
"Olivia! ... Olivia!"
Suara Claire yang memanggil-manggil namanya hingga beberapa kali, menyadarkan Olivia dari lamunannya.
"Ugh?" Olivia tersentak.
"Apa ini sudah benar, atau masih perlu direvisi?" tanya Claire.
Berkas laporan yang tersimpan di dalam flashdrive yang diantarkan Claire, dan yang sudah ditunjukkannya sedari tadi kepada Olivia, melalui tampilan layar komputer, kembali diperhatikan oleh Olivia.
"Sejak kamu datang tadi, kelihatannya kamu tidak berkonsentrasi pada pekerjaanmu," celetuk Claire.
"Maafkan aku ... Aku memang kelelahan beberapa hari terakhir ini," sahut Olivia.
Olivia berusaha untuk tetap memusatkan perhatiannya, pada pemeriksaan laporan bulanan yang ada di depannya itu.
Selain karena dia yang kurang tidur, Olivia yang lelah karena berbagai macam pikiran yang mengganggunya, memang kesulitan untuk aktif dalam bekerja seperti biasanya.
Kalau begini terus, daripada performanya semakin merosot, kelihatannya Olivia memang perlu mempertimbangkan, untuk mengambil cutinya saja dulu.
Cuti tahunannya untuk tahun ini, juga belum diambil Olivia, dan menurutnya, sekarang ini mungkin adalah waktu yang tepat, untuk beristirahat sejenak dari pekerjaannya.
"Kemarin, apa kamu pergi makan siang bersama Louis?" tanya Claire.
"Ugh? ... Ooh! ... Tidak," jawab Olivia. "Bukannya dia pergi makan siang denganmu? Katanya, kamu dan Mona mengajaknya makan siang bersama."
"Dia tidak datang ke restoran tempat kami menunggunya," kata Claire. "Lalu, kamu makan siang di mana?"
"Aku tidak ke mana-mana ... Aku hanya membeli sandwich di kafetaria, lalu kembali ke sini," jawab Olivia.
"Olivia! ... Apa kamu menyukai Louis?" tanya Claire, terdengar berhati-hati.
"Hmm ... Louis itu temanku. Tentu aku menyukainya. Tapi hanya sebatas teman saja," jawab Olivia. "Kenapa kamu menanyakannya?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sekedar membicarakannya saja, agar kamu tidak kembali melamun," sahut Claire.
Setelah Olivia merasa yakin kalau tidak ada yang perlu direvisi, dari laporan yang ditunjukkan Claire kepadanya, Olivia segera memberikan persetujuannya, agar Claire bisa memasukkan data-data itu, ke dalam basis data utama perusahaan.
Yang mengherankan, walaupun Olivia sudah mengembalikan flashdrive kepada Claire, tapi wanita itu masih berdiri di dekat meja kerja Olivia.
"Apa ada sesuatu?" tanya Olivia, yang merasa bingung, karena Claire yang masih belum beranjak pergi dari situ.
"Hmm ... Kamu pasti sudah tahu kalau aku menyukainya, bukan?" ujar Claire. "Aku hanya ingin tahu tentang apa saja kesukaan Louis, agar aku bisa mendekatinya."
Olivia terdiam sebentar sambil berpikir, dan menurutnya, tidak ada salahnya jika dia membantu Claire, agar bisa berkencan dengan Louis.
"Okay! ... Kamu bisa bertanya apa saja tentangnya. Tapi sambil aku membuat permohonan cuti," kata Olivia.
"Kamu akan mengambil cuti?" tanya Claire.
"Iya ... Rencananya mulai besok, aku ingin istirahat dulu," jawab Olivia, sambil mempersiapkan layar komputernya, untuk mengetikkan surat permohonan cutinya.
Claire kemudian mulai bertanya kepada Olivia tentang Louis, akan apa saja yang kegiatan, ataupun segala sesuatunya yang disukai Louis, yang mungkin bisa dipergunakan oleh Claire, agar dia bisa lebih dekat dengan teman laki-laki Olivia itu.
Sambil Olivia mengetik di komputernya, Olivia memberitahu kepada Claire, sebisanya yang Olivia tahu tentang Louis.
"Jadi dia suka joging di taman xx, setiap hari kedua di libur akhir pekan?" tanya Claire, dari sekian banyak pertanyaan yang diajukannya kepada Olivia.
"Iya ... Tapi aku rasa, libur akhir pekan kali ini, dia mungkin tidak akan pergi ke taman. Karena katanya waktu itu, dia berencana untuk ke luar negeri, selama libur akhir pekan," jawab Olivia.
"Dia akan pergi besok?" tanya Claire.
__ADS_1
"Iya ... Atau mungkin saja sore nanti. Kamu tanyakan saja langsung padanya. Mana tahu dia mau mengajakmu ikut dengannya," jawab Olivia.
Claire lalu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ada sesuatu yang dia pikirkan.
"Apa masih ada lagi? ... Aku akan pergi ke ruangan Sir Hart," kata Olivia, sambil menunjukkan kepada Claire, lembaran kertas bertuliskan permohonan cuti, yang sudah selesai diketik dan dicetak oleh Olivia.
"Tidak," sahut Claire, kemudian berlalu pergi dari meja kerja Olivia.
Segera setelah Claire pergi dari situ, Olivia kemudian mendatangi ruang kerja Sir Hart, dan memberikan surat permohonan cutinya.
Olivia masih sempat berbincang-bincang sebentar dengan Sir Hart, sambil menunggu tandatangan persetujuan dari manajer Olivia itu, sebelum Olivia beranjak pergi lagi dari ruangan itu, dan mendatangi ruang HRD.
Ketika Olivia selesai menyerahkan surat permohonan cutinya kepada pegawai administrasi, dan berjalan keluar dari ruang kerja yang berada di lantai dasar gedung kantor, kelihatannya tidak ada apa-apa yang akan menghalang-halangi langkahnya.
Rencana Olivia untuk menjauh sementara, dari semua hal yang mengganggu pikirannya, tampaknya memang jadi pilihan yang terbaik, hingga Olivia merasa langkahnya kini, jauh lebih ringan.
Akan tetapi, saat Olivia akan memakai lift untuk kembali ke lantai atas, di mana ruang kerjanya berada, Johan terlihat sedang berdiri di sana, dan tampak sedang menunggu lift yang sama.
"Hai, Sir!" sapa Olivia, yang tidak bisa menghindar lagi, karena Johan telah melihat kedatangannya.
"Hai, Olivia!" Johan balas menyapa. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
"Hmm...." Olivia ragu-ragu. "Saya baru saja mengurus cuti tahunan saya."
Pintu lift kemudian terbuka, hingga Olivia dan Johan lalu bergegas masuk ke dalamnya.
"Apa aku boleh tahu? ... Kamu akan menghabiskan liburanmu di mana?" tanya Johan.
Olivia berencana menghabiskan cutinya di rumah lamanya, yang sudah dibeli kembali oleh Johan, dan yang kemudian diberikan Johan kepada Olivia.
Dengan demikian, walaupun sebenarnya merasa enggan untuk memberitahu ke mana dia akan pergi, tapi Olivia tahu, kalau dia harus memberitahukannya kepada Johan, karena rumah itu, saat ini masih dianggap Olivia, sebagai milik Johan.
"Sir! ... Apakah tidak masalah, jika saya memakai rumah yang anda beli itu?" lanjut Olivia, berhati-hati.
Johan tersenyum, lalu berkata,
"Aku sudah memberikannya padamu. Justru aku yang harus bertanya, apa aku bisa menginap di sana?"
"Ugh? ... Apa maksud anda? Apa anda juga akan pergi ke kota xx?" tanya Olivia, bingung.
"Hmm ... Rencananya begitu. Tapi kalau kamu tidak mengizinkan, maka mau tidak mau, aku harus menginap di hotel saja," kata Johan.
Olivia terdiam sebentar, sambil berpikir.
Jika menghabiskan cuti di apartemen, maka Olivia masih bisa diganggu oleh Angelo, dan mungkin saja, kalau Olivia juga bisa diganggu oleh Jericho atau Hansen.
Sedangkan di rumah lama Olivia, hanya Johan saja yang akan bersamanya, dan rasanya itu tidak akan jadi masalah besar, karena ada beberapa kamar di rumah itu.
Ditambah lagi, mungkin saja, jika Olivia menghabiskan sedikit waktunya bersama Johan, maka Olivia bisa merasa yakin, kalau dia memang telah jatuh hati kepada Johan.
Tiba-tiba saja, Olivia merasa malu karena pikiran yang melintas di kepalanya itu, hingga dia menggigit bibirnya sendiri, untuk membuatnya tersadar kembali.
"Kalau kamu mengizinkan, maka aku akan membawa Jonah bersamaku. Agar kita bisa pergi melihat pertunjukan sirkus bersama-sama, seperti rencana kita waktu itu," kata Johan.
"Okay!" sahut Olivia, buru-buru, namun kemudian dia menyesali dirinya sendiri, yang dengan mudahnya setuju, saat mendengar adanya Jonah yang akan ikut dengan Johan.
"That's great! ... Kita bisa berangkat ke sana bersama-sama saja, hari ini. Bagaimana?" ujar Johan.
"Terserah anda saja, Sir!" sahut olivia. "Tapi, bagaimana dengan daddy Jonah?"
"Jericho pasti akan memberi izin, jika aku yang membawa Jonah berlibur," kata Johan, terlihat yakin.
__ADS_1
"Tapi, Sir...!" ujar Olivia, ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Johan.
Alasan yang membuatnya tidak ingin berurusan dengan Jericho, rasanya masih sulit untuk dia utarakan secara terang-terangan, kepada johan.
Karena rasa kurang yakin itu, hingga Olivia hanya mengutarakan sebagian dari alasannya, dengan berkata,
"Saya tidak nyaman, jika kita menginap di dalam satu rumah yang sama. Karena saya khawatir, kalau-kalau ada yang salah paham."
"Maksudmu itu Laura? Kamu khawatir kalau Laura tidak setuju, jika Jonah berada dalam pengawasanmu dalam waktu yang lama?" tanya Johan.
Agar Johan tidak banyak bertanya lagi, Olivia mengiyakan saja, apa yang dikatakan oleh Johan barusan. "Iya, Sir!"
Namun harapan Olivia agar Johan membatalkan rencananya, untuk pergi berlibur bersama Olivia serta jonah, kelihatannya tidak akan terjadi.
Karena Johan yang tampaknya tidak akan mau menerima alasan apapun, dengan santainya berkata,
"Aku tidak akan memberitahukan kepada Jericho, kalau kita menginap di satu tempat yang sama. Kalau perlu, aku akan mengajak Jonah untuk bekerjasama denganku....
... Aku bisa meminta Jonah, agar tidak memberitahu Jericho, kalau kamu akan berlibur bersama kami. Dan aku rasa, Jonah pasti setuju, asalkan dia bisa bersamamu."
Dengan demikian keadaannya, Olivia jadi tidak tahu harus beralasan apa lagi, hingga akhirnya Olivia hanya bisa mengangguk setuju.
***
Tampaknya memang tidak akan ada kendala yang berarti, untuk rencana perjalanan Olivia di hari itu, yang ingin memanfaatkan kesempatannya, di saat Angelo sedang bepergian ke luar kota, setelah mengantarkan Olivia bekerja, pagi tadi.
Tidak berapa lama setelah Olivia kembali ke ruang kerjanya, persetujuan dari bagian HRD untuk permohonan cutinya, sudah bisa diterima oleh Olivia.
Dengan demikian, mengingat perjanjian Olivia dan Johan tadi, bahwa mereka akan melakukan perjalanannya pada saat jam makan siang nanti, maka di saat itu juga, Olivia segera pulang ke apartemennya untuk bersiap-siap.
Dan sesuai dengan janjinya, Johan sambil membawa Jonah bersamanya, datang menjemput Olivia di apartemennya, tepat pada jam istirahat makan siang.
"Miss Olivia!"
Jonah yang berseru kegirangan, menjadi penyambut Olivia, saat masuk ke dalam mobil Johan, sementara supir pribadi Johan, memasukkan barang bawaan Olivia, ke dalam bagasi.
"Hai, Jonah! ... Hai, Sir!" sapa Olivia, sambil tersenyum, dan memeluk Jonah.
"Hai, Olivia!" Johan balas menyapa.
"Miss! ... Aku tidak memberitahu daddy, kalau Miss akan ikut jalan-jalan denganku dan Grandpa," kata Jonah.
"Benarkah? ... Lalu apa Jonah nanti tidak akan merindukan daddy?" tanya Olivia, sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Tidak, Miss ... Karena ada Miss dan Grandpa, yang akan menemaniku," jawab Jonah, sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.
"Kita singgah makan siang di perjalananan saja. Apa yang kalian inginkan?" tanya Johan.
"Grandpa! ... Karena daddy tidak ada, apa aku bisa makan burger, dan kentang goreng? Aku juga mau mencoba soda," ujar Jonah.
Olivia tersenyum mendengarnya, karena kalau begitu, berarti Jericho biasanya melarang Jonah untuk makan makanan cepat saji.
"Apa kamu juga mau makan itu juga?" tanya Johan kepada Olivia.
"Terserah saja, Sir ... Asalkan untuk kali ini saja. Karena menurut saya, mungkin daddy Jonah akan marah, kalau sampai dia tahu, kita membiarkan Jonah memakan makanan cepat saji," jawab Olivia.
"Okay!" sahut Johan.
Supir pribadi Johan kemudian menyinggahkan mereka, untuk makan siang di sebuah restoran makanan cepat saji, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke kota xx, hari itu.
__ADS_1