Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 32


__ADS_3

Walaupun Jericho pernah berkata kalau hubungan antara dia dan daddy-nya tidak terlalu baik, namun bagi Olivia, saat ini mereka berbincang-bincang dengan cukup akrab.


Bahkan, Olivia lebih banyak jadi pendengar, dari percakapan antara daddy dan anaknya itu.


Akan tetapi, selama Olivia bersama mereka, dan menunggu ke mana arah perbincangan antara Jericho dan Johan, di dalam restoran itu, ternyata mereka memang hanya membahas urusan pekerjaan saja.


Seolah-olah saat Jericho dan Johan berhadap-hadapan sekarang ini, mereka berdua hanya menjadi dua orang penting, yang paling berpengaruh di perusahaan Andersen's Construction saja.


Dan bukanlah perbincangan hangat dalam keluarga sebagaimana pada umumnya, saat seorang anak sedang saling berbincang dengan orang tuanya.


Olivia tidak berani untuk menarik kesimpulan apa-apa.


Entah memang benar perkataan Jericho tentang hubungannya dengan daddy-nya, atau hanya karena ada Olivia di sana, hingga kedua laki-laki itu sama-sama menahan diri, untuk bersikap lebih intim.


Yang pastinya, Jericho dan Johan tampak menikmati perbincangan tentang bisnis, yang dijalankan oleh mereka berdua.


Hingga mereka semua selesai menghabiskan makan siangnya, tidak ada yang berubah dari arah pembicaraan, antara Jericho dengan Johan.


Kemudian, sesuai dengan rencana awal, maka Olivia akan kembali ke kantor, bersama dengan Jericho.


Kebetulan juga saat itu, Johan ternyata tidak bisa langsung kembali ke kantor, dan harus pergi ke tempat lain terlebih dahulu.


Karena di tengah-tengah jam makan siangnya tadi, Johan telah dihubungi oleh seseorang, yang ingin segera melakukan pertemuan dengannya.


"Terima kasih untuk makan siangnya, Sir! Hati-hati di jalan!" Olivia lalu berpamitan dengan Johan, ketika mereka bertiga sudah berdiri di depan pintu keluar restoran.


"Sama-sama, Olivia," sahut Johan.


"Jericho! Hati-hati saat berkendara! Apalagi, kamu membawa Olivia bersamamu," lanjut Johan, sambil melihat ke arah Jericho yang berdiri di samping Olivia.


"Baik, dad! Kami pergi dulu!" ujar Jericho, lalu berbalik dan membawa Olivia berjalan bersamanya, menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir.


"Bye, Sir! See you next time!" ucap Olivia kepada Johan, sebelum dia mengikuti langkah Jericho.


"Bye, Olivia! See you soon!" sahut Johan, sambil tersenyum.


***


Di dalam mobil Jericho yang mulai melaju di jalan raya, Jericho lalu berkata kepada Olivia,


"Jonah sudah memberikanmu hadiah. Kelihatannya, daddy-ku juga begitu."


Olivia lalu menoleh ke samping, ke arah Jericho, yang berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.


Sebenarnya Olivia memang tidaklah merasa heran, kalau Jericho bisa menduga, kalau arloji yang sedang dipakai oleh Olivia, adalah pemberian dari Johan.


Apalagi saat di restoran tadi, Jericho memang sudah memandangi tangan Olivia.


"Saya—"

__ADS_1


"Kamu—"


Baik Olivia maupun Jericho akhirnya terdiam untuk sesaat, dan sama-sama tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena mereka yang tadinya sempat berbicara secara bersamaan.


"Kamu saja yang bicara lebih dulu," kata Jericho.


"Maafkan saya, Sir ... Saya juga tidak menyangka, kalau Sir Andersen akan secara tiba-tiba memberikan hadiah seperti ini," ujar Olivia.


"Ugh ...? Kelihatannya perkataanku tadi, hanya membuatmu salah paham," kata Jericho.


"Aku tidak mempermasalahkan tentang daddy-ku yang memberikanmu sesuatu. Aku hanya penasaran, apakah kamu memberitahu pada daddy, akan apa yang kamu mau?...


... Karena aku justru juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi aku masih belum tahu, hadiah apa yang mungkin akan kamu sukai," lanjut Jericho.


"Sir ...! Bukannya sudah saya katakan, kalau saya tidak mengharapkan apa-apa dari anda, maupun dari Sir Andersen? Apalagi dari Jonah....


... Sekarang saya yang jadi penasaran. Apakah semua anggota keluarga Andersen, sedang berencana untuk membuatku merasa berhutang?" ujar Olivia.


"Hahaha! ... Maafkan aku." Setelah Jericho tertawa lepas, dia lalu berucap, sambil menggapai sebelah tangan Olivia, dan  menggenggamnya dengan erat.


"Aku rasa tidak ada satupun dari kami, yang terpikirkan untuk membuatmu merasa seperti itu. Contohnya saja Jonah....


...Anak laki-lakiku itu menyukaimu. Dan menurutku, daddy-ku juga merasakan hal yang sama seperti aku dan Jonah. Kami semua, sama-sama menyukaimu....


... Dan kami bertiga, juga sama-sama tidak tahu cara mengekspresikannya, selain dengan memberikanmu hadiah," kata Jericho, sambil tetap menggenggam tangan Olivia.


"Hahaha! ... Yups! Benar sekali! Buah yang jatuh, tentu tidak akan jauh dari pohonnya, bukan?!" Jericho juga tampak membalas candaan Olivia, sambil tertawa.


Di sepanjang perjalanan, hingga mereka tiba di pelataran parkir gedung kantor, Jericho masih terlihat senang, dan sesekali melirik ke arah Olivia.


Ketika Olivia akan beranjak keluar dari mobil Jericho, Direktur Olivia itu menahannya, agar tetap duduk di dalam mobil, walaupun kendaraan itu sudah berhenti bergerak.


"Olivia! ... Aku sebenarnya sudah membelikanmu sesuatu. Tapi aku tidak tahu, apa mungkin kamu akan menyukainya, atau tidak," kata Jericho.


Jericho lalu memiringkan sedikit badannya, hingga tangannya bisa menggapai laci di dashboard mobil, yang ada di depan Olivia.


Dari dalam laci, Jericho mengeluarkan sebuah kotak perhiasan, dengan bagian luarnya yang berbahan beludru berwarna biru malam.


Tampilan kotak itu, kurang lebih mirip-mirip saja, dengan kotak perhiasan yang berisikan arloji, pemberian Johan kepada Olivia tadi.


"Sir ...! Anda tidak perlu memberikan apa-apa kepadaku," ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jericho menyodorkan kotak perhiasan itu kepada Olivia, namun Olivia tidak segera mengambilnya, melainkan hanya menatap Jericho lekat-lekat.


"Kenapa anda melakukannya? Hadiah dari Jonah saja sudah lebih dari cukup, masih ditambah dengan hadiah dari Sir Andersen. Lalu, anda lagi?" ujar Olivia.


"Hey! ... Jadi kamu mau menerima hadiah dari Jonah dan daddy, tapi kamu menolak kalau aku yang memberikannya?" sahut Jericho, yang tampak kecewa.


"Bukan begitu, Sir ... Tapi semua hadiah yang kalian berikan, sudah sangat berlebihan," kata Olivia, yang memang merasa berat hati untuk menerimanya.

__ADS_1


"Aku memilihnya dengan susah payah ... Tapi kamu menolaknya, bahkan sebelum melihatnya." Baik raut wajah dan suaranya, Jericho tampak lesu, sambil menundukkan pandangannya.


Melihat gelagat Jericho, Olivia tidak sampai hati untuk mengecewakan laki-laki itu, hingga akhirnya Olivia berkata,


"Baiklah, Sir ... Aku akan menerima ini!"


Ketika Olivia mengambil kotak perhiasan yang masih dipegang oleh Jericho, seketika itu juga Jericho tampak mengangkat pandangannya lagi.


Apalagi, saat Olivia membuka kotak perhiasan dan melihat isinya, Jericho tampak memperhatikan gerak-gerik Olivia.


Di dalam kotak perhiasan itu, berisi sebuah kalung, dan berhiaskan banyak batu permata berukuran kecil, di seluruh bagian dari buah kalung yang berbentuk huruf 'O'.


Perhiasan untuk bagian leher itu, terlihat sangat indah dan berkilauan, dengan ukurannya yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil.


Tentu Olivia akan terlihat cantik saat memakainya.


Tapi, bertambah-tambah saja rasa terbeban di dalam hati Olivia, karena hadiah mahal yang diberikan oleh dua orang Andersen's, dalam kurun waktu beberapa jam ini.


"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya Jericho, buru-buru menyadarkan Olivia, yang sedang tenggelam dalam pikirannya.


"Iya," jawab Olivia, sambil memaksakan diri untuk tersenyum, agar Jericho tidak lagi merasa kecewa.


Jericho lalu ikut tersenyum lebar, dan tampak sangat bersemangat saat berkata,


"Biar aku yang memasangkannya padamu, ya?!"


Olivia menganggukkan kepalanya, pelan.


Dengan tergesa-gesa, Jericho mengambil kalung dari dalam kotak perhiasan, lalu mendekat ke arah Olivia, dan memasangkan benda itu di leher Olivia.


Saat Jericho memakaikan kalung itu kepada Olivia, posisi mereka berdua hampir-hampir seperti orang yang akan berpelukan.


Sampai-sampai, jantung Olivia berdegup sangat kencang, karena Jericho yang berjarak terlalu dekat dengannya, hingga hidung Olivia hanya bisa menghirup aroma harum cologne, yang dipakai oleh Jericho.


Sebenarnya, mungkin hanya beberapa detik saja, waktu yang dibutuhkan oleh Jericho, untuk memasang pengait kalung di bagian belakang leher Olivia.


Namun saking gugupnya, Olivia sampai bisa merasa, seolah-olah sudah berjam-jam Jericho melakukannya.


"Kelihatannya cocok untukmu!" ujar Jericho terdengar bersemangat, sambil tersenyum lebar, setelah selesai memakaikan kalung di leher Olivia.


Tiba-tiba saja, Jericho terdiam, dan menatap Olivia lekat-lekat dengan memasang raut wajah seperti orang yang keheranan.


Seolah-olah Jericho bisa menyadari, jika Olivia masih merasa gugup karenanya.


Perlahan-lahan, Jericho mengangkat sebelah tangannya, dan menyentuh bagian samping leher Olivia.


Namun entah apa yang merasukinya saat itu, hingga Olivia hanya terdiam saja, dan tidak segera memprotes, atau melarang Jericho yang menyentuhnya.


Kemudian, Jericho lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia.

__ADS_1


__ADS_2