Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 14


__ADS_3

Di dalam sebuah toko yang menjual tas wanita, Louis meminta Olivia untuk memilih model yang bagus, dan kira-kira cocok untuk dipakai bekerja.


Sambil melihat-lihat berbagai macam model dan ukuran tas wanita yang dipajang di dalam situ, Olivia rasanya hampir tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Karena seingat Olivia, Louis sama sekali tidak pernah bercerita kepada Olivia, kalau ada seorang wanita yang menarik perhatian laki-laki yang disukainya itu.


Hingga beberapa kali Olivia hanya berdiri terpaku, dan hampir melontarkan pertanyaannya kepada Louis.


Tapi ... Apakah Olivia akan sanggup mendengarkan jawaban dari Louis, jika saja laki-laki itu berkata kalau dia menyukai wanita lain?


Rasa bimbang yang menguasainya, membuat Olivia mengurungkan niatnya untuk mencari tahu, dan memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.


Sampai akhirnya Olivia menentukan pilihannya, dan Louis juga menyetujuinya, Olivia tidak bisa bertanya, tentang siapa yang akan menerima hadiah dari Louis itu.


***


Sambil menenteng kantong kertas yang berisikan tas yang dibelinya tadi, Louis berjalan pelan bersama Olivia, menyusuri kawasan pertokoan.


"Kita masih punya waktu, sebelum teman-teman yang lain datang," celetuk Louis, sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.


Olivia yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dikatakan oleh Louis barusan.


Olivia bahkan tidak menyadari, kalau mereka ternyata sudah tiba di kafe yang menjadi tujuan mereka.


"Hey! Apa kamu bosan menghabiskan waktu denganku?" ujar Louis, hingga membuat Olivia tersentak.


"Ugh ...? Tidak." Olivia lalu mencoba menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat ke sana kemari.


Suasana di dalam kafe yang menjadi tempat mereka berjanji untuk bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang lain, sekarang ini belum terlalu ramai.


Hanya ada beberapa pengunjung yang ada di sana, dan meninggalkan banyak kursi yang masih kosong.


"Kita ke mobilku sebentar!" ajak Louis.


Tanpa menunggu tanggapan dari Olivia, Louis segera memegang tangan Olivia, dan membawanya berjalan bersamanya ke tempat di mana mobilnya terparkir.


"Ada apa?" tanya Olivia, setelah dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Louis.


Louis tampak mengeluarkan tas dari dalam kantong kertas, yang sedari dipegangnya. "Ini untukmu!"


"Ugh ...?" Olivia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga dia tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya menatap Louis, yang sekarang ini juga sedang menatap Olivia lekat-lekat.


"Hey! Kenapa malah melamun? Ambil saja! Tanganku pegal memegangnya!" ujar Louis, memaksa.

__ADS_1


Dengan rasa tidak percaya, Olivia menerima tas pemberian Louis itu.


Apa Olivia memang dianggap spesial oleh Louis?


"Rencananya aku akan memberikan ini saat ulang tahunmu nanti. Tapi kali ini, aku ingin hadiahku jadi yang pertama yang kamu terima," ujar Louis.


Bagaimana Olivia tidak tertarik kepada Louis, kalau begitu caranya memperlakukan Olivia?


Ulang tahun Olivia masih satu minggu lagi, tapi di setiap tahunnya semenjak mereka saling mengenal, Louis pasti tidak akan melupakan tanggal kelahiran Olivia itu.


Tapi Olivia tidak pernah berani untuk menaikkan harapannya, karena Olivia tahu bahwa perlakuan baik dari Louis bukan hanya kepadanya saja.


Setahu Olivia, Louis selalu bersikap baik kepada semua orang yang dikenalnya, dan itu sebabnya, hingga Louis bisa akrab dengan semua rekan-rekan kerja mereka.


Menurut dugaan Olivia, jika saja kenalannya yang lain mungkin belum memiliki pasangan, maka Louis pasti mengekspresikan sikap baiknya kepada mereka semua dengan seimbang, seperti perlakuan baik dan perhatiannya kepada Olivia.


"Apa aku tidak bisa mendapatkan pelukan?" tanya Louis, yang tampak menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat berkali-kali, sambil tersenyum.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, lalu memeluk Louis. "Terima kasih."


"Sama-sama," sahut Louis, sambil membalas pelukan Olivia, dan mengelus-elus punggung Olivia, pelan. "Apa ada yang lain yang kamu inginkan, di hari ulang tahunmu nanti?"


"Tidak ada. Hadiah ini sudah lebih dari cukup," kata Olivia.


Olivia lalu mencoba melepaskan pelukan Louis darinya, karena Olivia yang khawatir kalau-kalau Louis menyadari detak jantung Olivia, yang sekarang ini berdegup sangat cepat.


"Olivia ...! Aku penasaran, selama ini, apa kamu pernah merasa menyesal menjadi temanku?" tanya Louis.


"Hmm ... Tentu saja tidak," jawab Olivia.


Louis melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua lengan Olivia, dan menatap Olivia lekat-lekat. "Kamu terdengar ragu. Tapi aku harap kamu tidak berbohong."


"Kriiing! ... Kriiing!"


Ponsel Olivia yang berbunyi, menyadarkan Olivia dan menghentikan niatnya, yang hampir saja mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan kepada Louis.


"Halo!" Olivia segera menyapa orang di seberang telepon, setelah buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


"Halo! Olivia! Aku sudah di kafe, tapi aku masih sendirian. Teman-teman yang lain entah masih di mana rimbanya. Kamu jadi datang kan?"


Salah satu rekan kerja Olivia yang menghubungi Olivia, terdengar seolah-olah sudah tidak sabaran di tempat dia menunggu.


"Iya, tentu saja. Tunggu sebentar! Aku dan Louis sudah di dekat kafe. Tidak lama lagi kami ke situ," sahut Olivia.

__ADS_1


"Okay! Cepatlah! Membosankan kalau aku harus menunggu sendiri seperti ini," ujar rekan kerja Olivia itu.


"Okay! Tunggu saja di situ!" Olivia lalu memutus sambungan telepon itu.


Olivia kemudian menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya.


"Eh! Kamu tidak mau memakai tas pemberianku?" tanya Louis, tampak mengerutkan alisnya.


"Ckckck ...! Okay, okay! Aku akan memakainya sekarang." Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dengan terburu-buru, Olivia memindahkan barang-barang dari dalam tas bawaannya, ke dalam tas baru yang dibelikan Louis.


"Sudah! Ayo kita pergi! Mona sudah menunggu," ajak Olivia.


Tanpa menunggu Louis membukakan pintu mobil untuknya, Olivia bergegas keluar dendiri dari dalam mobil Louis itu.


***


Salah satu rekan kerja wanita dari Olivia dan Louis yang berada dalam satu divisi yang sama, akan berhenti bekerja karena mengikuti suaminya yang pindah ke luar kota.


Oleh karena itulah, sehingga mereka mengadakan kegiatan kumpul-kumpul di kafe itu, sebagai acara perpisahan bagi rekan sekantornya itu.


Bukan hanya sekedar acara perpisahan, namun saat itu juga menjadi acara untuk menyambut rekan kerja baru, yang akan menggantikan teman mereka yang berhenti bekerja.


Louis yang berstatus sebagai kepala bagian, menjadi pembicara untuk memberi komplimen kepada rekan kerja yang behenti, dan memberi sambutan bagi rekan kerja baru.


Tidak berapa lama setelah Louis bicara seolah-olah menjadi pembuka bagi acara itu, kafe itu sudah dipenuhi dengan gelak tawa dari rekan-rekan kerja Olivia.


Namun, teman-temannya yang berbincang-bincang membahas semua tingkah konyol yang pernah mereka lakukan di tempat kerja, tidak sanggup untuk menarik perhatian Olivia untuk ikut menikmati kenangan lucu itu.


Karena seperti dugaan Olivia, kalau Louis selalu bersikap baik kepada siapa saja, kelihatannya memang terbukti.


Saat ini, Louis tampak asyik berbincang-bincang dengan rekan kerja mereka yang baru, hingga seolah-olah tidak memperdulikan keberadaan rekan kerja yang lain.


Seorang wanita berwajah cantik dan tampaknya masih lebih muda dari Olivia, terlihat sama senangnya dengan Louis.


Sampai acara itu berakhir, dan semua dari mereka satu persatu pergi dari tempat itu, Louis masih berbincang-bincang dengan rekan kerja wanita yang baru, bernama Claire itu.


Bukan hanya itu saja.


Louis bahkan menawarkan diri, untuk mengantarkan Claire pulang, meskipun dia juga masih akan mengantarkan Olivia.


"Kamu antarkan Claire saja! Aku masih belum akan pulang, ada sesuatu yang ingin aku lakukan," ujar Olivia, sembari mengambil tas lamanya dari dalam mobil Louis.

__ADS_1


"Ugh ...? Lalu bagaimana kamu pulang nanti?" tanya Louis.


"Pffftt ...! Tenang saja ...! Aku bukan anak kecil. Aku bisa menggunakan taksi saja, nanti," kata Olivia, yang memaksakan dirinya agar bisa tersenyum.


__ADS_2