Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 50


__ADS_3

Olivia hampir melewati bangku taman, tempat Claire duduk bersama dengan temannya, ketika terdengar suara Claire, yang menyapa Olivia.


"Olivia!" 


Saat itu juga Olivia menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Claire, yang terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Hai, Claire!" Olivia lalu membalas sapaan Claire, sambil tersenyum.


"Di mana apartemenmu?" tanya Claire, sambil berjalan menghampiri Olivia.


"Itu! Di sebelah sana!" Sembari menunjuk dengan gerakan bahunya, Olivia menjawab pertanyaan Claire.


"Tidak biasanya, aku melihatmu ada di sekitar sini," kata Olivia berbasa-basi.


"Iya ... Aku mengunjungi teman lama ku." Claire menunjuk seseorang, yang tadi duduk sebangku dengannya.


Seorang laki-laki, yang menurut penilaian Olivia untuk sekilas, memiliki perawakan dan garis wajah, yang mirip-mirip dengan Louis.


Dan sekarang ini, teman laki-laki dari Claire itu, juga sudah ikut menghampiri Olivia.


"Olivia! ... Perkenalkan! Namanya Dave," kata Claire, memperkenalkan Olivia, dengan teman lelakinya itu.


"Dave! ... Ini Olivia ... Dia adalah wakil kepala bagian, di divisi tempatku bekerja," lanjut Claire lagi.


Laki-laki bernama Dave itu, kemudian mengulurkan sebelah tangannya ke arah Olivia.


Namun karena kedua tangan Olivia, sedang memegang kantong plastik berisi barang yang akan di laundry, maka Olivia dengan terburu-buru, meletakkan salah satu kantong plastik itu, ke atas trotoar.


Olivia kemudian menyambut tangan Dave, dan berjabat tangan dengannya.


"Halo, Olivia! Senang bisa berkenalan denganmu," kata Dave, sambil tersenyum manis.


"Halo, Dave! Aku juga senang, bisa berkenalan denganmu," sahut Olivia, lalu melepaskan genggamannya dari tangan Dave.


"Aku tinggal di apartemen sebelah sana." Dave menunjuk gedung apartemen yang tepat bersebelahan, dengan gedung apartemen tempat tinggal Olivia.


"Kalau aku tidak salah mendengar percakapan kalian tadi, apartemenmu bersebelahan dengan apartemenku," lanjut Dave.


"Lalu, apa kalian mungkin pernah bertemu sebelumnya?" tanya Claire.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak."


"Aku sudah pernah melihatnya beberapa kali, waktu aku menikmati kopi di situ!" kata Dave, kepada Claire, merujuk sebuah coffee shop, yang bersebelahan dengan tempat laundry.


"Olivia saja yang mungkin tidak pernah memperhatikan, akan keberadaanku di sini," lanjut Dave lagi.


Dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, Dave berbicara, sambil menatap Olivia lekat-lekat. 


"Tapi, bukannya kamu biasanya me-laundry di hari Minggu?!" 


Olivia sedikit tersentak mendengar perkataan Dave barusan, yang seolah-olah dia memang memperhatikan Olivia, ketika Olivia sedang berada di tempat laundry.


Sehingga Dave, bisa menghapal kapan waktunya, yang jadi kebiasaan bagi Olivia, untuk melakukan kegiatannya di tempat itu.


"Kebetulan, tidak ada yang perlu aku kerjakan hari ini," sahut Olivia. 


Merasa kalau tidak ada lagi yang bisa mereka bicarakan, dan Olivia juga tidak ingin memegang kantong plastik berisi kain kotor itu lebih lama lagi, Olivia lalu lanjut berkata,


"Hmm ... Maafkan aku, Claire! Dave! Tapi, aku harus pergi mencuci pakaianku." 


"Oh, iya! ... Maafkan aku, yang mungkin hanya mengganggumu saja," sahut Claire.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Jika aku tidak membawa barang-barang ini, aku akan senang untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan kalian," kata Olivia. 


"Olivia!" ujar Dave, lalu memberikan selembar kartu nama kepada Olivia, dan Olivia menerimanya, sambil melihatnya sekilas. 


"Aku bekerja sebagai dokter gigi. Mungkin kamu mau merawat gigimu, di klinik tempatku bekerja....


... Kamu nanti bisa dapat potongan harga. Jangan merasa ragu, untuk menghubungiku lebih dulu," lanjut Dave, sambil tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa.


Olivia ikut tersenyum mendengar lelucon ringan dari Dave, lalu berkata,


"Terima kasih atas tawarannya. Senang bertemu dengan kalian berdua. Claire! Dave! Aku pergi dulu!"


"Okay! Bye, Olivia!"


"Bye, Olivia! See you soon!" 


Claire dan Dave, hampir bersamaan mengucapkan salam perpisahan mereka kepada Olivia, dan Olivia hanya menganggukkan kepalanya, sambil berjalan masuk ke dalam tempat laundry.


Sembari memasukkan pakaian dan kain kotor ke dalam mesin cuci, sesekali, Olivia melirik ke arah luar.


Tempat laundry, yang hanya berdinding kaca tembus pandang, sehingga Olivia bisa melihat dengan jelas, apa saja yang ada di luar tempat itu.


Claire dan Dave terlihat kembali duduk di bangku taman, yang ada di atas trotoar, sambil berbincang-bincang untuk sejenak. 


Dan sekitar kurang lebih sepuluh menit kemudian, Claire dan Dave, terlihat berlalu pergi dari sana.


Olivia jadi ingat waktu itu, saat Claire ingin bersama-sama dengan Olivia, untuk datang ke kawasan tempat tinggal Olivia ini.


Dan Olivia bisa menarik kesimpulan, bahwa Claire waktu itu, mungkin berencana untuk bertemu dengan Dave.


Olivia tidak menyangka, kalau Claire memiliki kenalan dengan seseorang yang tinggal di gedung apartemen, yang bersebelahan dengan gedung apartemen tempat tinggal Olivia.


Tapi tidaklah terlalu mengherankan, jika Dave yang berprofesi sebagai seorang dokter, sanggup untuk membayar sewa, ataupun mungkin membeli, kamar apartemen di gedung itu.


Olivia melihat kartu nama yang diberikan oleh Dave tadi.


Dave Curtis *DMD, itu nama lengkap dari Dave, yang tertulis di sana, berikut juga dengan nama klinik, dan nomor kontak dari Dave, yang ikut tertera di kartu nama itu.


(*Dentariae Medicinae Doctorae : Doctor of Dental Medicine : Dokter kesehatan gigi)


Ketika Olivia kembali mengantongi kartu nama Dave, ada sedikit hal yang menggelitik di hati Olivia, hingga dia melihat ke arah samping tempat laundry.


Olivia akhirnya mengerti, kenapa Dave bisa berkata, kalau dia sudah beberapa kali melihat Olivia di sana.


Ternyata, antara coffee shop yang dimaksud Dave tadi, dan tempat biasa bagi Olivia membersihkan pakaiannya, kedua tempat itu bisa saling melihat isi ruangannya masing-masing.


Selama ini, Olivia tidak pernah memperhatikan kedua tempat itu, yang hanya berbataskan dinding kaca transparan.


Itu karena Olivia, yang biasanya hanya sibuk mengurus pakaiannya, lalu menatap ponselnya, saat menunggu pakaiannya selesai dibersihkan.


***


Olivia baru saja selesai dengan pekerjaan membersihkan pakaiannya, ketika ponselnya berbunyi, menandakan kalau ada pesan baru yang masuk.


Tapi Olivia tidak segera membacanya, dan hanya membiarkannya saja, karena dia yang ingin segera pergi dari tempat laundry.


Sampai Olivia kembali ke kamar apartemennya, Olivia masih tidak terpikir, untuk memeriksa ponselnya.


Dan hanya sibuk melipat pakaian dari dalam kantong plastik, dan memasukkannya ke dalam lemari.


Ketika semua pekerjaan rumahnya sudah beres, barulah Olivia memeriksa ponsel sambil berbaring bertelungkup, di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Hansen membalas pesan Olivia, dengan permintaan maafnya, karena malam tadi, ponselnya sempat kehabisan daya, sehingga dia tidak tahu, kalau Olivia sudah membalas pesan darinya.


Hansen menuliskan di dalam pesannya, kalau dia baru saja pulang dari rumah sakit, untuk berganti pakaian, dan rencananya, dia akan kembali menemani daddy dan mommy-nya, di rumah sakit. 


Selain pesan dari Hansen, ada juga pesan dari Jericho, yang menuliskan permintaan maafnya, atas apa yang terjadi, ketika makan malam untuk perayaan ulang tahun Jonah malam tadi.


Untuk pesan dari Jericho, Olivia hanya menulis pesan balasan yang singkat. 


'Tidak apa-apa, Sir.'


Kemudian, Olivia membalas pesan dari Hansen, dan lanjut berkirim pesan dengannya, sampai akhirnya Hansen malah menelepon Olivia, dan berbincang-bincang lewat sambungan telepon. 


Olivia dan Hansen membahas tentang sakitnya daddy Hansen, dalam pembicaraan mereka, dan sama sekali tidak menyinggung tentang urusan berkencan, atau apapun yang berhubungan dengan hal itu.


Di tengah-tengah percakapan mereka, Olivia lalu terpikir untuk bertanya, 


"Kamu sekarang sedang menyetir, bukan?" 


"Iya ... Tidak apa-apa. Kita bisa tetap berbicara, karena aku memakai handsfree," sahut Hansen dari seberang.


Untuk beberapa waktu, ketika Olivia berbincang-bincang dengan Hansen itu, menurut Olivia, suara Hansen terdengar sedikit serak. 


Hansen sekarang ini, sepertinya sedang kurang bugar, dan penyebabnya kemungkinan besar karena dia yang kurang tidur, malam tadi, dan malam sebelumnya.


Mengingat Hansen yang juga sempat memberitahu Olivia, bahwa dia melihat-lihat akun media sosial milik Olivia, pada saat jam sudah menunjukkan pukul dua malam, waktu itu.


Sehingga Olivia merasa agak cemas, karena Hansen yang masih mengendarai mobilnya sendiri.


"Apa kamu masih jauh dari rumah sakit?" tanya Olivia. 


"Tidak ... Sebentar lagi aku tiba di sana," jawab Hansen.


"Okay! ... Hati-hati di jalan! Nanti saja kita bicara lagi. Ada yang harus aku lakukan sekarang," kata Olivia.


Olivia memang hanya beralasan, agar bisa menghentikan percakapan mereka, karena Olivia yang khawatir, kalau-kalau Hansen tidak berkonsentrasi saat mengemudi.


"Hmm ... Okay! See you soon, Olivia!" kata Hansen, menutup perbincangan mereka.


"Bye, Hansen!" sahut Olivia, lalu memutus sambungan telepon itu.


Di layar ponsel Olivia, terlihat ada satu pesan baru masuk dari Jericho.


'Apa kamu marah kepadaku?'


Olivia kebingungan sendiri, saat membaca pesan dari Jericho itu.


Karena menurut Olivia, tidak ada hubungan yang terlalu istimewa, antara dirinya dan Jericho, sampai bisa membuat Olivia merasa marah kepadanya.


Sepatutnya, jika Olivia akan marah, tentu bukan kepada Jericho, melainkan kepada Laura, yang telah bersikap kasar padanya.


Tapi itupun, sudah tidak dipikirkan oleh Olivia lagi, karena Jericho dan Johan telah membela Olivia, tanpa perlu Olivia yang harus beradu debat dengan Laura. 


"Ada-ada saja," celetuk Olivia, yang bicara sendiri, lalu mengetikkan pesan balasan.


'Tidak, Sir.'


'Maafkan saya, tapi ada yang harus saya lakukan sekarang.'


Dengan mengirimkan pesan itu, Olivia berharap, agar Jericho tidak menggangunya lagi, dengan pesan-pesan yang tidak dimengerti oleh Olivia, akan ke mana arahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2