
Kemarahan Angelo, kelihatannya kali ini akan sulit untuk diatasi.
Apalagi, Angelo menganggap kalau Jericho memakai anaknya, untuk mempengaruhi, ataupun memanipulasi penilaian Olivia kepada Jericho.
"Angelo! ... Apa perlu kamu berpikir sampai sejauh itu?" tanya Hansen yang sejak tadi hanya terdiam, lalu akhirnya membuka suaranya di situ.
"Of course! ... Apa kamu akan membiarkan Olivia, menjadi kekasih orang lain begitu saja?" ujar Angelo kepada Hansen.
"Tidak ... Tapi aku juga tidak akan memaksakan keinginanku, jika itu memang pilihannya," jawab Hansen.
"See! ... Aku pun tidak akan melepaskan Olivia begitu saja. Karena aku justru berencana, untuk menjadikan Olivia sebagai istriku, dan seorang mommy dari penerus Sullivan grup....
...Yang jadi masalahnya, aku sangat mengenal sifatnya—Olivia—yang terlalu baik, hingga dia mudah merasa iba kepada orang di sekitarnya....
... Kalau sampai rencanaku gagal, hanya karena Olivia tertipu olehnya—Jericho, dengan Sad Story-nya, hingga Olivia mengira kalau itu adalah cinta. Lalu bagaimana dengan Sullivan's?" kata Angelo.
"So, an eye for an eye! ... Itu adil, bukan?" lanjut Angelo, seolah-olah dia sedang menekankan, bahwa jika keinginannya tidak berhasil, maka Jericho juga harus melakukan pengorbanan yang sama.
"Jadi maksudmu, kalau aku bersaing secara fair untuk merebut hatinya, maka kamu tidak akan mengganggu siapa-siapa?" tanya Jericho.
"Oh, please! ... You? ... Fair? ... Don't make me laugh!" sahut Angelo, sambil tersenyum sinis, kepada Jericho.
"Kamu tidak percaya kepadaku?" tanya Jericho.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Sedangkan kamu sudah mulai mempengaruhinya dengan cerita sedihmu, hingga dia mulai bimbang untuk kembali kepadaku," kata Angelo.
"Kamu pikir aku tidak tahu caramu yang kotor? Aku bahkan bisa dengan yakin berkata, bahwa Olivia tidak akan jatuh cinta kepada Hansen. Sorry, Hansen! Tapi itu kenyataannya....
... But you, Jericho! ... Olivia pasti mulai mempertimbangkanmu, karena adanya anakmu itu. Benar begitu, bukan?" lanjut Angelo, lagi.
Seolah-olah Angelo memang mengetahui setiap detail dari cara berpikir Olivia, hingga dia bisa terlihat sangat yakin, saat mengatakan semua hal itu kepada Jericho.
Dan dengan semua perkataan dari Angelo itu, Jericho tampak seperti kehilangan rasa percaya dirinya, hingga Jericho hanya bisa terdiam.
Suasana di dalam ruangan itu kembali menjadi hening, karena untuk beberapa saat lamanya, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara di sana.
"Hansen! Terima kasih atas pelayanannya. Tapi kami harus pergi sekarang," kata Angelo, lalu tampak berjalan menghampiri Jericho.
"Jericho Andersen! ... I'm warning you! Stay away from her, from now on!" lanjut Angelo, sambil menepuk-nepuk salah satu sisi pundak Jericho.
Angelo kemudian berjalan kembali menghampiri Olivia, lalu sambil merangkul pinggang Olivia, Angelo kemudian berkata,
"Ayo kita pergi, honey! Maafkan aku, karena telah membuatmu lelah menunggu."
Olivia tidak berpamitan lagi kepada siapa-siapa, dan hanya melirik sebentar ke arah Jericho, kemudian ikut berjalan keluar bersama Angelo.
Hingga Olivia dan Angelo masuk ke dalam mobil Angelo, tidak ada dari Jericho maupun Hansen, yang terlihat mencoba untuk menyusul, ataupun menghentikan Angelo yang membawa Olivia.
***
Ketika mereka di dalam perjalanan menuju ke apartemen Olivia, Angelo kemudian terlihat memeriksa ponselnya untuk beberapa saat, hingga pandangan matanya tampak turun naik berulang kali, melihat ke jalanan lalu ke ponselnya berganti-gantian.
"Apa kamu mau berlibur sebentar dari pekerjaanmu?" tanya Angelo tiba-tiba, sambil menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya, setelah sedari tadi mereka berdua hanya terdiam di dalam mobilnya itu.
"Aku bisa mendapatkan cuti untukmu, dengan memintanya langsung kepada Sir Johan Andersen," lanjut Angelo.
"Tidak perlu ... Waktu itu, aku sudah meninggalkan pekerjaanku di kantor sampai dua hari lamanya....
__ADS_1
... Dan itu hanya membuat pekerjaanku akhirnya jadi menumpuk, ketika aku kembali bekerja," jawab Olivia, beralasan.
"Jika aku tidak menyelesaikan pekerjaanku malam ini, aku besok mungkin harus pergi ke kota xxx, untuk tiga hari ke depan, terhitung dengan waktu perjalanannya pulang pergi....
... Aku tadinya ingin mengajakmu untuk ikut dengan—" Kelihatannya masih ada yang ingin disampaikan oleh Angelo, namun dia menghentikan perkataannya secara tiba-tiba.
"... Hmm ... Maafkan aku Olivia, aku tahu kalau kamu sudah lelah. Tapi apa aku bisa meminta bantuanmu?" lanjut Angelo.
"Bantuan apa?" tanya Olivia.
"Aku harus menganalisa prospek dari dua perusahaan baru. Berkas proposalnya sudah dikirim lewat email, dan ada di laptopku sejak kemarin pagi. Apa kamu bisa membantuku untuk memeriksanya? Lalu berikan tanggapanmu....
... Agar aku bisa mempertimbangkan, apakah aku akan memberikan mereka—perusahaan yang mengajukan proposal—kesempatan untuk melakukan presentasi," kata Angelo.
"Aku tidak memiliki kapabilitas yang cukup, hingga layak untuk memberikan pendapatku dalam hal investasi," sahut Olivia.
"Come on! ... Aku tahu bagaimana kemampuanmu. Masa depan dua perusahaan baru itu, juga akan berada di tanganmu. Karena aku tidak akan sempat, untuk memeriksanya sendiri," kata Angelo.
"Geez! ... Kenapa kamu harus mengatakan hal itu?" ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pffftt...!" Angelo tertawa tertahan.
"I'm so sorry, honey! Tapi aku berjanji akan menebus rasa lelahmu, nanti," kata Angelo, dengan suara memelas.
"Fine! ... Aku akan mencobanya," sahut Olivia.
"Thank you, honey!" Angelo lalu tampak tersenyum lebar. "Kalau begitu kita ke hotel tempatku menginap, sekarang."
"Ugh? ... Apa katamu?" tanya Olivia, memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Tenang saja, honey! ... Kamu tahu aku, dan aku juga masih seperti dulu. Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, tanpa mendapatkan izin darimu....
... Kalau kamu memang masih merasa khawatir, kita bisa bekerja, sambil membiarkan pintu kamar hotelku itu tetap terbuka," lanjut Angelo, seolah-olah ingin meyakinkan Olivia.
"Hmm...." Olivia ragu-ragu.
"Honey! ... Hanya untuk mencium keningmu saja, aku masih meminta izin. Apa kamu lupa?" Lagi-lagi, Angelo tampak berusaha untuk meyakinkan Olivia.
"Fine! ... You promise?" ujar Olivia.
"Yes, I promise!" sahut Angelo, lalu kembali tersenyum lebar.
Tingkah laku Angelo, terlihat sangat tenang saat ini, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Angelo bahkan tidak menyinggung tentang Jericho, yang notabene bekerja satu kantor dengan Olivia, dan berstatus sebagai Atasan Olivia.
Seakan-akan Angelo memang benar-benar mempercayai Olivia, dan yakin kalau Jericho tidak akan bertindak bodoh, dengan tetap mendekati Olivia lagi.
Hingga mereka berdua akhirnya tiba di hotel, yang menjadi tempat tinggal sementara bagi Angelo.
Angelo menepati janjinya dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka, ketika Olivia masuk ke dalam kamar hotel itu bersamanya.
Sembari duduk di sofa, Olivia memangku laptop milik Angelo, lalu membuka data yang tersimpan di dalamnya.
Olivia membaca dan menganalisa proposal yang berisikan profil, latar belakang, tujuan dan berbagai keterangan akan kemampuan dari perusahaan, yang mengajukan proposal kerjasama bisnis, kepada Sullivan grup itu.
Begitu juga dengan Angelo, yang juga ikut duduk di dekat Olivia, terlihat sama sibuknya, memeriksa beberapa lembar berkas yang dipegangnya.
__ADS_1
Dari yang pada awalnya Olivia masih sesekali teralihkan perhatiannya, namun tidak berapa lama Olivia membaca tampilan di layar laptop, pada akhirnya, Olivia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan itu.
Setelah beberapa waktu berlalu, tiba-tiba saja, Angelo mengangkat laptop dari atas pangkuan Olivia, lalu meletakkannya ke atas meja.
"Apa aku bisa berbaring di atas pangkuanmu? Aku sangat lelah, kepalaku mulai terasa sakit," kata Angelo.
Kalau menilai dari wajahnya, Angelo memang terlihat agak pucat, seolah-olah saat ini dia benar-benar sedang merasa kelelahan.
"Iya," jawab Olivia.
Angelo kemudian tersenyum lebar, lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan Olivia.
Walaupun Angelo mengaku kalau dia kelelahan, namun sambil berbaring, dia masih saja membaca berkas di tangannya.
"Apa kamu memang lelah, atau hanya beralasan saja, agar bisa berbaring di pangkuanku?" tanya Olivia, ketus.
"Pffftt...! Aku lelah, honey! Tapi aku harus menyelesaikan ini semua, barulah aku bisa istirahat," jawab Angelo sambil tertawa.
Angelo kemudian meletakkan lembaran berkas ke atas dadanya, lalu sambil menatap Olivia lekat-lekat, Angelo kemudian berkata,
"Dengan begini, aku jadi ingat akan kenangan kita di masa lalu. Saat aku sedang lelah dengan tugas-tugas kuliahku, kamu biasanya membiarkan aku berbaring di pangkuanmu seperti ini, lalu mengusap kepalaku....
... Aku benar-benar merindukan masa-masa itu, setiap kali aku kelelahan bekerja. Aku selalu merindukan keberadaanmu di sampingku, di setiap waktu ... I love you so much, honey!"
"Angelo...! Itu hanya masa lalu. Sekarang ini, aku sudah tidak tahu lagi, apa yang aku rasakan saat bersamamu," sahut Olivia.
"Hmm ... Itu sebabnya, aku akan berusaha untuk bisa tetap berada di sisimu. Agar kamu bisa mencintaiku sepenuh hati, seperti di waktu itu," kata Angelo, tampak tetap tidak mau kalah.
"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar.
***
Angelo mengantar Olivia kembali ke apartemennya, setelah malam telah benar-benar larut, dan berjanji, kalau dia akan menjemput Olivia besok pagi, untuk mengantarkan Olivia pergi bekerja.
Olivia tidak mau berdebat dengan Angelo.
Sehingga Olivia tidak menanggapi perkataan Angelo, dan bergegas masuk ke dalam apartemennya, setelah saling mengucapkan salam perpisahan.
Di dalam kamarnya, walaupun sebenarnya Olivia merasa sangat lelah, namun dia masih terbayang-bayang akan raut wajah Jericho, saat berhadapan dengan Angelo tadi.
Perasaan campur aduk antara kasihan juga kesal, berkecamuk di dalam hati Olivia.
Walaupun Olivia merasa kasihan kepada Jericho, karena Angelo telah menghinanya habis-habisan, namun Olivia juga merasa kesal, karena Jericho yang tidak mau mendengarkan perkataan Olivia.
Olivia menganggap kalau Jericho terlalu ceroboh, hingga dia tidak memikirkan apa yang bisa Angelo lakukan, hingga akhirnya Jericho hanya dipermalukan oleh Angelo saja.
Menurut Olivia, seharusnya Jericho jangan masuk campur, sementara Olivia sedang berusaha meyakinkan Angelo, agar memberi kesempatan bagi Olivia untuk memikirkan semuanya baik-baik.
Tapi karena tingkah Jericho yang keras kepala, seolah-olah tahu segalanya, akhirnya hanya membuat rencana Olivia jadi kacau balau, dan Angelo justru jadi semakin lengket seperti permen karet kepada Olivia.
"Kenapa kalian semua terlalu percaya diri? Sedangkan aku sendiri masih belum tahu, apakah ada salah satu dari kalian yang ingin kujadikan kekasih....
... Kalian semua hanya membuatku kesal. Seharusnya kalian semua memberiku kesempatan untuk bernafas. Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang bisa bersikap dewasa?"
Olivia berbicara sendiri, sambil menatap langit-langit kamarnya, dan tiba-tiba saja, setelah dia selesai mengeluarkan unek-unek di dalam kepalanya, Olivia justru teringat akan Johan.
Oh, gosh!
__ADS_1