
Setelah merasa puas berada di perkebunan bunga matahari, Olivia dan Johan kembali ke hotel, untuk beristirahat sejenak dan membersihkan diri.
Olivia yang sudah selesai mandi, lalu berbaring di atas tempat tidur, sambil memperhatikan tampilan di layar ponsel miliknya, yang baru bisa diperiksanya kembali.
Untuk saat ini, Olivia sengaja hanya mengenakan jubah mandi, agar pakaian yang rencananya akan dia kenakan, untuk berjalan-jalan dengan Johan nanti, tidak menjadi kusut.
Di layar ponselnya, Olivia melihat beberapa pesan dari Hansen, Jericho dan Louis yang sudah ada di sana, sejak beberapa waktu yang lalu.
Selain itu, Olivia juga melihat-lihat isi percakapan dalam grup obrolan daring, yang beranggotakan rekan-rekan kerja Olivia.
Olivia berniat untuk membalas, satu persatu dari pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.
Tapi tidak dengan pesan dari Jericho, yang kemungkinan besarnya, Olivia lagi-lagi tidak tahu harus mengetikkan pesan balasan apa, untuk bosnya itu.
'My baby, aku ingin bertemu denganmu.'
'Apa kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu?'
'Apa aku harus menculikmu?'
Selain dari itu, masih ada beberapa pesan lagi dari Hansen, yang sebagiannya bertuliskan rasa kagumnya pada Olivia. Baik karena pekerjaan, maupun penampilan Olivia.
Pesan yang Hansen kirimkan kepada Olivia, bahkan ada yang bertuliskan, kalau Olivia masih tetap terlihat cantik di matanya. Walaupun Olivia sedang memakai helm, dan rompi khusus untuk kerja lapangan, saat mereka bertemu tadi.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Olivia senyum-senyum sendiri, saat membaca pesan-pesan dari Hansen itu, lalu mengetikkan pesan balasan untuk Hansen.
'Aku baru kembali ke hotel.'
'Bukannya kamu juga sibuk dengan pekerjaanmu?'
Pesan balasan dari Olivia itu, sudah langsung terkirim ke kontak Hansen, tapi kelihatannya, Hansen masih belum membacanya.
Olivia lalu memeriksa pesan dari Louis, yang berisikan tentang pertanyaan Louis, akan bagaimana kabar Olivia, berikut juga dengan keluhan dari Louis yang merasa lelah, karena tidak ada yang bisa membantu pekerjaan di kantor.
Dengan mengetikkan pesan balasan seperlunya, Olivia lalu mengirimkannya ke kontak Louis.
Olivia lanjut menggeser tampilan layar ponselnya, dan pemeriksaannya berlanjut ke pesan-pesan yang masuk dari Jericho.
Dan memang sesuai dengan dugaan Olivia, kalau dia hanya akan kebingungan, akan kata-kata apa yang bisa dia tuliskan, untuk membalas pesan dari Jericho itu.
Olivia tidak berminat untuk menanggapi pesan dari Jericho itu, dan melewatkannya begitu saja, walaupun dia sudah membacanya.
Baru saja Olivia akan ikut percakapan grup obrolan daring, dengan rekan-rekan kerjanya, ponsel Olivia tiba-tiba menerima panggilan telepon dari Hansen.
"Halo, Hansen!" sapa Olivia, setelah menerima panggilan masuk itu.
"Halo, my baby!" Hansen balas menyapa dari seberang telepon.
"Aku ingin bertemu denganmu, tapi aku tidak tahu kapan pekerjaanku ini bisa selesai," lanjut Hansen.
Selain dari suara Hansen yang berbicara padanya, Olivia masih bisa mendengar suara dari beberapa orang lain, yang mungkin saat ini sedang bersama dengan Hansen.
"Kamu masih bekerja?" tanya Olivia.
Dari seberang telepon, terdengar suara Hansen yang berbicara, tapi kedengarannya dia bukan sedang berbicara kepada Olivia.
Butuh waktu beberapa saat, barulah terdengar perkataan Hansen, yang kedengarannya memang ditujukannya kepada Olivia.
"Iya ... Aku masih bekerja," jawab Hansen.
"Lalu kenapa kamu meneleponku? Kamu bekerja saja dulu!" kata Olivia.
"Hmm ... Aku masih bisa bicara sebentar denganmu, sambil bekerja," sahut Hansen.
__ADS_1
"Apa ada yang mendesak, untuk kamu bicarakan denganku, hingga kamu tidak bisa menundanya?" tanya Olivia.
Lagi-lagi, Olivia bisa mendengar suara Hansen yang berbicara, namun perkataan Hansen itu, sedang ditujukannya kepada orang lain.
Olivia hampir tertawa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rasanya Olivia tidak bisa percaya akan tingkah Hansen sekarang ini, yang seolah-olah dia sedang memaksakan diri, agar tetap bisa berbicara dengan Olivia, sambil berbicara dengan orang lain, karena urusan pekerjaannya.
"Halo, my baby! ... Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Hansen.
"Hansen ...! Kenapa kamu memanggilku seperti itu? Bukannya ada orang lain bersamamu?" tanya Olivia.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak tahu, dengan siapa aku bicara," jawab Hansen, terdengar tanpa beban.
Untuk kesekian kalinya, Olivia kembali mendengar, kalau Hansen sedang bicara bersahut-sahutan dengan orang lain, di seberang.
Tampaknya, Hansen memang benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, dan dia hanya mencuri-curi kesempatan saja, agar tetap bisa menghubungi Olivia.
Dengan demikian, Olivia tidak mau bertahan lebih lama lagi di dalam sambungan telepon itu, dan hanya akan mengganggu pekerjaan Hansen saja.
"Hansen ...!" ujar Olivia, mencoba menarik perhatian Hansen untuk sejenak.
"Iya, my baby!" jawab Hansen.
"Ada yang harus aku kerjakan. Kita bicara nanti saja, ya?!" kata Olivia beralasan.
Untuk beberapa saat, Hansen hanya terdiam, sebelum akhirnya dia berbicara, dengan nada suaranya yang terdengar lesu.
"Hmm ... Okay! ... Tapi kalau kamu tidak sibuk, apa kamu bisa menghubungiku lagi?"
"Iya," jawab Olivia. "Bye, Hansen."
"Bye, my baby! ... See you soon!"
Setelah mendengar perkataan balasan dari Hansen, Olivia lalu segera memutuskan sambungan telepon itu.
Kelihatannya, Jericho baru saja menelepon Olivia, ketika Olivia sedang berada di dalam sambungan telepon dengan Hansen tadi.
Lama kelamaan, menurut Olivia, tingkah Jericho yang tidak jelas apa maunya, hanya membuat Olivia merasa semakin terganggu saja.
Jika saja Jericho bukan bosnya di kantor, Olivia pasti sudah memblokir nomor kontak Jericho sekarang ini, agar Jericho berhenti menghubunginya.
Olivia masih menatap layar ponselnya, ketika tiba-tiba saja Johan meneleponnya, dan Olivia segera menerima panggilan telepon itu.
"Halo, Sir!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" sapa Johan dari seberang. "Apa kita jadi pergi berjalan-jalan?"
"Iya, Sir! ... Tapi tunggu sebentar! Saya bersiap-siap dulu," kata Olivia, sambil beranjak turun dari atas tempat tidurnya.
"Okay! ... Aku akan menunggumu di lobi," kata Johan.
"Baik, Sir!" sahut Olivia. "Bye, Sir!"
"Bye, Olivia!" Johan lalu mengakhiri percakapannya dengan Olivia, di telepon itu.
***
Ketika Olivia tiba di lobi hotel, Johan tampak berdiri di sana, sambil tersenyum lebar, saat matanya beradu pandang dengan Olivia, yang berjalan menghampirinya.
Penampilan Johan kali ini sangat berbeda, dan Olivia benar-benar merasa kagum melihatnya.
Johan memakai kemeja putih polos lengan panjang, dengan lengannya yang digulung sedikit, hingga bisa memperlihatkan dengan jelas, arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Sedangkan untuk bawahannya, Johan mengenakan celana panjang jeans berwarna biru malam, dan sepatu sneakers berwarna putih.
Walaupun warna rambut Johan sudah terlihat bercampur antara hitam dan abu-abu, namun masih terlihat sangat lebat.
Dan seperti biasanya, rambut Johan pasti akan tertata rapi, tampak seolah-olah dia memakai gel khusus untuk menata rambutnya.
Garis halus di dahi dan sudut bibir Johan saat tersenyum, dan warna kebiruan bekas mencukur rambut wajahnya, yang terlihat di bagian rahangnya, justru membuatnya semakin terlihat maskulin dan dewasa.
Astaga!
Siapa yang akan mengira, kalau Johan sudah berusia di atas enam puluhan tahun, sekarang ini?
Olivia harus mengakui, kalau Johan memang masih sanggup, untuk meruntuhkan hati wanita yang melihatnya.
Apalagi, kalau para wanita itu sampai tahu, bagaimana kesuksesan Johan dalam berbisnis, maka para wanita pasti akan tergila-gila padanya.
"Benar-benar tampan."
Olivia yang memandangi Johan hingga tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak menyadarinya lagi, kalau dia telah mengutarakan, tentang apa yang sedang dia pikirkan tentang Johan.
"Ugh ...? Apa katamu?" tanya Johan, yang tampak terkejut mendengar perkataan Olivia, hingga senyuman Johan pun, tiba-tiba menghilang dari wajahnya.
"Ugh? ... Hai! ... Sir...?" Olivia kebingungan sendiri, hingga kata-kata yang disampaikannya kepada Johan, jadi tidak beraturan lagi.
Namun, seketika itu juga Olivia bisa kembali tersadar.
Dan walaupun Olivia masih merasa sangat malu, sambil menundukkan kepalanya, Olivia lalu mengulang sapaannya kepada Johan, dengan berkata,
"Hai, Sir!"
"Hai, Olivia! ... Kamu tidak perlu menundukkan kepalamu," kata Johan, pelan.
Olivia lalu mengangkat kepalanya lagi, dan bertatap-tatapan dengan Johan.
"Pffftt...!" Johan lalu tertawa, sambil meletakkan sebelah tangannya yang terkepal, di depan mulutnya.
Olivia tahu kalau Johan sedang menertawakannya, dan Olivia benar-benar merasa malu karenanya, hingga wajahnya tiba-tiba terasa panas.
"Maafkan aku," kata Johan, sambil tersenyum.
"Ayo kita pergi!" kata Johan, yang terdengar terburu-buru mengajak Olivia, seolah-olah dia juga ingin segera mengalihkan pikiran Olivia, agar Olivia tidak perlu merasa malu lagi.
Olivia kemudian ikut berjalan bersama-sama dengan Johan, menuju ke mobil Johan yang terparkir di luar gedung hotel.
Kali ini, tampaknya Johan akan mengemudikan mobilnya sendiri, karena Johan membukakan pintu mobil di bagian depan untuk Olivia, dan supir pribadinya tidak terlihat di sana.
"Anda akan mengemudi sendiri?" tanya Olivia, ketika dirinya sudah duduk di dalam mobil, dan Johan juga sudah ikut masuk ke dalam mobil, lalu duduk di belakang kemudi.
"Iya," jawab Johan, sambil melihat ke arah Olivia sebentar.
Johan lalu menyalakan mesin mobilnya, dan mulai mengemudi, mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
"Supirku pasti sudah kelelahan. Jadi aku membiarkannya, untuk beristirahat saja dulu," kata Johan, ketika mobilnya sudah mulai melaju di jalanan.
"Kita akan pergi kemana, Sir?" tanya Olivia.
"Hmm ... Ada kelompok sirkus, yang mengadakan pertunjukan di dekat sini. Apa kamu mau melihatnya?" ujar Johan.
"Iya, Sir ... Saya juga sudah lama tidak pernah menonton pertunjukan sirkus," jawab Olivia.
Untuk beberapa saat kemudian, baik Olivia maupun Johan, sama-sama hanya terdiam, sampai akhirnya Johan tiba-tiba berkata,
"Olivia! ... Apa kamu tidak merasa terpaksa saja, untuk ikut jalan-jalan denganku?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Sir ... Kapan lagi saya bisa bekerja, dan masih bisa sambil berjalan-jalan," sahut Olivia, bercanda.
"That's great!" ujar Johan.