
Entah memang takdir, atau apalah sebutannya untuk itu.
Yang pastinya, hari ini Olivia bertemu dengan Dave, tanpa Olivia merencanakannya.
Tapi, dengan menarik kesimpulan dari perkataan Dave, bahwa hampir setiap kali Olivia datang ke tempat laundry, maka di saat itu juga Dave sedang berada di coffee shop, Olivia justru jadi penasaran, apakah di libur akhir pekan, Dave juga libur bekerja.
"Apa kamu sekarang sedang libur?" tanya Olivia.
"Tidak ... Kemarin aku memang libur, tapi tidak hari ini. Aku hanya melarikan diri dari klinik," jawab Dave.
"Ugh ...?" Olivia mengerti kalau Dave sedang melontarkan lelucon. Tapi cukup mengherankan, jika Dave dengan mudahnya meninggalkan pekerjaannya, hanya untuk pergi ke coffee shop.
"Aku sudah bekerja sejak pagi, sampai melewatkan makan siangku. Tentu aku pantas mendapatkan secangkir kopi, dan sepotong Pai susu, untuk kerja kerasku, bukan?" kata Dave.
Olivia akhirnya memahami, kalau jam kerja Dave, tidak terpaku seperti karyawan pada umumnya, yang pasti beristirahat di jam yang sudah ditentukan oleh perusahaan.
Dengan begitu keadaannya, tergantung pada Dave dan rekan-rekan seprofesinya saja, yang harus pintar-pintar mengambil waktu bagi mereka, agar bisa beristirahat.
Pantas saja, jika Dave bisa berada di coffee shop, pada jam-jam yang tidak menentu.
Olivia lalu teringat sesuatu.
"Tapi ... Bukankah di dekat klinik, juga ada coffee shop?" tanya Olivia lagi.
"Hmm ... Entah kamu percaya atau tidak. Tapi rasa dari Pai susu di tempat ini, adalah yang terbaik, di antara coffee shop yang lain, yang berada di sekitar sini," jawab Dave.
"Apa kamu sudah pernah mencobanya?" Dave menunjuk sepotong Pai susu miliknya, yang baru saja disajikan oleh pelayan coffee shop.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Benarkah?" Dave seolah-olah tidak percaya, dengan apa yang baru saja didengarnya dari Olivia.
"Kamu bisa mencobanya!" Dave mempersilahkan Olivia, untuk mengambil potongan Pai susu miliknya, dengan sedikit mendorong piring makannya, mendekat ke arah Olivia.
Olivia merasa enggan untuk mencobanya, tapi Dave tampak memaksa, agar Olivia mencicipi sepotong Pai susu, yang belum sempat disentuh oleh Dave itu.
Dengan menggunakan garpunya, Olivia memotong sebagian kecil dari Pai susu itu, dan mencoba bagaimana rasanya.
Makanan yang baru saja disuapkan Olivia ke dalam mulutnya, ternyata rasanya memang benar-benar enak.
Perpaduan bahan-bahannya dari kue itu, terasa lembut, dan lumer di dalam mulutnya, dengan rasa manisnya yang tidak berlebihan.
Olivia bahkan seolah-olah merasa rugi, karena selama dia tinggal di daerah itu, dia tidak pernah mencicipi Pai susu di coffee shop, yang rasanya seenak itu.
"Bagaimana?" tanya Dave, yang tampak antusias.
"Hmm ... Iya, memang enak. Aku menyukainya," jawab Olivia, jujur.
"See! ... Sekarang kamu mungkin mengerti, kenapa aku suka mencuri waktu kerjaku, hanya untuk mendatangi tempat ini," kata Dave, sambil tersenyum lebar.
"Kamu bisa menghabiskannya." Dave lalu memanggil pelayan coffee shop, dan memesan sepotong Pai susu yang baru.
Untuk beberapa saat kemudian, baik Olivia dan Dave tidak ada yang bicara apa-apa lagi, dan masing-masing dari mereka, hanya menikmati menu yang sudah tersaji di atas meja.
Dan ketika Dave sudah memakan Pai susunya, hingga hampir habis separuh bagiannya, Dave lalu tiba-tiba berkata,
__ADS_1
"Hmm ... Olivia! ... Apa aku bisa bertanya sesuatu, yang berhubungan dengan tempat kerjamu?"
"Tentang apa?" Olivia balik bertanya.
"Claire ... Dia baru saja bekerja di kantor yang sama denganmu, kan?!" ujar Dave.
"Iya ... Dia menggantikan salah satu rekanku, yang berhenti bekerja minggu lalu," kata Olivia. "Ada apa?"
"Sebelumnya, dia—Claire—dulu bekerja di klinik. Bagaimana pekerjaannya di kantor kalian? ... Maksudku kinerjanya, dan hubungannya dengan rekan kerja yang lain," ujar Dave.
"Hmm ... Aku rasa, kinerjanya sama saja seperti pegawai yang lain," jawab Olivia.
"Kalau masalah hubungan, ... yang kamu tanyakan, apakah maksudmu itu hubungan kerja, atau hubungan pribadi?" tanya Olivia.
"Kedua-duanya," jawab Dave.
"Aku tidak tahu, tentang hubungan pribadi dari masing-masing rekan kerjaku. Kalau hubungan kerja, aku rasa, hubungan dia—Claire—dengan rekan kerja yang lain, baik-baik saja," sahut Olivia.
"Tapi, bukannya dia adalah temanmu? Seharusnya kamu yang lebih tahu, tentang hubungan pribadinya, dan bukan aku, yang baru-baru ini saja bisa mengenalnya," lanjut Olivia.
Gelagat Dave yang bisa ditangkap oleh Olivia, saat membicarakan tentang Claire, sebenarnya terlihat aneh dan mencurigakan.
Seolah-olah ada sesuatu, yang disembunyikan oleh Dave dari Olivia.
Entah itu adalah hal yang baik, atau sebaliknya, itu adalah hal yang buruk, tentu Olivia tidak bisa menduga-duga begitu saja.
"Aku memang berteman dengannya, tapi masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya ... Aku belum tahu, bagaimana dia yang sebenarnya," sahut Dave.
Dave lalu menundukkan pandangannya untuk sesaat, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
... Tapi aku benar-benar membutuhkan bantuan darimu," kata Dave, yang sudah kembali menatap Olivia.
Dari raut wajah dan suaranya, sekarang ini, Dave tampak serius dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Bantuan apa?" tanya Olivia, penasaran.
"Jika ada sesuatu yang terjadi di kantormu, yang kamu rasa mungkin ada hubungannya dengan Claire, aku ingin agar kamu menghubungi dan memberitahuku secepatnya," jawab Dave.
"Ugh ...?" Olivia kebingungan. Karena menurutnya, cukup mengherankan dan tidak jelas, akan apa tujuan dari Dave, hingga dia meminta bantuan seperti itu dari Olivia.
"Apa maksudmu? Memangnya apa yang mungkin bisa terjadi, hingga bisa ada hubungannya dengan Claire?" tanya Olivia.
"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang, karena aku juga belum bisa memastikannya....
... Yang pastinya, itu saja. Jika ada yang aneh di tempat kerjamu, dan kamu mencurigai kalau itu ada hubungannya dengan Claire, maka sebaiknya kamu menghubungiku....
... Aku berharap saja, kalau tidak akan ada yang terjadi. Tapi jika sampai terjadi sesuatu, maka pada saat itu, aku akan bisa menjelaskannya padamu," kata Dave.
Walaupun Dave sudah berbicara panjang lebar, namun perkataan Dave itu, malah hanya menyisakan tanda tanya yang besar bagi Olivia.
Namun, Olivia tidak bisa bertanya lagi ataupun memaksa Dave, untuk mengatakan ada apa yang sebenarnya.
Karena dari perkataan Dave tadi, Olivia sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa Dave hanya akan bicara, jika dia merasa kalau waktunya memang sudah tepat.
Dave lalu terlihat memeriksa jam di arloji, yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian berkata,
__ADS_1
"Olivia! ... Maafkan aku, yang tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus kembali bekerja, sekarang."
"Okay! ... Silahkan!" kata Olivia.
Dave lalu berdiri dari tempat duduknya, dan sebelum melangkah keluar dari coffee shop, Dave berpamitan dengan berkata,
"Bye, Olivia! ... Enjoy your trip! ... See you next time!"
"Iya ... Bye, Dave!" sahut Olivia.
Dave kemudian berjalan pergi, hingga menghilang dari pandangan, meninggalkan Olivia yang masih duduk di dalam coffee shop.
Olivia lalu melihat penanda waktu di arloji di tangannya, dan saat itu sudah menunjukkan pukul 16:42.
Jika sesuai dengan perjanjian, maka seharusnya Olivia tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, sampai jemputannya datang.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Ponsel Olivia tiba-tiba berbunyi, menandakan ada panggilan masuk di sana, dan Olivia segera memeriksanya.
Olivia lalu segera menyambut panggilan masuk, yang berasal dari nomor kontak milik Johan.
"Halo, Sir!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" Johan balas menyapa dari seberang telepon.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Johan.
"Iya, Sir ... Saya menunggu di coffee shop, yang ada di dekat apartemenku," jawab Olivia.
"Great! ... Supir perusahaan sudah di perjalanan, untuk menjemputmu," kata Johan.
"Aku akan mengirimkan nomor kontak supir perusahaan yang akan menjemputmu, jadi kamu hubungi saja dia, dan beritahu di mana tempatmu menunggu," lanjut Johan.
"Baik, Sir!" sahut Olivia.
"Maafkan aku, Olivia! Karena aku tidak kembali ke sana, dan tidak bisa menemanimu, untuk bepergian bersama-sama," kata Johan, lagi.
"Tidak masalah, Sir ... Kita sudah membicarakannya waktu itu," kata Olivia. "Anda berada di mana sekarang, Sir?"
"Aku sudah dalam perjalanan menuju ke kota xx," jawab Johan.
"Hati-hati di jalan, Sir!" ujar Olivia.
"Iya ... Bye, Olivia! See you soon!" kata Johan.
"Iya ... Bye, Sir!" sahut Olivia, lalu memutuskan sambungan telepon itu.
Di layar ponselnya, Olivia melihat data kontak supir perusahaan, yang baru saja dikirimkan oleh Johan, dan Olivia segera menghubungi nomor itu.
Ternyata, ketika Olivia menghubungi supir perusahaan yang akan menjemputnya, supir perusahaan itu sudah tiba di depan apartemen Olivia.
Sambil tetap berbincang lewat sambungan telepon, Olivia yang memberitahu di mana tempatnya menunggu, kemudian mengambil tas bawaannya, dan berjalan keluar dari coffee shop.
Tanpa berlama-lama lagi, Olivia segera masuk ke dalam mobil perusahaan, yang nantinya akan mengantarnya, ke salah satu hotel di kota xx, yang menjadi tempat Olivia akan menginap bersama Johan.
__ADS_1