
Malam itu, keakraban antara Louis dan Olivia kelihatannya kembali seperti semula, sebelum ada intervensi dari Claire.
Walaupun demikian, Olivia sudah menghapus harapannya untuk menjadikan hubungan pertemanannya dengan Louis, menjadi sebuah hubungan romantis.
Dengan begitu, Olivia bisa bertingkah biasa, bahkan dia merasa jauh lebih santai, saat menghabiskan waktu bersama Louis malam itu.
Hingga ketika Louis bertanya kepada Olivia, tentang siapa saja yang sering menghubungi Olivia belakangan ini, Olivia tidak merasa perlu untuk menutup-nutupi hubungan baiknya dengan Jericho dan Hansen.
Olivia dengan terbuka, menceritakan kalau kedua orang itulah yang biasanya membuat Olivia tersenyum, saat melihat ponselnya.
"Hanya berteman?" tanya Louis, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Olivia.
"Tentu saja ... Karena di antara kami, tidak ada yang pernah membicarakan tentang hal-hal yang mengarah ke hubungan, yang lebih dari pertemanan."
Seharusnya Olivia memang tidak perlu menjelaskan segala sesuatunya kepada Louis.
Namun entah mengapa, perasaannya saat itu yang seperti sedang berbicara dengan Jericho ataupun Hansen, membuat Olivia tidak merasa terbeban untuk memberitahu Louis.
Dan Olivia harus akui, kalau saat dia membuang perasaan tertarik berlebihan kepada Louis, Olivia bisa merasa jauh lebih lega, dan ternyata rasanya juga jauh lebih menyenangkan.
Ada sedikit rasa penyesalan di hati Olivia, karena kenapa dia tidak seperti sekarang ini saja sejak bertahun-tahun yang lalu, dalam menjalani hubungannya dengan Louis.
Jika sejak dulu Olivia tidak berharap lebih kepada Louis, tentu Olivia tidak akan merasakan cemburu atau sakit hati, kalau melihat Louis dekat dengan wanita lain.
Di mana perasaan cemburu dan sakit hati Olivia itu, hanya menguras tenaga dan pikirannya, secara sia-sia, tanpa ada gunanya sama sekali, selain membuatnya hanya merasa lelah.
"Mau pergi ke taman hiburan?" tanya Louis. "Aku dengar, Free Fall, wahana baru yang ada di sana, sekarang sudah dibuka untuk umum."
Olivia melihat penunjuk waktu di layar ponselnya, dan masih ada beberapa jam lagi, sebelum waktunya tempat wahana bermain itu ditutup.
"Okay!" sahut Olivia bersemangat.
Dari kafe tempat Olivia dan Louis berada sekarang ini, hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit berkendara, ke taman hiburan, yang biasanya sering mereka datangi.
Sehingga perjalanan ke tempat itu hanya terasa sebentar saja, tapi mereka sudah tiba di salah satu taman hiburan terbesar di kota itu.
Free Fall yang menjadi wahana bermain ekstrim yang ingin dicoba oleh Louis, ketika mereka pergi ke situ di bulan yang lalu, wahana itu masih dalam proses penyelesaian akhir.
Dengan ketinggian berkisar lebih dari seratus kaki, dan berdiri tegak lurus, Free Fall, wahana ekstrim itu tampaknya tidak membuat pengunjung yang ingin mencobanya merasa takut.
Pengunjung yang ada, malah tampak semakin merasa tertantang untuk memacu adrenalin mereka.
Hingga hari ini, antrian dari orang-orang yang ingin mencoba permainan itu, tampak sudah mengular panjang, ketika Olivia dan Louis tiba di sana.
__ADS_1
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Olivia menghembuskan nafasnya dengan perlahan. "Huuufft ...!"
Mungkin terlihat jelas bagi Louis, kalau Olivia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa takut, saat membayangkan bagaimana rasanya, seolah-olah dia mengalami jatuh dari ketinggian.
"Kalau kamu sangat takut, biar aku saja yang mencobanya lebih dulu," ujar Louis.
"Whew! Jangan menyepelekanku! ... Tentu aku harus mencobanya juga," sahut Olivia dengan percaya diri.
"Pffftt ...! Okay, okay! Let's see!" ujar Louis sambil tertawa.
Setelah mengantri hingga hampir lebih dari setengah jam, akhirnya Olivia dan Louis bisa mendapatkan giliran, untuk mencoba wahana bermain itu.
Benar-benar mengejutkan ketika merasakan permainan yang memacu adrenalin itu, hingga Olivia bersyukur karena dia tadi belum makan malam.
Karena kemungkinan, dia hanya memuntahkan makan malamnya lagi, cuma gara-gara mencoba permainan Free Fall itu.
Olivia sempat merasa sedikit pusing, ketika wahana itu bergerak turun dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ditarik jatuh oleh gravitasi.
Walaupun begitu, Olivia sama sekali tidak merasa jera, Olivia bahkan berencana untuk bermain di wahana ekstrim itu lagi nanti, di lain waktu.
"It's fun! ... Really, really fun!" seru Olivia bersemangat, ketika dia berjalan keluar dari wahana itu bersama Louis.
"Kalau begitu, kamu tidak menyesal datang ke sini bersamaku?" tanya Louis, sambil tersenyum.
Olivia juga tersenyum lebar. "Tentu saja, aku tidak menyesal! ... Aku akan naik itu lagi nanti. Mungkin di akhir pekan."
"Okay!" sahut Olivia.
Louis lalu mengajak Olivia untuk membeli permen kapas, sambil berjalan-jalan berkeliling di hampir seluruh kawasan taman hiburan itu.
"Apa kamu belum merasa lapar?" tanya Louis.
Sebenarnya Olivia belum terlalu lapar, tapi karena dugaan Olivia bahwa Louis pasti sekarang sudah lapar, Olivia lalu menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita pergi mencari makan malam yang enak!" ajak Olivia.
Tanpa aba-aba, louis lalu merangkul pinggang Olivia, dan membawanya berjalan mengarah keluar dari taman hiburan.
"Hey ...! Apa yang sedang kamu lakukan?" tegur Olivia pelan, karena tingkah Louis itu.
Louis menunjuk dengan pandangan matanya, ke arah permen kapas yang dipegang oleh Olivia.
"Apa aku harus memegang tanganmu, yang lengket dengan gula?" ujar Louis, tampak beralasan.
__ADS_1
Akhirnya Olivia tidak memprotes tindakan Louis itu, karena tangannya memang terasa sedikit lengket karena permen kapas.
"Kamu mau makan apa?" tanya Louis, ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Hmm ... Apa yang enak, ya?!" ujar Olivia, sambil memikirkan, apa kira-kira menu makan malam yang bisa memancing selera makannya.
"Mau makan makanan India?" tanya Olivia.
"Pedas!" Segera Louis menolak tawaran Olivia itu, tanpa terlihat ragu.
"Pffftt ...! Kalau begitu, kita makan spaghetti saja," ajak Olivia lagi.
"Okay!" sahut Louis, lalu segera memutar kemudi, menuju ke sebuah restoran yang menyediakan makanan Italia.
***
Di dalam restoran, setelah mereka berdua mendapatkan tempat duduk, Louis segera memesankan makanan untuk mereka.
"Dua Caprese Salad ... Satu Aglio e Olio, dan satu Cacio e ****!" kata Louis kepada seorang pelayan restoran, yang baru saja menghampiri mereka.
"Apa yang kamu inginkan untuk makanan penutupnya?" tanya Louis kepada Olivia.
"Aku mau Tartufo," jawab Olivia.
"Kalau begitu, satu Tartufo dan satu Panna Cotta!" kata Louis, lanjut menyampaikan pesanannya kepada pelayan restoran, yang masih berdiri menunggu di dekat meja mereka.
"Baik, Sir! ... Madam!" kata pelayan restoran itu, sebelum dia beranjak pergi, dan menjauh dari Olivia dan Louis.
Louis lalu terlihat menggoyangkan sedikit cairan wine, yang mengisi separuh dari gelasnya, lalu menyesapnya sedikit.
"Awal bulan depan, aku rencananya akan bepergian ke negara xxx," celetuk Louis. "Apa kamu mau ikut denganku?"
"Ugh ...? Kenapa mendadak seperti itu?" Olivia balik bertanya.
"My sister akan menikah di sana, dan dia memintaku agar bisa hadir di acaranya nanti. Sedangkan kalau aku hanya sendirian, tentu akan jadi perjalanan yang membosankan," jawab Louis.
"Hmm ... Kelihatannya aku tidak bisa ikut. Apalagi kalau kita mengambil izin secara bersamaan, maka pekerjaan di kantor mungkin akan jadi kacau," ujar Olivia beralasan.
"Acaranya di langsungkan di akhir pekan. Kita bisa pergi di hari Jumat sore, lalu kembali ke sini di hari Minggu siang," sahut Louis.
"Tapi aku tidak ada anggaran, untuk melakukan liburan sejauh itu." Lagi-lagi, Olivia beralasan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang tiketnya, karena aku yang akan membayarkannya nanti. Asalkan kamu mau ikut....
__ADS_1
... Bayangkan saja, bagaimana reaksi dari kedua orang tuaku, dan keluarga besarku, ketika aku yang masih belum menikah, lalu muncul sendirian saja di sana. Aku nanti bisa jadi bahan bully-an."
Louis masih tampak bersikeras agar Olivia mau ikut dalam perjalanannya, dan tidak terima dengan alasan Olivia yang masih bisa dia atasi.