
Untuk beberapa saat Olivia menunggu, namun Jericho tidak juga mengatakan apa-apa kepadanya, dan hanya menatap Olivia lekat-lekat, hingga Olivia akhirnya berkata,
"Maafkan saya, Sir ... Tapi, jam istirahat makan siang saya sangat terbatas."
"Okay! ... Aku ikut makan siang denganmu saja, kalau begitu. Kita bisa bicara di sana," ujar Jericho, lalu mulai berjalan, dan tampaknya mengarah ke kafetaria.
Olivia buru-buru menyusul Jericho, kemudian berkata,
"Sir! ... Bukannya anda sudah membuat janji dengan daddy anda?"
Olivia benar-benar berharap, agar Jericho segera menyusul Johan, dan membatalkan niatnya untuk makan siang bersama Olivia, agar Olivia bisa makan dengan tenang.
Tapi kelihatannya, Jericho tidak akan membiarkan Olivia lolos begitu saja.
Karena sambil tetap berjalan, Jericho yang menoleh ke arah Olivia, lalu berkata,
"Tidak akan jadi masalah, jika aku tidak pergi makan siang dengannya. Aku ingin bicara denganmu sekarang ini."
Olivia terbelalak.
Oh, gosh! Apa mungkin akan lebih baik, jika Olivia berhenti kerja saja dari perusahaan ini?
Walaupun dengan perasaan terpaksa, Olivia menyerah, dan membiarkan Jericho melakukan apa yang dia mau.
Setelah mengambil makan siangnya masing-masing, Jericho kemudian membawa Olivia, untuk duduk di meja terpisah, dari pegawai yang lain.
"Aku tadi mengirimkan pesan, agar kamu pergi ke ruanganku," celetuk Jericho. "Tapi kamu bahkan tidak membaca pesan dariku itu."
"Sir...! Maafkan saya ... Tapi saya tidak tahu, jika anda memanggil saya untuk pergi ke ruangan anda. Kerena ponsel saya ketinggalan," sahut Olivia.
Olivia berusaha untuk tetap terlihat tenang, saat bicara dengan Jericho itu, walaupun sebenarnya, Olivia sudah merasa cukup sebal dengan bosnya itu, sekarang ini.
Karena menurut Olivia, jika Jericho memang membutuhkannya, seharusnya Jericho bisa memanggilnya lewat telepon kantor saja.
Dan seandainya saja, Olivia tadi membawa ponselnya, Jericho juga seharusnya tidak perlu protes kepada Olivia, jika Olivia tidak memeriksa ponselnya, apalagi di jam kerja.
"Maafkan aku ... Aku mengira kalau kamu memang sengaja, untuk tidak mengindahkanku," kata Jericho, pelan.
"Tidak apa-apa, Sir ... Hmm ... Lalu, apa sebenarnya yang ingin anda bicarakan?" tanya Olivia, yang mulai kehilangan kesabarannya.
"Hmm ... Olivia! Apa mungkin kamu marah kepadaku, karena apa yang terjadi, di ulang tahun Jonah waktu itu?" Jericho tampak berhati-hati, saat dia bicara dengan Olivia.
"Maafkan aku, Olivia! ... Aku tahu kalau situasi saat itu, tentu sangat tidak menyenangkan bagimu. Padahal di hari itu, kamu juga berulang tahun," lanjut Jericho, buru-buru.
Olivia mengerutkan keningnya, sambil menatap Jericho untuk beberapa saat, kemudian Olivia berkata,
"Saya sudah tidak mempermasalahkan, tentang kesalahpahaman dengan mommy Jonah. Tapi.... Dari mana anda bisa tahu, kalau saya berulang tahun di hari itu?"
"Hansen ... Hansen memberitahuku, ketika aku menghubunginya, dan menceritakan tentang apa yang terjadi di rumahku....
...Hansen memarahiku, karena aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Dan sampai hari ini, Hansen masih marah kepadaku....
... Katanya, jika aku tidak meminta maaf dengan baik kepadamu, maka dia tidak akan memaafkanku," jawab Jericho, yang tiba-tiba terlihat gusar.
"Apa hubunganmu dengan Hansen? Kenapa dia bisa tahu hari ulang tahunmu?" tanya Jericho buru-buru, dan terlihat semakin gusar.
"Hmm ... Apa saya harus menjawabnya, Sir? Karena itu adalah persoalan pribadi," sahut Olivia, masa bodoh.
"Olivia...!" ujar Jericho dengan suara memelas.
"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar.
__ADS_1
"Jika anda benar-benar merasa penasaran, bukankah anda bisa menanyakan hal itu, langsung kepada Hansen?" ujar Olivia.
"Tsk! ... Dia tidak mau membicarakannya," jawab Jericho, tampak kesal.
Setelah melihat pesan-pesan yang dikirimkan oleh Jericho sebelumnya, lalu ketika melihat langsung gerak-gerik Jericho, menurut Olivia, sekarang ini, Jericho memang benar-benar tampak aneh.
Apakah mungkin, jika Jericho khawatir jika Hansen tidak mau berteman dengannya lagi, karena adanya Olivia?
Apa Jericho khawatir, kalau-kalau Hansen nantinya akan lebih akrab dengan Olivia, daripada dengannya?
Kalau memang benar begitu, jika pertemanan antara Jericho dan Hansen memang baik, seharusnya Jericho tidak perlu khawatir, sampai-sampai dia harus bertingkah seperti anak kecil, yang takut kehilangan sahabatnya.
Tapi dengan begitu, Olivia jadi ingin mengusik Jericho, sampai Jericho berhenti mengganggunya.
"Anda tanyakan saja kepadanya, Sir ... Karena saya tidak ingin membicarakan persoalan pribadi saya, walaupun anda memaksa....
... Anda bisa katakan pada Hansen, kalau hubungan antara anda dan saya baik-baik saja. Katakan saja, kalau saya menganggap anda adalah bos yang baik," kata Olivia.
Jericho kelihatannya sangat terkejut dengan perkataan Olivia, hingga matanya terlihat melebar, dan wajahnya yang terlihat kaku.
"Apa kamu sungguh-sungguh menganggapku seperti itu?" tanya Jericho.
"Iya, Sir! ... Anda adalah bos yang baik, jika anda tidak lagi mengirimkan saya pesan, yang tidak bisa saya mengerti apa maksudnya," jawab Olivia.
Olivia benar-benar tidak perduli lagi, akan apa yang akan dipikirkan oleh Jericho, yang sekarang ini hanya terdiam, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
Karena Olivia masih sangat lelah, untuk meladeni semua tingkah aneh bosnya itu, dan Olivia hanya ingin menikmati makan siangnya, tanpa ada gangguan lagi.
"Jonah ingin bertemu denganmu," celetuk Jericho, tiba-tiba.
Olivia mengangkat pandangannya, dan menatap Jericho.
"Saya juga ingin bertemu dengannya. Tapi ... Apa mommy-nya tidak akan marah, jika saya menemuinya?" tanya Olivia.
... Apa kamu bisa pergi bersama kami ke taman hiburan? Kami akan menjemputmu, sepulangnya kita dari kantor," kata Jericho.
Olivia terdiam, sambil berpikir.
Jonah ... Olivia memang ingin bertemu dan bermain dengannya, tapi Olivia jadi merasa ragu-ragu, karena adanya Jericho yang akan ikut dengan mereka.
"Jonah sudah meminta izin, agar dia bisa pergi ke taman hiburan denganmu, sejak libur akhir pekan kemarin. Sudah beberapa hari belakangan ini, Jonah terlihat murung....
... Aku menunda untuk memberitahumu, karena aku pikir kamu sedang sibuk, dan aku tidak mau membebanimu. Tapi kalau kamu tidak mau, maka aku juga tidak akan memaksamu," kata Jericho lagi.
"Saya mau saja, Sir ... Tapi pekerjaan saya hari ini masih banyak, kemungkinan saya akan bekerja lembur."
Olivia mengatakan itu, hanya sebagai alasan saja, agar tidak terlalu menampakkan, kalau dia seolah-olah sedang menolak mentah-mentah, ajakan Jericho dan Jonah.
Tapi Jericho tiba-tiba terlihat mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, sambil berkata,
"Aku bisa membantumu, dengan pekerjaanmu. Kebetulan, pekerjaanku hari ini justru tidak banyak."
Dan sebelum Olivia sempat berkata apa-apa lagi, Jericho tampak seperti sedang menghubungi seseorang di ponselnya.
"Sir...!" ujar Olivia.
Tapi Jericho mengacungkan jari telunjuknya, seolah-olah dia sedang menyuruh Olivia untuk menunggu.
"Halo! ... Jonah!" kata Jericho di ponselnya.
"..."
__ADS_1
"Iya ... Miss Olivia akan ikut dengan kita malam ini," kata Jericho lagi.
"..."
"Iya ... You should take a nap, okay?!"
"..."
"Yes, I promise! ... Okay! Bye, Jonah!"
Jericho tampaknya sudah selesai berbicara dengan Jonah, yang kemudian ponselnya itu, dimasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.
Olivia hanya bisa mendengus pelan.
Jika Jericho sudah memberitahu Jonah, maka tidak ada lagi yang bisa Olivia lakukan, agar tidak mengecewakan anak itu, selain menuruti ajakan Jericho.
"Kelihatannya aku akan kesulitan, untuk membuat Jonah melepaskanmu begitu saja," celetuk Jericho.
***
Sesuai dengan rencana Jericho, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Olivia, justru dibantu oleh Jericho, untuk mempercepat penyelesaiannya.
Hingga semua rekan kerja Olivia, tampak keheranan melihat Jericho yang berada di ruang kerja mereka, dan bekerja bersama Olivia.
Walaupun demikian, tidak ada satupun dari rekan kerja Olivia, yang berani berkata apa-apa, dan hanya bisa curi-curi pandang ke arah Jericho dan Olivia, dengan tatapan mereka yang terlihat bingung.
"Jericho!"
Sementara Olivia dan Jericho sedang bekerja sama, tiba-tiba saja, terdengar suara Johan yang memanggil nama Jericho, di dalam ruang kerja Olivia itu.
Ketika Olivia mengangkat pandangannya, Johan terlihat sudah berdiri di meja kerjanya.
"Sir!" sapa Olivia.
"Daddy!" sapa Jericho.
"Aku tadi mencarimu di ruanganmu, tapi ternyata kamu ada di sini," ujar Johan, yang tampaknya sedang diarahkannya kepada Jericho.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Johan, yang terlihat bingung.
"Aku membantu pekerjaan Olivia, agar dia tidak perlu lembur hari ini. Karena Jonah ingin pergi ke taman hiburan bersamanya malam ini," jawab Jericho, sambil tetap memandangi lembaran berkas di tangannya.
"Hmm ... Taman hiburan, ya?! Apa nanti aku bisa ikut bersama kalian?" tanya Johan.
Jericho kemudian mengangkat pandangannya, lalu berkata,
"Iya ... Daddy bisa ikut."
"Okay! ... Aku kembali ke ruanganku dulu. Lanjutkan saja pekerjaan kalian!" Johan kemudian terlihat berjalan keluar dari ruang kerja Olivia itu.
Apa yang baru saja terjadi?
Olivia benar-benar tidak mengerti, kenapa Johan dan Jericho bisa dengan santainya berbicara seperti itu di ruang kerja Olivia, walaupun banyak pegawai yang berada di sana, dan tentu saja gerak-gerik dari Johan dan Jericho, akan sangat menarik perhatian.
Belum berakhir kebingungan Olivia, tiba-tiba saja, seseorang yang bekerja di lobi kantor, terlihat berjalan masuk, dan menghampiri meja kerja Olivia, dengan membawa seseorang yang lain yang berjalan di belakangnya.
"Miss—"
Pegawai yang bekerja sebagai penerima tamu itu, belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi seseorang yang sedang bersamanya, menyela perkataannya, dengan berkata,
"Olivia! ... Finally, i found you!"
__ADS_1
Jantung Olivia rasanya akan terlepas dan meloncat keluar dari dadanya, ketika melihat Angelo Sullivan yang sedang tersenyum lebar, sudah berdiri di dekat meja kerja Olivia.