Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 36


__ADS_3

Walaupun Louis tampak bersungguh-sungguh, saat meminta maaf kepada Olivia, namun suasana di situ, sudah terlanjur terasa tidak nyaman dan sedikit tegang.


Olivia tidak mau memperpanjang perdebatan antara dirinya dan Louis lagi, dan memilih untuk merevisi sendiri, data dari berkas yang sudah terlanjur kacau.


Sebenarnya bisa saja, kalau Olivia menyodorkan pekerjaan itu kepada Roe, atau rekan kerjanya yang lain.


Tetapi Olivia tidak mau mengambil resiko, kalau-kalau terjadi kesalahan yang sama, lalu nantinya, Olivia malah harus melakukan pekerjaan yang berulang.


Tanpa mau memperdulikan Louis yang masih berdiri di dekat meja kerjanya, Olivia menyalakan komputernya, dan mulai bekerja.


"Biarkan aku membantumu!" kata Louis, lantas segera menarik kursi kerjanya, dan mendekatkannya ke meja kerja Olivia.


Olivia tidak menolak niat Louis yang ingin membantunya, dan membiarkan Louis yang memeriksa data perbandingan, sementara Olivia yang menginput data dari daerah yang sesuai.


Bukan hanya memperbaiki data yang salah saja, Olivia bahkan segera memasukkan data-data yang sudah selesai direvisi, langsung ke dalam basis data utama.


Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Claire, yang hingga saat ini, masih belum terlihat batang hidungnya.


Entah kemana wanita itu pergi.


Louis juga seharusnya sudah bisa pergi dari meja kerja Olivia, namun laki-laki itu masih bertahan di situ.


Entah untuk apa, hingga Louis tetap duduk di dekat Olivia.


Baik Claire maupun Louis, sama-sama hanya membuat Olivia merasa sebal, sekarang ini.


Karena menurut Olivia, Louis seharusnya bisa mengatasi permasalahan pribadinya, dengan pergi menyusul Claire, hingga semua bisa kembali bekerja sesuai dengan tugasnya.


"Kita sudah selesai merevisi. Kenapa kamu tidak kembali ke meja kerjamu? Apa tidak ada yang perlu kamu lakukan?" tanya Olivia.


"Olivia! ... Apa kamu masih marah padaku?" tanya Louis, pelan.


"Huuffft ...!" Olivia mendengus kasar.


Di saat yang bersamaan, cahaya lampu kilat yang berkedip dari ponsel Olivia, yang menandakan kalau ada pesan masuk di sana, menarik perhatian Olivia, dan segera memeriksanya.


Pesan bergambar beberapa hidangan di dalam piring saji, dikirimkan oleh Hansen melalui aplikasi pesan singkat.


Berikut juga dengan pesan dari Hansen yang berupa tulisan, yang ikut menyusul dengan pesan gambar itu.


'Chef di restoranku membuat menu baru.'


'Dia ingin kamu mencobanya.'


Olivia tersenyum lebar, melihat pesan dari Hansen itu, lalu mengetikkan pesan balasannya.


'Chef yang ingin aku mencobanya, atau kamu yang ingin agar aku makan malam denganmu?'


Tidak berapa lama, pesan baru dari Hansen kembali masuk ke ponsel Olivia, yang disetel dalam mode hening, hingga tidak mengeluarkan suara ataupun getaran.


'Kamu tahu saja. (Emoticon menjulur lidah)'


'Aku akan menjemputmu. Jam berapa kamu pulang bekerja?'

__ADS_1


Olivia melihat penunjuk waktu di bagian atas layar ponselnya, lalu kembali mengetikkan pesan balasan.


'Kurang lebih satu jam lagi, aku sudah bisa pulang.'


'Tapi, kamu tidak perlu langsung menjemputku. Karena aku akan kembali ke apartemenku lebih dulu.'


Lagi, pesan dari Hansen, tampil dilayar ponsel Olivia.


'Aku tetap akan menjemputmu di kantormu.'


'Aku ingin menyapa Jericho di sana.'


Menurut Olivia, Hansen kemungkinan ingin menggoda Jericho lagi seperti malam itu, dan tingkah Hansen itu justru terasa lucu bagi Olivia, hingga dia jadi senyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari Hansen itu.


Olivia baru saja akan mengetikkan pesan balasan yang baru, namun Louis menegurnya, hingga Olivia mengangkat pandangannya, dan menunda untuk membalas pesan dari Hansen.


"Olivia! ... Kamu sedang chat dengan siapa?" tanya Louis, tampak penasaran.


Olivia lalu meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Hansen," jawab Olivia. "Kenapa?"


"Hmm...." Louis bergumam.


Bayangan yang mendadak melintas di bagian depan meja kerja Olivia, membuat Olivia mengalihkan pandangannya dari Louis, dan melihat ke arah bayangan itu.


Claire yang berjalan di sela antara meja kerja, di depan Olivia, tampak berwajah sembab, seolah-olah dia memang baru saja habis menangis.


"Louis!" seru Olivia, pelan.


"Aku tidak tahu apa, atau siapa yang salah. Tapi aku rasa, sebaiknya kamu yang menemuinya lebih dulu, dan segera memperbaiki hubungan kalian," ujar Olivia.


Louis tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Benar-benar hanya sebatas teman saja," kata Louis, yang tampaknya ingin meyakinkan Olivia.


"Hmm ... Jadi aku yang sudah salah menilai, kalau dia menangis karenamu?" tanya Olivia.


"Tsk!" Louis mendecakan lidah, dan dengan memasang raut wajah kesal, dia kemudian beranjak pergi dari meja kerja Olivia.


Olivia memperhatikan Louis yang tampak menghampiri Claire. Dan tidak berapa lama, Louis lalu terlihat berjalan keluar dari ruang kerja mereka itu, bersama-sama dengan Claire.


Olivia mendengus pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menggerutu dengan suara yang sangat pelan, "Ada-ada saja."


Ketika melihat layar komputernya yang masih menyala, Olivia tersadar kalau masih ada yang harus dia kerjakan, dan dengan terburu-buru, Olivia lanjut mengerjakan tugasnya.


Olivia yang larut dengan pekerjaannya, bahkan melupakan untuk membalas pesan dari Hansen lagi.


Sampai pekerjaannya selesai, dan Olivia bersiap untuk pulang, dia masih tidak ingat, akan pesan dari Hansen tadi.


Segera setelah keluar dari gedung kantor, Olivia menaiki bus yang menjadi tumpangannya, menuju ke wilayah di mana  apartemennya berada.


***

__ADS_1


Olivia sudah selesai mandi dan berpakaian di dalam kamar apartemennya, berbaring terlentang di atas tempat tidurnya, dan menatap langit-langit kamar, sambil memikirkan tentang Louis dan Claire.


Semenjak kedua orang itu pergi tadi, dan Olivia melanjutkan pekerjaannya, baik Louis maupun Claire, tidak ada satupun dari mereka yang terlihat kembali ke ruang kerja.


Hingga Olivia selesai bekerja pun, dan beranjak pergi dari sana, batang hidung Louis maupun Claire, sama-sama masih tidak terlihat.


Entah apa yang jadi persoalan antara kedua orang itu, hingga membutuhkan waktu selama itu, dan masih belum bisa menyelesaikannya.


Tapi Olivia tidak mau berlama-lama memikirkan tentang Louis.


Karena tentu tidaklah lucu, kalau Olivia nanti kembali merasa cemburu, jika Louis dan Claire memang benar memiliki hubungan lebih dari teman, seperti dugaannya.


Olivia melompat turun dari tempat tidurnya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Mata Olivia terbelalak, ketika melihat tiga panggilan masuk dari Hansen, yang tidak terjawab.


Selain panggilan telepon, beberapa pesan singkat dari Hansen, dan beberapa orang yang lain, juga terlihat di sana.


Kondisi ponselnya yang masih dalam mode hening, membuat Olivia tidak menyadari, kalau Hansen telah menghubunginya berulang-ulang.


Astaga!


Olivia benar-benar melupakan percakapannya dengan Hansen, lewat pesan singkat tadi.


Dengan perasaan bersalah, Olivia segera menghubungi Hansen, lewat sambungan panggilan telepon.


Tidak berapa lama, setelah terdengar nada sambung, suara sapaan dari Hansen, terdengar di seberang telepon. "Halo, Olivia...!"


Dari apa yang bisa ditangkap Olivia dari pendengarannya, suara Hansen sepertinya terdengar lesu.


"Halo, Hansen! Maafkan aku. Aku benar-benar lupa akan ajakanmu tadi," kata Olivia, buru-buru.


"Hmm ... Tidak apa-apa. Di mana kamu sekarang?" tanya Hansen, yang kembali terdengar bersemangat.


"Aku sudah di apartemenku," jawab Olivia. "Kenapa?"


"Ugh ...? Kamu masih bertanya? Apa kamu memang tidak mau makan malam denganku? Tsk! ... Padahal aku dan Chef sudah menunggu. Apa kamu akan membatalkannya lagi?" ujar Hansen, dari seberang.


"Maaf ... Bukan begitu maksudku ... Aku mau. Tapi tunggu sebentar! Aku bersiap-siap dulu!" sahut Olivia.


"Okay! Beritahu aku alamatmu! Biar aku menjemputmu!" ujar Hansen.


"Tidak perlu. Aku bisa memakai taksi," sahut Olivia lagi.


"Olivia ...! Aku yang mengajakmu. Tentu aku juga yang harus menjemputmu!" ujar Hansen, tidak mau kalah.


"Geez ...! Kamu ini!" sahut Olivia. "Okay! Aku kirimkan alamatku."


"Okay! Aku menunggu! Bye, Olivia!" kata Hansen.


"Bye, Hansen!" sahut Olivia, lalu memutuskan sambungan telepon itu.


Olivia melihat beberapa pesan dari Hansen yang masuk di aplikasi pengirim pesan, yang bertanda waktu sebelum Olivia menghubungi Hansen, barusan.

__ADS_1


Namun Olivia tidak membaca pesan lama dari Hansen itu lagi, dan langsung mengirimkan pesan berbagi lokasinya, kepada Hansen.


Dengan terburu-buru, Olivia meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu bersiap-siap sebelum Hansen datang menjemputnya.


__ADS_2