
Setelah puas berbelanja akan apa saja yang mereka inginkan, Johan mengajak Olivia dan Jonah, untuk duduk bersantai di bangku, yang ada di bagian depan gedung pasar swalayan, sambil menikmati es krim.
Kelihatannya, keberadaan mereka bertiga di situ, cukup menarik perhatian orang-orang yang melintas di trotoar, di depan mereka itu.
Apalagi, ketika ada seorang seniman jalanan, yang tiba-tiba menghampiri mereka, dan menawarkan diri, jika Olivia, Jonah dan Johan, mau digambarkan karikatur olehnya.
Jonah yang lebih dulu setuju, setelah dia mengerti apa maksud dari seniman jalanan itu, meyakinkan Olivia dan Johan, agar mau dibuatkan gambar karikatur, menggunakan citra dari wajah mereka bertiga.
Sementara seniman jalanan menggambarkan wajah Olivia, Johan dan Jonah, beberapa orang yang ada di situ, tampak berdiri dan memandangi mereka bertiga.
Bahkan dari orang-orang di situ, ada yang berceletuk, 'They look like a happy family'.
Tampaknya bukan hanya Olivia saja yang mendengarnya, karena Johan juga tersipu malu-malu, hingga Johan terlihat seolah-olah kesulitan, untuk terus menikmati es krim yang dipegangnya.
Melihat dari gerak-gerik Johan, tampaknya Johan tidak percaya diri, jika ada orang-orang yang memandanginya seperti itu, sampai-sampai mengingatkan Olivia, ketika Johan ikut dalam pertunjukan sulap.
"Don't be shy! ... Cause you look great, Sir!" kata Olivia, sambil tersenyum, dan berusaha keras agar tidak tertawa.
Johan tidak mengomentari perkataan Olivia, dan hanya menoleh ke samping, menatap Olivia lekat-lekat, lalu mengambil salah satu tangan Olivia, yang kemudian digenggamnya dengan erat.
"Pffftt...!" Olivia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, ketika dia menyadari, kalau bagian ujung-ujung dari jari tangan Johan itu terasa dingin.
"Jonah!"
Olivia yang memanggil namanya, membuat jonah yang duduk di atas pangkuan Olivia, lalu berbalik, dan berkata,
"Iya, Miss ... Ada apa?"
"Apa kamu bisa menenangkan Grandpa? Kelihatannya Grandpa sangat gugup, untuk digambar wajahnya," kata Olivia, mengejek Johan.
"Olivia...!" Seketika itu juga, terdengar suara Johan yang berbisik, dan seolah-olah sedang memelas.
"Tidak apa-apa, Grandpa ... Tunggu sebentar lagi ... Aku mau melihat gambarnya," kata Jonah, yang tampaknya percaya dengan perkataan Olivia, lalu berusaha untuk menenangkan Johan.
Olivia bisa merasa kalau, Johan mempererat genggamannya di tangan Olivia, lalu berkata,
"Iya, Jonah ... Grandpa akan menunggu."
Kemudian, Johan mendekat ke telinga Olivia dan berbisik,
"Are you happy now?"
"Pffftt...! Yes, Sir!" sahut Olivia, sambil tertawa.
"Geez! ... Aku akan membalasmu, nanti," ujar Johan.
Ketika gambar karikatur wajah mereka bertiga selesai dibuat oleh seniman jalanan itu, Johan lalu memberikan imbalan atas lelah dan kreativitas dari seniman jalanan, yang juga memberikan hasil gambarnya kepada Jonah.
Tampak tidak mau berlama-lama lagi di tempat itu, Johan segera mengajak Olivia serta Jonah, untuk pergi makan siang bersama di sebuah restoran.
Dan sesudahnya, mereka lalu kembali ke rumah, karena Jonah yang harus tidur siang.
__ADS_1
***
Sambil duduk berayun di atas tempat tidur gantung, Olivia bersantai dengan memakan keripik kentang, sesaat setelah Jonah tertidur di kamar.
Beberapa waktu kemudian, terlihat Johan yang ikut menyusul Olivia ke bagian belakang rumah itu, lalu berkata,
"Apa aku bisa ikut duduk di situ?"
"Hmm ... Tentu saja," jawab Olivia, sambil menghentikan gerakan berayun dari tempat tidur gantung itu.
Johan kemudian segera duduk di samping Olivia, lalu membuat tempat itu kembali berayun pelan.
"Di antara sekian banyaknya kota yang bisa menjadi tempat berwisata, tapi kamu memilih tempat ini untuk berlibur. Apa ada alasannya?" tanya Johan.
"Hmm ... Tempat ini familiar bagi saya. Sehingga saya bisa merasa lebih nyaman, daripada saya harus pergi ke tempat yang asing," jawab Olivia.
"Apa anda merasa kurang nyaman di sini?" lanjut Olivia buru-buru.
"Tidak. Bukan begitu ... Aku hanya sekedar bertanya saja," jawab Johan.
"Ooh! ... Saya pikir anda merasa tidak nyaman. Apalagi, karena saat anda berbelanja tadi, lalu hampir diculik," kata Olivia, sambil tersenyum mengejek.
"Don't tease me!" sahut Johan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Penduduk di kota ini terlalu ramah. Mereka ingin membantuku, untuk memilih barang-barang dengan kualitas yang baik....
... Sampai-sampai aku merasa tidak nyaman untuk menolaknya, dan meminta agar mereka membiarkanku, untuk memilih sendiri," lanjut Johan.
"Hmm ... Saya rasa, itu tidak sepenuhnya benar. Karena dari apa yang bisa saya lihat, hanya anda saja yang dikerubungi oleh para wanita tadi," sahut Olivia.
"Olivia! ... Katamu pagi tadi, kamu ingin menjauh dari Angelo untuk sementara," lanjut Johan.
"Iya," jawab Olivia.
"Apa aku boleh tahu, apa yang terjadi?" tanya Johan, tampak berhati-hati.
"Keberadaannya yang hampir tidak mau memberiku jarak, hanya membuatku merasa lelah dan kebingungan," jawab Olivia.
Johan tidak menanggapi perkataan Olivia, dan justru menatapnya lekat-lekat, seolah-olah dia sedang menunggu Olivia, agar mau menjelaskannya lebih jauh.
"Apa anda benar-benar ingin tahu?" tanya Olivia, setelah untuk beberapa saat mereka hanya terdiam.
Johan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu mau mencoba menceritakannya, aku akan mendengarkannya," kata Johan.
Setelah memikirkannya untuk beberapa waktu, Olivia akhirnya mulai bercerita kepada Johan, tentang pertemuannya dengan Angelo, dan apa saja yang dikatakan Angelo kepadanya.
Olivia menceritakan dengan detail, selain dari kejadian di mana Angelo yang bertemu dengan Jericho dan Hansen, di restoran milik Hansen, malam itu.
Sementara Olivia bercerita, Johan tampak memperhatikan dengan saksama, sambil sesekali Johan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah dia benar-benar memahami akan apa yang dibahas oleh Olivia.
__ADS_1
Setelah Olivia selesai menceritakan semuanya, Johan tampak seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya dia berkata,
"Walaupun katamu dia pernah melabrak dekan, tapi menurutku itu hanya kebetulan saja. Orang seperti Angelo, tidak akan mengotori tangannya, untuk menyakiti seseorang dengan tindakan kekerasan....
... Kemungkinan besar, jika dia ingin menyakiti seseorang, maka dia akan menggunakan pengaruhnya. Apalagi, jika orang itu ada hubungannya dengan investasi dari Sullivan grup."
Mendengar perkataan dari Johan itu, Olivia menyadari kalau Johan memang bisa berpikir selangkah lebih jauh.
Sehingga Johan bisa membuat dugaannya dengan benar, akan apa yang mungkin dilakukan Angelo, untuk menyingkirkan orang-orang yang mencoba mendekati Olivia.
Johan lalu tersenyum, dan tampak seolah-olah dia akan tertawa, sebelum dia akhirnya lanjut berkata,
"Kalau dia tahu, bahwa aku adalah salah satu dari orang yang mendekatimu, dia pasti akan mencari cara, untuk mengguncang perusahaanku."
Olivia cukup terkejut melihat reaksi dan gerak-gerik Johan, yang kelihatannya sangat santai dan tenang, seolah-olah dia tidak ada yang membuatnya merasa khawatir.
"Apa dia sudah tahu? ... Maksudku, apa dia sudah tahu kalau aku jatuh cinta kepadamu? Apa kamu sudah memberitahukannya?" tanya Johan, sambil tersenyum lebar.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Angelo mirip sepertiku, waktu aku masih di high school," kata Johan, yang kelihatannya akan tertawa.
"Ugh?" Olivia kebingungan.
"Aku pernah bertingkah seperti dia—Angelo. Mommy-mu tahu semuanya. Karena waktu aku bertingkah bodoh seperti itu, mommy-mu lah yang menyadarkanku....
... Awalnya yang jadi penyebab, hingga aku bisa berteman dengannya, apa mommy-mu tidak pernah menceritakannya?" ujar Johan.
Olivia menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau mendengarkannya?" tanya Johan.
Buru-buru, Olivia menganggukkan kepalanya.
"Pffftt...! Okay, okay! ... Hmm ... Bagaimana memulainya, ya?!" ujar Johan, yang tampak seperti sedang berpikir untuk beberapa saat, sebelum dia kemudian mulai bercerita kepada Olivia.
Dan dari apa yang diceritakan oleh Johan, memang mirip-mirip dengan keadaan Olivia dan Angelo sekarang ini.
Karena pada waktu itu, menurut penuturan Johan, dia menyukai seorang siswi pindahan dari sekolah lain, yang cantik dan populer, tapi siswi itu menolak ajakan Johan untuk berkencan dengannya.
Johan kemudian mengancam siswi yang disukainya itu, agar dia tidak boleh didekati oleh siapa-siapa, jika dia tidak mau orang yang mendekatinya, dibuat babak belur oleh rekan-rekan Johan.
Bedanya, di saat itu ada mommy Olivia, yang ternyata adalah seorang siswi yang pintar, dan mendapat gelar sebagai siswa teladan, dan bahkan selalu menjadi Class President pada masanya.
Pada waktu itu, Mommy Olivia berani menantang Johan, dan bahkan bisa balik mengancam, agar Johan tidak berani untuk membuat ulah.
"Mommy-mu adalah satu-satunya temanku, yang bisa membuatku mengalah, dan mau menuruti perkataannya, agar tidak bertindak bodoh, yang nantinya hanya akan merugikanku....
... Jika saja Angelo bisa bertemu dengan seseorang, yang bisa bersikap seperti mommy-mu, maka aku rasa dia juga akan menyerah tanpa syarat," kata Johan.
"Olivia! ... Untuk permasalahan yang kamu hadapi dengan Angelo, aku tidak akan mencampurinya lebih jauh. Karena hanya kamu yang bisa membuat keputusanmu sendiri....
__ADS_1
...Tapi kamu tidak perlu merasa ragu, dan jangan terpengaruh oleh apapun atau siapapun. Lakukan saja, sesuai dengan apa yang jadi keinginanmu....
... Kalau untuk resiko, rasanya, tidak ada satupun dari tindakan kita yang tidak memiliki resiko, asalkan kita mau mempertanggungjawabkannya saja, nanti," lanjut Johan.