Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 11


__ADS_3

Walaupun tempat mereka duduk di dalam taman itu teduh, namun Olivia masih merasa kehausan, dan kelihatannya Jericho pun merasa demikian.


Jericho kemudian pergi membeli minuman dari pedagang yang berjualan memakai gerobak dorong, dan meminta Olivia untuk menunggunya di situ.


Ketika Jericho kembali, dia bukan hanya membawa dua gelas minuman, Jericho juga tampak membawa satu buah apel karamel, dan memberikannya kepada Olivia.


"Tidakkah ini mengandung ramuan yang bisa membuatku tertidur?" tanya Olivia.


Olivia melontarkan lelucon dari film Enchanted, yang menceritakan niat jahat ratu dari negeri dongeng, yang memberikan ramuan beracun ke dalam apel.


Jericho tampak kebingungan, dan menatap Olivia lekat-lekat, tanpa berkata apa-apa.


"Pffftt ...! Saya hanya bercanda, Sir." Olivia tertawa tertahan.


Tapi, Jericho tetap terlihat bingung.


"Apa anda tidak pernah menonton film Enchanted ...? Ratu yang jahat memantrai buah apel agar pemeran utamanya tertidur saat memakannya," lanjut Olivia.


Jericho menggelengkan kepalanya. "Tidak ... Film macam apa itu?"


"Itu film untuk anak-anak, Sir ... Film dongeng tentang True Love Kiss....


... Sang putri yang terpengaruh oleh ramuan beracun, hanya bisa terbangun lagi, jika dia dicium oleh orang yang sungguh-sungguh mencintainya," kata Olivia.


Awalnya Olivia merasa santai saja menceritakan tentang film itu, tetapi setelah beberapa saat kemudian, barulah Olivia menyesali perkataan dan lelucon yang dia utarakan barusan.


Apalagi, saat melihat ke arah Jericho yang masih terdiam dan menatapnya lekat-lekat, dengan memasang raut wajah yang tidak bisa dimengerti oleh Olivia.


Olivia segera memalingkan wajahnya, dan memakan apel karamelnya tanpa berkomentar apa-apa, dan tidak mau menoleh ke arah Jericho di sampingnya lagi.


Walaupun Olivia tidak mengeluarkan suaranya, begitu juga Jericho yang tetap hening di sampingnya, namun sampai apel karamel itu habis dimakan olehnya, Olivia masih bisa merasakan kalau Jericho masih menatapnya.


Lama kelamaan, Olivia yang merasa risih akhirnya menoleh, dan melihat ke arah Jericho. "Ada apa, Sir?"


"Aku menunggu, kalau kamu memang akan tertidur karena apel itu. Tapi sayangnya, kelihatannya hal itu tidak akan terjadi," jawab Jericho, seolah-olah tanpa beban.


"Pffftt ...! Ternyata anda juga bisa bercanda," ujar Olivia sambil tertawa tertahan. "Kelihatannya selama ini, kami memang telah salah menilai anda."


"Siapa 'kami' itu?" tanya Jericho penasaran.


Lagi-lagi, Olivia merasa kalau dia seolah-olah telah salah bicara kepada Jericho.

__ADS_1


Hingga Olivia tidak habis pikir, ada apa dengan dirinya, sampai-sampai dia bisa terlalu bebas mengutarakan pikirannya, setiap kali dia berbincang-bincang dengan bosnya itu.


Seolah-olah, Olivia hanya sedang berbincang-bincang dengan rekan sekantornya saja seperti biasanya, dan lupa akan status dari Jericho.


"Maafkan saya, Sir," ucap Olivia penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa. Aku sebenarnya lebih suka, kalau aku bisa tahu bagaimana karyawan di kantorku menilaiku," kata Jericho.


Olivia terdiam untuk beberapa saat, dan merasa enggan untuk membicarakan tentang apa yang dipikirkan oleh rekan-rekan kerjanya di kantor.


"Katakan saja. Aku tidak mungkin memecat semua karyawanku, hanya karena mereka menganggapku sebagai Atasan yang buruk, kan?"


Jericho tampak memaksa Olivia, agar mau bicara terus terang kepadanya.


"Kami tidak menganggap anda sebagai Atasan yang buruk, Sir ... Saya dan rekan-rekan kerja yang lain, justru mengagumi kinerja anda....


... Kami hanya merasa kalau anda terlalu kaku. Itu saja," jawab Olivia berhati-hati, khawatir, kalau-kalau perkataannya akan menyinggung Jericho.


"Hmm ... Begitu, ya?!" Jericho tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya, aku harus mencoba untuk bisa lebih berbaur dengan karyawan di kantor, kalau begitu."


"Anda tidak perlu terlalu memikirkannya, Sir ... Karena kami juga tidak menganggap kekakuan anda itu, sebagai sesuatu yang buruk....


... Menurut saya, anda yang pekerja keras, tentu wajar saja, jika anda sampai terlihat kaku," kata Olivia sebisanya, agar Jericho tidak terbeban dengan perkataannya barusan.


"Masih dalam batas wajar. Itu juga karena anda yang jadi panutan. Atasan yang kompeten, tentu anak buahnya juga akan meniru Atasannya itu," jawab Olivia.


"Kamu tidak hanya sedang menghiburku, kan?" tanya Jericho, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Olivia.


"Tentu saja tidak, Sir!" jawab Olivia buru-buru.


"Kepala divisi Humas ..., hmm ... Siapa namanya?" tanya Jericho.


"Louis Willson, Sir," jawab Olivia.


"Iya ... Bagaimana dia memperlakukanmu, dan rekan-rekanmu yang lain?" tanya Jericho lagi.


"Baik, Sir ... Saya juga berteman dengannya. Jadi, rasanya justru menyenangkan bisa bekerja bersamanya," jawab Olivia bersemangat, karena membayangkan kesehariannya bersama Louis.


"Kalau aku menilai dari caramu membicarakannya, kelihatannya kamu cukup akrab dengan Louis," ujar Jericho, tampak menaikkan kedua alisnya.


"Sebagai wakilnya di bagian Humas, tentu saya jadi lebih sering bekerja dengannya. Baik di dalam kantor, ataupun saat pergi ke luar kota....

__ADS_1


... Kalau saya tidak bisa berhubungan baik dengannya, bagaimana kami bisa bekerja sama?" ujar Olivia beralasan.


"Benar katamu," sahut Jericho.


"Tapi, walaupun mungkin kamu betah bekerja di bawahnya, apa kamu tidak terpikir untuk mengikuti promosi kenaikan jabatan?


... Awal tahun nanti akan ada promosi untuk posisi manajer proyek. Aku bisa membantumu nanti," lanjut Jericho.


"Ugh ...? Lalu bagaimana dengan Sir Laurent? Apa dia jadi pensiun?" tanya Olivia.


"Iya. Seharusnya dia sudah pensiun. Tapi, aku memintanya agar dia tetap bertahan sampai akhir tahun ini," jawab Jericho.


Olivia mengerti kenapa Jericho harus menunda masa pensiun manajer proyeknya, karena tentu beresiko terjadinya kekacauan pada kontrak-kontrak kerja yang sedang berlangsung.


"Begitu juga Sir Dunes, manajer pemasaran. Jadi, akan ada dua jabatan yang butuh orang baru. Apa kamu mau mencoba mengisi salah satunya?" lanjut Jericho.


"Wow, Sir! ... Saya rasa, saya belum mampu untuk jabatan setinggi itu," jawab Olivia, sambil tertawa kecil.


Olivia tahu dengan baik bagaimana penyortiran karyawan di Andersen's, hingga perusahaan itu bisa menjadi perusahaan konstruksi terbesar di negeri itu.


Sedangkan bisa menjadi wakil kepala bagian dalam waktu dua tahun bekerja saja, sudah seperti keajaiban bagi Olivia. Apalagi untuk menjadi seorang manajer?


Louis saja belum tentu bisa berani bermimpi, untuk bisa mengisi posisi jabatan itu, karena biasanya diisi oleh orang-orang yang memiliki pengalaman kerja, lebih dari sepuluh tahun.


"Kenapa kamu bilang begitu? Kalau kamu mampu melewati tesnya, tentu kamu bisa mendapatkan jabatan itu," ujar Jericho.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya memang kurang yakin, karena pengalaman kerja saya yang masih terlalu minim," sahut Olivia, sambil tersenyum.


"Apa aku boleh tahu? Kamu lulusan jurusan apa?"


"Hmm ... Saya hanya *Bachelor of Business Administration, dari universitas xxx, Sir," jawab Olivia.


(*B.Ba : S1 administrasi bisnis)


Jericho tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata, "Itu universitas yang bagus. Saya juga alumni di situ."


"Sekolahmu cukup. Coba saja ikut tesnya! Mana tahu kamu bisa lulus. Kalau kamu mau, aku juga bisa membantumu agar bisa tahu skenario dari tes yang akan dilakukan itu....


... Tentu aku hanya bisa membantu seperti itu saja, dan tetap kemampuanmu yang akan menjadi faktor utama, berhasil atau tidaknya," lanjut Jericho.


Olivia terdiam sejenak.

__ADS_1


"Apa memang ada kemungkinan?" tanya Olivia, yang mulai merasa tertarik.


"Iya. Tentu saja! Tes akan dilakukan secara fair, tidak memandang usia ataupun latar belakang sekolahnya," jawab Jericho memastikan.


__ADS_2