
Mungkin kelelahan karena menempuh perjalanan jarak jauh, di pagi ini, Jonah masih tertidur pulas di kamar yang dipakainya, untuk beristirahat bersama Olivia.
Olivia juga tidak ingin mengganggu Jonah.
Dengan demikian, ketika Olivia terbangun, dia beranjak turun dari tempat tidur, dan berjalan keluar dari kamar dengan perlahan-lahan.
Mengingat Johan dan supir pribadinya, yang masing-masing memakai kamar yang berbeda, yang mungkin nanti ingin sarapan saat mereka terbangun nanti, sehingga Olivia berniat untuk pergi berbelanja kebutuhan harian seadanya.
Tapi ketika Olivia keluar dari rumah, supir pribadi Johan terlihat sudah berada di luar, dan sedang membersihkan mobil Johan.
Setelah saling menyapa, Olivia kemudian pergi berbelanja, dengan diantarkan oleh supir pribadi Johan.
Ketika Olivia sudah selesai berbelanja, dan kembali ke rumah, Johan terlihat sudah bangun, dan tampaknya sedang menunggu Olivia, sambil berdiri di teras depan rumah.
Johan terlihat segera menghampiri Olivia, setelah Olivia beranjak keluar dari dalam mobil, sambil membawa sebagian barang belanjaan, yang sebagiannya lagi dibawakan oleh supir pribadi Johan.
"Morning, Sir!" sapa Olivia.
"Morning!" Johan balas menyapa, sembari mengambil barang belanjaan, dari tangan Olivia.
"Saya bisa membawanya sendiri, Sir," ujar Olivia.
"Biar aku saja yang membawanya," ujar Johan, memaksa. "Kenapa kamu tidak membangunkanku? Seharusnya aku yang berbelanja untuk kita."
Sembari berjalan bersama Olivia, Johan membawa barang belanjaan, menuju ke bagian dapur, dan di susul oleh supir pribadinya.
"Hmm ... Tidak masalah, Sir," sahut Olivia. "Apa Jonah sudah bangun?"
"Kelihatannya belum ... Aku belum memeriksanya, karena aku pikir kamu masih tidur dengannya....
... Setelah aku menghubungi supirku, barulah aku tahu, kalau kamu sudah bangun dan pergi berbelanja," jawab Johan.
"Kalau begitu, saya pergi memeriksanya dulu. Saya khawatir kalau-kalau dia bingung, karena terbangun di tempat yang asing," kata Olivia.
"Maaf, Sir ... Anda bisa meletakkan barang-barangnya di atas meja saja. Nanti saya yang rapikan," kata Olivia, yang menyempatkan untuk berbalik sebentar, sebelum dia lanjut berjalan, menuju ke kamar di mana Jonah tidur.
Di dalam kamar, Jonah terlihat masih tertidur pulas, bahkan tampak tidak terganggu, walaupun Olivia mengecup keningnya, dan mengusap kepalanya dengan perlahan.
Olivia kemudian membiarkan pintu kamar itu tetap terbuka, dengan harapan agar jika Jonah terbangun nanti, anak itu tidak akan panik, saat Olivia meninggalkannya di sana, dan kembali ke dapur.
Di bagian tengah rumah, Olivia berpapasan dengan supir pribadi Johan, yang tampaknya akan pergi ke luar rumah.
"Anda mau ke mana?" tanya Olivia, menahan langkah supir pribadi Johan itu.
"Saya akan melanjutkan pekerjaan saya," jawab supir pribadi Johan.
"Hmm ... Apa anda bisa menunggu sebentar? Saya akan membuat sarapan sederhana. Anda ikut sarapan saja dulu," kata Olivia.
"Tapi, Miss—" Supir pribadi Johan tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Olivia segera menyelanya, dengan berkata,
"Saya tidak akan lama. Saya rasa, Sir Johan juga tidak akan keberatan."
"Hmm ... Baiklah, Miss," sahut supir pribadi Johan, lalu menyusul Olivia, dengan berjalan di belakangnya.
Sembari Olivia membuat sarapan untuk mereka, supir pribadi Johan tampak saling membantu dengan Johan, untuk menyusun barang belanjaan di dalam dapur itu.
Setelah mereka semua selesai sarapan, sambil berterima kasih, supir pribadi Johan lalu berjalan keluar dari sana, meninggalkan Johan bersama Olivia.
"Sejak kemarin, aku sangat penasaran. Apa aku boleh tahu? Apa yang membuatmu, hingga kelihatannya tiba-tiba saja mengambil cuti?"
Sambil menikmati kopi, dan duduk berhadap-hadapan dengan Olivia, Johan kemudian membuka percakapan.
"Hmm...." Olivia lalu menyesap sedikit kopinya, sambil memikirkan, apakah dia perlu menceritakan apa yang terjadi. Lalu, jika dia akan menceritakannya kepada Johan, maka Olivia harus memulainya dari mana.
"Angelo," jawab Olivia.
__ADS_1
"Saya mengambil cuti, karena saya ingin menjauh darinya. Saya bahkan mematikan ponsel, agar dia tidak bisa menghubungi saya. Sementara saya memikirkan semuanya," lanjut Olivia.
Kelihatannya, Johan ingin berkata sesuatu kepada Olivia, namun suara dari Jonah yang menyapa Olivia dan Johan, membuat Johan menahan perkataannya.
"Morning, Grandpa! ... Morning, Miss!" sapa Jonah, dengan matanya yang masih terlihat sayu.
"Morning, Jonah! ... Come here!" kata Olivia, sambil melambai-lambaikan tangannya, agar Jonah menghampirinya.
Setelah Jonah sudah di dekatnya, Olivia lalu mengangkat Jonah, dan mendudukkan Jonah di atas pangkuannya.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Olivia kepada Jonah.
"Iya, Miss," jawab Jonah. "Tapi sekarang ini aku lapar."
"Pffftt...! Sebentar!" Olivia kemudian menyerahkan Jonah kepada Johan, agar Johan bisa memangkunya.
"Jonah mau makan omelette?" tanya Olivia, sambil mempersiapkan bahan makanan secukupnya, untuk menjadi sarapan Jonah.
"Hmm ... Iya," jawab Jonah.
Sembari Olivia memasak untuk sarapan Jonah, masih bisa didengar olehnya, kalau Johan sedang berbincang-bincang dengan Jonah, walaupun Olivia tidak tahu, akan apa yang mereka bicarakan.
"Ini! ... Aku harap Jonah menyukainya," kata Olivia, sambil menyodorkan piring berisi telur dadar, beberapa potong bacon, dan segelas susu segar.
Setelah berterima kasih, Jonah terlihat segera menyantap sarapannya dengan lahap, dan sementara itu, Johan lalu berkata,
"Apa yang kita lakukan setelah ini? Pertunjukan sirkus, baru akan dibuka jika sudah sore. Apa kalian ingin jalan-jalan?"
"Hmm ... Saya sebenarnya berencana untuk merapikan halaman belakang rumah, agar bisa jadi tempat bermain yang lebih nyaman," kata Olivia.
"Mungkin nanti malam, kita bisa membuat api unggun," lanjut Olivia.
"Kedengarannya menarik! ... Kita bisa membakar marshmellow di situ," sahut Johan, bersemangat.
"Aku akan membantumu, Miss," kata Jonah, tampak buru-buru menelan makanan yang sudah dikunyah olehnya, agar bisa ikut bicara.
***
Setelah Jonah selesai menghabiskan sarapannya, Olivia segera membersihkan semua peralatan makan, berikut juga perlengkapan memasak yang kotor.
Tidak berapa lama, Johan, Jonah, dan Olivia, sudah berada di bagian belakang rumah, lalu menggeser barang-barang yang tidak berguna, hingga halaman belakang rumah itu terlihat semakin lega dan rapi.
Jonah yang ikut-ikutan membantu, terlihat sudah kelelahan, dan Olivia yang tidak tega melihatnya, kemudian menggendong Jonah, lalu membuatnya terduduk di atas tempat tidur gantung.
Johan yang tiba-tiba ikut menghampiri Olivia dan Jonah, lalu berbisik-bisik di telinga Olivia, dengan berkata,
"Aku masih merasa malu melihat tempat itu. Apakah mungkin akan lebih baik, jika kita menggantinya saja? Atau mungkin, ... paling tidak, kita memindahkan tempatnya."
Olivia yang mendorong tempat tidur gantung itu, agar Jonah bisa sedikit berayun, hampir tertawa mendengar perkataan dari Johan itu.
"Tidak perlu, Sir ... Saya menyukainya, dan kondisinya juga masih bagus," kata Olivia, sambil tersenyum.
"Ada apa, Miss?" tanya Jonah, tampak penasaran.
"Tidak ada apa-apa ... Grandpa hanya ingin ikut duduk berayun bersama Jonah," kata Olivia, asal-asalan.
"Grandpa bisa ikut duduk di sini," kata Jonah.
"Anda ikut duduk saja, Sir ... Kelihatannya benda itu masih cukup kuat, untuk menopang berat anda dan Jonah sekaligus."
Dengan niat mengejek Johan, Olivia meniru perkataan Johan waktu itu, ketika Johan mengajak Olivia untuk ikut duduk dengannya, di atas tempat tidur gantung itu.
Dan tampaknya Johan juga masih mengingat kata-katanya, hingga dia terlihat seolah-olah merasa gemas kepada Olivia.
Di saat itu juga, Johan lalu tersenyum sambil menggigit bibirnya sendiri, dan menatap Olivia lekat-lekat.
__ADS_1
"Jangan mengejekku!" Johan masih sempat berbisik kepada Olivia, sebelum dia ikut duduk bersama Jonah, di atas tempat tidur gantung.
"Pffftt...!" Olivia tertawa tertahan melihat Johan, yang tampaknya malu-malu, hingga wajah Johan bisa terlihat memérah.
***
Setelah semua bagian di halaman belakang sudah selesai dirapikan, dan bahkan sudah siap untuk dijadikan sebagai tempat untuk membuat api unggun, Olivia kemudian memandikan Jonah.
Baik Olivia maupun Johan dan Jonah, bersiap-siap untuk berjalan-jalan, sekaligus berbelanja apa yang akan mereka butuhkan, untuk bersenang-senang di halaman belakang rumah nanti malam.
Di dalam sebuah pasar swalayan yang jadi tujuan mereka, Olivia dan Jonah, berpisah arah dengan Johan.
Johan yang ingin berbelanja perlengkapan sanitary dan toiletries, pergi ke bagian yang berbeda dari Olivia dan Jonah, yang ingin memilih bahan makanan dan minuman, serta camilan yang mereka inginkan.
Dari kejauhan, Olivia bisa melihat kalau Johan dihampiri oleh beberapa wanita berusia 'matang', yang tampaknya penasaran dengan Johan, yang berbelanja sendirian di area itu.
Setiap kali Olivia melihat ke arah Johan, Olivia rasanya tidak bisa berhenti tersenyum sendiri, karena Johan yang terlihat seperti orang yang panik.
Menurut Olivia, mungkin Johan tidak bisa menolak, atau menyuruh beberapa wanita di dekatnya itu, untuk meninggalkannya sendiri, hingga membuatnya bisa terlihat seperti itu.
Terlebih lagi, ada seorang wanita yang tampak memegang lengan Johan, dan seolah-olah ingin menyeret Johan agar ikut bersamanya.
"Ada apa, Miss?" tanya Jonah.
"Ugh? ... Coba Jonah lihat ke sebelah sana!" Olivia menunjuk ke arah Johan, agar Jonah ikut melihatnya.
Untuk beberapa saat, Jonah yang duduk di atas keranjang belanja dorong, tampaknya memperhatikan gerak-gerik Johan, dan beberapa orang yang ada di sekitar Johan itu.
"Apa orang-orang itu akan membawa Grandpa pergi?" tanya Jonah, terlihat bingung.
"Pffftt...!" Olivia tertawa tertahan. "Apa jonah mau menyelamatkan Grandpa?"
Jonah menganggukkan kepalanya. "Iya, Miss!"
Olivia kemudian mendorong kereta belanja, sampai mendekat di mana Johan berada.
"Excuse me!" ujar Olivia, untuk menarik perhatian dari para wanita yang mengerumuni Johan.
Ketika Johan melihat Olivia dan Jonah, dia tampak buru-buru menghampiri Olivia, dan berdiri tepat di sebelah Olivia, seolah-olah sedang mencari perlindungan.
Seketika itu juga, tanpa berkomentar apa-apa, wanita-wanita yang ada di situ tampak menatap Olivia dan Johan bergantian, dengan tatapan bingung.
"Terima kasih atas bantuannya!" kata Olivia kepada wanita-wanita itu, sambil tersenyum.
Walaupun terlihat kecewa, namun wanita-wanita itu kemudian berjalan pergi, sambil saling berbisik-bisik antara satu dengan yang lain.
"Huuffft...!" Setelah para wanita itu menjauh, seketika itu juga terdengar suara nafas kasar dari Johan, seolah-olah dia baru bisa merasa lega.
"Ada apa, Sir?" tanya Olivia, pura-pura tidak tahu. "Apakah anda cemas, sampai merasa sesak?"
"Tenang saja, Grandpa! ... Aku dan Miss Olivia, tidak akan membiarkan mereka membawa Grandpa," kata Jonah, buru-buru ikut menimpali.
Sambil mendengus kasar, Johan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata,
"Iya ... Terima kasih, karena sudah menolong Grandpa."
"Pffftt...!" Olivia tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Johan lalu mendekatkan wajahnya ke salah satu sisi wajah Olivia, lalu berbisik,
"Sejak tadi, kamu terus menerus mengejekku. Kamu benar-benar membuatku merasa gemas. Apa yang harus aku lakukan padamu?"
Olivia hampir tertawa, namun dia segera mendorong keranjang belanja, membawa Jonah menjauh dari situ, hingga Johan terlihat buru-buru menyusul, sambil berseru,
"Olivia! ... Don't you dare to run away from me!"
__ADS_1