Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 59


__ADS_3

Bersama-sama dengan Johan, pertunjukan aksi trapeze, menjadi pertunjukan pertama yang ditonton oleh Olivia, di dalam tenda sirkus.


Gerakan melompat, sambil bergelantungan dari kursi gantung yang satu, ke kursi gantung lainnya, yang dilakukan oleh pemain rekstok gantung itu, memang menarik perhatian dari pengunjung, yang hampir memenuhi setiap bangku, yang tersedia di dalam tenda.


Setiap kali gerakan yang sulit, yang berhasil dilakukan para pelaku pertunjukan, sanggup untuk membuat semua penonton, bertepuk tangan dengan meriah.


Termasuk Olivia dan Johan.


Walaupun Olivia fobia dengan ketinggian, hingga membuatnya bergidik saat melihat pertunjukan itu, tapi Olivia tetap bisa menikmati tontonannya, dan bertepuk tangan dengan tidak kalah bersemangatnya, jika dibandingkan dengan penonton yang lain.


Begitu juga pada saat pertunjukan aksi para badut lucu yang dipertontonkan, Olivia hampir tidak bisa berhenti tertawa, saking merasa gemas melihatnya.


Olivia yang terlalu asyik dengan apa yang dilihatnya, sampai-sampai, Olivia tidak terlalu memperhatikan lagi, akan gerak-gerik Johan di sampingnya.


Dari sekian banyaknya pertunjukan di sirkus itu, kelihatannya, tidak ada satupun yang tidak disukai oleh Olivia.


Sampai waktunya untuk pertunjukan sulap, dan pesulap meminta beberapa orang penonton, untuk ikut ambil bagian di dalam pertunjukannya.


Setelah beberapa penonton yang bergantian dipanggil ke atas panggung, tiba-tiba, Johan juga ikut mendapatkan pencahayaan dari lampu sorot di situ.


Dengan cepat, Johan menolak untuk naik ke atas panggung, dengan melambaikan tangannya di depan dadanya.


"Oh, no! ... No!" ujar Johan.


"Ayolah, Sir! ... Saya ingin melihat anda di sana...." kata Olivia, dengan suara memelas, sambil tersenyum.


Johan lalu menatap Olivia lekat-lekat, untuk beberapa saat.


Dan tampaknya, Johan merasa gemas dengan tingkah Olivia itu, hingga dia menggigit bibirnya sendiri, sambil memicingkan matanya.


Tapi Olivia tidak menyerah, dan tetap membujuk Johan, agar ikut di dalam pertunjukan sulap itu. 


"Come on, Sir...." kata Olivia lagi.


"Tsk! ... Fine!" Suara Johan terdengar seperti sedang menggerutu, walaupun dia akhirnya tetap berdiri, dan berjalan menuju ke panggung pertunjukan.


Olivia bertepuk tangan sambil tertawa puas, karena dia berhasil membuat Johan setuju, untuk ikut tampil dalam pertunjukan sulap.


Di antara orang-orang yang berdiri di atas panggung, Johan tampak menonjol, karena tinggi badannya yang masih melebihi dari orang-orang yang lain, yang bersamanya saat itu.


Bukan hanya itu saja, karena kelihatannya, Johan juga jadi penonton yang paling tampan, di antara penonton yang lain, yang diajak untuk ikut naik ke atas panggung.


Olivia bisa berpikir demikian, karena Olivia bisa mendengar pembicaraan dari beberapa orang penonton, yang duduk di dekatnya.


Penonton di dekat Olivia itu, mengutarakan kekaguman mereka akan penampilan fisik Johan, ketika tiba giliran Johan yang ikut dalam aksi sulap, yang sedang dipertunjukkan.


Tapi rasanya, Olivia tidak terlalu heran, jika mendengar pujian seperti itu, yang diarahkan orang-orang kepada Johan. Karena menurut Olivia, penampilan fisik Johan, memang pantas untuk mendapatkan pujian.


Olivia lalu mengambil gambar Johan, yang berada di atas panggung, dengan menggunakan ponselnya. 


Olivia bahkan membuat rekaman video, dengan menggunakan ponselnya itu, untuk mengabadikan momen langka itu.


Rasanya, hal itu tentu saja bisa dibilang langka, bagi Olivia.


Karena, kapan lagi Olivia bisa memiliki kesempatan, untuk melihat bosnya, seorang CEO dari sebuah perusahaan raksasa, yang ikut tampil di dalam pertunjukan sulap.

__ADS_1


Hingga pertunjukan itu akhirnya usai, dan Johan kemudian kembali ke tempat duduknya, di samping Olivia.


Olivia yang bisa mendapatkan beberapa foto, dan sedikit rekaman video gerak-gerik Johan di atas panggung, benar-benar merasa kesulitan, untuk menahan dirinya agar tidak tertawa.


"Anda sangat keren, Sir!" kata Olivia. 


"Yeah, right! ... Don't tease me!" sahut Johan, ketus. 


"Pffftt...!" Olivia tertawa tertahan, sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Saya berkata jujur, Sir!" kata Olivia, lalu memperlihatkan tampilan layar ponselnya, yang memutar ulang rekaman videonya, kepada Johan.


"Oh, gosh! ... Kenapa kamu melakukannya?" ujar Johan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tampak menahan dirinya sendiri agar tidak tertawa.


"Apa anda menginginkan videonya?" tanya Olivia, sambil tersenyum mengejek Johan.


Johan lalu mengambil tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat, dan terasa seolah-olah Johan sedikit meremasnya, kemudian berkata,


"Kamu bisa menyimpannya sendiri, untuk jadi bahan tertawaanmu." 


"Maafkan saya, Sir ... Saya hanya bercanda. Saya akan segera menghapusnya," kata Olivia.


"No! It's okay! ... Kamu bisa menyimpannya, kalau kamu menyukainya," sahut Johan, buru-buru. 


Sekarang ini, di atas panggung sedang menampilkan seorang anak kecil, yang mempertunjukkan keahliannya, yang bisa mengarahkan beberapa ekor anjing, untuk melakukan aksi akrobat.


Karena melihat gerak-gerik anak kecil, yang tampak menggemaskan di pertunjukan itu, Olivia tiba-tiba jadi teringat akan Jonah.


"Hmm ... Sir! Apa saya bisa memperlihatkan video ini kepada Jonah?" tanya Olivia.


"Okay! ... Jonah pasti akan senang melihat rekaman anda ini. Sayang sekali kita tidak bisa mengajaknya, untuk menonton pertunjukan ini bersama-sama," kata Olivia.


Johan lalu terlihat tersenyum lebar, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Setelah pertemuan kita besok, aku mungkin akan tetap berada di kantor utama, sampai minggu depan.... 


... Kalau kamu mau, di libur akhir pekan nanti, kita bisa kembali ke kota ini, dan menonton pertunjukan sirkus ini lagi, dengan membawa Jonah," kata Johan.


"Hmm ... Saya tidak bisa berjanji, Sir. Tapi kalau saya tidak memiliki rencana lain, saya mungkin bisa ikut," sahut Olivia.


"Okay! ... Aku berharap agar kamu bisa ikut," kata Johan, sambil tersenyum lebar.


Seluruh pertunjukan di dalam tenda sirkus itu belum berakhir, tapi karena sudah waktunya untuk makan malam, Johan lalu mengajak Olivia untuk pergi makan malam bersamanya.


Walaupun Olivia sebenarnya masih ingin menonton pertunjukan sirkus itu, tapi Olivia tetap menyutujui ajakan dari johan, karena dia tidak mau membuat Johan kelaparan, hanya karena menunggunya.


Johan lalu membawa Olivia, ke sebuah restoran yang menyediakan menu makanan oriental, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat pertunjukan sirkus tadi.


Hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit Johan berkendara, mereka sudah di restoran itu.


Setelah melakukan pemesanan, akan apa yang mereka inginkan kepada pelayan restoran, sambil duduk menunggu pesanan mereka disajikan, Johan lalu berkata,


"Dengan membawamu ikut denganku, aku merasa seperti sedang membawa Dewi Fortuna, di perjalanan kerjaku kali ini."


"Pffftt...! Anda pasti bercanda," ujar Olivia, sambil tertawa tertahan.

__ADS_1


"Hmm ... Kamu mungkin tidak percaya. Tadinya aku sempat terpikir, kalau kita mungkin akan kelelahan, untuk menemui orang-orang di daerah xx.... 


...Tapi dengan adanya kamu, kita bisa menghemat banyak waktu, sampai aku masih bisa menikmati waktu bersantai denganmu....


... Perjalanan kerja kali ini, jadi terasa menyenangkan. Seperti hanya sedang berlibur saja, dengan adanya kamu bersamaku," kata Johan.


"Saya rasa, itu hanya kebetulan saja, Sir...." sahut Olivia, pelan.


Pelayan restoran yang menyajikan makanan mereka, membuat percakapan antara Olivia, dan Johan terhenti begitu saja.


Dan setelah mereka mulai memulai percakapannya lagi, sambil menikmati makan malamnya, pembahasan mereka berganti, pada perbincangan tentang bagaimana serunya, pertunjukan sirkus yang mereka tonton.


"Di panggung itu, aku benar-benar merasa malu. Karena aku rasa, mungkin aku adalah orang yang paling tua yang ada di situ," kata Johan.


"Jika bukan karena kamu yang memaksaku, aku tidak akan naik ke panggung itu," lanjut Johan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Menurut saya, anda tidak perlu merasa seperti itu ... Saya masih bisa mendengar bisik-bisik dari orang lain, yang duduk di dekat saya, yang mengagumi anda," sahut Olivia.


"Kamu pasti sedang mengejekku...." ujar Johan, tanpa mau melihat ke arah Olivia.


"Tidak, Sir! ... Saya berkata jujur. Anda memang masih terlihat mengagumkan," kata Olivia, meyakinkan Johan, agar bosnya itu tidak perlu merasa rendah diri.


Johan lalu mengangkat pandangannya, kemudian menatap Olivia lekat-lekat, sambil tersenyum tipis. 


"Okay ... Aku percaya saja. Walaupun kamu hanya sekedar mengatakannya," ujar Johan, pelan.


***


Ketika mereka kembali ke hotel, Olivia dan Johan tidak segera masuk ke kamar mereka masing-masing. 


Johan justru mengajak Olivia, untuk duduk-duduk di restoran hotel, dan membahas catatan untuk presentasi, sambil menikmati es krim.


Sebagian besar bahan presentasi, sudah dibuat oleh Johan, dan ketika Olivia memberikan sebagian kecil catatan tambahannya, Johan menyetujui hasil keseluruhannya.


"Kita sudah bisa istirahat sekarang. Besok pagi, kita akan bertemu lagi di lobi," kata Johan.


"Baik, Sir!" sahut Olivia.


***


Di dalam kamarnya, Olivia menonton ulang video Johan, yang tampak malu-malu, saat dia ikut di dalam pertunjukan sulap tadi.


Sambil senyum-senyum sendiri, Olivia jadi terpikir dan membayangkan, akan bagaimana reaksi Jonah, jika anak itu melihat rekaman video itu nantinya.


Tapi karena itu juga, Olivia jadi teringat dengan Jericho, hingga membuat senyuman dan rasa senang Olivia, segera menghilang begitu saja.


Jika Olivia ingin bertemu dengan Jonah, tentu dia harus berhadapan dengan Jericho.


Ditambah lagi, Laura mungkin masih tinggal di rumah Jericho, sekarang ini.


Kalau memang begitu keadaannya, maka Olivia akan mengurungkan niatnya, untuk bertemu Jonah, walaupun dia merindukan tingkah menggemaskan, dari anak itu.


"Maafkan aku, Jonah ... Kita mungkin akan kesulitan untuk bertemu lagi." 


Dengan perasaan sedih, Olivia berbicara sendiri, seolah-olah dia sedang mengatakan hal itu kepada Jonah.

__ADS_1


__ADS_2