
Olivia yang berpura-pura seolah-olah ada sesuatu yang sedang ingin dibelinya di salah satu toko yang ada di situ, masih bisa melihat mobil Louis yang berlalu pergi sambil membawa Claire bersamanya.
Kalau Louis memang menganggap Olivia adalah orang yang spesial baginya, tentu Louis tidak akan melakukan hal itu, bukan?!
Kecewa?
Tentu saja Olivia kecewa. Namun justru karena itu, dia jadi semakin percaya diri, dan bertekad untuk menyingkirkan perasaan tertariknya kepada Louis.
'Louis hanya bisa menjadi teman saja, dan tidak bisa lebih dari itu!'
Berkali-kali kata-kata itu digumamkan Olivia di dalam hati, dan dijadikannya sebagai pengingat, agar tidak menjadi bodoh dengan harapan yang tidak akan mungkin terjadi.
Sudah cukup lama Olivia tenggelam di dalam kubangan lumpur cinta, yang bertepuk sebelah tangan.
Sekarang sudah waktunya bagi Olivia untuk merangkak keluar dari sana, berdiri tegak dan berjalan dengan langkah pasti untuk melupakannya.
***
Olivia masih berdiri di trotoar, sambil mencari taksi yang bisa menjadi tumpangannya untuk pulang, ketika sebuah mobil sedan mewah tiba-tiba berhenti di dekatnya.
Hampir saja Olivia bergeser dari situ, karena mengira kalau orang yang akan keluar dari dalam mobil itu, mungkin akan melewati tempatnya berdiri, tapi suara seseorang yang menyapanya, menghentikan langkah Olivia.
"Olivia!" Dari kaca jendela mobil yang terbuka, di bawah penerangan lampu di dalam mobil, terlihat Johan yang ada di jok penumpang mobil sedan itu, tampak sedang tersenyum lebar.
"Sir?" Olivia benar-benar terkejut dengan adanya Johan di situ.
Pintu mobil itu kemudian terbuka, dan Johan keluar dari sana, lalu segera menghampiri Olivia.
"Ternyata memang benar, kalau kamu yang aku lihat. Aku tadi sempat tidak yakin dengan penglihatanku sendiri....
... Aku mengira kalau aku hanya berkhayal, karena aku yang ingin bertemu denganmu," ujar Johan.
Olivia yang tidak tahu harus berkata apa, akhirnya hanya bisa terdiam.
"Kamu mau ke mana?" tanya Johan.
"Rencananya saya mau pulang, Sir," jawab Olivia.
"Apa ada orang yang akan menjemputmu?" tanya Johan lagi.
"Tidak, sir ... Saya sedang mencari taksi," jawab Olivia pelan.
"Bagaimana kalau aku meminta supirku saja yang mengantarmu?" ujar Johan menawarkan.
Johan yang membiarkan pintu mobilnya tetap terbuka, lalu tampak seolah-olah mempersilahkan Olivia untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi, Sir ... Apa saya tidak hanya akan merepotkan anda saja?" Olivia ragu untuk menerima tawaran dari Johan.
__ADS_1
"Hmm ... Aku tidak sedang sibuk, dan tolong jangan merasa terbeban dengan ajakanku," ujar Johan.
Walaupun masih merasa sedikit ragu, namun Olivia akhirnya menuruti ajakan Johan, dan segera masuk ke dalam mobil itu.
Begitu juga Johan yang juga menyusul masuk ke dalam mobil, dari sisi berlawanan, setelah menutup pintu yang ada di sisi tempat Olivia duduk.
"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Johan. "Aku tadi berencana untuk pergi makan malam. Apa kamu mau ikut makan malam bersamaku?"
"Umm ...!" Olivia bergumam.
"Ayolah ...! Akan lebih menyenangkan, kalau ada temanku berbincang-bincang sambil makan," ujar Johan tampak memaksa.
"Hmm ... Baik, Sir!" sahut Olivia.
"Bagus!" Johan tampak bersemangat, lalu tampak melihat ke arah supir pribadinya.
"Kamu dengar, kan? Teruskan perjalanan ke restoran yang aku bilang tadi!" ujar Johan.
"Iya, Sir!" sahut supir pribadi Johan, lalu segera memacu mobil di jalanan.
"Kamu dari mana?" tanya Johan, tampak memperhatikan tangan Olivia yang memegang dua buah tas.
"Kami tadi membuat acara perpisahan kecil-kecilan, untuk salah satu rekan di divisi kami yang akan berhenti bekerja," jawab Olivia.
"Saya membawa dua tas, karena tadi ada salah satu rekan kerja yang memberikan tas yang ini," lanjut Olivia.
Johan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku kira kamu baru saja merampok tas milik rekan kerjamu."
Olivia yang terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Johan, lalu menatap Johan lekat-lekat.
Namun, seketika itu juga Johan tampak tertawa lepas. "Hahaha ...! Aku hanya bercanda! Tapi apa mungkin memang benar, kalau kamu baru saja selesai merampok?"
Olivia tersenyum lebar. "Pffftt ...! Dengan begitu, anda sekarang jadi kaki tangan tindak kejahatan saya, Sir."
"Hahaha ...!" Johan tampak tertawa puas, hingga Olivia pun jadi ikut tertawa bersamanya.
"Tetaplah seperti sekarang ini ...! Jangan terlalu kaku jika bertemu denganku ...! Apalagi kalau kita sedang tidak di kantor. Okay?!" ujar Johan.
"Hmm ... Tapi, sir ..." Olivia merasa ragu.
"Tidak ada tapi. Okay?!" ujar Johan memaksa, walaupun dengan nada suaranya yang terdengar santai.
"Baik, Sir," sahut Olivia.
***
Setibanya mereka di restoran yang menjadi tujuan Johan, di bawah pencahayaan maksimal, barulah Olivia menyadari kalau pakaian yang sekarang dia pakai, tidak sesuai dengan aturan berpakaian di restoran itu.
__ADS_1
Seketika itu juga Olivia menjadi ragu, untuk ikut masuk ke dalam restoran bersama Johan.
"Sir ...!" ujar Olivia yang berdiri terpaku di depan pintu masuk restoran.
"Ada apa?" tanya Johan, yang juga ikut berhenti berjalan.
"Pakaian saya tidak pantas," kata Olivia.
"Ayo masuk! Pakaianmu baik-baik saja," ajak Johan, tanpa sedikitpun terlihat ragu.
Johan kemudian menekuk sedikit salah satu lengannya, hingga membentuk sela kosong antara lengan dengan sisi badannya, agar Olivia bisa menggandeng tangannya.
Tapi, Olivia hanya terdiam memandangi Johan, dan tidak segera menggandengnya.
Hingga Johan tampak memiringkan sedikit kepalanya, sambil menunjuk dengan pandangan matanya ke arah lengannya.
"Ayolah ...! Kita sudah di sini," ujar Johan.
Olivia akhirnya menggandeng lengan Johan, dan berjalan masuk ke dalam restoran, bersama CEO perusahaan tempatnya bekerja itu.
Johan yang memakai setelan jas, sama sekali tidak terlihat sesuai dengan umurnya.
Jika orang tidak tahu berapa usia johan yang sesungguhnya, maka Johan pasti dikira baru memasuki usia empat puluh tahunan.
Bahkan menurut Olivia, saat ini, saat dia sedang duduk berhadap-hadapan dengan Johan, orang pasti mengira kalau usia mereka berdua tidak terpaut jauh.
"Ada apa?" tanya Johan.
"Ugh ...? Kenapa, Sir?" tanya Olivia bingung.
"Hmm ... Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Johan.
"Tidak, sir," jawab Olivia yang masih kebingungan. "Memangnya kenapa?"
"Sedari tadi kamu menatapku, dan seolah-olah kamu sedang menahan senyum," ujar Johan, sambil memasang raut wajah kecewa.
Olivia tersentak. Olivia sama sekali tidak menyadari, kalau dia sudah terlalu lama memandangi Johan, hingga tingkahnya itu tampaknya hanya membuat Johan salah paham.
"Saya mengagumi penampilan anda, Sir. Rasanya, saya tidak percaya kalau anda sudah berusia kepala enam....
... Karena anda terlihat jauh lebih muda dari usia anda," ujar Olivia, jujur mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.
Raut wajah Johan, kemudian berubah drastis. Kali ini, Johan tampak terkejut dengan pernyataan dari Olivia itu, meskipun dia tidak berkata apa-apa.
Seketika itu juga Olivia menyesali kelalaiannya tadi, yang tanpa sadar telah menatap Johan terlalu lama, lalu akhirnya hanya membuatnya mengatakan sesuatu, yang rasanya tidak pantas untuk dia katakan kepada Johan, walaupun itu adalah sebuah pernyataan yang jujur.
"Maafkan saya, Sir," ucap Olivia penuh penyesalan.
__ADS_1