
Olivia seolah-olah kehilangan kemampuannya untuk bicara, setelah mendengar pernyataan dari Johan yang tiba-tiba.
Olivia yang benar-benar terkejut, dan sama sekali tidak menyangka akan hal itu, hanya bisa terdiam, tanpa tahu harus bagaimana untuk menanggapinya.
Terlihat berbeda situasinya dengan Johan.
Setelah membuat pengakuannya, tentang perasaannya kepada Olivia, hingga tampak seperti orang yang sedang frustrasi, sekarang ini, Johan justru tampak semakin frustrasi.
Untuk beberapa waktu lamanya, dan mereka berdua hanya terdiam di situ, Johan terlihat seolah-olah sedang merasa sangat gelisah.
Seolah-olah dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Johan lalu menundukkan kepalanya, kemudian berkata,
"Maafkan aku ... Aku tahu, kalau aku tidak pantas untuk jatuh cinta padamu. Seperti orang yang tidak tahu malu, aku dibutakan dengan rasa cemburu....
...Aku melupakan perbedaan usia kita yang terlampau jauh. Kamu masih sangat muda. Kamu pasti bisa menemukan seseorang, yang lebih pantas untukmu....
... Tolong lupakan saja apa yang aku katakan tadi. Aku tidak sadar, jika pengakuanku itu, tentu hanya akan membuatmu merasa terbeban.... Tsk! ... Entah apa yang aku pikirkan!"
Johan kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menjauh, melewati pintu bagian belakang, dan masuk ke dalam rumah, sampai Olivia tidak bisa melihatnya lagi.
Olivia yang masih memproses semua perkataan dari Johan di dalam kepalanya, tidak mengatakan apa-apa, ataupun melakukan apa-apa, untuk menghentikan langkah Johan.
Olivia baru beranjak pergi dari tempat tidur gantung itu, setelah beberapa waktu yang telah berlalu kemudian.
Setelah semua pintu rumah itu sudah kembali dikunci oleh Olivia, segera Olivia menyusul Johan, yang terlihat sudah masuk ke dalam mobilnya.
Ketika Olivia ikut masuk ke dalam mobil, Johan tampak melihat ke sampingnya, seolah-olah dia sedang menghindar, agar tidak beradu pandang dengan Olivia.
Sesekali, Olivia masih melirik ke arah Johan, namun laki-laki itu tetap terlihat memandangi ke luar jendela, dengan raut wajahnya yang tampak sedih dan frustrasi.
Kelihatannya, Johan benar-benar tidak mau bicara dengan Olivia, dan Olivia juga tidak mau memaksa Johan.
Lagi pula, Olivia juga tidak tahu harus berkata apa, agar membuat situasi di antara dia dan Johan bisa kembali seperti biasa, sehingga Olivia memilih untuk tetap membiarkannya begitu saja.
***
Karena yang Olivia tahu, kalau mereka sudah tidak ada lagi pekerjaan, ataupun keperluan di kota itu, maka ketika dia dan Johan kemudian diantar kembali ke hotel, Olivia segera berkemas, dan bersiap untuk pulang.
Perjalanan panjang untuk pulang dari kota xx itu, kemungkinan besar, akan terasa sangat melelahkan dan membosankan, jika Johan tetap bertingkah seperti tadi.
Olivia sempat terpikir, bahwa dia mungkin sebaiknya menggunakan transportasi umum saja, untuk menjadi tumpangannya pulang.
Tapi Olivia jadi merasa sedikit ragu, jika dia secara serta-merta mengganti tumpangannya, dan seolah-olah tidak menghargai status Johan.
Dengan demikian, mau tidak mau, Olivia masih ikut menumpang di dalam mobil Johan.
Sampai tiba waktunya bagi mereka untuk makan siang, dan supir pribadi Johan menyinggahkan mereka di sebuah restoran.
Karena melihat Johan yang tidak ada tanda-tanda untuk beranjak keluar dari dalam mobil, sedangkan Olivia sudah berada di luar, Olivia kemudian memberanikan diri, untuk menegurnya lebih dulu.
"Sir...!" sapa Olivia.
__ADS_1
"Kamu saja ... Aku tidak merasa lapar," sahut Johan, tanpa mau melihat ke arah Olivia.
Melihat Johan yang seperti itu, hanya membuat Olivia merasa khawatir, karena perjalanan mereka yang masih panjang, dan akan memakan waktu yang lama.
Dan rasanya, Olivia tidak mungkin membiarkan Johan melakukan perjalanan dengan perut yang kosong. Karena bisa-bisa, nanti Johan jatuh sakit lagi.
Apalagi Olivia tahu, kalau karena Olivia lah, sampai Johan bisa terlihat sedih, dan seolah-olah kehilangan semangatnya.
"Huuffft...!" Olivia mendengus kasar, sambil mengumpulkan semua sisa keberaniannya, lalu berkata,
"Kalau anda tidak mau makan, maka saya tidak akan ikut bersama dengan anda lagi. Anda bisa melanjutkan perjalanan anda sendiri....
... Karena saya tidak mau anda jatuh sakit, sementara anda sedang bersama dengan saya."
Walaupun Olivia seperti sedang mengancamnya, tapi Johan masih bertingkah sama saja, dan seolah-olah tidak mau menanggapi perkataan dari Olivia itu.
Olivia kemudian melihat ke arah supir pribadi Johan, yang masih berdiri di dekatnya, lalu Olivia kemudian berkata,
"Maafkan saya, untuk ketidaknyamanan ini. Tapi anda bisa membawa Sir Johan Andersen, agar dia bisa pulang lebih dulu. Saya akan pulang dengan menggunakan kendaraan yang lain....
... Untuk barang bawaan saya, saya minta tolong agar dibawa ke kantor saja. Saya bisa mengambilnya di sana, nanti."
"Baik, Miss!" sahut supir pribadi Johan.
Setelah itu, Olivia lalu melihat ke arah Johan, kemudian berkata,
"Terima kasih untuk semuanya, Sir! ... Please take care of yourself! ... Bye, Sir! See you next time!"
Walaupun Olivia mendengar bunyi pintu mobil yang tertutup, namun Olivia tetap melangkahkan kakinya, pergi menjauh dari situ sampai masuk ke dalam restoran, tanpa mau berbalik lagi untuk melihat Johan.
Olivia tidak perduli lagi, jika Johan akan menganggapnya telah bersikap kasar.
Karena bagi Olivia, sekarang ini, sikap Johan juga tidak menunjukkan profesionalitasnya dalam hubungan pekerjaan.
Baik Olivia maupun Johan, sama-sama sedang bertindak dengan dasar alasan pribadi, jadi rasanya, tidak akan jadi masalah nantinya.
Ketika Olivia baru saja akan duduk di salah satu meja yang kosong, tiba-tiba, Johan terlihat sudah berada di dekatnya.
Olivia memang terkejut karena Johan yang ternyata menyusulnya, tapi Olivia masih lebih terpusat perhatiannya, pada raut wajah Johan sekarang ini.
Mulai dari wajah, daun telinganya, hingga ke bagian leher Johan, terlihat memérah, seolah-olah dia sedang menahan rasa malunya, ketika dia bertatap-tatapan dengan Olivia.
Olivia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan benar-benar berusaha keras, agar dia tidak menertawakan Johan.
Walaupun saat ini Johan sudah terlihat sangat menggemaskan, namun Olivia masih ingin mengusik bosnya itu lebih jauh lagi.
"Apa yang anda lakukan di sini, Sir?"
Sambil berpura-pura seolah-olah dia sedang kesal kepada Johan, Olivia melontarkan pertanyaannya, dengan niat untuk mengejek Johan.
"Olivia...!" ujar Johan, dengan suara dan raut wajah memelas.
__ADS_1
"Pffftt...!" Olivia sudah tidak sanggup lagi, untuk menahan rasanya yang ingin tertawa.
Seketika itu juga, wajah Johan terlihat semakin memérah, hingga Olivia merasa tidak tega, jika dia masih harus mengusik Johan lagi.
"Maafkan saya, Sir ... Saya hanya bercanda," kata Olivia, lalu mengarahkan tangannya, menunjuk ke kursi yang ada di seberang meja.
"Silahkan duduk, Sir! ... Anda tentu tidak hanya akan berdiri di situ saja, bukan?" lanjut Olivia.
Johan kemudian ikut duduk bersama Olivia di situ, sambil tetap tersipu malu-malu.
Setelah pelayan restoran mencatat semua pesanan mereka, dan pelayan restoran itu kemudian berlalu pergi dari situ, Johan lalu berkata,
"Maafkan aku, Olivia ... Aku benar-benar merasa malu, hingga aku bisa bersikap seperti tadi."
"Apa yang membuat anda merasa malu? Apa karena anda yang mengakui, kalau anda menyukai saya? ... Menurut saya, itu bukanlah hal yang memalukan," kata Olivia.
"Aku merasa malu, karena aku yang seolah-olah lupa diri, dan tidak ingat akan usia dan penampilanku sekarang ini," sahut Johan.
"Hmm ... Tapi ... Bukannya untuk menyukai seseorang itu, memang tidak memandang usia, penampilan, ataupun status?" ujar Olivia.
"Anda seharusnya merasa bangga, karena anda berani untuk mengutarakannya ... Lalu, kata anda tadi, usia dan penampilan? Anda tidak perlu merasa rendah diri, karena anda masih terlihat hebat....
... Saya tidak menanggapi perkataan anda di sana—rumah lama Olivia—tadi, hanya karena saya merasa terkejut akan pernyataan anda yang tiba-tiba. Dan bukan karena saya menganggap anda, seperti seseorang yang tidak tahu malu," lanjut Olivia.
"Kalau kamu hanya—"
Kelihatannya, masih ada yang ingin disampaikan oleh Johan kepada Olivia.
Namun Johan menghentikan perkataannya secara tiba-tiba, karena beberapa pelayan restoran yang menghampiri meja mereka, sambil menyajikan makanan yang dipesan oleh Olivia dan Johan.
Setelah para pelayan restoran itu pergi dari situ, Johan kemudian melanjutkan perkataannya.
"... Kalau kamu hanya berniat untuk menghiburku, maka kamu tidak perlu mengatakannya....
... Aku tahu, kalau wanita sepertimu, tentu tidak akan pernah mempertimbangkan laki-laki sepertiku," lanjut Johan.
"Hmm ... Apakah anda sudah lupa dengan perkebunan bunga matahari?" tanya Olivia.
Johan tidak menjawab pertanyaan Olivia, dan justru tampak seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Apapun yang saya katakan tadi bukanlah kebohongan, atau hanya untuk sekedar menghibur anda....
... Saya hanya tidak mau memberikan harapan kepada siapa-siapa. Karena bagi saya, berkencan bukanlah hanya sebuah percobaan, lalu nantinya akan ada yang terluka," lanjut Olivia.
"Kalau begitu, aku berarti masih bisa tetap menyukaimu?" tanya Johan, yang tampak kembali antusias.
"Sir...! Please! ... Anda ingin saya menjawab apa?" ujar Olivia, dengan suara memelas, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maafkan aku ... Aku terlalu bersemangat. Padahal aku sendiri yang mengatakan, kalau aku tidak ingin membebanimu," kata Johan.
"Okay! ... I get it! ... Aku hanya perlu menunggu, dengan terus memperlihatkan sisi terbaikku kepadamu. Sampai kamu nanti bisa jatuh cinta kepadaku," lanjut Johan, sambil tersenyum lebar.
__ADS_1