Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 30


__ADS_3

Setelah Louis selesai menyampaikan materi rapat hari itu, kini jadi giliran bagi Olivia untuk melakukan presentasinya.


Olivia menjelaskan satu persatu tentang data-data analisa yang dikumpulkan dari lapangan, yang menjadi lokasi proyek pembangunan, yang dikerjakan oleh perusahaan Andersen's.


Tanggapan dari pemerintah, dari para investor, dan dari masyarakat sekitar, yang kemudian disimulasikan hingga mendapatkan berbagai kemungkinan, disampaikan oleh Olivia tanpa merasa ragu.


Ketika Olivia berbicara di depan para peserta rapat itu, kelihatannya semua yang hadir di tempat itu bisa memahami dengan baik, akan apa saja yang sedang dijelaskan oleh Olivia.


Dan kelihatannya presentasi Olivia itu tidaklah membosankan, dan cukup menarik perhatian dari orang-orang penting dalam perusahaan, hingga semuanya tampak serius menyimaknya.


Lain lagi, dengan Jericho dan Johan.


Menurut Olivia, kedua bos besarnya itu, justru seolah-olah sudah tahu kemampuan Olivia, hingga kedua laki-laki itu tampak santai, dan selalu tersenyum lebar, ketika pandangan mata mereka beradu dengan Olivia.


Hingga Olivia selesai mempresentasikan hasil kerja timnya, kelihatannya tidak ada satupun dari para peserta rapat, yang tampak kecewa akan presentasi Olivia.


Rapat koordinasi itu masih berlanjut, dengan tanggapan dari para manajer, Jericho dan Johan, yang sesekali bertanya secara bergantian kepada Olivia, tentang apa yang menjadi pilihan skenario terbaik dari divisi Humas.


Olivia sempat melihat ke arah Sir Hart, yang duduk tidak jauh dari tempat Olivia berdiri, bermaksud agar Sir Hart saja yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, yang muncul di dalam rapat itu.


Namun manajer Olivia itu, malah hanya tersenyum, dan membuka salah satu telapak tangannya, mengisyaratkan agar cukup Olivia saja yang menanggapi pertanyaan yang diajukan kepadanya.


Saat itu, Sir Hart juga tampak bertingkah seolah-olah dia memang mempercayakan kepada Olivia, untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.


Dan ketika Olivia menyampaikan pendapatnya, Sir Hart sama sekali tidak menginterupsi perkataan Olivia, dan justru tampak setuju saja dengan jalan pikiran Olivia.


Cukup mengejutkan bagi Olivia, karena ternyata, manajer dari bagian pemasaran juga tampak sangat mendukung, akan rencana yang disampaikan oleh Olivia barusan.


Sehingga rapat itu tidak berlangsung terlalu lama dan bertele-tele, kesepakatan sudah diambil dan semua para peserta rapat menyetujui pilihan skenario dari divisi Humas.


***


"Kerja yang bagus!" kata Sir Dunes memuji Olivia.


Sir Dunes yang adalah manajer pemasaran di perusahaan Andersen's itu, tampak senang sambil berjabat tangan dengan Olivia, ketika rapat itu sudah berakhir.


"Terima kasih, Sir ... Tapi saya rasa, Sir Hart lah yang pantas mendapatkan pujian anda," ucap Olivia, sambil tersenyum.


Sir Hart yang berdiri di dekat Olivia, segera membantah pernyataan Olivia, dengan berkata,


"Jangan terlalu merendah, Miss Lane ...! Saya tadi hanya jadi penonton."


Sir Hart kemudian melihat ke arah Sir Dunes, lalu kembali berkata,


"Anda tidak salah mengarahkan pujian anda, Sir ... Skenario tadi, adalah murni pendapat dari Miss Lane."


Sir Dunes dan Sir Hart tampak saling tersenyum lebar, lalu sama-sama melihat ke arah Olivia.

__ADS_1


"Apa kamu sudah dengar? Saya akan pensiun di awal tahun depan," kata Sir Dunes.


"Sebaiknya kamu bersiap-siap untuk ikut tes kualifikasi, agar kamu bisa menggantikan posisi saya nanti," lanjut Sir Dunes, seakan-akan dia tampak yakin, kalau Olivia mampu untuk bekerja menggantikannya.


"Kecuali kamu masih betah untuk menjadi 'simpanan' divisi Humas," lanjut Sir Dunes lagi, sambil melirik Sir Hart, dan memasang senyum mengejek.


"Hahaha!" Sir Hart tertawa lepas.


"Sir Dunes ...! Saya tidak akan menghalang-halangi Miss Lane. Saya justru akan mendukungnya, agar bisa memperlihatkan kemampuannya," ujar Sir Hart.


"Okay, Sir Hart! Saya percaya dengan perkataan anda," sahut Sir Dunes, sambil berjabat tangan dengan Sir Hart, dan saling menepuk lengan.


"Saya sekarang harus kembali bekerja. Senang bisa berkenalan denganmu secara langsung, Miss Lane," kata Sir Dunes, yang kembali menjabat tangan Olivia.


"Baik, Sir," sahut Olivia.


Sir Dunes lalu tampak berlalu pergi dari ruang konferensi bersama-sama dengan beberapa manajer yang lain, yang tadinya juga terlihat sudah siap untuk keluar dari sana.


"Olivia! ... Louis! Saya kembali ke ruangan saya lebih dulu, ya?!" ujar Sir Hart berpamitan.


Olivia dan Louis yang bersama-sama sedang merapikan berkas, dan peralatan untuk presentasi tadi, lalu menyahut perkataan Sir Hart secara bersamaan,


"Baik, Sir!"


Ketika Olivia mengangkat pandangannya untuk melihat kepergian Sir Hart, Olivia juga bisa melihat Jericho yang masih bertahan di dalam ruang konferensi, sambil berbincang-bincang dengan salah satu manajer.


Begitu juga Johan, yang berdiri dengan jarak tidak terlalu jauh dari tempat Jericho berada.


Tanpa berlama-lama untuk melihat gerak-gerik dua bos besarnya itu, Olivia lanjut membantu Louis, dan bersiap-siap untuk pergi dari ruang konferensi.


Sebelum Olivia beranjak pergi, Johan terlihat menghampiri Olivia, dan menghadang langkahnya.


Louis yang sedang berjalan bersama Olivia, juga ikut berhenti berjalan.


"Olivia!" ujar Johan.


"Iya, Sir?" sahut Olivia.


"Aku ingin bicara denganmu sebentar," ujar Johan.


Johan lalu melirik ke arah Louis, seolah-olah dia menginginkan agar Louis pergi lebih dulu, dan membiarkannya bicara berdua saja dengan Olivia.


Louis yang kelihatannya mengerti maksud dari Johan, lalu berkata, "Olivia! Aku duluan ... Permisi, Sir!"


"Iya," sahut Olivia, sedangkan Johan hanya menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya Louis keluar dari ruang konferensi.


"Kamu melakukan presentasi dengan baik," kata Johan, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Sir," ucap Olivia.


Johan lalu hanya terdiam sambil menatap Olivia untuk beberapa waktu lamanya, dan dengan senyumnya yang masih mengembang di wajahnya.


Olivia yang merasa salah tingkah karena ditatap oleh Johan, akhirnya menegur Johan di situ.


"Apa ada yang ingin anda katakan, Sir?" tanya Olivia.


"Maafkan aku." Johan tampak tersentak. "Kamu mau makan siang denganku?"


"Hmm ... Bisa saja, Sir ... Tapi, saya bawa ini ke ruanganku dulu," jawab Olivia, sambil menunjuk dengan matanya, lembaran berkas yang masih dipegangnya.


Johan lalu memanggil asistennya, yang berdiri tidak jauh darinya.


"Iya, Sir?" Asisten Johan, tampak siap menunggu arahan dari Johan.


"Berikan saja kepadanya ... Biar dia saja yang mengantarnya ke ruanganmu," kata Johan kepada Olivia, merujuk pada benda-benda di tangan Olivia itu.


"Kamu bisa langsung pergi makan siang bersamaku," lanjut Johan, berkata kepada Olivia.


"Tapi, Sir ... Saya juga masih harus pergi mengambil dompetku," sahut Olivia beralasan, agar tidak perlu merepotkan asisten Johan.


"Jadi kamu tidak mau, kalau aku yang membayarkan makananmu?" tanya Johan.


"Ugh ...? Bukan begitu, Sir...." sahut Olivia ragu.


"Kalau begitu, berikan saja benda itu kepadanya. Aku tidak mau menunggu lebih lama, agar bisa pergi bersamamu," kata Johan memaksa.


Mau tidak mau, Olivia lalu menyerahkan berkas di tangannya kepada asisten Johan, hingga tertinggal ponselnya saja yang masih dipegangnya.


"Maaf, merepotkan," kata Olivia, kepada asisten Johan.


"Tidak apa-apa, Miss." Laki-laki yang jadi asisten Johan itu, tampak tidak keberatan sama sekali, akan tugas yang diberikan oleh Johan untuknya.


"Ayo kita pergi!" ajak Johan, kepada Olivia.


Ketika Olivia berjalan bersama Johan menuju ke lift, tiba-tiba saja terdengar suara Jericho yang memanggil Olivia, dari arah belakang mereka.


"Olivia!"


Seketika itu juga, Olivia dan Johan berhenti berjalan, lalu berbalik secara bersamaan, dan melihat Jericho yang tampak setengah berlari ke arah Olivia.


"Daddy!" sapa Jericho, kepada Johan.


Jericho lalu melihat ke arah Olivia. "Apa kalian akan makan siang bersama?"


"Iya." Sebelum Olivia sempat menjawab, Johan sudah menjawabnya lebih dulu.

__ADS_1


"Apa aku bisa ikut bergabung?" tanya Jericho.


Olivia lalu melihat ke arah Johan, dan Johan lalu berkata, "Tentu saja."


__ADS_2