
Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, Johan kini sudah kembali terlihat ceria.
Senyuman Johan, terlihat hampir tidak bisa berhenti untuk terus mengembang lebar di wajahnya.
Olivia bahkan sampai kebingungan sendiri melihatnya.
Padahal, sembari mereka makan siang tadi, Olivia sampai berkali-kali mengulang perkataannya, agar Johan jangan terlalu berharap banyak kepadanya, tapi laki-laki itu seolah-olah tidak perduli dengan perkataan Olivia.
Olivia bahkan sudah meminta kepada Johan, agar Johan mencoba membuka hatinya untuk wanita lain saja.
Tapi Johan menolak mentah-mentah permintaan Olivia itu, dan dia tetap terlihat yakin, kalau dia bisa membuat Olivia jatuh cinta kepadanya.
Walaupun menurut Olivia tingkah Johan itu tampak menggemaskan, tapi Olivia masih merasa khawatir, kalau-kalau dia hanya akan membuat Johan terluka.
Ada apa dengan Hansen dan Johan?
Olivia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang itu, yang sama-sama bisa terlihat yakin, kalau Olivia akan jatuh cinta kepada mereka.
Sedangkan Olivia sendiri, belum yakin kalau dia bisa secepat atau semudah itu, untuk merasa jatuh cinta.
Olivia bisa mengerti, jika laki-laki memang mungkin akan lebih mudah untuk jatuh cinta.
Tapi kenapa mereka harus memilih, untuk jatuh cinta kepada Olivia?
Laki-laki seperti Hansen maupun Johan, tentu bisa dengan mudahnya menemukan wanita, yang akan segera jatuh cinta kepada mereka.
Lalu untuk apa mereka menunggu yang belum pasti?
Oh, gosh!
Dengan mengetahui, kalau ada dua orang laki-laki mencintainya secara bersamaan, hanya membuat Olivia merasa frustrasi.
Karena jika perasaan Johan dan Hansen tidak ada yang berubah, lalu Olivia kemudian jatuh cinta kepada salah seorang dari mereka, tentu yang satunya lagi akan kecewa.
Lalu bagaimana, kalau sampai Olivia malah jatuh cinta kepada orang lain, dan bukanlah salah satu dari mereka?
Olivia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya.
Dengan demikian, Olivia hanya bisa berharap, agar seiring dengan berjalannya waktu, antara Johan dan Hansen, akan ada yang berubah pikiran, karena merasa bosan menunggu Olivia.
Olivia bahkan berharap, agar mereka bisa menemukan orang yang lain, yang memang sudah jatuh cinta kepada mereka, sehingga mereka tidak perlu mengharapkan Olivia, yang sampai saat ini, masih belum memiliki perasaan apa-apa kepada mereka, selain perasaan kagum.
***
Karena perjalanan pulang dari kota xx yang panjang dan memakan waktu yang lama, hingga Olivia baru bisa tiba di apartemennya, dengan diantar oleh Johan, setelah malam sudah sangat larut.
Otaknya yang hampir tidak bisa berhenti memikirkan, tentang Hansen dan Johan, mengakibatkan terganggunya mata Olivia, sampai-sampai tidak mau diajak bekerja sama, agar Olivia bisa segera tertidur.
Pertemuan Olivia dengan Angelo, yang cukup untuk mengusik perasaan Olivia, yang seharusnya sudah terkubur di masa lalu, juga ikut menjadi penyebab tambahan, hingga Olivia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Oleh karena itu semua, di pagi ini, Olivia hampir tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya, dan rasanya, dia masih ingin tidur lebih lama lagi.
Olivia benar-benar kelelahan, dengan sekujur tubuhnya yang terasa pegal, lengkap dengan kepalanya yang pusing, dan sedikit sakit.
Padahal sekarang ini, Olivia sudah harus berangkat ke kantor, dan kembali bekerja seperti biasanya.
Dengan memaksakan diri, Olivia lantas bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
Daripada dia harus berdesak-desakan di dalam bus, sementara kondisinya yang sekarang ini terasa buruk, Olivia lalu memilih untuk memakai taksi saja sebagai tumpangannya.
Walaupun sudah memakai taksi, tapi Olivia masih tetap terlambat beberapa menit, barulah dia tiba di kantor.
Rekan-rekan kerja Olivia, terlihat sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ketika Olivia memasuki ruang kerja mereka itu.
"Kamu terlihat buruk. Apakah pekerjaan di sana memang sangat melelahkan?" ujar Louis, yang mengangkat pandangannya, ketika Olivia berjalan di dekat meja kerjanya.
"Yups! ... As you can see!" sahut Olivia asal-asalan, sambil duduk bersandar di kursi kerjanya, lalu memijat-mijat dahinya.
"Hmm ... Silahkan menikmati!" ujar Louis.
Olivia yang tadinya memejamkan matanya, lalu segera membuka matanya, dan melihat Louis, yang menyerahkan beberapa lembar berkas, ke atas meja Olivia.
"Please...! Apa tidak bisa menunggu?" tanya Olivia, sambil mengerutkan keningnya.
"Lihat?!" Louis menunjuk ke arah meja kerjanya sendiri, dan Olivia ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Louis.
Di atas meja kerja Louis juga terlihat tumpukan berkas, yang tampaknya tidak kalah banyak, dengan yang disodorkan Louis kepada Olivia.
"Oh, gosh...!" Olivia mengeluh, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tenang saja! Aku akan membuatkanmu kopi," kata Louis, yang tampak tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa, sebelum dia berjalan keluar dari ruang kerja mereka itu.
"Huuufft...!" Walaupun sambil mendengus, Olivia akhirnya memeriksa satu persatu, lembaran berkas laporan yang sudah ada di meja kerjanya itu.
Karena dia yang masih kelelahan, Olivia kesulitan untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Secangkir kopi dan roti isi, yang diberikan Louis kepadanya, seakan-akan masih tidak sanggup mendongkrak semangat Olivia untuk bekerja.
Hari ini, Olivia bekerja dengan sangat lambat, hingga pada saat jam istirahat makan siang hampir tiba, Olivia baru bisa menyelesaikan sebagian kecil pekerjaannya.
Karena rasanya, percuma saja Olivia memaksakan diri, jika dia memang sudah tidak sanggup lagi.
***
Louis tadi sudah memberitahu kepada Olivia, kalau dia terlanjur membuat janji dengan beberapa temannya, yang bekerja di kantor dari perusahaan lain, untuk makan siang bersama.
Kemudian, Louis mengajak Olivia untuk ikut bersamanya, namun Olivia menolak, karena Olivia yang terlalu lelah, dan lebih suka untuk makan siang di kafetaria saja.
Dengan demikian, sebelum Olivia beranjak pergi dari ruang kerja mereka, Louis sudah lebih dulu keluar dari sana.
Begitu juga dengan rekan-rekan kerja Olivia yang lain, yang terlihat berjalan keluar dengan bergerombol.
Olivia menunda sebentar, untuk pergi ke kafetaria, karena dia tidak mau mendapatkan lift yang penuh sesak.
Karena keputusannya itu, sehingga akhirnya, Olivia tertinggal sendiri di dalam ruang kerjanya sekarang ini.
Dan ketika Olivia akan pergi untuk makan siang, lalu mencari ponselnya, Olivia tidak menemukannya di dalam tasnya.
Kelihatannya, karena berangkat kerja secara terburu-buru pagi tadi, Olivia sampai lupa mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan pengisi daya.
Hanya dengan membawa dompetnya saja, Olivia beranjak pergi dari ruang kerjanya itu, lalu berjalan menuju ke lift.
Sembari menunggu pintu lift terbuka, Olivia melihat kedatangan Johan dan Jericho, yang kelihatannya juga akan keluar makan siang.
Saat ini, Olivia benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan dua orang itu.
__ADS_1
Tapi Olivia sudah tidak bisa menghindar lagi.
Sehingga mau tidak mau, Olivia harus berpura-pura, dengan bertingkah seperti biasa saja, lalu menyapa kedua bosnya itu.
"Hai, Sir!" ujar Olivia.
"Hai, Olivia!" Johan balas menyapa, dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahnya.
"Hai, Olivia!" Berbanding terbalik dengan Johan, walaupun Jericho balas menyapa Olivia, namun raut wajah Jericho terlihat kaku.
Seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya, Jericho justru tampak kesal saat berhadapan dengan Olivia.
Tapi Olivia tidak mau memperdulikan, apalagi memikirkan, tentang kemungkinan apa yang membuat Jericho bisa terlihat seperti itu.
Olivia bertingkah seolah-olah dia tidak menyadari raut wajah Jericho itu, dan masuk ke dalam lift bersama Jericho dan Johan, tanpa berkata apa-apa lagi.
"Apa kamu mau pergi makan siang ke luar?" tanya Johan kepada Olivia.
"Tidak, Sir ... Saya hanya akan pergi ke kafetaria sebentar, karena ada rekan saya yang sudah menunggu saya di sana," jawab Olivia, beralasan.
"Ooh! ... Okay!" sahut Johan.
Sesekali, Olivia melirik sebentar ke arah Jericho, dan raut wajah bosnya itu masih tidak berubah.
Bukan hanya Olivia saja yang melirik Jericho.
Jericho juga terlihat melakukan hal yang sama, hingga Olivia dan Jericho sempat beberapa kali beradu pandang, lalu secara bersama-sama mengalihkan pandangan mereka.
Setelah pintu lift terbuka, dan mereka berjalan keluar dari sana, Jericho lalu menahan Olivia, dengan berkata,
"Olivia! ... Tolong tunggu sebentar!"
Mau tidak mau, Olivia menahan langkahnya, walaupun yang sebenarnya, dia ingin secepatnya pergi menjauh dari Johan dan Jericho.
Jericho lalu melihat ke arah Johan, kemudian berkata,
"Daddy! ... Daddy bisa pergi lebih dulu! Ada yang saya ingin saya tanyakan kepada Olivia."
Johan tampak memandangi Jericho dan Olivia bergantian, dengan tatapannya yang seolah-olah penuh dengan pertanyaan.
Walaupun yang terlihat dari raut wajahnya, Johan tampaknya kurang setuju dengan perkataan Jericho, namun akhirnya, Johan lalu berkata,
"Okay! ... Aku akan menunggumu di restoran."
Sebelum Johan melangkah pergi, Johan masih sempat berbicara kepada Olivia.
"Aku pergi keluar dulu! ... Bye, Olivia!"
"Iya ... Bye, Sir! Hati-hati di jalan!" sahut Olivia, sambil tersenyum.
Johan tampak tersenyum lebar, lalu berjalan pergi dari sana meninggalkan Olivia bersama Jericho.
"Aku ingin bicara denganmu," kata Jericho kepada Olivia, setelah Johan sudah berada di jarak yang cukup jauh dari mereka.
"Apa yang ingin anda bicarakan, Sir?" tanya Olivia, sambil memaksakan diri untuk tetap terlihat biasa saja.
__ADS_1