Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 19


__ADS_3

Entah benar atau tidaknya penilaian Olivia.


Tapi menurut Olivia, Jericho tampak gusar saat dia menanyakan tentang perasaan Olivia kepada Louis.


"Maafkan sa—" Olivia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Jericho segera menyela perkataannya.


"Don't hit around the bush!" ujar Jericho tegas. "Aku anggap kalau kamu berarti memang menyukainya. Dan dia tidak tahu? Atau dia sengaja mempermainkanmu?"


Seharusnya Olivia bisa protes akan perkataan Jericho yang terlalu keras kepadanya, dan sudah menyinggung masalah pribadi Olivia.


Tapi saat itu, Olivia seolah-olah bisa langsung mengerti, kalau Jericho sedang berniat untuk melindunginya, sehingga Olivia tidak mau membantah Jericho.


Olivia justru menyesal, karena situasi di mana dia merasa cemburu kepada Louis dan Claire, bertepatan dengan adanya Jericho di situ.


Karena merasa malu, Olivia lalu menundukkan kepalanya, dan tidak bisa menjawab pertanyaan Jericho.


"Maafkan aku yang mungkin terlalu keras padamu. Tapi kamu mungkin tidak menyadari, kalau kamu hampir mempermalukan dirimu sendiri, di depannya tadi," ujar Jericho lagi.


Ternyata benar dugaan Olivia, kalau Jericho memang sedang berusaha melindunginya.


Bahkan Jericho sampai melakukan adegan, yang mungkin bisa membuat Louis lebih menghargai keberadaan Olivia.


"Don't make fun of yourself! Bertingkah bodoh di depannya, hanya akan menjatuhkan harga dirimu. Dan itu tidak setimpal," lanjut Jericho.


Lagi-lagi benar dugaan Olivia, setelah mendengarkan perkataan Jericho kepadanya sekarang ini.


Dan mungkin karena Olivia hanya tetap terdiam, dan tetap menundukkan kepalanya, Jericho lalu menegurnya.


"Katakanlah sesuatu! Apa Louis tahu kalau kamu menyukainya? Lalu dia hanya mempermainkan perasaanmu?"


Jericho lalu memegang tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat, seolah-olah hendak membuat Olivia agar bisa merasa lebih nyaman.


"Please Olivia ...! Apa kamu membenciku?"


Pertanyaan Jericho, justru hampir membuat Olivia menangis, sampai-sampai Olivia berkali-kali menarik nafas panjang, hingga dirinya kembali merasa tenang.


Olivia mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah tangannya yang ada di atas meja, yang masih digenggam oleh Jericho.


Kemudian, Olivia menaikkan lagi pandangannya, hingga bisa bertatapan dengan Direkturnya itu.


"Tidak, Sir ... Bagaimana mungkin saya bisa membenci anda, sedangkan anda telah menghindarkan saya dari mempermalukan diri saya sendiri," jawab Olivia.


Olivia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Huuufft...!"


"Dia tidak tahu kalau saya menyukainya. Jadi, saya tidak bisa menyalahkannya, atas kebodohan saya sendiri," lanjut Olivia.

__ADS_1


Sebenarnya Olivia merasa sangat malu untuk berkata jujur tentang perasaannya yang ada untuk Louis, kepada Jericho.


Tapi rasanya sudah terlanjur basah, jadi semua perkataan itu hanya meluncur keluar begitu saja dari mulut Olivia, sambil memaksakan dirinya agar bisa tetap tersenyum di depan Jericho.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk tetap terlihat kuat! Pasti menyakitkan, bukan?!" ujar Jericho, sambil mengelus-elus tangan Olivia yang masih digenggamnya.


"Pffftt ...! Please, Sir ...! Jangan membuatku ingin menangis. Akan jadi lebih memalukan nantinya," sahut Olivia sambil tertawa tertahan, karena perlakuan Jericho di tangannya, hanya membuatnya merasa geli.


"Okay, okay! ... Now, you should get over it!" ujar Jericho, yang tampak mengangkat kedua alisnya.


Jericho lalu terlihat memegang dagunya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi apa kamu tahu? ... Kalau kamu masih tidak bisa mengatasinya, maka kamu bisa memanfaatkanku, untuk membuatnya lebih memperhatikanmu," lanjut Jericho terlihat yakin.


"Hahaha ...! Anda pasti sedang bercanda, Sir," sahut Olivia sambil tertawa, dan Jericho juga  tampak tersenyum lebar melihatnya.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Jericho.


"Iya, Sir ... Saya benar-benar berterima kasih pada anda, Sir," jawab Olivia.


"Okay! Sama-sama ... Cepat habiskan es krim mu! Pasti sekarang sudah mencair, dan sebentar lagi, jam istirahat makan siang juga akan berakhir," kata Jericho, lalu mulai memakan es krim miliknya lagi.


***


Hingga jam istirahat makan siang berakhir, Olivia masih duduk dan berbincang-bincang bersama Jericho.


"Ingat! ... Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu! Walaupun kamu hanya butuh teman bicara, kamu tetap bisa menghubungiku."


Jericho masih sempat berpesan kepada Olivia, sebelum berpisah jalan, ketika mereka sudah keluar dari dalam lift.


"Okay, Sir! Thank's a lot!" sahut Olivia.


Sambil tersenyum lebar, Jericho tampak mengacungkan jempolnya ke arah Olivia.


Terang saja, kedekatan antara Olivia dan Jericho, menarik perhatian orang-orang, terlebih lagi, rekan-rekan kerja satu divisi dengan Olivia.


Olivia bahkan diseret beberapa rekan kerja wanita, yang tampak sangat penasaran, akan apa hubungan antara Olivia dengan Jericho, hingga Direktur mereka itu bisa terlihat santai saat bersama Olivia.


"Please Olivia ...! Bagaimana kamu bisa dekat dengan bos kita yang tampan itu?"


"Kamu jangan main rahasia-rahasiaan!"


"Direktur bahkan memegang tanganmu. Kalau aku yang jadi kamu, mungkin aku sudah jatuh pingsan."


"Oh, my gosh! Aku rasanya tidak bisa percaya, kalau Direktur kita bisa dekat denganmu."

__ADS_1


"Olivia! ... Kamu benar-benar membuat kami merasa iri."


Tak ayal, keributan pun terjadi di ruang kerja Olivia, dengan suara-suara dari rekan-rekan kerjanya itu.


Indera pendengaran Olivia sampai mendengung, karena pertanyaan dan perkataan dari rekan-rekan kerjanya yang terlalu heboh di dekatnya.


Padahal beberapa dari rekan kerja Olivia yang terkagum-kagum itu, ada yang sudah bersuami, dan bahkan ada yang sudah memiliki anak.


Namun pesona Jericho tampaknya memang tidak terbantahkan, hingga rata-rata pekerja wanita jadi jatuh hati kepadanya.


"Please stop it!" ujar Olivia sambil menahan diri agar tidak tertawa lepas, karena melihat tingkah konyol rekan-rekannya itu.


"Olivia!"


Tiba-tiba terdengar suara Louis yang berseru memanggil nama Olivia, dan seketika itu juga ruang kerja itu, kembali ketenangannya.


"Iya!" sahut Olivia, sambil melihat ke arah Louis. "Ada apa?"


Louis yang tampak berjalan menghampiri Olivia, tidak segera berkata apa-apa, dan hanya terdiam untuk beberapa saat, hingga dia benar-benar berhenti dan berdiri di dekat meja kerja Olivia.


"Apa nanti malam kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu hang out denganku. Aku yang traktir," ujar Louis.


"Hmm ... Maafkan aku. Tapi ini—" Olivia menunjuk komputer yang baru saja dinyalakannya, yang menampilkan catatan analisa di layarnya.


"... mungkin akan membuatku bekerja lembur, kalau mau pekerjaan ini selesai tepat waktu, untuk rapat besok lusa," lanjut Olivia, beralasan untuk menolak ajakan Louis.


"Aku akan membantumu mengerjakan itu." Louis tampak memaksa, dengan menawarkan bantuannya.


"Hmm ... Tidak usah. Pekerjaanmu masih banyak, kan?!" sahut Olivia, yang tetap mencari-cari alasan.


Tanpa berkomentar apa-apa lagi, Louis lalu beranjak pergi dan kembali duduk ke meja kerjanya sendiri.


Olivia melirik sebentar ke arah Louis.


Menurut dugaan olivia, mungkin karena Jericho yang akrab dengan Olivia tadi, hingga Louis jadi ingin bicara berdua saja dengan Olivia.


Terus terang, rasanya menyenangkan saat melihat Louis gelisah, karena Olivia yang dekat dengan Direktur mereka.


Seolah-olah Olivia baru saja berhasil membalaskan dendamnya, karena tingkah mesra Claire dengan Louis di kafetaria tadi.


Tapi saat itu juga, Olivia sempat terpikir menenangkan Louis, dengan berkata jujur, kalau dia sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Jericho.


Tidak.


Itu hal yang bodoh, kalau sampai Olivia bisa dengan mudahnya kembali terpengaruh akan perhatian Louis kepadanya.

__ADS_1


Olivia memilih untuk membiarkannya saja, tanpa terlalu mau memikirkan tentang memiliki hubungan romantis bersama Louis, yang sempat menjadi keinginan sesaatnya.


__ADS_2