
Ketika Olivia masih duduk berselonjor di atas tempat tidur, bersama dengan Angelo, ponsel Angelo kemudian berbunyi, dan Angelo segera menerima panggilan telepon yang masuk di ponselnya itu.
Menurut apa yang bisa ditangkap oleh Olivia, dari percakapan Angelo di ponsel itu, kedengarannya, yang menghubungi Angelo adalah asistennya.
Asisten Angelo, seolah-olah sedang menginformasikan kepada Angelo, bahwa ada orang lain yang ingin bicara dengannya.
Dan Angelo menyetujui permintaan seseorang yang lain itu, untuk berbicara langsung dengan Angelo.
Olivia terbelalak, ketika dia mendengar nama Sir Johan Andersen yang disebut oleh Angelo, saat menyapa orang yang berkomunikasi lewat sambungan telepon, dengan Angelo itu.
Karena mengetahui bahwasanya Johan lah yang sedang berbicara dengan Angelo, hingga Olivia mencoba untuk memperhatikan dengan saksama, apa yang sedang diperbincangkan oleh Angelo dengan Johan.
Setelah beberapa saat Angelo berbincang-bincang dengan Johan di ponselnya, Olivia jadi tahu, kalau Johan dan Angelo tampaknya sedang membahas tentang saham, yang sementara diusahakan agar bisa dikendalikan, oleh Angelo dan Sullivan grup.
Sebelum Angelo memutus sambungan telepon itu, Angelo memberi isyarat kepada Olivia, kalau Johan saat itu sedang bertanya tentang Olivia.
Dengan terburu-buru, Olivia membuat tanda, agar Angelo memberitahu Johan, bahwa seolah-olah Angelo tidak mengetahui, di mana Olivia berada sekarang.
Olivia memang masih ragu-ragu untuk berbicara dengan Johan, walaupun Angelo sudah menangani penurunan harga saham Andersen's.
Menurut Olivia, dia akan menunggu hingga Claire sudah ditemukan, maka nanti di saat itulah, Olivia yang akan menghubungi Johan lebih dulu, dan segera mengakui kesalahannya.
Angelo pun tampak menurut saja, dengan permintaan Olivia, dan Olivia bisa mendengar kalau Angelo memberitahu Johan, sesuai dengan arahan dari Olivia tadi.
"Sir Johan Andersen, tampaknya mengkhawatirkanmu," kata Angelo, sambil meletakkan ponselnya, ke atas meja yang ada di samping tempat tidur.
"Apa yang kalian bicarakan? Selain Sir Johan yang menanyakan tentangku," tanya Olivia.
"Hmm ... Dia berterima kasih, karena aku yang sudah mau membantu menahan harga saham Andersen's," jawab Angelo.
"Sebenarnya, ucapan terima kasihnya itu masih terlalu dini. Karena, tidak ada yang tahu bagaimana reaksi pasar modal, besok nanti," lanjut Angelo, lalu menarik Olivia, agar bisa dipeluknya.
Olivia yang kesulitan menahan posisi badannya, karena Angelo yang memeluknya, dan akhirnya tersandar di dada Angelo, lalu beralasan agar Angelo mau melepaskan pelukannya, dengan berkata,
"Kapan kita akan makan malam? ... Aku sudah mulai lapar."
"Tunggu sebentar!" sahut Angelo, kemudian melepas pelukannya dari Olivia, dan beranjak turun dari tempat tidur.
Begitu pula Olivia, yang ikut beranjak turun dari tempat tidur, kemudian berpindah dengan duduk di sofa.
Angelo kemudian tampak menghubungi seseorang lewat telepon, yang ada di dalam kamar hotel itu, dan berbincang-bincang di sana untuk beberapa saat.
Tidak berapa lama, setelah Angelo selesai berbincang-bincang di telepon, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar hotel, yang ternyata adalah beberapa pegawai hotel, yang mengantarkan menu makan malam pesanan Angelo.
Angelo kemudian mempersilahkan mereka, untuk membawa makan malam itu masuk ke dalam kamar, dan langsung menyajikannya di atas meja.
__ADS_1
Sembari menyantap makan malamnya, Angelo kelihatannya masih memikirkan tentang Johan yang bertanya tentang Olivia, sehingga dia kembali berkata,
"Baik Jericho, maupun Sir Johan, tampaknya sangat memperhatikanmu. Aku jadi tidak heran, kenapa kamu sampai berusaha keras, agar aku mau membantu Andersen's."
Olivia kemudian menatap Angelo lekat-lekat, kemudian berkata,
"Aku akan memberitahumu semuanya. Jadi sebaiknya kamu dengarkan baik-baik."
Olivia lalu menceritakan tentang bagaimana awal mula pertemuannya, dengan seorang anak kecil yang meminta bantuannya di waktu malam, di saat pesta kantor sedang dilangsungkan, yang membuat Olivia sampai bisa bertemu langsung dengan Johan.
Tidak ada yang terkecuali ataupun yang dilewatkan oleh Olivia, semua yang terjadi setelah pertemuan pertamanya dengan Johan, hingga apa yang terjadi di malam tadi, di mana dia kembali dari kota xx bersama Jericho dan Jonah, secara detail, Olivia memberitahukannya kepada Angelo.
Bukan hanya kejadian demi kejadian yang diceritakan oleh Olivia kepada Angelo, Olivia bahkan mengakui bagaimana perasaannya yang berkembang, dan bukanlah berdasarkan atas rasa kasihan.
Menurut Olivia, beberapa waktu yang lalu, dia memang belum bisa memastikan, apakah Johan atau Jericho yang telah membuatnya jatuh cinta.
Akan tetapi, karena kejadian yang dialami oleh Andersen's, Olivia kemudian menyadari, dan menjadi sangat yakin, kalau orang yang dia cintai itu adalah Jericho.
Olivia dan Jericho yang sering terjebak dalam kesalahpahaman, hingga Olivia bisa merasa sangat marah kepada Jericho, itu justru karena dia mencintainya.
Olivia benar-benar telah jatuh cinta kepada Jericho, sampai bisa membuatnya membenci situasi, di mana dia dan Jericho tidak bisa segera meluruskan kesalahpahaman, yang bisa terjadi di antara mereka, dan membuat mereka harus bersitegang karenanya.
Karena rasa cinta Olivia kepada Jericho jugalah, hingga Olivia bisa merasa tidak perlu ragu, untuk menjadi dirinya sendiri, saat dia sedang bersama dengan Jericho.
Dan semua perasaan Olivia kepada Jericho itu, bukan hanya karena rasa kasihan dengan adanya Jonah.
Selama ini, Johan selalu bisa menjadi tempat bagi Olivia untuk bergantung dan bertukar pikiran, hingga membuatnya merasa nyaman, dan hampir tertipu dengan perasaan itu.
Olivia juga selalu ingin berusaha agar Johan tidak kecewa kepadanya, dan justru berharap agar Johan bisa merasa bangga kepadanya.
Dengan demikian, Olivia akhirnya bisa menyadari, kalau rasa sayangnya kepada Johan, adalah rasa sayang dan perduli, seperti yang dirasakan oleh Olivia kepada orang tuanya sendiri.
Olivia juga mengakui kepada Angelo, jika saat dia berciuman dengan Angelo tadi, tidak ada lagi rasa berdebar-debar di dalam dadanya.
Tidak lagi getaran yang bisa dirasakan oleh Olivia, yang sebagaimana dia rasakan di masa yang lalu kepada Angelo, atau di saat dia sedang bersama dengan Jericho, walaupun Olivia dan Jericho tidak melakukan apa-apa.
Cukup mengejutkan bagi Olivia, karena Angelo terlihat tidak marah, ketika Olivia menceritakan semua hal itu.
Angelo justru mau mendengarkan Olivia dengan tenang, tanpa sedikitpun menyela perkataan Olivia.
Hingga akhirnya Olivia berhenti bercerita, Angelo dengan memasang raut wajah kecewa, kemudian berkata,
"Sejujurnya, aku sangat kecewa mendengar pernyataanmu ini. Tapi aku juga tahu kesalahanku. Karena aku yang meninggalkanmu terlalu lama, hingga kamu bisa melupakan rasa cintamu untukku....
... Tapi apa kamu tahu, Olivia? Aku juga merasa senang, karena kamu mau bicara terbuka, dan mengakui semuanya kepadaku. Karena sesuatu yang diawali dengan kebohongan, maka tidak akan pernah memiliki akhir yang baik."
__ADS_1
Angelo kemudian menuangkan sedikit cairan wine ke dalam gelasnya, dan menyesapnya sedikit.
"Ada sedikit yang mengganggu pikiranku. Apa mungkin kamu mengatakan ini semua, karena kamu ingin membatalkan janjimu untuk menikah denganku?" ujar Angelo.
Olivia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ... Sebagaimana kamu yang memegang janjimu kepadaku, maka aku juga, pasti akan memegang janjiku kepadamu," jawab Olivia.
"Tsk! ... Apa kamu tahu? Karena kamu yang seperti itu yang menjadi penyebab awalnya, hingga aku jatuh cinta kepadamu....
...Dan sampai saat ini, aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Segala sesuatunya dari dirimu, sangat berbeda dari semua wanita yang bisa aku temui. Thank's God! Untuk kesempatan, hingga aku bisa bertemu denganmu....
... Olivia! Honey! ... Kamu bisa memegang janjiku, kalau aku akan senantiasa berusaha, untuk membuatmu bahagia, di sepanjang usiamu bersamaku," kata Angelo, sambil tersenyum lebar.
"Iya, aku tahu ... Dan aku percaya kepadamu," sahut Olivia.
"Fine! ... Setelah semua permasalahan Andersen's sudah berakhir, kita akan pergi menemui orang tuaku....
... Mereka pasti sangat senang, karena akhirnya mereka bisa bertemu denganmu, dan tidak hanya mendengar dari ceritaku saja," lanjut Angelo.
"Iya ... Tapi apa mereka tidak akan kecewa, karena aku yang hanya seorang wanita biasa?" sahut Olivia.
"Geez, Olivia! ... You really didn't know how amazing you are?" ujar Angelo, sambil menatap Olivia lekat-lekat, lalu menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah dia sedang merasa gemas kepada Olivia.
"Orang tuaku memang konservatif, tapi mereka tidak bodoh. Mereka tidak akan kecewa padamu....
... Justru mereka pasti akan merasa bangga, karena aku bisa menjadikanmu sebagai istriku," lanjut Angelo.
"Hmm ... I hope so!" sahut Olivia.
"Tsk! ... Rasanya aku ingin menggigitmu sekarang ini!" ujar Angelo, yang tampak semakin gemas.
"Pffftt...!" Olivia tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Oh, iya! ... Apa ada yang ingin kamu lakukan, sebelum kita nanti pergi ke negara xx, untuk bertemu dengan orang tuaku?" tanya Angelo.
"Hmm ... Apa maksudmu?" Olivia balik bertanya.
"Honey! ... Apa kamu tidak mau menemui Sir Johan, Hansen dan Jericho, untuk memberitahu tentang rencana kita?" tanya Angelo, sambil menjelaskan maksudnya.
"Ooh! ... Tentu saja aku akan melakukannya. Akan ada sisa waktu untuk itu, bukan?" jawab Olivia.
"Iya ... Aku pasti akan memberimu kesempatan, untuk berbicara dengan mereka secara pribadi," sahut Angelo, sambil tersenyum.
Makan malam Olivia dan Angelo, belum selesai mereka habiskan, namun ponsel Angelo yang berbunyi berulang kali, menyela waktu itu, dan membuat Angelo segera berdiri dan memeriksa ponselnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, setelah melihat layar ponselnya, Angelo terlihat tersenyum lebar, sambil menatap Olivia lekat-lekat.