
Setibanya di apartemen Olivia, Louis meminta izin dari Olivia, agar dia juga bisa ikut naik ke kamar apartemen Olivia.
Louis akan menunggu Olivia bersiap-siap, lalu mereka nanti bersama-sama pergi ke apartemen Louis, agar Louis juga bersiap-siap di sana, sebelum mereka nanti berjalan-jalan bersama.
Menurut Louis, jika seperti itu, maka dia tidak perlu bolak-balik untuk menjemput Olivia, dan dengan alasan itu juga, maka Louis juga bisa menghemat waktunya di perjalanan.
Awalnya Olivia merasa sedikit ragu, namun akhirnya Olivia mengizinkan Louis untuk ikut ke kamar apartemennya.
Ini bukan kali pertama bagi Louis, untuk masuk ke dalam kamar apartemen Olivia.
Namun biasanya, Louis hanya akan masuk di sana saat hari masih siang, dan Olivia tidak tidak pernah mengizinkan siapa-siapa masuk ke dalam kamarnya, jika sudah menjelang malam seperti sekarang ini.
"Aku mandi dulu!" ujar Olivia, sembari mengambil pakaian ganti dari dalam lemarinya, lalu berjalan pergi ke kamar mandi.
Setelah Olivia selesai mandi dan langsung berpakaian di sana, ketika Olivia berjalan kembali ke kamarnya, Louis tampak sedang berbaring di atas karpet di lantai kamar Olivia.
Louis terlihat berbaring terlentang tanpa bantal, dan tampak asyik menatap layar ponselnya.
"Kenapa kamu tidak memakai bantal?" tanya Olivia, sambil menggosok-gosok rambut panjangnya yang masih basah dengan handuk.
"Tidak apa-apa. Punggungku sakit. Rasanya lebih nyaman, kalau berbaring lurus seperti ini," jawab Louis.
Ketika Olivia duduk di depan meja riasnya, Louis tampak ikut berdiri, lalu menghampiri Olivia.
"Sini aku bantu mengeringkan rambutmu!" ujar Louis, lalu mengambil alat pengering rambut dari tangan Olivia.
"Katamu punggungmu sakit?! Kamu bisa berbaring saja dulu," kata Olivia. "Berbaring di tempat tidurku juga tidak apa-apa."
Louis seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Olivia.
Sambil sedikit menggerak-gerakkan rambut Olivia dengan jari-jari tangannya, Louis tetap sibuk mengarahkan hembusan angin panas dari alat pengering rambut, ke kepala Olivia.
"Louis!" ujar Olivia.
"Iya. Ada apa?" sahut Louis, tampak mengangkat pandangannya, dan melihat Olivia dari pantulan cermin di depan mereka berdua.
"Jangan marah, ya?! ... Tapi, apa kamu sedang bertengkar dengan Claire?" tanya Olivia hati-hati.
Louis tidak berkata apa-apa, dan segera mengalihkan pandangannya lagi ke arah rambut Olivia, setelah Olivia melontarkan pertanyaannya.
"Kamu mau makan apa nanti?" tanya Louis, yang bagi Olivia, terdengar seperti Louis ingin mengalihkan pembicaraan Olivia tadi.
"Terserah kamu saja ... Kamu pasti lapar, kan?! Tadi siang kamu tidak makan dengan baik," sahut Olivia.
Saat itu juga Olivia lalu teringat, kalau dia memiliki sebungkus cokelat KitKat, di dalam laci meja riasnya itu.
Olivia lalu segera mengambilnya, kemudian memberikannya kepada Louis.
"Ini!" kata Olivia, lalu mengambil alat pengering rambut dari tangan Louis. "Rambutku sudah cukup kering."
__ADS_1
Tanpa terlihat ragu, Louis segera membuka bungkusan cokelat dan mematahkan sebagian kecilnya, lalu menyuapkannya kepada Olivia.
"Untukmu saja! Aku nanti tidak selera makan," ujar Olivia, sambil menghindari tangan Louis yang mengarah ke mulutnya.
"Hmm ... Okay! Aku yang akan menghabiskannya," ujar Louis, lalu tampak menikmati potongan cokelat di tangannya itu.
"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, sambil menyisir rambutnya, lalu memakai bedak dan sedikit pewarna bibir.
"Aku sudah siap. Ayo kita pergi!" ajak Olivia.
***
Apartemen tempat tinggal Louis, masih lebih bagus jika dibandingkan dengan apartemen Olivia.
Ukuran kamar apartemen Louis pun, tiga kali lebih besar daripada kamar yang jadi tempat tinggal Olivia, yang sudah ditempatinya sejak Olivia masih berkuliah.
Tidak seperti kamar Olivia yang tergabung segala sesuatunya kecuali kamar mandi, ruang apartemen Louis terpisah-pisah sesuai fungsinya.
Kamar tidur, ruang tamu, ruang makan dan dapur, bahkan ada kamar mandi umum, dan satu kamar mandi berbeda yang terhubung ke dalam kamar tempat Louis tidur.
Olivia tidak terlalu heran melihatnya, semenjak pertama kali dia bisa berkunjung ke apartemen Louis itu beberapa tahun yang lalu, karena Olivia tahu, kalau Louis memang berasal dari keluarga yang berada.
"Kamu mau menunggu di sini? Atau mau ikut ke kamarku?" tanya Louis, kepada Olivia yang masih berdiri di ruang tamu.
"Aku menunggu di sini saja," ujar Olivia, lalu duduk di sofa.
"Okay! Tunggu sebentar, ya?!" kata Louis, sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Olivia lalu membentuk tanda 'Okay', dengan jari-jari dari salah satu tangannya, dan memperlihatkannya kepada Louis.
Louis lalu terlihat segera berjalan menuju ke kamarnya, dan menghilang di balik pintu kamar yang tertutup.
Sembari menunggu Louis yang bersiap-siap di dalam kamarnya, Olivia menatap tampilan layar ponselnya.
Olivia melihat pesan-pesan baru yang ada di sana tanpa dia sadari, karena mungkin pesan-pesan itu masuk, saat dia sedang mandi tadi.
Selain pesan dari beberapa rekan kerja Olivia, yang hanya menyampah dan sekedar ingin mengganggunya saja, ternyata di aplikasi pesan singkat itu, terdapat pesan dari Hansen untuk Olivia.
'Apa kamu sudah pulang dari kantor?' Begitu isi pesan dari Hansen.
Olivia lalu mengetik pesan balasan, dan segera mengirimnya kepada Hansen.
'Iya. Ada apa?'
Untuk beberapa waktu lamanya Olivia melihat pesan yang dia kirimkan, tampak sudah bercentang dua, namun belum ada tanda kalau sudah dibaca oleh Hansen.
Dugaan Olivia, mungkin sekarang Hansen sedang sibuk, hingga Olivia lalu memilih untuk menonton video yang muncul di beranda akun media sosialnya, tanpa menunggu balasan baru dari Hansen.
"Ding!"
__ADS_1
Pesan balasan Hansen akhirnya masuk ke ponsel Olivia, setelah kurang lebih lima sampai sepuluh menit yang berlalu.
'Aku tadi singgah di kantormu. Tapi kamu tidak terlihat lagi di sana.'
Olivia mengetik pesan balasan, lalu mengirimnya ke kontak Hansen.
'Aku sudah pulang sedari tadi. Ada apa sampai kamu pergi ke kantor kami?'
"Ding!"
'Untuk menjemputmu.'
"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan melihat pesan dari Hansen itu, lalu kembali mengetikkan pesan balasan.
'Ada-ada saja kamu ini.'
Tidak berapa lama setelah pesannya terkirim, dan tampaknya sudah dibaca oleh Hansen, ponsel Olivia kemudian berbunyi.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Alih-alih membalas pesan Olivia lagi, Hansen malah menghubungi Olivia melalui sambungan telepon.
"Halo!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" sahut Hansen dari seberang telepon. "Kamu di mana sekarang? Apa kamu mau makan malam denganku? Aku traktir."
"Hmm ... Maafkan aku, Hansen ... Tapi, aku sudah ada janji dengan temanku. Sekarang ini aku sedang menunggunya," jawab Olivia.
"Ooh ...! Begitu, ya?! ... Padahal, aku ingin bertemu denganmu. Tapi mau bagaimana lagi," ujar Hansen.
"Lain kali, aku akan menghubungimu sejak pagi, agar kamu pasti bisa makan malam bersama denganku," lanjut Hansen buru-buru.
"Pffftt ...! Okay, okay! Hubungi saja nanti," sahut Olivia, sambil menahan tawanya.
"Bye, Olivia! ... I miss you!" kata Hansen dari seberang.
"Pffftt ...! Bye, Hansen! See you next time!" sahut Olivia, lalu segera memutuskan sambungan telepon dari Hansen itu.
Ketika Olivia menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu mengangkat pandangannya, Louis terlihat sudah berdiri di dekat situ.
Louis sudah terlihat rapi, dan tampak siap untuk bepergian dengan Olivia.
"Louis! Kamu sudah lama menunggu?" tanya Olivia.
"Lumayan. Cukup lama, sampai bisa mendengarkan pembicaraanmu tadi ... Ayo kita pergi!" ajak Louis.
Olivia lalu berdiri, dan ikut berjalan bersama Louis, keluar dari dalam apartemen milik Louis itu.
"Apa kamu tidak mau memperkenalkan ku dengan kenalan barumu?" tanya Louis tiba-tiba.
__ADS_1
"Kamu sudah pernah berkenalan dengan mereka," sahut Olivia, sambil tersenyum.