
Jericho yang tadinya sedang duduk, kemudian berdiri, dan menyapa Angelo.
"Halo, Sir Angelo Sullivan!" kata Jericho. "Apa yang membawa anda ke sini?"
Angelo tidak segera menanggapi perkataan Jericho, melainkan tampak memandangi Olivia dan Jericho, bergantian, lalu memandangi seluruh isi ruangan di sekelilingnya itu.
"Olivia ... Saya datang ke sini, karena ingin bertemu dengan Olivia," kata Angelo.
"Tapi saya benar-benar merasa bingung. Setahu saya, kamu adalah direktur di kantor ini. Lalu, kata CEO Andersen's, Olivia adalah asistennya....
... Lalu kenapa, sampai kalian bisa berdua bisa berada di ruangan divisi seperti ini?" lanjut Angelo, tampak penasaran.
Olivia yang sudah ikut berdiri, kemudian berkata,
"Sir! ... Sebenarnya, saya hanya seorang wakil kepala bagian. Kemarin, atas alasan tertentu, sehingga saya diminta untuk menjadi asisten sementara bagi CEO kami."
"Olivia! ... Kenapa kamu mau bekerja seperti ini? Kamu hanya menyia-nyiakan kemampuanmu," kata Angelo.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi apa tujuan anda datang ke sini? Sekarang ini masih jam kerja," kata Olivia, yang tidak mau berlama-lama, untuk berbasa-basi dengan Angelo.
"Saya ingin bertemu denganmu. Bukankah saya sudah mengatakannya sebelumnya?" ujar Angelo.
"Saya sudah mendengarnya. Tapi apakah ada sesuatu, yang berhubungan dengan pekerjaan?
... Saya belum memiliki otoritas setinggi itu, untuk melayani seorang investor," sahut Olivia.
"Sejujurnya, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Saya ingin bertemu secara pribadi denganmu," kata Angelo.
"Maafkan saya, Sir ... Kalau begitu, anda harus menundanya. Karena sekarang ini, saya sedang bekerja," sahut Olivia, lagi.
"Sir Jericho Andersen ... Apa yang dilakukan seorang direktur di sini?" tanya Angelo, yang seolah-olah ingin mengusik Jericho.
"Asalkan semua pekerjaan berjalan dengan lancar, maka cara kerja di perusahaan kami, tentu tidak hubungannya dengan kerjasama bisnis, bukan?" sahut Jericho.
Kelihatannya, Jericho memang tidak mudah diintimidasi, walaupun oleh orang sekelas Angelo, hingga Jericho kembali berkata,
"Sekarang ini adalah jam kerja. Jika anda ingin membicarakan tentang hal pribadi, maka anda harus menunggu, sampai jam kerja berakhir."
"Okay! ... Kalau begitu, saya akan menunggu di ruang kerja CEO saja," kata Angelo. "Apa Sir Johan Andersen sedang berada di ruangannya?"
"Iya ... Tunggu sebentar!" kata Jericho, lalu seolah-olah sedang memanggil salah satu dari rekan kerja Olivia, dengan gerakan jari telunjuknya.
Claire kemudian terlihat berdiri, dan menghampiri meja kerja Olivia.
"Ada apa, Sir?" tanya Claire.
"Tolong kamu antarkan Sir Angelo Sullivan, ke ruangan CEO!" kata Jericho memberi arahan.
"Baik, Sir!" sahut Claire, lalu mempersilahkan Angelo agar bisa ikut dengannya. "Silahkan, Sir ... Sebelah sini!"
"Olivia! Saya akan tetap menunggumu sampai jam kerja usai. Selamat bekerja! ... Bye, Olivia! See you soon."
__ADS_1
Angelo masih menyempatkan diri untuk bicara dengan Olivia, dan walaupun Olivia tidak menanggapi perkataannya, Angelo tetap ikut berjalan bersama Claire.
Segera setelah Angelo berlalu pergi, Olivia kembali duduk di kursi kerjanya, lalu memijat-mijat dahinya, karena kepalanya yang terasa semakin sakit saja.
Untuk beberapa waktu lamanya, Jericho tidak membahas tentang kedatangan Angelo itu dengan Olivia, dan hanya tetap sibuk dengan pekerjaan, yang segera mereka lanjutkan kembali.
Akan tetapi, Jericho mungkin tidak bisa menahan rasa penasarannya, hingga akhirnya dia bertanya,
"Apa hubunganmu dengan Angelo?"
Olivia menatap Jericho untuk sesaat.
"Dia mantan kekasihku, waktu kami masih di universitas," jawab Olivia.
"Tapi ... Saya harap anda tidak perlu membahasnya lebih jauh. Karena itu hanya masa lalu, dan yang saya dengar, bahwa Angelo juga sudah bertunangan....
... Saya akan pastikan, agar masa lalu kami berdua, tidak akan mengganggu pekerjaan saya lagi. Sehingga saya tidak merepotkan anda," lanjut Olivia, buru-buru.
"Lagi? ... Apakah karena Angelo, yang mengacaukan suasana hatimu hari ini, sehingga kamu bisa tampak buruk?" tanya Jericho.
"Please, Sir! ... Apa anda masih menginginkan, agar saya ikut ke taman hiburan bersama anda dan Jonah?" ujar Olivia, sedikit mengancam Jericho.
"Okay, okay! ... Jangan marah! Aku tidak akan menggangumu lagi," sahut Jericho.
***
Karena dibantu oleh Jericho, pekerjaan Olivia, jadi dua kali lebih cepat penyelesaiannya, namun Olivia tidak bisa merasa senang karenanya.
Angelo adalah orang yang selalu memegang perkataannya, sehingga Olivia tahu, kalau Angelo pasti masih menunggunya, walaupun mungkin akan memakan waktu berjam-jam lamanya.
Masih tersisa beberapa puluh menit lagi, hingga jam kerja benar-benar berakhir, dan Jericho sudah kembali ke ruangannya, ketika Angelo terlihat berjalan masuk ke dalam ruang kerja Olivia.
Aura yang dimiliki oleh Angelo kelihatannya sama dengan Jericho, sehingga rekan-rekan kerja Olivia, seolah-olah merasa takut untuk mendekati ataupun menyapa Olivia, ketika Angelo sedang bersamanya.
"Olivia! ... Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Angelo.
Walaupun dia merasa enggan, tapi Olivia tahu, kalau dia harus menyelesaikan hubungannya dengan Angelo, agar di kemudian hari, hal itu tidak akan menggangunya lagi.
"Iya ... Kita bisa pergi sekarang, Sir," sahut Olivia, lalu berdiri dan mengambil tasnya, sebelum dia ikut berjalan bersama Angelo.
"Saya hanya memiliki sedikit waktu bersama anda, karena saya masih ada janji dengan orang lain," kata Olivia, ketika dirinya dan Angelo sudah masuk ke dalam lift.
***
Angelo membawa Olivia ke sebuah kafe, dan mengajaknya untuk berbincang-bincang di sana.
"Apa kabarmu?" tanya Angelo, yang terdengar hanya berbasa-basi.
"Angelo! ... Sebenarnya apa yang kamu mau? Kamu sudah bertunangan, bukan? Lalu untuk apa kamu masih ingin bertemu denganku?"
Olivia tidak mau menunda-nunda, dan membuang-buang waktunya saja, dengan seseorang yang nantinya akan menikah dengan orang lain.
__ADS_1
"Tsk! ... Aku memang pernah bertunangan, karena direncanakan oleh keluargaku. Tapi itu tidak berlanjut, karena aku masih mencintaimu....
...Wanita yang bertunangan denganku, sudah tahu tentang itu, hingga dia yang lebih dulu membatalkan pertunangan kami....
... Kalau kamu bisa mendengar kabar tentang pertunanganku, seharusnya kamu juga sudah mendengar, kalau pertunangan itu dibatalkan," kata Angelo.
"Aku masih mencintaimu, Olivia ... Kamu tahu betapa kecewanya aku, karena kamu yang tiba-tiba menghilang? Lalu saat kita bertemu kembali, kamu bersikap dingin kepadaku," lanjut Angelo.
"Lalu kamu mau aku seperti apa?" tanya Olivia. "Kita sudah terlalu lama berpisah—"
"Kamu yang memutuskan komunikasi di antara kita," ujar Angelo, yang menyela perkataan Olivia.
"Kamu yang membuat keputusanmu sendiri, tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanku. Apa kamu masih merasa tidak puas, setelah menyiksaku selama ini?" lanjut Angelo.
"Maafkan aku, kalau aku telah membuatmu merasa seperti itu. Tapi aku menganggap hubungan kita sudah berakhir, sejak kamu pergi ke luar negeri."
Hati Olivia seakan-akan teriris-iris, saat mengatakan hal itu kepada Angelo.
Tapi Olivia tidak mau merasakan lagi, sakitnya berharap, tanpa tahu apakah harapannya akan tercapai atau tidak.
"Olivia...! Honey...! Aku tahu kalau kamu pasti masih mencintaiku. Apa kamu tidak mau mencobanya lagi?" ujar Angelo, tampak memelas.
"Apa kamu tidak mendengar perkataanmu sendiri? Mencoba katamu? You think it's easy? Berapa lama aku harus mencoba untuk menunggumu?" sahut Olivia, dengan suara bergetar.
"Lalu kamu pikir aku juga tidak berusaha, agar bisa segera kembali ke sini? Aku berusaha keras agar bisa kembali padamu. Tapi kamu yang membuat semuanya menjadi sulit....
... Kamu membuatku hampir kehilangan semangatku, karena kamu yang tiba-tiba menghilang begitu saja, tanpa penjelasan apa-apa."
Kelihatannya Angelo memang tidak akan menyerah begitu saja, dan semua perkataan yang diutarakannya, sanggup untuk mengusik perasaan Olivia.
"That's enough ... Please!" ujar Olivia.
"Olivia...! Apa yang kamu inginkan? Aku akan melakukan semuanya, karena aku tidak akan ke mana-mana lagi. Aku akan tetap tinggal di negara ini. Aku akan bersamamu selamanya," kata Angelo.
"Yang aku inginkan, adalah agar kamu berhenti menggangguku. Kita terlalu jauh berbeda. Dan aku masih merasa, kalau kita tetap akan menghadapi permasalahan yang sama nantinya," kata Olivia.
Olivia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,
"Aku harus pergi, sekarang ... Please, take care of yourself, and don't bother me again!"
"Sejak kepulanganku beberapa minggu yang lalu, aku mencari-cari informasi tentang keberadaanmu. Tapi ternyata, kamu sendiri yang muncul di hadapanku....
... Apa kamu pikir itu hanya kebetulan? Tentu saja tidak, bukan? Kita bisa bertemu lagi, karena kamu dan aku, memang ditakdirkan untuk bersama," kata Angelo.
"So, don't be silly! ... Apa yang kamu pikirkan? Setelah aku bersusah payah untuk mencarimu, lalu saat aku sudah menemukanmu, maka aku akan melepaskanmu begitu saja? You belong to me, honey!
... Kalau kamu tidak mau kembali kepadaku, maka siapapun itu, yang mencoba-coba untuk mendekatimu, akan kubuat sampai benar-benar merasa menyesal, karena telah mencoba untuk merebutmu dariku," lanjut Angelo, lagi.
Karena mendengar perkataan dari Angelo itu, Olivia kemudian menahan langkahnya, yang hampir saja berjalan pergi dari situ.
"Apa katamu?" Entah ke mana perginya kesabaran Olivia, sampai rasa-rasanya, dia ingin membentak Angelo sepuasnya di situ.
__ADS_1
"You hear me! ... Kamu harus kembali padaku."
Angelo tampak bersungguh-sungguh mengatakannya, namun Olivia yang tidak mau meladeninya lagi, kemudian berjalan pergi, meninggalkan Angelo di situ.