Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 72


__ADS_3

Kelihatannya, rencana Olivia untuk membuat Angelo mau memahami situasi yang dihadapi oleh Olivia, masih belum ada sedikitpun tanda-tanda akan berhasil.


Justru karena perkataan demi perkataan dari Angelo, hanya membuat Olivia menjadi bimbang, dan mau tidak mau, dia harus memikirkan ulang semuanya.


Bukan tanpa alasan, hingga Olivia menjadi bimbang. 


Sebagian besar yang dikatakan oleh Angelo, rasanya memang ada benarnya, menurut Olivia.


Itu sebabnya, hingga Olivia harus memastikan akan apa yang dia rasakan sebenarnya kepada Angelo, maupun Johan dan Jericho.


"Ini!" Angelo yang menyodorkan satu mangkuk es krim yang sudah terbuka, mengejutkan Olivia, hingga tersadar dari lamunannya, yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Siapa orang itu?" tanya Angelo, saat Olivia menerima mangkuk es krim yang diberikannya.


"Ugh? ... Apa maksudmu?" Olivia balik bertanya.


"Siapa laki-laki yang sedang mencoba untuk mendekati, dan mencari perhatianmu?" Angelo menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.


"Tidak ada," jawab Olivia, berbohong.


"Pffftt...!" Angelo tertawa tertahan.


"Honey! ... Aku anggap kalau rasa takutmu untuk mengakuinya, berarti laki-laki itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku," kata Angelo.


"Aku jamin kalau bukanlah kemampuannya yang dia perlihatkan kepadamu, untuk menarik perhatianmu, melainkan sisi menyedihkannya....


...Cerita sedih apa yang diberikannya kepadamu? 'Aku sedang sakit keras, dan tidak lama lagi aku akan mati'. Atau, 'Aku dikhianati kekasihku berulang kali'. Atau mungkin, 'Aku tidak bisa hidup tanpamu, karena hanya kamu yang bisa mengerti aku'....


... Seorang pecundang, hingga kamu yang harus melindunginya," lanjut Angelo.


"Angelo!" kata Olivia, dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"I got you!" ujar Angelo, buru-buru. "Jangan marah, honey! ... Berarti memang benar dugaanku, bukan?" 


Angelo tampak seolah-olah dia merasa bangga, karena dia bisa membuat Olivia mengaku, bahwa ada laki-laki lain yang sedang mendekati Olivia, walaupun Olivia tidak mengatakan kepada Angelo secara gamblang.


"Lalu apa yang kamu mau? Aku tidak memiliki hubungan, yang membuatku terikat dengan siapa-siapa. Apakah salah jika aku didekati oleh laki-laki lain?" tanya Olivia, yang tidak bisa mengelak lagi.


"Tidak ada salahnya ... Tapi aku justru jadi penasaran. Laki-laki seperti apa yang mendekatimu. Jika aku sampai tahu, kalau dia memanfaatkan sisi hatimu yang lembut itu, demi mendapatkanmu...,


... Hmph! ... Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kepadanya."


Angelo berbicara dengan nada suara yang datar, namun masih tetap bisa terdengar, bagaimana geramnya Angelo, dari suaranya itu.


Begitu pula dengan raut wajah Angelo yang tersenyum, tapi menyimpan ketidaksukaannya.


"Jangan bertindak bodoh! ... Kalau kamu sampai melakukan sesuatu, apalagi sampai menyakiti seseorang, aku tidak akan pernah memaafkanmu," sahut Olivia, tegas.


"Okay, honey...! Aku tidak akan mengecewakanmu." Nada suara Angelo terdengar, seolah-olah dia seperti anak kecil yang sedang bermanja.


"Kamu pikir, kamu lucu?!" ujar Olivia, sinis.


"Pffftt...!" Angelo tertawa tertahan, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Oh, gosh! ... Bagaimana caranya, agar aku bisa terlepas dari jeratan pesonamu?!" ujar Angelo, lalu tersenyum lebar.


"Yeah right!" sahut Olivia, asal-asalan.


***


Merasa bosan karena tidak mengikuti alur film yang ditayangkan di sana, Angelo kemudian membawa Olivia pergi dari Drive-in Cinema itu.

__ADS_1


Sebuah toko mode yang menyediakan barang bermerek dari perancang mode ternama, menjadi tempat persinggahan, yang menjadi tujuan dari Angelo selanjutnya.


Walaupun Olivia menolak, dan berkata kalau dia bisa kembali ke apartemennya untuk berganti pakaian, namun Angelo tidak mau mendengarkannya.  


Angelo bahkan membantu Olivia untuk memilih, lalu membelikannya gaun yang mewah, yang menurut Angelo cocok untuk dipakai Olivia, lengkap dengan sepatu yang sesuai dengan gaunnya.


Padahal Olivia sama sekali merasa tidak senang, saat pergi berbelanja bersama Angelo, sejak mereka masih berpacaran dulu.


Bukan hanya karena Olivia yang tidak terlalu suka dengan pemberian secara cuma-cuma, tapi juga karena situasi di tempat berbelanja, yang biasanya hanya membuat Olivia menjadi sebal.


Dan saat ini, Olivia bisa merasakan kembali momen tidak menyenangkannya, ketika bisa mendengar bisik-bisik dari pegawai toko, yang seolah-olah sedang melecehkan Olivia. 


Rata-rata, jika pegawai tokonya adalah wanita, mereka pasti akan membanding-bandingkan, antara Olivia dengan Angelo. 


Para pegawai toko itu, seolah-olah menganggap Olivia hanyalah seperti seorang 'Gold Digger', dan tidak cukup cantik untuk menjadi kekasih Angelo, yang tampan dan ber-uang.


"What's wrong, honey?" Angelo tampaknya menyadari ketidaksenangan Olivia, hingga dia segera menghampiri Olivia.


"Tidak ada apa-apa," sahut Olivia.


"Apa kamu masih tidak setuju, jika aku membelikanmu sesuatu?" tanya Angelo.


"Iya," jawab Olivia, sambil tersenyum terpaksa.


Entah apa maksud dari Angelo, hingga dia tiba-tiba membuat Olivia berbalik, kemudian, sambil tetap berdiri di belakang Olivia yang menghadap ke sebuah cermin berukuran besar, Angelo lalu berkata,


"You look gorgeous! ... Tidak ada wanita lain, yang bisa secantik dirimu. Biarkan saja jika ada yang merasa iri kepadamu. Karena aku hanya akan mencintaimu, honey!" 


Angelo kemudian mengecup mercu kepala Olivia, lalu dengan tetap berdiri di belakangnya, Angelo memeluk Olivia dengan erat.


Melihat dari gerak-gerik Angelo, saat menyampaikan pernyataannya itu, akhirnya bisa Olivia menyadari, kalau Angelo tampaknya memang sengaja melakukannya, agar para pegawai wanita di situ tidak menggangu Olivia lagi.


Di dalam hatinya, Olivia tersenyum puas, walaupun di raut wajahnya, masih terlihat biasa saja.


***


"Kita akan makan malam di mana?" tanya Olivia, ketika Angelo kembali membawanya berkendara dengan mobilnya.


"Aku mendapatkan referensi sebuah restoran, dari pegawai di hotel tempat aku menginap. Kita akan pergi ke sana, karena aku sudah tahu alamatnya," jawab Angelo.


Setelah berkendara untuk beberapa waktu lamanya, Angelo kemudian memelankan laju mobilnya, dan berbelok ke salah satu restoran yang sangat familiar bagi Olivia.


"Apa kamu ingin makan malam di tempat ini?" tanya Olivia, sambil berusaha menutup-nutupi rasa paniknya.


"Iya ... Aku sudah membuat reservasi di restoran ini. Karena kalau sampai di sarankan oleh manajemen hotel, berarti tempat ini layak untuk kita datangi," jawab Angelo.


Jantung Olivia rasanya akan terlepas dari dadanya, karena restoran yang jadi tujuan Angelo, ternyata adalah restoran milik Hansen.


Walaupun merasa cukup cemas, namun Olivia berusaha menenangkan dirinya, dengan berkata berulang kali di dalam hatinya, bahwa Hansen pasti sedang sibuk, dan belum tentu di saat ini, Hansen bisa berada di restoran itu.


Setelah memarkirkan mobilnya, Angelo kemudian membawa Olivia, untuk masuk ke dalam restoran milik Hansen itu, bersamanya.


Namun harapan Olivia, agar dia tidak bertemu dengan Hansen di restoran itu, di saat Angelo sedang bersamanya, hanyalah menjadi harapan kosong.


Karena, pada saat pelayan restoran selesai menuangkan wine, ke dalam gelas Olivia dan Angelo, lalu beranjak pergi dari meja yang dipakai oleh mereka berdua, Hansen terlihat berjalan menghampiri meja Olivia dan Angelo itu.


Kali ini, kelihatannya, Olivia mungkin memang akan terkena serangan jantung, saking tidak beraturannya irama degupan jantung di dadanya.


"Hai, Sir Angelo Sullivan! ... Miss Olivia Lane!" sapa Hansen. "Suatu kehormatan, ketika restoranku yang sederhana ini, bisa dikunjungi oleh kalian berdua."


"Hmm...." Angelo tidak segera membalas sapaan Hansen, dan seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu. 

__ADS_1


"Hansen Nolan," kata Hansen, memperkenalkan dirinya sendiri, sambil mengulurkan sebelah tangannya, untuk berjabat tangan dengan Angelo.


"Ooh! ... Maafkan aku." Angelo buru-buru menyambut tangan Hansen. "Aku hampir tidak mengingatmu lagi. Ternyata kamu pemilik dari restoran ini."


"Kamu dan Olivia sudah saling mengenal?" tanya Angelo, tampak menautkan kedua alisnya.


"Iya ... Olivia bekerja di perusahaan Jericho. Dia bahkan pernah menjadi asisten sementara bagi Sir johan. Karena itu, hingga kami bisa saling mengenal," jawab Hansen.


Saat ini, Hansen terlihat biasa saja, seolah-olah dia tidak tahu apa-apa tentang hubungan antara Angelo dan Olivia, atau dia mungkin sudah tahu, dan hanya berpura-pura saja, Olivia sama sekali tidak bisa menduga-duga.


"So, special occasion?" lanjut Hansen, sambil melihat ke arah Olivia dan Angelo bergantian.


"Iya ... Kurang lebih seperti itu," jawab Angelo.


Sembari menatap Olivia lekat-lekat, Hansen kelihatannya ingin berkata sesuatu yang lain. 


Namun pelayan restoran yang mengantarkan makanan pembuka ke meja Olivia dan Angelo, membuat Hansen tampak menahan diri, dan hanya berkata,


"Aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama ... Silahkan dinikmati makanannya. Aku harap, pelayanan di restoranku bisa memuaskan ... Aku pergi dulu!" 


Tanpa menunggu tanggapan dari Olivia dan Angelo, saat itu juga Hansen lalu beranjak pergi dari sana.


Setelah Hansen tidak terjangkau oleh pandangan Olivia lagi, barulah Olivia bisa bernafas lega.


Di saat ini, sejujurnya Olivia tidak merasa terlalu khawatir, kalau Hansen mungkin akan kecewa, karena Olivia yang sedang bersama dengan laki-laki lain.


Olivia justru lebih mengkhawatirkan, jika Angelo sampai tahu, bahwa Hansen adalah salah satu laki-laki yang mendekati Olivia. 


Olivia tidak mau mengambil resiko, kalau-kalau Angelo merasa terusik karena Hansen, lalu melakukan sesuatu yang bisa membuat Hansen terluka.


"Honey...! Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Angelo.


"Ugh? ... Nothing!" jawab Olivia, kembali ke kesadarannya lagi.


"Bagaimana menurutmu? Apa tempat ini cukup nyaman untukmu?" tanya Angelo, lalu mencoba sedikit makanan pembukanya.


"Iya," jawab Olivia. "Tempat ini memang terlihat bagus, hingga ramai dengan pelanggan."


Angelo kemudian mengambil salah satu tangan Olivia yang ada di atas meja, menggenggamnya, sambil sedikit mengelusnya, lalu berkata,


"Hmm ... Apa kamu masih tidak nyaman, jika orang-orang memperhatikanmu saat sedang bersamaku?" 


"Sedikit ... Tapi tidak apa-apa. Kamu tidak perlu memikirkannya," jawab Olivia, lagi, lalu segera menikmati makanannya.


***


Menu makanan utama, yang disajikan oleh pelayan restoran milik Hansen itu, belum sempat dihabiskan oleh Olivia dan Angelo, ketika Olivia bisa melihat Jericho, yang tiba-tiba saja berjalan masuk ke dalam tempat itu.


Dari raut wajahnya, Jericho tampak gusar, dan sambil dia terus berjalan, tampaknya Jericho akan menghampiri meja, di mana Olivia dan Angelo berada. 


Olivia berusaha untuk menghentikan Jericho, dengan menggelengkan kepalanya sedikit, saat dia beradu pandang dengan laki-laki itu.


Olivia lalu membuat gerakan dengan mulutnya, membentuk kata-kata, 'Don't you do it ... Please!', tanpa mengeluarkan suaranya.


Tapi Jericho tampaknya masih ingin terus menghampiri Olivia dan Angelo, hingga Olivia mengulang gerakannya lagi.


Olivia menautkan kedua alisnya, menggelengkan kepalanya, lalu berkata 'Please, don't!', hanya dengan gerakan mulutnya saja. 


Dalam hati, Olivia benar-benar memelas, agar Jericho jangan memicu pertengkaran dengan Angelo, yang menurut Olivia, jika kedua laki-laki itu sampai bertengkar, maka hasil dari pertengkaran mereka, hanya akan sangat merugikan bagi Jericho.


Dan kelihatannya, setelah Olivia melarangnya untuk yang kedua kalinya, Jericho mau saja mengerti, hingga dia terlihat berhenti berjalan begitu saja.

__ADS_1


Jericho kemudian terlihat hanya terdiam terpaku di tempatnya berdiri, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Ada apa, honey?" tanya Angelo, tiba-tiba.


__ADS_2