
"Kamu pasti bercanda!" ujar Olivia, ketus.
"Pffftt...! Iya ... Aku memang hanya bercanda," sahut Angelo, sambil tertawa. "Oh, gosh! ... Aku benar-benar merindukanmu."
"Angelo! ... Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Apa kamu tidak mau mengerti akan hal itu?" ujar Olivia.
"Honey! ... Mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan matamu. Kamu hanya bingung, karena kita terlalu lama berpisah. Lebih dari enam tahun. Tentunya bukanlah waktu yang sebentar. Benar, tidak?
... Jika kita bisa menghabiskan waktu seperti dulu. Kamu pasti akan tersadar kalau kamu masih mencintaiku," ujar Angelo, dengan tatapan matanya yang sayu.
Tidak seperti saat mereka bertengkar kemarin sore, saat ini, cara Angelo bersikap dan berbicara, sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat Olivia masih menjadi kekasihnya.
"Aku tahu kalau kamu pasti lelah, karena kamu baru saja pulang bekerja. Tapi aku ingin bersamamu malam ini," kata Angelo, lagi.
"Apartemenku sangat sempit. Kamu tidak bisa ikut masuk," sahut Olivia, beralasan.
"Hmm ... I knew it! ... Tapi apa mungkin, kalau kamu akan mengizinkanku masuk ke kamarmu kali ini?" ujar Angelo, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh, please! ... That's not gonna happen!" sahut Olivia.
"Pffftt...! Okay, okay!" ujar Angelo, sambil tertawa.
"Honey! Aku ingin kita bisa berbicara, tanpa perlu bersitegang. Jadi, aku ingin agar kamu ikut jalan-jalan denganku sekarang. Aku tidak akan membuatmu terlalu lelah. I promise!" lanjut Angelo.
Olivia terdiam untuk sesaat, sambil berpikir.
"Okay! ... Aku mengganti pakaianku, dulu," sahut Olivia.
"That's great! ... Aku akan menunggumu di sini," kata Angelo, lalu bergeser sedikit, agar Olivia bisa masuk ke dalam gedung apartemennya.
Segera setelah Olivia masuk ke dalam kamarnya, Olivia lalu mandi dan berganti pakaiannya.
Dengan memakai pakaian senyaman dan sesantai mungkin, Olivia menemui Angelo, yang terlihat masih menunggunya di luar gedung apartemen.
Tanpa berlama-lama lagi, Angelo lalu membawa Olivia pergi dengan mobilnya.
"Tadinya aku akan menjemputmu di kantormu. Tapi aku membatalkannya, karena aku tidak mau membuat suasana hatimu jadi buruk, seperti kemarin," celetuk Angelo.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Olivia.
"Aku sebenarnya ingin mengajakmu menonton film, di bioskop. Tapi aku menemukan tempat yang lebih menarik," jawab Angelo.
"Don't worry! ... Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini," lanjut Angelo buru-buru.
Tiba-tiba, di dalam perjalanan mereka, Angelo lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, lalu mengajak Olivia untuk masuk ke dalam tempat itu.
"Inikah tempat yang menurutmu menarik?" tanya Olivia, sambil menahan dirinya agar tidak tertawa.
Angelo lalu melirik Olivia dengan ujung matanya, sambil menahan senyum.
Keranjang yang dipegang oleh Angelo, kemudian mulai diisinya dengan makanan ringan, dan beberapa botol minuman.
"You still like Pringles?" tanya Angelo.
"Iya ... Aku juga mau yang itu!" Olivia menunjuk ke arah alat pendingin, yang berisikan es krim.
Tanpa perlu Olivia memberitahu rasa es krim yang dia inginkan, seolah-olah Angelo masih mengingat kesukaan Olivia dengan baik, Angelo terlihat mengambil beberapa cup es krim rasa cokelat.
"Kamu tahu? Sebenarnya, aku tidak suka rasa cokelat," kata Angelo, ketika mereka menunggu belanjaannya dihitung di depan meja kasir.
"Ugh? ... Lalu kenapa kamu selalu memilih rasa itu?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Itu karena kamu ... Kamu menyukainya, maka aku ikut menyukainya," jawab Angelo.
Olivia terdiam.
"Ayo kita pergi!"
Ajakan dari Angelo, mengejutkan Olivia dari lamunannya, dan menyadari, kalau Angelo sudah selesai membayar belanjaan mereka itu.
Setelah lanjut berkendara untuk beberapa waktu, ternyata, Drive-in Cinema lah yang menjadi tujuan Angelo, dengan membawa Olivia.
Angelo kemudian memarkirkan mobilnya di bagian tengah dari bioskop di lapangan terbuka, yang bisa ditonton, sambil duduk di dalam mobil masing-masing pengunjung.
"Kalau begini, kita bisa menonton, dan masih bisa berbincang-bincang," kata Angelo, sambil tersenyum lebar.
"Biarkan aku membuat tempat dudukmu jadi lebih nyaman," lanjut Angelo.
Angelo kemudian mendekat ke arah Olivia, lalu memencet tombol pengaturan jok, agar kursi mobil itu bisa bergerak mundur, dan sandarannya bisa jadi sedikit rebah.
Dalam posisi dan jarak sedekat itu, hingga Angelo hampir tersandar di badan Olivia, Angelo tampak menatap Olivia lekat-lekat.
"Can I kiss you?" tanya Angelo, tiba-tiba.
Olivia menggelengkan kepalanya.
"Honey, please! ... I'll just kiss you on the forehead!" Suara Angelo terdengar memelas, agar Olivia mengizinkannya, untuk mencium kening Olivia.
Angelo juga tampak tidak mau bergeser, dan tetap bertahan di dekat Olivia, seolah-olah dia akan tetap menunggu, sampai diberi izin oleh Olivia.
"Fine! ... Just on the forehead, okay?!" jawab Olivia.
"Okay!" Angelo segera mencium dahi Olivia, lalu tersenyum lebar.
"Are you happy now?" tanya Olivia, ketus.
Setelah dia kembali duduk di kursinya, Angelo kemudian membuka bungkusan Pringles, lalu menyodorkan tabung berisi keripik kentang itu, kepada Olivia.
"Aku dengar kalau kamu melabrak dekan. Apa yang kamu pikirkan, sampai kamu menemuinya dan melakukan hal itu?" ujar Olivia.
"Hmm ... Awalnya aku tidak berniat untuk bertengkar dengannya. Aku hanya ingin mencari informasi tentangmu, karena kamu tidak ada di kota xx—kota asal Olivia—saat aku mencarimu di sana," jawab Angelo.
"Tapi dekan malah berkata, kalau aku hanya sedang berhalusinasi, jika aku berharap bahwa kamu akan kembali menjadi kekasihku, setelah kita berpisah bertahun-tahun lamanya....
...Karena itu, aku jadi kehilangan kesabaranku, lalu mengobrak-abrik ruang kerjanya. Dan aku bahkan hampir memukulnya waktu itu....
... Selain dari itu, aku juga mengancamnya, agar dia tidak masuk campur. Apalagi jika dia sampai berani menghasutmu, agar terus menerus bersembunyi dariku," lanjut Angelo, seolah-olah tanpa beban.
"Apa kamu dengar apa yang kamu katakan?Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir, kalau dekan akan masuk campur dalam urusan pribadimu. Itu tidak masuk di akal....
... Aku sendiri yang tidak mau bertemu denganmu. Tidak ada urusannya dengan orang lain. Apalagi hasutan? ... Kamu terlalu berprasangka buruk," sahut Olivia.
Kaleng berbentuk tabung berisi keripik kentang yang dipegangnya, kemudian diletakkan Olivia ke atas dashboard, lalu meminum sedikit minumannya, agar dia bisa merasa sedikit lebih tenang, untuk lanjut berbicara dengan Angelo.
"Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu masih saja mencariku? Sementara kamu pasti bisa mendapatkan, wanita mana saja yang kamu mau."
Olivia berbicara, sambil menatap lurus ke depan, melihat layar lebar yang menampilkan film yang sedang ditayangkan.
"Hmm ... Benar katamu!" sahut Angelo, seolah-olah dia memang setuju dengan perkataan Olivia, hingga Olivia melihat ke arahnya.
"Tapi ... Wanita-wanita itu bukan kamu." Angelo berbicara sambil menatap Olivia lekat-lekat. "Tidak ada satupun wanita, yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku."
"Geez! ... Kalau kamu belum mencobanya, bagaimana kamu bisa tahu?" ujar Olivia.
__ADS_1
"Honey! ... Aku sudah mencobanya," kata Angelo.
"Karena rasa frustrasiku, yang tidak bisa berkomunikasi denganmu, aku berusaha melupakanmu, dengan berganti-ganti pasangan kencan....
... Tapi aku tetap tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku rasa aku akan menjadi gila, karena aku tidak bisa segera kembali ke negara ini, untuk mencari dan menemuimu lagi," lanjut Angelo.
"Lalu apa yang menahanmu, hingga kamu tidak bisa kembali ke sini sebelum-sebelumnya?" tanya Olivia.
"Olivia! ... Honey! Apa kamu ingin agar aku menjadi imigran gelap? Keluargaku memblokir semua jalanku, agar aku tidak bisa ke luar negeri," sahut Angelo.
Yang Olivia tahu, Sullivan Grup—bisnis keluarga Angelo—memiliki satu maskapai penerbangan internasional.
Ditambah lagi dengan investasi yang dilakukan oleh Sullivan grup, di beberapa perusahaan multinasional, selama puluhan tahun belakangan ini, maka tidak tertutup kemungkinan, jika dengan memanfaatkan pengaruh dari Sullivan grup, hingga keluarga Angelo itu, bisa membuat Angelo terkurung di satu negara.
"Lalu, bagaimana kamu bisa berada di sini, sekarang?" tanya Olivia.
Angelo menatap Olivia lekat-lekat, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu masih tidak percaya padaku? ... Fine! Akan aku jelaskan kepadamu," kata Angelo.
"Setelah pertunanganku dibatalkan untuk ke sekian kalinya, daddy-ku akhirnya menyerah. Dia mengizinkanku, untuk melakukan apa yang aku inginkan ... Kamu mau tahu alasannya?" lanjut Angelo.
Olivia menganggukkan kepalanya.
"My beloved father, wants a grandchild ... Itu jadi kesempatanku, agar aku bisa menekannya," kata Angelo.
"Aku memberitahu daddy, kalau jangan mengharapkan cucu dariku. Karena aku justru akan membuat rencananya, untuk menikahkanku dengan wanita pilihannya, agar terus menerus dibatalkan....
... Aku bersikeras, kalau aku tidak akan menikah, kecuali dengan wanita pilihanku sendiri.... Dan dia akhirnya setuju."
Sambil dia berbicara, Angelo tampak tersenyum lebar, seolah-olah dia merasa puas, dengan apa yang telah dia lakukan.
"Jadi karena itu, sampai kamu kembali mencariku? Tapi yang jadi masalahnya, apa kamu tidak pernah memikirkan? Bagaimana jika aku tidak mau menikah denganmu?" tanya Olivia, sinis.
"Pffftt...! Kamu pasti akan mau menikah denganku, karena kamu pernah mencintaiku. Sampai sekarang pun, aku yakin kalau kamu masih mencintaiku. Aku hanya perlu membantu, agar kamu menyadarinya saja," kata Angelo.
"Kelihatannya kamu terlalu percaya diri," sahut Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin ada orang yang bisa lebih mengetahui diriku, akan apa yang aku rasakan, selain diriku sendiri," lanjut Olivia.
"Hmm ... Aku anggap kalau sekarang ini, pasti ada laki-laki lain, yang sedang berusaha untuk mendekatimu. Benar begitu, bukan?" ujar Angelo.
Seketika itu juga, Olivia merasa cukup panik, namun dia tetap berusaha agar bisa tetap terlihat tenang.
Sambil menatap Olivia lekat-lekat, Angelo kemudian mengambil salah satu tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat, lalu berkata,
"Honey! ... You see! ... Seperti kutub Utara dan kutub Selatan dari magnet, yang saling tarik-menarik. Pada akhirnya, kita tetap bisa bertemu. So, what do you think?"
"Angelo...! Please! Jangan bicara omong kosong. Kita bisa bertemu lagi, itu benar-benar hanyalah sebuah kebetulan."
Olivia berusaha sebisanya, untuk berbicara dengan nada suaranya yang datar, agar bisa meyakinkan Angelo, tanpa perlu memicu pertengkaran.
"Apa kamu tidak bisa membiarkanku, untuk menentukan pilihanku sendiri? Bagaimana jika aku memang bukanlah untukmu?
... Bagaimana jika aku telah jatuh cinta kepada orang lain? Apa kamu tetap akan memaksa, dengan menggunakan semua ancaman, yang kamu katakan kepadaku?" lanjut Olivia lagi.
Angelo tampak menghela nafas panjang, seolah-olah dia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Jangan membohongi dirimu sendiri! Tidak mungkin kamu bisa jatuh cinta kepada orang lain dengan mudahnya....
...Tapi aku tahu, kalau kamu bisa dengan mudahnya merasa iba. Apalagi jika orang yang mendekatimu itu sampai memelas, dengan mengajukan berbagai macam alasan, agar kamu memperhatikannya....
__ADS_1
... Itu yang aku khawatirkan. Aku tidak mau kamu dibutakan dengan rasa kasihan, lalu kamu mengira bahwa itu adalah cinta," ujar Angelo, tampak tetap bersikukuh.
Olivia terdiam, sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Angelo.