Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 37


__ADS_3

"Kamu sempat membuatku patah hati," celetuk Hansen, sambil mengemudikan mobilnya, yang membawa Olivia bersamanya.


"Ugh ...? Kenapa bisa begitu?" tanya Olivia.


"Aku menunggumu cukup lama di depan kantormu, tapi kamu tidak terlihat, dan tidak menjawab teleponku....


... Aku bahkan pergi menemui Jericho, dan aku jadi bahan tertawaannya. Karena dia menganggap, bahwa aku hanya mendapatkan harapan palsu darimu," kata Hansen.


"Ponselku dalam mode hening. Karena aku sibuk dengan pekerjaanku, aku tidak ingat lagi untuk memeriksa ponselku," kata Olivia.


"Hmm ... Padahal seharusnya, aku yang menggoda Jericho. Tapi ternyata, yang terjadi justru sebaliknya," kata Hansen, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pffftt ...! Eh! Maaf! Aku tidak berniat untuk menertawakanmu. Aku hanya merasa lucu, membayangkan bagaimana, saat kamu diejek oleh Sir Andersen," ujar Olivia.


"Sir Andersen, katamu?" tanya Hansen.


"Iya!" Jawab olivia, yang merasa heran. "Kenapa?"


"Hmm ... Saat kamu berkata 'Sir', terdengar seksi di telingaku. Apa kamu juga mau memanggilku, dengan sebutan Sir?" tanya Hansen.


"Hahaha! ... Ada-ada saja kamu ini!" ujar Olivia, sambil tertawa.


"Hey ...! Jericho sedang tidak berada di sini. Jadi, kamu tidak perlu menahan diri untuk berbicara santai," ujar Hansen.


"Hmm ... Aku tidak bisa membiasakan diri, untuk memanggilnya dengan nama depannya. Karena tentu tidak akan nyaman rasanya...,


... jika aku tanpa sengaja menyebutkan nama depannya, saat kami sedang berada di lingkungan kantor," lanjut Olivia menjelaskan.


"Okay, okay! Aku mengerti," sahut Hansen, lalu tampak memutar kemudi, berbelok ke arah restoran miliknya.


Ketika Olivia baru keluar dari dalam mobil, dan sebelum melangkah masuk ke dalam restoran, Olivia kemudian teringat sesuatu.


"Hansen! Bagaimana dengan pakaianku?" tanya Olivia, sambil menunjuk ke badannya.


Olivia yang merasa terlalu santai, memang melupakan tentang aturan berpakaian, hingga dia hanya memakai blouse sifon dan celana panjang berbahan drill, dipadankan dengan sepatu datar.


Sedangkan restoran milik Hansen itu, adalah restoran yang berkelas, yang biasanya memiliki aturan berpakaian bagi para tamu yang mengunjungi tempat itu.


Hansen tampak memandangi Olivia, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, lalu berkata,


"Ada apa? Kamu terlihat cantik. Tidak ada apa-apa di pakaianmu."


"Bagaimana dengan dresscode?" tanya Olivia, memastikan.


"Hey! Apakah aku memakai setelan jas?" tanya Hansen.


Olivia memperhatikan pakaian Hansen, yang hanya memakai kemeja katun polos berlengan panjang, yang digulung sedikit di bagian lengannya, celana panjang jeans, dan dipadankan dengan sepatu sport kasual.


Spontan, Olivia kemudian menggelengkan kepalanya, hingga Hansen tampak tersenyum lebar melihatnya.


"Apa kamu lupa, kalau tempat ini adalah milikku?" tanya Hansen lagi.


Dan lagi-lagi, Olivia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Hansen kemudian mengulurkan tangannya, hingga berpegangan tangan dengan Olivia. Lalu sambil tersenyum, Hansen mengedipkan sebelah matanya, menggoda Olivia.


"Tidak ada yang akan berani, untuk mempermasalahkan pakaianmu, ... My baby!" kata Hansen, mantap.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, melihat gerak-gerik dari Hansen yang menggodanya itu.


Dengan menggandeng lengan Olivia, Hansen mengajak Olivia untuk masuk ke dalam restoran bersamanya. "Ayo kita masuk!"


***


Benar saja dugaan Olivia, kalau di restoran milik Hansen itu memliki aturan berbusana.


Sehingga Olivia dan Hansen tampak menonjol, karena pakaian mereka yang terlihat berbeda, saat masuk ke dalam restoran, yang dipenuhi dengan pengunjung yang berpakaian rapi.


Namun Hansen terlihat tidak perduli akan hal itu, dan tetap berjalan melewati meja-meja tamu, sambil sesekali tersenyum, kepada tamu yang ada di sana.


Dan kelihatannya, Hansen memang sudah tahu akan meja di bagian mana, yang akan mereka pakai untuk menikmati makan malamnya.


Sehingga Hansen tanpa terlihat ragu, terus berjalan membawa Olivia, sampai mereka tiba di meja kosong, yang terletak di dekat dinding kaca.


Seorang pelayan restoran yang menghampiri meja di mana Hansen dan Olivia duduk, segera menuangkan cairan wine ke dalam gelas di atas meja yang ada depan Hansen, dan begitu juga gelas yang ada di depan Olivia.


"Apa anda ingin makanannya langsung disajikan, Sir?" tanya pelayan restoran, setelah dia selesai menuangkan cairan wine.


"Iya! Katakan pada Chef, kalau dia bisa menyajikan menu yang baru untuk kami!" kata Hansen.


"Baik, Sir! ... Miss!" Pelayan itu, kemudian berlalu pergi dari sana, ketika sudah menerima arahan dari Hansen, dan menyapa Olivia.


Restoran milik Hansen itu berukuran cukup luas dan mewah, namun tetap terlihat ramai dengan pengunjung, hingga tidak ada satupun meja yang masih terlihat kosong.


Olivia merasa kagum akan bisnis yang dijalankan oleh Hansen itu, yang kelihatannya berjalan dengan lancar.


"Ada apa?" tanya Hansen.


"Hmm ... Apa pengunjungnya selalu seperti ini?" tanya Olivia, penasaran.


Malam itu ketika Olivia datang ke restoran Hansen itu bersama Jericho, restoran itu sudah di jam tutup, dan hanya melayani Jericho dan Olivia secara khusus saja.


Sehingga Olivia tidak tahu, bagaimana pengunjung di restoran itu, pada saat jam buka biasanya.


"Iya. Terima kasih untuk Chef yang selalu berinovasi, dan juga semua karyawan yang lain, hingga pelanggan restoranku tidak bosan untuk memesan tempat di sini," jawab Hansen.


"Apa aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat ini?" tanya Olivia, bercanda, membalas Hansen yang menggodanya di luar tadi.


"Tentu saja! Kalau begitu, aku akan meminta Jericho agar segera memecatmu," ujar Hansen, sambil memasang raut wajah serius.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan.


"Hey! Jangan tertawa! Aku tidak sedang bercanda. Aku memang membutuhkan manajer, untuk restoranku yang baru di daerah xx," kata Hansen.


"Benarkah? Berapa restoran yang kamu miliki?" tanya Olivia, makin penasaran.


"Dua ... Restoranku yang ke-tiga, masih dalam tahap pembangunan, mungkin dalam satu bulan ke depan, restoran itu sudah bisa dibuka," jawab Hansen.

__ADS_1


"Hmm ... Hebat! Masih muda tapi sudah sukses," celetuk Olivia, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sukses berbisnis, tapi belum sukses untuk mendapatkan pasangan hidup," sahut Hansen, sambil tersenyum tipis, lalu menyesap sedikit cairan wine dari gelasnya.


***


Sembari mereka menikmati makan malamnya, selain hanya berbincang-bincang tentang hal yang konyol, Olivia juga bertanya tentang bisnis restoran yang dijalankan oleh Hansen itu.


Dan Hansen mau saja untuk menceritakan bagaimana pengalamannya, hingga bisa memiliki bisnis restoran miliknya sendiri.


Menurut penuturan Hansen, dia memang sudah terpikir untuk memiliki bisnis sendiri, semenjak dia masih berkuliah.


Sebenarnya Hansen bisa saja menjadi penerus daddy-nya, yang adalah CEO dari sebuah perusahaan penyedia bahan baku, yang bekerjasama dengan Andersen's Construction.


Tapi Hansen tetap ingin memiliki bisnisnya sendiri, yang bisa dia atur sesukanya.


Hingga pada suatu waktu, daddy dari Hansen meminta Hansen untuk mempelajari, bagaimana caranya menjalankan pekerjaan, di perusahaan daddy-nya itu.


Hansen kemudian mendatangi lokasi pengerjaan proyek pembangunan sebuah gedung pencakar langit, yang ditunjukkan oleh daddy-nya.


Di lokasi kerja itu, Hansen memperhatikan kondisi di wilayah itu baik-baik.


Dan setelah mengamati di sekitarnya, Hansen mendapati, kalau tidak ada satupun restoran atau rumah makan, yang bisa menjadi tempat beristirahat, bagi para pekerja proyek pembangunan gedung pencakar langit itu, yang berjumlah ratusan orang.


Oleh karena itulah, Hansen terpikir untuk membuka coffee shop di dekat proyek pembangunan itu.


Di seberang jalan, berhadapan dengan gedung yang sedang di bangun, terdapat sebuah bangunan tua berukuran kecil, yang disewakan oleh pemiliknya.


Menurut Hansen, tempat itu cocok untuk dijadikannya sebagai coffee shop, walaupun hanya sederhana.


Hansen nekat untuk melakukan pinjaman di bank, dengan mengatasnamakan dirinya sendiri, dan dengan status sebagai seorang karyawan di perusahaan milik daddy-nya.


Pihak bank menyetujui ajuan kredit dari Hansen, dan dengan dana yang diberikan oleh bank, Hansen lantas mempersiapkan bangunan tua berukuran kecil, yang menjadi incarannya itu, hingga bisa menjadi sebuah coffee shop.


Usaha Hansen berbuah manis.


Semenjak pertama kali dibuka, setiap hari coffee shop-nya dipenuhi oleh pelanggan, yang rata-rata adalah pekerja di proyek pembangunan gedung pencakar langit, yang ada di seberang jalan.


Bahkan, sebagian dari pelanggan dari coffee shop Hansen itu, harus mengantri karena tempatnya yang terlalu penuh.


Hanya dalam hitungan bulan, keuntungan dari coffee shop-nya, bisa dipakai Hansen untuk membeli bangunan tua itu, beserta dengan lahannya.


Hansen pun memperluas bangunan coffee shop-nya, dan yang awalnya hanya memiliki satu orang koki, dan dua orang pelayan, Hansen menambah dua kali lipat jumlah karyawannya.


Hasil dari coffee shop Hansen semakin meningkat, namun proyek pembangunan gedung di seberang jalan, sudah hampir selesai dikerjakan.


Hansen kemudian memutar otak, agar usahanya tetap berjalan, dan akhirnya Hansen mencari Chef yang cukup bagus, dan cocok untuk diajak berkerjasama, membuka sebuah restoran.


Setelah Hansen merenovasi habis-habisan bangunan coffee shop-nya itu, jadilah restoran pertama miliknya yang sukses.


Keberhasilan restorannya itu, bahkan hingga bisa membuat Hansen, membuka dua restoran baru di tempat lain.


Dan restoran yang menjadi tempat Olivia dan Hansen berada sekarang ini, adalah restoran pertama yang dimaksud Hansen di dalam ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2