
Tanpa kembali ke rumah sakit, setelah puas berjalan-jalan dan menikmati waktu mereka di tempat berkumpulnya pedagang makanan jalanan, Jericho mengantarkan Olivia pulang, semalam.
Jericho bahkan masih menemani Olivia, sampai di depan pintu masuk ke gedung apartemen, dan menunggu sampai Olivia masuk, barulah dia pergi dari situ.
"Tidak perlu memakai taksi, untuk ke rumah sakit besok. Aku akan menjemputmu nanti!" ujar Jericho malam tadi, sebelum Olivia masuk ke dalam gedung apartemen tempat tinggalnya.
"Okay, Sir!" sahut Olivia.
"Hubungi saja nomorku kalau kamu sudah siap," kata Jericho lagi, seolah-olah menahan Olivia agar tidak segera masuk ke dalam apartemennya.
"Okay, okay, Sir! Saya akan menghubungi anda nanti, mungkin sekitar jam sepuluhan. Tidak masalah?" ujar Olivia.
"Okay! Kamu masuk saja lebih dulu, baru aku pergi!" kata Jericho.
"Iya, Sir! Berhati-hatilah di jalan. Selamat malam!" ucap Olivia, lalu membuka pintu gedung apartemen.
"Istirahatlah dengan baik! ... Selamat malam!" sahut Jericho.
Olivia menganggukkan kepalanya, dan kali ini, dia benar-benar melewati pintu dan berjalan masuk, meninggalkan Jericho di luar.
***
Sambil menikmati secangkir kopi instan panas, kamar apartemennya yang berantakan dengan pakaian yang dia keluarkan dari lemari semalam, baru pagi ini bisa dirapikan kembali oleh Olivia.
Benar-benar berantakan, hingga menghabiskan cukup banyak waktu, hanya untuk melipat dan menggantung ulang baju-baju itu.
Olivia merasa bodoh karena telah membongkar isi lemarinya, dan ujung-ujungnya dia malah memakai baju mommy-nya, dan tidak muncul di pesta sama sekali.
Pesan masuk dari Louis yang menanyakan kenapa Olivia tidak terlihat di pesta kantor, sudah masuk dari semalam di ponselnya, tapi Olivia pura-pura tidak melihat pesan itu.
Setelah selesai merapikan semuanya, Olivia kemudian duduk berselonjor di lantai dengan menyandarkan punggungnya di tempat tidurnya.
Olivia berniat membalas pesan Louis, dengan mencari-cari alasan yang masuk akal.
Foto profil Louis yang tampil di kontak aplikasi pesan, diperhatikan oleh Olivia, sambil senyum-senyum sendiri.
Di foto yang dipakai Louis itu adalah foto Louis bersama Olivia, yang diambil gambarnya, ketika mereka melakukan pekerjaan di luar kota beberapa minggu yang lalu, dan sampai saat ini, Louis masih belum mengganti foto profil itu.
Padahal di foto itu, wajah mereka berdua sedang dalam kondisi terbakar sinar matahari, karena mereka yang mencuri waktu di sela-sela pekerjaan mereka, dengan pergi ke pantai yang ada di kota itu, hingga wajah mereka tampak berwarna merah padam.
'Kamu di mana?'
'Kenapa aku tidak melihatmu?'
'Apa kamu baik-baik saja?'
'Kabari aku secepatnya, kalau kamu melihat pesanku ini.'
__ADS_1
'Jangan membuatku cemas!'
Jika orang tidak tahu bagaimana hubungan Olivia dengan Louis setiap harinya, maka orang mungkin akan mengira kalau isi pesan Louis itu, seperti seorang kekasih yang sedang mengkhawatirkan keadaan pasangannya.
Tapi tidak begitu keadaan sebenarnya.
Olivia dan Louis memang akrab, dan bahkan, seolah-olah Olivia terjebak di dalam hubungan pertemanan yang terlalu dekat, hingga Olivia tidak bisa mengutarakan perasaan tertariknya kepada Louis.
Olivia merasa cemas, kalau-kalau dia sampai mengutarakan rasa tertariknya, lalu hanya akan merusak hubungan pertemanan mereka saja.
Olivia berpikir keras untuk membalas apa kepada Louis, dari semua pesan Louis kepadanya itu.
'Aku baik-baik saja.'
'Maaf karena aku baru membalas pesanmu. Semalam aku malah ketiduran, setelah pulang dari berbelanja.'
"Ding!"
Suara tanda adanya pesan masuk, segera terdengar bersamaan dengan tampilan layar yang berisi pesan balasan dari Louis, tidak lama setelah Olivia membalas pesannya.
'Kamu tidak berbohong, kan?'
'Aku sedang bersama teman-temanku, di pusat perbelanjaan di dekat apartemenmu.'
'Aku bisa menemuimu, kalau kamu sedang kurang sehat.'
Olivia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, saat membaca pesan balasan dari Louis itu, kemudian segera mengetikkan pesan balasan untuk Louis.
'Nikmati saja waktumu dengan teman-temanmu. Kita bisa saling mengganggu kalau sudah di kantor nanti. *LOL.'
"Ding!" Suara tanda pesan masuk, kembali terdengar, di ponsel Olivia.
'Don't tease me!'
'Aku bisa datang mengganggumu sekarang! LOL.'
(*LOL : Laugh Out Loud : Tertawa terbahak-bahak \= Hahaha)
Olivia tertawa kecil saat membaca pesan dari Louis, sambil menggigit bibirnya sendiri.
Seandainya saja, mereka berdua memang pasangan kekasih, tentu akan lebih menyenangkan jika dikirimkan pesan semacam itu.
Olivia baru saja akan mengetikkan pesan balasannya lagi, tapi Louis sudah menghubunginya lewat panggilan video.
Buru-buru Olivia melihat wajahnya di cermin, dan setelah yakin kalau dia terlihat tidak terlalu buruk, Olivia lalu menerima panggilan itu.
"Halo!" sapa Olivia sambil melambai di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo!" Louis balik menyapa, sambil tersenyum lebar.
"Untuk apa, kamu harus video call?" tanya Olivia heran.
"Hmm ... Untuk memastikan kalau kamu memang baik-baik saja. Sekalian memastikan, kalau kamu sudah mandi atau belum," sahut Louis, yang tampaknya sedang menahan tawanya.
"Hahaha ...! Aku memang belum mandi. Puas?" ujar Olivia sambil tertawa.
"Ada-ada saja kamu ini ... Bukannya kamu bilang sedang bersama teman-temanmu?" lanjut Olivia.
"Iya," sahut Louis. Kemudian, dia tampak melihat ke arah lain, dan berkata, "Guys! Sapa temanku dulu! Dia tidak percaya, kalau aku sedang bersama kalian."
Lalu, tampaknya Louis menggeser ponselnya, sehingga beberapa teman lelaki Louis yang sedang bersamanya, dan tampak melambai sambil menyapa Olivia, bisa dilihat Olivia di layar ponselnya.
"Haai!" sapa teman-teman Louis di ponsel.
"Hai!" Olivia membalas sapaan mereka, sambil tersenyum malu-malu.
"Louis! Apa yang kamu lakukan?" lanjut Olivia, setengah berteriak, hingga wajah Louis kembali terpampang di tampilan layar ponsel Olivia.
"Eh! Kenapa? Aku hanya memperkenalkanmu kepada teman-temanku," ujar Louis, yang terdengar masa bodoh.
"Hey! Aku masih berwajah bantal! Kamu sengaja mau membuatku malu?!" kata Olivia gemas.
"Aaah ...! Tenang saja! Kamu masih terlihat cantik ... Hahaha!" ujar Louis sambil tertawa.
"Benar kan, guys?" Tampilan di layar ponsel, kembali memperlihatkan wajah dari teman-teman Louis.
"Iya. Kamu masih terlihat cantik ... Hehehe!" kata teman-teman Louis hampir serempak.
Olivia menepuk jidatnya sendiri. "Louis ...! Apa-apaan kamu ini?"
"Hehehe ...! Makanya, mandi sudah sana!" ujar Louis yang tertawa kecil, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tsk! ... Siapa yang suruh kamu menghubungiku secara mendadak?" ujar Olivia, dengan rasa gemas, lalu memutus panggilan video itu.
"Ding!" Belum sempat Olivia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, karena berniat untuk pergi mandi, ponselnya kembali menerima pesan masuk.
'Jangan marah. Aku hanya bercanda.'
'Kalau kamu mau hang out bersamaku, kabari saja. Nanti aku jemput ke apartemenmu.'
Begitu isi pesan yang masuk dari Louis, namun Olivia hanya membacanya dan tidak membalasnya lagi.
Olivia sebenarnya mau saja berkumpul santai dengan Louis, namun dia sudah terlanjur berjanji untuk ke rumah sakit hari ini.
Mau tidak mau, Olivia akan menepati janjinya saja, dan bergegas untuk bersiap-siap sebelum dijemput oleh Jericho, karena tidak lama lagi, sudah akan jadi waktu yang dijanjikan Olivia semalam.
__ADS_1
Menurut Olivia, akan jadi tidak nyaman, kalau sampai dia membuat Jericho harus menunggunya hingga terlalu lama.
Setengah berlari, Olivia lantas masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya di sana.