Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 61


__ADS_3

Tanpa berlama-lama lagi, supir pribadi Johan, segera membawa Johan dan Olivia, pergi dari pelataran parkir kantor cabang Andersen's Construction itu.


Selain dari suara nafas mereka, di dalam mobil itu tidak terdengar suara apa-apa lagi, karena Johan yang juga hanya terdiam, setelah melontarkan pertanyaannya tadi.


Dan menurut penilaian Olivia, Johan sekarang ini tampaknya sedang gusar, dengan sesuatu yang membuat Johan merasa terganggu.


Walaupun mereka memang baru beberapa kali bertemu, tapi rasanya, Olivia tidak pernah melihat Johan yang tampak seperti itu sebelumnya.


Karena Johan yang biasanya selalu terlihat tenang, sehingga gerak-gerik Johan kali ini, bisa terasa aneh bagi Olivia. 


Apalagi saat Olivia melihat Johan, yang tampak mengerumukkan kedua tangannya yang terkepal, sambil Johan memandang ke luar jendela di sampingnya.


Seolah-olah Johan sedang merasa kecewa kepada Olivia, hingga dia tidak mau melihat ke arah Olivia, di sepanjang perjalanan mereka itu.


Olivia yang terlalu terfokus pada gerak-gerik Johan yang tidak biasa itu, sambil memikirkan akan apa yang membuat Johan menjadi gusar, sampai-sampai Olivia melupakan, kalau Johan tadi sempat bertanya kepadanya, dan Olivia juga belum menjawab pertanyaan dari Johan itu.


Sampai mereka tiba di rumah lama Olivia, yang ternyata menjadi tempat tujuan dari Johan, baik Olivia maupun Johan, masih tetap saling berdiam diri.


Di bagian depan rumah lama Olivia, terlihat seseorang yang berada di sana, yang tampaknya, orang itu memang sudah menunggu kedatangan Johan dan Olivia.


Dan menurut dugaan Olivia, kemungkinan besar, orang itu adalah realtor, yang mengurus jual beli rumah lama Olivia itu.


Memang benar dugaan Olivia, karena orang itu kemudian menyambut mereka, dengan membuka pintu rumah lama Olivia, dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam sana.


Mengingat Johan yang selalu tepat waktu, sehingga Olivia jadi terpikir, bahwa yang menjadi kemungkinan besarnya, hingga Johan bisa menjadi gusar, adalah karena janji temunya yang terlambat.


Sehingga Olivia tidak lagi merasa heran, walaupun menurut Olivia, seandainya Johan mengatakan hal itu padanya, maka Olivia tidak perlu kebingungan melihat sikap Johan tadi.


Sembari Johan berbincang-bincang dengan agen real estate itu, Olivia berkeliling sendirian di dalam rumah.


Olivia melihat-lihat di dalam sana, jika saja masih ada tanda-tanda saat Olivia tinggal di rumah itu, bersama mendiang kedua orang tuanya dulu.


Akan tetapi, jejak-jejak Olivia dan kedua orang tuanya, tampak sudah menghilang dari tempat itu, yang telah mengalami banyak perubahan.


Baik penataan perabotan, hingga beberapa bentuk di bagian dalam rumah itu, yang kelihatannya telah melalui proses renovasi, membuat rumah itu terlihat jauh berbeda, dari yang ada di dalam ingatan Olivia.


Tapi bayangan dari kenangan masa lalu, masih tetap bisa dilihat oleh Olivia di sana, hingga bisa membuatnya tetap merasa familiar dengan rumah itu.


Entah berapa lama, Olivia berkeliling di dalam rumah itu, hingga tiba-tiba, Johan terlihat sudah menyusul dan berdiri di dekatnya.


"Proses jual belinya sudah selesai," celetuk Johan.


Johan lalu menyodorkan satu lembar map, yang tampaknya berisi berkas jual beli, dan berkas kepemilikan rumah itu.


"Untuk sementara ini, anda lah yang jadi pemiliknya ... Jadi saya rasa, sebaiknya anda saja yang menyimpannya. Sampai saya sudah bisa mengganti harganya," kata Olivia.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu mengganti harga pembelian rumah ini. Karena aku hanya akan memberikannya kepadamu, dan aku harap kamu mau menerimanya," kata Johan.


"Sir ...?" ujar Olivia kebingungan, dan tidak tahu harus berkata apa.


"Ambil saja! ... Tanganku mulai terasa pegal memegangnya," kata Johan.


Olivia lalu melihat ke arah tangan Johan, yang masih menahan posisi tangannya, yang menyodorkan berkas itu kepada Olivia.


Dan tentu saja akan membuat tangan Johan terasa pegal, jika dia harus bertahan di posisi itu, lebih lama lagi.


"Apa yang anda lakukan, Sir?" ujar Olivia, lalu mengambil berkas itu dari tangan Johan.


Johan lalu berbalik, kemudian berjalan menjauh meninggalkan Olivia, hingga Olivia harus berjalan terburu-buru untuk menyusulnya.


Johan terus berjalan, sampai keluar dari pintu bagian belakang rumah, dan tampak melihat ke sana kemari, memandangi halaman belakang rumah itu.


Sebuah tempat tidur gantung, menjadi tujuan Johan untuk duduk, dan berayun pelan di situ.


"Apa kamu hanya akan berdiri saja di situ?" tanya Johan, tiba-tiba.


"Ugh?" Olivia tersentak.


"Duduk saja di sini bersamaku!" kata Johan, mengajak Olivia untuk ikut duduk, di atas tali anyaman berbentuk seperti jala panjang, yang terikat di ujung-ujungnya itu. 


"Tapi, Sir...." ujar Olivia, ragu.


Johan kemudian hanya terdiam, untuk beberapa waktu lamanya, seolah-olah ada yang dipikirkannya sekarang ini.


"Kamu masih menyukainya," celetuk Johan, tiba-tiba. 


Olivia lalu menoleh ke sampingnya, dan melihat ke arah Johan.


"Angelo ... Kamu masih mencintainya, bukan? Aku bisa melihatnya dari matamu." Johan menjelaskan apa maksud perkataannya tadi.


Olivia tidak tahu harus menjawab apa, hingga akhirnya, Olivia hanya bisa terdiam saja.


"Berapa lama kamu berkencan dengannya?" tanya Johan.


"Kurang lebih tiga tahun," jawab Olivia.


"Katanya tadi, kamu dan dia belum resmi berpisah," ujar Johan. "Apa maksudnya?" 


Olivia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mempersiapkan dirinya, agar dia bisa bercerita kepada Johan.


"Saat itu, saya baru saja akan memasuki tahun terakhir, sebelum saya di wisuda. Sedangkan Angelo, sudah menyelesaikan *MBA-nya....

__ADS_1


...Tiba-tiba saja, keluarganya memintanya untuk pindah ke luar negeri, dan Angelo juga tidak menolaknya....


...Selain karena kami yang tinggal di negara yang berbeda, saya juga menyadari status sosial saya, yang berasal dari kalangan bawah. Dan tentu saja tidak setara dengannya....


... Sehingga saya memutuskan hubungan kami secara sepihak. Karena saya tidak memiliki keyakinan, jika kami memang bisa bersama," kata Olivia.


(*Master in Business Administration)


Suara nafas yang berat dari Johan, seketika itu juga terdengar, setelah Olivia selesai mengatakan penjelasannya.


"Yang aku dengar, pertunangan Angelo itu, juga bukanlah keinginannya. Keluarganya yang mengaturnya, demi kepentingan bisnis....


... Dan Angelo menyetujuinya, karena hak warisnya akan dibatalkan, kalau dia sampai menolak pertunangan itu," kata Johan lagi. 


"Tapi ... Kamu pasti sudah tahu, kalau dia telah bertunangan, bukan?" tanya Johan. "Karena berita pertunangannya itu, bahkan sampai dimuat di koran, tahun lalu."


Olivia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sir."


"Ugh? Maafkan aku ... Kalau begitu, aku tadi sudah salah paham kepadamu," kata Johan, yang tampak terkejut.


"Apa maksud anda, Sir?" tanya Olivia.


"Aku tidak tahu, kalau kamu menyadarinya atau tidak. Tadi ... Sejak kita masih di kantor, bahkan sampai beberapa saat yang lalu, aku merasa kecewa kepadamu....


... Karena aku mengira kalau kamu sudah tahu, bahwa Angelo sudah bertunangan, dan kamu memilih untuk tetap mencintainya," kata Johan, yang terdengar berhati-hati saat dia berbicara.


"Hmm ... Saya tahu kalau anda tampaknya sedang gusar. Tapi saya tidak tahu, jika itu adalah alasannya," kata Olivia.


"Walaupun saya masih menyisakan sedikit perasaan untuknya, tapi Jika Angelo memang akan menikah dengan orang lain, maka saya tentu harus tetap merelakannya....


... Dan membiarkan hubungan kami agar terus berlalu, seperti sebagaimana beberapa tahun belakangan ini, sejak kepergiannya waktu itu," lanjut Olivia.


Johan lalu secara tiba-tiba menghentikan gerakan berayun, dari tempat tidur gantung itu, dan menatap Olivia lekat-lekat.


"Olivia! ... Kamu membuatku semakin menyukaimu!" kata Johan, setelah beberapa saat lamanya, dia hanya bertatap-tatapan dengan Olivia.


"Saya juga menyukai anda, Sir!" sahut Olivia, sambil tersenyum.


"Olivia...! Aku menyukaimu!" kata Johan, lagi.


"Pffftt...! Iya, iya! Saya sudah tahu kalau anda menyukai saya. Terima kasih, Sir!"


Karena mengira kalau Johan sedang berusaha menghiburnya, sebab cinta Olivia dan Angelo yang kemungkinan besar tidak bisa berlanjut, sehingga Olivia menanggapi perkataan Johan itu, sambil tertawa.


"Olivia...! Apa kamu memang tidak mengerti? Atau kamu hanya berpura-pura saja, seolah-olah kamu tidak mengerti maksudku? Aku menyukaimu dengan cara yang berbeda....

__ADS_1


... Aku benar-benar menyukaimu, hingga aku bisa merasa cemburu kepada Angelo, karena melihat caramu menatapnya," lanjut Johan, dengan memasang raut wajah serius.


 


__ADS_2