, bukan?" ujar Olivia.
"Hmm ... Kamu bisa memakainya berganti-gantian," sahut Angelo, terdengar tidak mau kalah.
"Tsk! ... Yang itu saja, dulu!" kata Olivia, bersikeras.
"Okay!" Angelo akhirnya mau mengalah, lalu meminta pegawai toko, untuk mempersiapkan gelang yang dipilih oleh Olivia.
"Honey! ... Apa kamu bisa pergi ke mobil lebih dulu? Tunggu aku di sana! Biar aku menyelesaikan pembayarannya," kata Angelo, memberi arahan.
Menurut Olivia, dia bisa saja menunggu sampai pembayaran selesai dilakukan oleh Angelo, di situ.
Tapi Olivia akhirnya setuju untuk menunggu Angelo di mobilnya saja, daripada Angelo nanti memintanya, untuk memilih perhiasan yang lain lagi.
Dengan demikian, Olivia kemudian beranjak keluar dari dalam toko, dan segera pergi ke mobil Angelo yang terparkir, lalu masuk ke dalamnya.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, Angelo baru terlihat menyusul Olivia, dan bergegas masuk ke dalam mobilnya, sambil membawa kantong kertas, yang diletakkan Angelo, di jok penumpang bagian belakang.
"Kita akan ke mana lagi? ... Aku sudah lelah," ujar Olivia.
"Kita ke hotel tempatku menginap saja. Kita bisa memesan makan malam, agar diantar ke dalam kamar. Karena aku juga harus mengurus saham Andersen's," jawab Angelo.
Olivia tidak berkomentar apa-apa lagi, dan membiarkan Angelo mengemudikan mobilnya, tanpa Olivia harus membuatnya terganggu.
"Untuk apa?" tanya Olivia, bingung.
"Honey...! Ayolah...! Turuti saja permintaanku," kata Angelo, dengan suara dan raut wajah memelas.
"Huuffft...!" Olivia mendengus kasar. "Fine!"
Olivia yang memejamkan matanya, dituntun oleh Angelo agar berjalan bersamanya, hingga Angelo kemudian membuat Olivia berhenti berjalan, lalu Angelo berkata,
"Kamu bisa membuka matamu sekarang!"
Olivia kemudian membuka matanya, dan melihat kalau di kamar itu, tidak terang seperti biasanya.
Penerangan yang ada di sana, hanyalah dari cahaya beberapa buah lilin yang menyala, dan di dekat Olivia terlihat sebuah meja dengan dua buah kursi.
Di atas meja itu, terlihat dihiasi dengan bunga tulip berwarna merah, yang adalah bunga kesukaan Olivia.
Penataan di dalam kamar itu, seolah-olah memang telah dipersiapkan Angelo, untuk makan malam romantis.
"Honey! ... Aku tahu kalau kamu tidak suka, jika kamu jadi pusat perhatian dari orang-orang. Jadi...." Angelo mendadak menghentikan perkataannya, yang terasa menggantung bagi Olivia.
Tiba-tiba saja, Angelo kemudian berlutut dengan satu kakinya, di depan Olivia yang masih berdiri.
Angelo kemudian membuka kotak perhiasan, yang terlihat berisikan sebuah cincin berhiaskan batu permata, dan mengarahkannya kepada Olivia.
"I want you to marry me, my love!" kata Angelo, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
__ADS_1
Olivia tidak segera menanggapi lamaran Angelo itu, dan hanya menatap Angelo lekat-lekat untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Olivia berkata,
"Yes ... I will marry you!"
Angelo tersenyum lebar, kemudian mengeluarkan cincin dari dalam kotak perhiasan itu, dan memasangkannya di jari manis, di tangan kiri Olivia.
Cukup mengejutkan bagi Olivia, karena tanpa terlihat kesulitan, cincin yang dipilih oleh Angelo, bisa berukuran pas di jari tangan Olivia itu.
"My lovely future wife, can I kiss you?" tanya Angelo, setelah dia kembali berdiri di depan Olivia.
Olivia mengangguk setuju, dan membiarkan Angelo mencium bibirnya, sambil Angelo memeluknya dengan erat.
Jika saja Olivia bisa jujur, saat dia berciuman dengan Angelo saat ini, Olivia sama sekali tidak merasakan apa-apa, dan hanya melakukannya saja, agar Angelo merasa puas.
"Aku akan memastikan kalau saham Andersen's sudah ditangani lebih dulu, barulah kita makan malam di sini, okay?" kata Angelo, yang masih memeluk Olivia.
Olivia lalu mengangguk pelan.
Angelo kemudian mengajak Olivia untuk duduk berselonjor bersebelahan dengannya, di atas tempat tidur.
Kemudian, Angelo segera terlihat sibuk dengan laptop, yang diletakkannya di atas pangkuannya.
Sesekali, sambil melihat pekerjaan yang dilakukan oleh Angelo, Olivia melirik cincin yang sudah terpasang di jari tangannya.
"Bagaimana caranya, sampai kamu bisa membeli cincin, dengan ukuran yang pas di jariku?" tanya Olivia, penasaran.
Angelo menoleh ke samping, dan menatap Olivia lekat-lekat sambil tersenyum lebar, lalu mengacungkan jari kelingkingnya, kemudian berkata,
"Ini yang jadi acuannya! ... Aku memakai ukuran dari jari kelingkingku."
Angelo kemudian mencium Olivia untuk sesaat, sebelum dia kembali berkata,
"Aku selesaikan pekerjaanku dulu. Sebentar lagi bursa efek akan tutup."
Olivia mengangguk pelan, lalu ikut menatap tampilan layar laptop Angelo.
"Kamu bisa bersandar di bahuku, honey!" kata Angelo, sambil menarik olivia dengan perlahan, hingga kepala Olivia tersandar di bahunya.
Sesuai dengan apa yang Olivia tahu, tentang kebiasaan Angelo di masa lalu, yang selalu saja memegang perkataannya, saat ini, Angelo tampak bersungguh-sungguh, untuk membantu Andersen's.
Angelo yang serius dengan pekerjaannya, bahkan tampak seolah-olah dia lupa untuk berkedip, saat menatap tampilan layar laptop di depannya.
"Done! ... Besok, aku akan memeriksanya lagi!" kata Angelo, setelah beberapa waktu lamanya, dia berkutat dengan laptopnya.
"Sekarang kita bisa makan malam, sambil menunggu kabar dari mereka, yang mencari rekan kerjamu yang menghilang itu," lanjut Angelo.
Angelo kemudian menggeser laptopnya, dan meletakkannya di atas tempat tidur, lalu merangkul pinggang Olivia.
"Apa kamu belum mau makan malam?" tanya Angelo, yang mungkin menyadari, kalau Olivia masih belum mau bergerak dari tempat duduknya.
"Sebentar lagi," sahut Olivia, lemas.
"Okay, honey!" kata Angelo, kemudian mencium kepala Olivia, yang masih tersandar di bahunya.
__ADS_1