Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 45


__ADS_3

Sudah sedari tadi, Hansen mengantar Olivia kembali ke kantornya, setelah mereka berdua selesai menghabiskan makan siangnya.


Namun Olivia masih terbayang-bayang, akan raut wajah Hansen yang tampak kecewa, karena tidak bisa bersama Olivia malam nanti.


Olivia senyum-senyum sendiri, saat mengingat tingkah Hansen, yang seolah-olah ingin bermanja kepada Olivia, agar Olivia membatalkan rencananya, untuk makan malam bersama Jonah.


Menurut penuturan Hansen kepada Olivia, dia telah menyiapkan makan malam romantis, untuk Olivia dan dirinya.


Oleh karena itulah, hingga Hansen agak berat hati, saat Olivia tidak bisa merayakan ulang tahunnya bersama Hansen.


Namun pada akhirnya, Hansen bisa menerima kenyataan, bahwa Olivia sudah memiliki janji dengan Jonah, dan Olivia tidak ingin mengecewakan anak laki-laki dari Jericho itu.


Olivia lalu berjanji kepada Hansen, bahwa besok, di hari libur akhir pekan yang pertama, Olivia akan menghabiskan waktunya bersama dengan Hansen, sepanjang hari.


Dan janji yang dibuat Olivia kepadanya, bisa membuat Hansen kembali terlihat senang.


***


Olivia sedang sibuk dengan pekerjaannya, ketika suara-suara di dalam ruang kerjanya, terdengar lebih berisik daripada biasanya.


Entah apa yang sedang terjadi di luar ruangan itu, hingga keributan yang berasal dari percakapan demi percakapan para karyawan, bisa merambat masuk sampai ke dalam ruang kerja Olivia.


Olivia sempat melirik ke arah Louis, namun laki-laki itu tampak tidak perduli dengan situasi di luar, dan tetap terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


Dengan demikian, Olivia juga tidak mau memusingkan dirinya, dengan keributan yang terjadi di luar ruang kerjanya itu, dan lanjut mengerjakan tugasnya.


Entah berapa lama waktu yang berlalu, kemudian tanpa Olivia sadari lagi, suasana di dalam ruang kerja mereka, telah kembali terdengar tenang seperti biasanya.


Salah seorang dari rekan kerja Olivia, lalu menghampiri meja kerja Olivia, hingga membuat Olivia mengangkat pandangannya, untuk melihat rekan kerjanya itu.


Sembari menyerahkan berkas laporan baru kepada Olivia, rekan kerja Olivia itu, kemudian bertanya, dengan suara yang berbisik-bisik,


"Apa kamu melihat wanita, yang mendatangi Sir Andersen di ruangannya tadi?"


"Ugh ...?" Olivia sama sekali tidak memiliki petunjuk, tentang apa yang sedang ditanyakan oleh rekan kerjanya itu.


"Tidak. Aku tidak melihatnya," kata Olivia, lalu menatap lembaran kertas yang baru saja diterimanya.


"Tsk! ... Kamu memang tidak bisa diajak bergosip. Kalau sudah bekerja, walaupun sedang gempa bumi, mungkin kamu tetap tidak akan tersadar," kata rekan kerja Olivia, seperti sedang bersungut-sungut.


Olivia tidak menanggapi ocehan rekan kerjanya itu, dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum.


"Padahal di luar tadi, ributnya bukan main." Rekan kerja Olivia itu, tampaknya masih tidak puas menggerutu. "Sungguh kamu tidak mengintip, walau sedikit?"


Olivia tersenyum lebar, lalu berkata, "Tidak."


"Geez! ... Payah!" ujar rekan kerja Olivia itu, lalu berjalan pergi dari situ, dan kembali ke meja kerjanya sendiri.


"Pffftt ...!" Olivia hanya tertawa tertahan, melihat rekannya yang berwajah cemberut.

__ADS_1


"Ada-ada saja," ujar Olivia, pelan.


***


Pekerjaan Olivia sudah selesai dia kerjakan, sejak kurang lebih sepuluh menit yang lalu.


Kelihatannya, begitu juga rekan-rekan kerja Olivia yang lain, hingga semuanya sudah terlihat sibuk bersiap-siap untuk pulang.


Setelah sejak pagi tadi, Louis seolah-olah mengabaikan Olivia, sekarang ini, Louis terlihat menghampiri meja kerja Olivia, dan mengajak Olivia keluar dari kantor bersama-sama dengannya.


"Ayo kita pergi!" kata Louis. "Aku bisa mengantarkanmu pulang, kan?! Atau kamu juga ada janji dengan orang lain?"


"Iya, kamu bisa mengantarkanku," jawab Olivia.


Karena mereka yang keluar di waktu yang tepat di saat jam pulang kerja, Olivia dan Louis, mendapatkan lift yang terisi padat, dengan karyawan yang lain.


Olivia yang tersandar di dinding lift, bahkan hampir terjepit di antara para karyawan, yang kesemuanya tampaknya terburu-buru untuk segera pulang.


Tapi Louis terlihat sigap melindungi Olivia, dengan berdiri di depannya, sampai berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat, hingga mereka berdua bahkan hampir saling menempel.


Di dalam lift, terdengar perbincangan dari para karyawan, yang membahas tentang wanita yang datang ke kantor tadi siang.


Menurut apa yang bisa ditangkap oleh Olivia, kedengarannya, wanita yang menarik perhatian orang banyak itu, adalah seorang model.


Model internasional yang katanya berwajah cantik, dan sesuai dengan profesinya, wanita itu juga berpenampilan sangat modis.


Dan lagi, menurut desas-desus yang terdengar di dalam lift, model wanita itu adalah mantan istri dari Jericho.


Ada yang berbisik-bisik, bahwa kemungkinan besar, mantan istri dari Jericho itu, ingin kembali rujuk dengan Jericho lagi.


Alasan yang paling utama yang mencuat, adalah karena anak laki-laki mereka yang masih sangat kecil, dan tentu saja membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Olivia mendengarkan dengan seksama, pembahasan para karyawan yang berada di dalam satu lift dengannya, hingga dia hampir tidak menyadari lagi, kalau mereka sudah tiba di lantai dasar gedung kantor.


"Jangan terlalu banyak melamun!" kata Louis.


Pintu lift terlihat sudah terbuka, Louis lalu memegang tangan Olivia, dan terasa sedikit menariknya, hingga mereka berdua keluar dari dalam lift.


"Kamu tidak perlu ikut ke parkiran. Tunggu saja di sini! Nanti aku bawa mobilku ke sini," ujar Louis, lalu berjalan pergi, meninggalkan Olivia berdiri di depan pintu gedung kantor.


Tidak terlalu lama Olivia menunggu, mobil Louis sudah terlihat berhenti di depan gedung, dan Olivia segera masuk ke dalamnya.


"Kamu akan merayakan ulang tahunmu dengan siapa malam ini? Sampai-sampai, kamu tidak mau merayakannya bersamaku," tanya Louis, ketika mobilnya mulai melaju keluar dari area perkantoran.


"Bukan merayakan ulang tahunku. Aku diundang untuk menghadiri makan malam keluarga," jawab Olivia.


"Apa kamu tidak mau memberitahuku, siapa yang mengundangmu?" tanya Louis lagi.


"Jonah ... Anak laki-laki dari Sir Andersen. Dia berulang tahun hari ini, dan memintaku agar bisa datang di pestanya," jawab Olivia, tanpa beban.

__ADS_1


"Ooh ...!" Louis tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, lalu menoleh ke samping, melihat ke arah Olivia.


"Kalau besok, apa kamu mau jalan-jalan denganku?" tanya Louis.


"Tidak bisa. Aku ada rencana lain. Kalau Lusa nanti, bagaimana? Kita bisa joging, lalu jalan-jalan," jawab Olivia.


"Kamu jadi semakin sulit, untuk diajak bertemu di luar, belakangan ini ... Tapi, it's okay ... Lusa, jangan sampai kamu membatalkannya lagi," ujar Louis.


Louis mengangkat sebelah tangannya, lalu mengacungkan jari kelingkingnya, seolah-olah dia ingin membuat janji kelingking dengan Olivia.


"Pffftt...! Iya, iya ... Aku pasti akan menepati janjiku," sahut Olivia sambil tertawa, dan mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Louis.


"Deal!" ujar Louis, sambil tersenyum.


***


Setibanya mereka di depan gedung apartemen Olivia, Louis menahan Olivia agar tidak segera pergi dari mobilnya.


"Olivia! Tunggu sebentar! ... Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Louis.


Olivia yang baru saja selesai melepaskan sabuk pengamannya, lalu menahan diri, dengan tetap duduk di dalam mobil Louis.


"Ada apa?" tanya Olivia. "Katakan saja!"


"Waktu itu, Claire membuat pengakuan kalau dia menyukaiku lebih dari teman," kata Louis, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Ooh ...! Lalu masalahnya apa?" ujar Olivia, bingung.


"Olivia ...!" kata Louis, yang tampak frustrasi.


"Tsk! ... Ada apa denganmu? Bukannya kamu juga menyukainya?!" ujar Olivia, semakin kebingungan, karena melihat raut wajah Louis yang terlihat tidak nyaman.


"Aku hanya menganggapnya sebagai teman saja," sahut Louis.


"Huuffft...! Lalu apa? Katakan saja sejujurnya kepada Claire!" ujar Olivia.


Menurut Olivia, reaksi Louis saat ini, terlihat seolah-olah dia terlalu melebih-lebihkan, tentang hubungan antara dirinya dan Claire.


Dan gelagat Louis itu, hanya membuat Olivia semakin bingung, akan apa tujuan Louis hingga dia bertingkah seperti itu.


"Aku sudah katakan padanya, tapi kamu lihat sendiri, kan?! Bagaimana reaksinya? Dia kelihatannya tidak terima....


... Dan justru menyalahkanku, yang katanya hanya mempermainkannya saja," sahut Louis.


"Hmm ... Kalau begitu aku juga tidak tahu. Kamu harus memikirkannya sendiri," ujar Olivia, sambil melihat penanda waktu di arlojinya.


Ketika Olivia mengangkat pandangannya, dan melihat ke arah Louis, laki-laki itu seolah-olah akan berkata sesuatu, namun Olivia segera menyelanya, dengan lanjut berkata,


"Maafkan aku, Louis ... Tapi sekarang ini aku sedang terburu-buru. Nanti kita bisa bicara lagi."

__ADS_1


Sebelum Louis sempat menanggapi perkataannya, Olivia segera beranjak keluar dari dalam mobil Louis.


"Terima kasih, karena kamu sudah mengantarkanku pulang!" ujar Olivia, lalu menutup pintu mobil Louis, dan segera berjalan ke apartemennya.


__ADS_2