Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 66


__ADS_3

"Miss! ... Miss Olivia!" Jonah menarik tangan Olivia yang digenggamnya, hingga Olivia tersadar dari lamunannya.


"Ugh...?" Olivia buru-buru berjongkok, agar bisa melihat Jonah dengan baik, dan Jonah tidak perlu mendongakkan kepalanya. "Iya, Jonah ... Ada apa?" 


"Apa aku bisa naik itu bersamamu?" Jonah menunjuk komidi putar, dengan patung kuda sebagai tunggangannya.


"Iya ... Let's go!" Olivia menyetujui permintaan Jonah, kemudian segera pergi untuk membeli tiket, agar Jonah bisa menikmati wahana bermain yang berputar 360 derajat itu.


Semenjak Olivia berpisah dengan Angelo tadi, hingga saat ini, di mana Olivia seharusnya bisa bersenang-senang dengan Jonah, pikiran Olivia justru sering teralihkan.


Perkataan Angelo tadi, senantiasa terngiang-ngiang di telinga Olivia, hingga membuatnya terus menerus memikirkannya, tanpa tahu harus berkonsultasi dengan siapa.


Apalagi, Johan tidak jadi ikut dengan mereka malam ini, dan hanya Jericho dan Jonah saja yang bersama Olivia di taman hiburan itu.


Jika saja Johan ada bersamanya, maka Olivia pasti bisa membicarakan semuanya, dan saling bertukar pikiran dengan Johan. 


Entah kenapa, Olivia tiba-tiba merasa rindu dengan keberadaan Johan di dekatnya.


Secara mendadak, Olivia menyadari kalau ada yang tidak beres pada dirinya sendiri sekarang ini.


Karena detak jantungnya meningkat tajam, hanya dengan mengingat bayangan wajah Johan yang tersenyum kepadanya.


Olivia merindukan Johan?


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, sambil mengedipkan matanya berkali-kali dengan cepat, berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Ada apa denganmu?" tanya Jericho tiba-tiba.


"Ugh?" Olivia tersentak, lalu melihat kesana ke mari.


Ternyata wahana bermain itu sudah berhenti bergerak, dan Olivia serta Jonah, masih duduk bersama, menunggangi salah satu patung kuda-kudaan di situ.


Mungkin itu sebabnya, hingga Jericho menyusul, dengan berdiri di dekat mereka.


"Jonah! ... Apa kamu masih mau bermain ini lagi?" tanya Olivia buru-buru, untuk menutupi rasa malunya.


"Iya, Miss!" jawab Jonah. "I like it ... Because you hug me!" 


"Okay! ... Daddy akan membeli tiketnya lagi," kata Jericho, lalu menatap Olivia untuk sesaat, sebelum dia berlalu pergi dari atas lantai permainan Komidi putar itu.


Olivia lalu mempererat pelukannya pada Jonah, dan Jonah tertawa kecil karenanya.


"Apa kamu sangat menyukai pelukanku?" tanya Olivia, menggoda Jonah.


"Tentu saja!" jawab Jonah, terdengar bersemangat.


"Pffftt...!" Olivia jadi semakin merasa gemas karenanya, lalu mencium pipi bagian kiri dan kanan Jonah. 


Sebelum wahana bermain itu kembali bergerak berputar, Jericho tampak ikut berdiri di dekat Olivia dan Jonah.


Dengan adanya Jericho di sampingnya, yang seolah-olah tidak bisa berhenti menatapnya lekat-lekat, membuat Olivia tidak bisa tenggelam pikirannya sendiri lagi, dan tetap waspada dengan keadaan di sekitarnya.


Bahkan, karena tingkah Jericho itu, Olivia hampir tidak bisa berhenti untuk melirik ke arah Jericho, walaupun Olivia sedang memeluk Jonah.


"Anda akan membuat lubang di wajahku, dengan tatapan anda itu, Sir," ujar Olivia, yang sudah tidak tahan lagi, karena melihat Jericho yang terus-terusan menatapnya lekat-lekat.


"Daddy!" Jonah tiba-tiba menyebut nama daddy-nya, hingga Jericho tampak mengalihkan pandangannya dari Olivia, dan melihat ke arah Jonah.


"Apa daddy akan menyakiti Miss Olivia?" tanya Jonah. 


"Ugh...?" Jericho terlihat bingung.


"Kata Miss Olivia, daddy akan membuat lubang di wajahnya. Don't you do it, daddy! Aku akan sangat marah kepada daddy, nanti," kata Jonah, terdengar serius.


"Pffftt...!" Olivia tertawa geli, karena tingkah polos Jonah, yang menurutnya sangat menggemaskan.


Sementara Jericho, menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, lalu berkata,

__ADS_1


"Yes, Sir Jonah ... Daddy tidak akan berani melukai Miss Olivia. Karena ada Jonah yang melindunginya."


"Pffftt...! Hahaha!" Olivia akhirnya tertawa lepas, karena gerak-gerik daddy dan anaknya itu.


Ketika Olivia berhenti tertawa, tiba-tiba saja, Jericho mengulurkan sebelah tangannya, dan memegang salah satu sisi wajah Olivia.


Seolah-olah tidak perduli dengan Olivia yang menatapnya, Jericho lalu mengusap sesuatu dengan menggunakan jari jempolnya, di bagian bawah mata Olivia.


"Matamu basah," celetuk Jericho pelan, sambil tetap memegang wajah Olivia.


Olivia lalu menundukkan kepalanya, hingga tersandar di bahu Jonah, dan tangan Jericho terlepas dari wajahnya.


"Miss! ... Nafasmu membuat leherku terasa geli. Tapi aku akan tetap bertahan. Karena aku yang mungkin telah membuat Miss Olivia kelelahan, dan butuh tempat bersandar," kata Jonah tiba-tiba.


"Pffftt...!" Olivia memang tidak bisa menahan diri, untuk tidak merasa gemas kepada Jonah, hingga rasanya dia mau saja menggigit Jonah, saking gemasnya.


Setelah permainan itu berhenti bergerak, Jonah kemudian mengajak Olivia, untuk menikmati permen kapas bersamanya.


"Daddy! ... Aku bisa makan itu?" tanya Jonah, sambil menunjuk ke tempat pedagang, yang menjual permen kapas.


"Iya ... Tapi sedikit saja," jawab Jericho, lalu membeli satu buah permen kapas, dan menyodorkannya kepada Olivia, sembari berkata,


"Jangan sampai Jonah terlalu bersemangat karena gula!"


"Iya, Sir," sahut Olivia, sambil menerima permen kapas dari Jericho.


"Jonah ingin mencoba permainan yang mana lagi?" tanya Olivia.


Jonah lalu melihat ke sana kemari, seolah-olah dia sedang memilih wahana permainan, yang paling menarik perhatiannya.


"Aku mau naik itu!" Jonah menunjuk wahana bianglala.


"Okay!" sahut Olivia.


Sambil tetap memegang tangan Jonah, Olivia membawa Jonah berjalan pergi menuju ke wahana bermain, yang ingin dicoba oleh Jonah.


Akan tetapi, ketika mereka menaiki wahana bermain bianglala, Olivia yang sibuk memangku Jonah di atas pahanya, sambil kedua tangannya yang memeluk Jonah, merasa kerepotan jika dia masih harus memegang sisa permen kapas itu.


Daripada permen kapas itu terjatuh, atau hanya mengotori pakaiannya dan Jonah, akhirnya, permen kapas yang dipegangnya tadi, diberikan Olivia kepada Jericho yang duduk di sampingnya. 


"Can you hold it, Sir?" tanya Olivia.


Jericho segera mengambil permen kapas itu, sementara Olivia juga memperbaiki posisi duduknya dan Jonah, agar bisa terasa lebih nyaman.


"Say, aaah!" ujar Jericho tiba-tiba, sambil menatap Olivia, dengan tangannya yang seolah-olah akan menyuapkan sedikit permen kapas, kepada Olivia.


"Come on...! Say, aaah!" Jericho tampak tidak menyerah, dan mengulang arahannya, agar Olivia membuka mulutnya. 


Olivia lalu membuka mulutnya, dan Jericho tampak tersenyum puas, saat menyuapkan sedikit permen kapas itu ke mulut Olivia.


"Daddy! ... Aku juga mau!" ujar Jonah. 


"Okay! ... Say, aaah!" kata Jericho kepada Jonah, sambil tetap tersenyum. "Ini yang terakhir, ya?! Miss Olivia juga ingin menyantapnya."


Jericho kelihatannya menjadikan Olivia sebagai alasan, agar Jonah tidak memakan gula berlebihan.


Dan Jonah pun tampak percaya saja dengan ucapan daddy-nya, hingga Jonah lalu berkata,


"Okay! ... Miss! Biarkan daddy saja yang menyuapkannya untukmu. Jadi, Miss bisa tetap memelukku."


Olivia melihat ke arah Jericho dengan perasaan sebal, namun Jericho tampaknya tidak perduli, dan bahkan tampak tersenyum semakin lebar, sambil menatap Olivia.


"Say, aaah!" kata Jericho lagi. 


"Fine! ... Tapi anda juga harus memakannya. Saya tidak akan sanggup memakan permen kapas sebanyak itu," sahut Olivia, ketus.


"Okay, okay!" kata Jericho, sambil menyuapkan permen kapas, ke mulut Olivia yang sudah terbuka.

__ADS_1


Sementara menikmati pemandangan yang bisa dilihat dari bianglala, Jericho menyuapkan permen kapas kepada Olivia dan dirinya sendiri, berganti-gantian, sampai habis.


Setelah wahana itu memutar untuk ke-dua kalinya, dan saat mereka sedang di bagian atas, Olivia merasa kalau malam itu cukup dingin, hingga bulu kuduknya berdiri tegak.


Secara tiba-tiba, di saat itu juga, Jericho lalu merangkul Olivia, dan semakin merapatkan tubuhnya kepada Olivia, sambil berbisik,


"Jangan marah ...! Kamu pasti merasa dingin, bukan?"


Olivia akhirnya tidak menolak pelukan dari Jericho itu, yang memang terasa hangat, dan Olivia juga membutuhkannya, agar dia tidak menggigil kedinginan di situ.


Jericho membawa Olivia dan Jonah, untuk pergi makan malam, di salah satu restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman hiburan itu, segera setelah mereka turun dari bianglala.


Dan setelah mereka sudah selesai menghabiskan makan malamnya, Jonah yang masih belum mau pulang, kembali meminta kepada daddy-nya agar kembali ke taman hiburan, dan bermain lagi di sana.


***


"Kamu mungkin sudah mendengar, kalau Laura ingin agar kami bisa kembali bersama," celetuk Jericho.


Olivia yang memandangi Jonah yang bermain mandi bola, lalu menoleh ke samping, dan menatap Jericho untuk sesaat, kemudian kembali memandangi Jonah.


"Saya tidak mendengar apa-apa tentang hal itu ... Lagi pula, apa hubungannya hal itu dengan saya, Sir?" tanya Olivia.


"Aku hanya ingin mendengar pendapatmu," kata Jericho. "Jonah tidak bahagia dengan adanya mommy-nya ... Lalu apa menurutmu aku salah, jika aku menolak keinginan Laura?" 


"Saya tidak berhak untuk memberikan pendapat saya. Anda harus bisa memilih sendiri, yang mana kira-kira yang terbaik, untuk anda dan Jonah," jawab Olivia.


Jonah kemudian tampak berjalan menghampiri Olivia dan Jericho, lalu sambil memegang kedua tangan Olivia, dan mendongakkan kepalanya, Jonah lalu berkata,


"Miss! ... Daddy! Aku sudah lelah. Apa kita pulang saja?" 


"Iya ... Nanti kita bisa bermain lagi," kata Olivia, lalu bersiap untuk menggendong Jonah, tapi Jericho menahan Olivia, sambil berkata,


"Biarkan aku saja yang menggendongnya. Kamu pasti juga sudah lelah."


Jericho yang menggendong Jonah, lalu mulai berjalan menuju jalan keluar dari taman bermain, dan Olivia juga ikut berjalan di dekatnya.


Ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil, Jonah yang berpangku di atas paha Olivia, kemudian berkata, 


"Miss! ... Apa kamu bisa mengantarku tidur malam ini?" 


"Jonah...! Miss Olivia juga pasti sudah lelah—" Perkataan Jericho yang menghalangi keinginan Jonah, segera disela oleh Olivia, dengan berkata,


"Kalau anda tidak keberatan, saya mau mengantarkan Jonah tidur ... Setelah itu, saya bisa pulang memakai taksi saja."


Jericho terdiam untuk beberapa saat, sambil menatap Olivia dan Jonah bergantian, lalu menyalakan mesin mobilnya, dan mulai memacu kecepatannya di jalanan.


"Aku tidak keberatan," celetuk Jericho. "Aku hanya tidak mau merepotkanmu saja."


"Kamu tidak perlu memakai taksi, aku tetap akan mengantarkanmu pulang, nanti," lanjut Jericho.


"Miss Olivia menginap saja! Tempat tidurku berukuran besar," celetuk Jonah.


"Jonah...! Miss Olivia harus bekerja besok," kata Jericho, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara Olivia hanya bisa tertawa mendengar kata-kata Jonah.


Dan kelihatannya, Jonah juga tidak gampang menyerah, karena dia lagi-lagi berkata,


"Miss Olivia bekerja di tempat yang sama dengan daddy, bukan? Miss Olivia bisa berangkat bersama-sama daddy ke kantor, besok pagi."


"Jonah...!" Jericho tampak frustrasi.


"Hahaha!" Olivia akhirnya tertawa lepas. 


"Jonah...! Nanti di lain waktu, Jonah saja yang menginap di tempatku. Apa Jonah mau?" Olivia berbicara sepelan mungkin, agar Jonah tidak lagi berdebat dengan daddy-nya.


"Okay!" jawab Jonah.

__ADS_1


 


__ADS_2