Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 97


__ADS_3

Pada awalnya, Olivia merasa enggan untuk menerima panggilan telepon dari Hansen itu.


Namun setelah Hansen mengulang panggilan teleponnya, akhirnya Olivia menerima panggilan itu, dan menyapa Hansen.


"Halo, Hansen!" 


"Olivia! Kamu belum bepergian, bukan?" sahut Hansen, yang terdengar terburu-buru, dari seberang telepon.


"Belum ... Penerbangan kami ditunda, karena cuaca bu—" Olivia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Hansen sudah lebih dulu menyela perkataannya, dengan berkata,


"Thank's God! ... Olivia! Datanglah segera ke rumah sakit! Jericho mengalami kecelakaan lalu lintas!"


Jantung Olivia berdegup kencang, dengan sekujur tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas. 


"Hansen! Apa katamu?" tanya Olivia, memastikan pendengarannya.


"Jericho mengalami kecelakaan dengan mobilnya. Dia sudah dibawa ke rumah sakit tempat daddy-ku dirawat. Aku akan memberitahumu itu saja....


... Karena aku harus menghubungi daddy Jericho sekarang ini. Karena aku rasa dia pasti belum tahu, akan apa yang terjadi kepada Jericho," kata Hansen. 


Olivia tidak menanggapi perkataan Hansen lagi, dan justru menatap Angelo lekat-lekat, sambil menahan air matanya yang hampir menetes.


"Angelo...! Jericho kecelakaan ... Apa aku bisa pergi menemuinya?" tanya Olivia, pelan, dan dengan suaranya yang bergetar.


Angelo menatap Olivia lekat-lekat, untuk beberapa saat lamanya, tanpa berkata apa-apa.


"Huuufft...!" Angelo tampak mendengus kasar, kemudian lanjut berkata, 


"Ayo, kita pergi! ... Biar aku mengantarkanmu!"


***


Setibanya di rumah sakit, dan bertanya tentang Jericho kepada petugas jaga di sana, Olivia kemudian mendatangi bagian depan ruang operasi, di mana Jericho sedang ditangani di dalam ruang operasi di rumah sakit itu.


Olivia sudah bisa menduga, kalau kondisi Jericho cukup mengkhawatirkan, hanya dengan melihat raut wajah Johan dan Hansen, yang berada di sana.


Air matanya tidak bisa ditahan oleh Olivia lagi, ketika Johan memeluknya dengan erat.


Tangisan penyesalan Olivia semakin menjadi-jadi, ketika Hansen ikut menghampiri, kemudian dengan suara berbisik-bisik, Hansen lalu berkata,


"Maafkan aku! ... Aku rasa ini semua adalah salahku. Aku memberitahu Jericho tentang apa alasanmu, hingga mau menikah dengan Angelo.... 


... Dan pasti karena itu, hingga Jericho bisa berkendara dengan kecepatan tinggi, untuk menyusulmu. Karena dia mengalami kecelakaan, di jalan yang mengarah ke bandara."


"Oh, gosh! ... This is all my fault!" ujar Olivia, sambil terisak-isak, dan rasanya dia akan jatuh pingsan, karena rasanya dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Walaupun ada Angelo di situ, namun Johan tampaknya tidak terlalu memperdulikannya, dan tetap berusaha menenangkan Olivia, sambil tetap memeluknya, dan berkata,


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri...! Jericho memang selalu bertindak gegabah, dan tidak berpikir panjang saat melakukan sesuatu. Yakin saja, kalau dia pasti akan baik-baik saja nanti."


Hingga beberapa waktu lamanya, Olivia hampir tidak bisa berhenti menangis, sampai Johan membawanya duduk, sambil tetap merangkul pundaknya.

__ADS_1


***


Di sela-sela mereka menunggu penanganan Jericho di ruang operasi, mereka lalu kedatangan dua orang, dari pihak berwajib.


Petugas kepolisian itu menjelaskan, bahwa Jericho mengalami kecelakaan tunggal, di jalan bebas hambatan.


Dan menurut pengamatan dari pihak berwajib, lewat rekaman CCTV yang terpasang di jalan bebas hambatan itu, mobil Jericho tampak tergelincir dan kemudian terbalik, setelah menabrak pagar pembatas jalan. 


Tujuan dari kedatangan dua petugas kepolisian itu, bukan hanya untuk memberitahukan kronologis kejadian kecelakaan itu.


Melainkan para petugas kepolisian itu, juga akan mengambil bukti, bahwa Jericho tidak sedang berkendara dalam pengaruh minuman beralkohol.


Kurang lebih satu setengah jam kemudian, terlihat seorang dokter yang berjalan keluar dari ruang operasi, lalu memberitahu kabar tentang hasil penanganan Jericho. 


Menurut penuturan dari dokter itu, cedera di kaki Jericho yang terjepit waktu terjadi kecelakaan, sudah selesai di operasi.


Dan cedera di bagian lehernya juga dianggap cukup serius, hingga Jericho harus memakai penyangga leher, untuk beberapa waktu ke depan.


Untuk sementara ini Jericho masih tidak sadarkan diri, dan masih akan terus dipantau perkembangannya.


Jericho yang kemudian dipindahkan ke ruang perawatan, masih diberikan izin oleh dokter untuk dikunjungi, walaupun orang yang bisa masuk ke dalam sana, dibatasi jumlahnya.


Johan kemudian mengajak Olivia, agar masuk lebih dulu bersamanya, untuk melihat keadaan Jericho secara langsung.


Di ranjang perawatan, wajah pucat pasi Jericho yang terpasang masker oksigen, terlihat beberapa luka gores di sana.


Di bagian leher Jericho yang terpasang penyangga, menurut Olivia, benda itu pasti hanya membuat Jericho merasa tidak nyaman. 


Olivia menghampiri ranjang perawatan, di mana Jericho sedang terbaring tidak sadarkan diri, lalu Olivia kemudian memegang tangan Jericho yang terasa sangat dingin.


"Jangan menangis...! Jericho pasti akan jadi lebih sedih jika melihatmu menangis," celetuk Johan, sambil mengusap-usap bagian belakang kepala Olivia.


Johan kemudian mengambilkan tempat duduk, meletakkannya di dekat ranjang perawatan Jericho, dan mempersilahkan Olivia untuk duduk di situ.


"Aku sudah mendengar semuanya dari Hansen. Dan Olivia, apa kamu tahu? Aku senang karena usahamu, untuk memperbaiki kesalahanmu....


... Tapi di saat bersamaan, aku merasa marah kepadamu, juga menyalahkan diriku sendiri. Karena seharusnya, kamu tidak perlu menanggungnya sendirian seperti itu," kata Johan.


"Angelo adalah pebisnis, jika dia tahu akan ada peluang bahwa bisnis akan kembali berjalan, tanpa kamu perlu membuat perjanjian dengannya, dia pasti akan bergerak," lanjut Johan.


"Maafkan saya, Sir...." kata Olivia.


"Kelihatannya kamu telah salah menanggapi perkataanku," ujar Johan.


Olivia kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap Johan lekat-lekat.


"Maksudku, aku mungkin masih kurang meyakinkan bagimu, hingga kamu tidak berani bersandar kepadaku.... 


...Jika saja kamu bisa membagi beban pikiranmu denganku, maka aku yang akan meminta bantuan dari Angelo, seberapa pun banyaknya bantuan yang aku butuhkan darinya....


... Kamu tidak perlu mengorbankan kebahagiaanmu, hanya untuk memperbaiki kesalahanmu itu. Mulai sekarang ini, aku ingin agar kamu bisa lebih mempercayaiku lagi," kata Johan.

__ADS_1


******


Dengan terburu-buru, Olivia meloncat masuk ke dalam taksi, yang segera berhenti, ketika dia menghadangnya tadi. 


Sudah dua hari berlalu, semenjak kecelakaan yang terjadi kepada Jericho.


Di setiap waktunya, Olivia menemani Jericho di rumah sakit, dan hanya kembali ke apartemennya, untuk mandi dan berganti pakaian.


Olivia memang tidak mau membuang-buang waktunya, dengan berlama-lama meninggalkan Jericho, walaupun Jericho masih belum sadarkan diri.


Apalagi, di hari-hari ini, Johan sibuk mengurus segala sesuatunya, yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Johan jadi semakin sering bepergian dengan Angelo, untuk mengembalikan situasi Andersen's, pasca insiden pencurian data yang dilakukan oleh Claire.


Hansen pun, masih kewalahan membagi waktunya untuk mengurus bisnisnya, sekaligus menjaga daddy-nya yang sakit.


Dengan demikian, hanya Olivia yang bisa sering-sering menemani Jericho di rumah sakit. 


Setibanya Olivia di ruang perawatan Jericho, di dalam sana terlihat dua orang dokter, dan beberapa perawat yang mengerumuni Jericho, yang terbaring di ranjang perawatannya.


Walaupun merasa sangat penasaran akan apa yang terjadi, namun Olivia tidak mau mengganggu para petugas medis itu, dan hanya memandangi mereka dari jauh.


Hingga akhirnya salah satu perawat yang melihat kedatangan Olivia, kemudian berjalan menghampiri Olivia dan memberitahu kepadanya, bahwa Jericho sudah sadar.


Setelah semua petugas medis itu pergi dari ruang perawatan Jericho, barulah Olivia menghampiri Jericho yang tampak sangat terkejut melihat kedatangan Olivia, di situ.


"Hai, Sir...!" sapa Olivia, sambil menahan diri sekuatnya agar dia tidak menangis, dan memaksakan dirinya agar bisa tersenyum.


"Olivia...!" sahut Jericho, pelan, dan tampak berusaha untuk bangkit dari pembaringannya.


"Oh, no! ... Jangan bergerak dulu!" ujar Olivia, menahan gerakan Jericho di situ. 


"Olivia...!" kata Jericho, yang tampak tidak sabar, agar bisa mendapatkan perhatian sepenuhnya dari Olivia, namun Olivia berkata,


"Tunggu sebentar! ... Biar saya mengatur posisi tempat tidurnya, kalau anda ingin bisa sedikit terduduk."


Dengan menekan tombol pengaturan, bagian kepala ranjang itupun jadi sedikit terangkat, hingga posisi Jericho bisa agak terduduk.


"Please, come here! ... I can't wait any longer! ... Aku ingin bicara denganmu!" kata Jericho, dengan raut wajah dan suaranya yang memelas.


Olivia berjalan semakin mendekat, kemudian memeluk Jericho dengan erat, lalu memberikan ciumannya di bibir Jericho untuk beberapa waktu lamanya, hingga laki-laki itu terlihat kebingungan, karenanya. 


"Olivia! ... Apa ini—" Jericho tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena sambil tersenyum, Olivia segera menyelanya, dengan berkata,


"Yes! ... I love you, Sir!" 


...——————TAMAT——————...


NB : Terima kasih, karena telah membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. 


Mohon dimaafkan, jika di dalam tulisan ini terdapat kesalahan, ataupun ada kata-kata yang kurang berkenan. 

__ADS_1


Untuk keseluruhannya, dan sebagai penutup, penulis menghaturkan banyak terima kasih.


__ADS_2