Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 82


__ADS_3

Masih pagi-pagi sekali, Olivia sudah terbangun dan segera keluar dari kamarnya, meninggalkan Jonah yang masih tertidur nyenyak di sana.


Ketika Olivia berjalan mengarah ke dapur, pintu-pintu kamar yang lain, yang dilewatinya juga terlihat masih tertutup.


Sehingga Olivia menduga, kalau Johan dan Jericho, mungkin masih tertidur.


Dari kaca jendela rumah di bagian depan, terlihat supir pribadi Johan, tampak sedang membersihkan mobil Jericho, sedangkan mobil Johan, kelihatannya sudah bersih mengkilap.


Olivia cukup terkejut melihat Johan yang ternyata sudah berada di dapur, dan sedang menyalakan mesin pembuat kopi.


"Morning, Sir!" sapa Olivia, lalu pergi membuka lemari es.


"Morning!" sahut Johan.


"Anda cepat bangun ... Anda ingin sarapan apa? Biar saya membuatkannya untuk anda," ujar Olivia, sambil membiarkan pintu lemari es tetap terbuka.


"Hmm ... Egg sandwich, please!" jawab Johan, lalu duduk di kursi yang ada di dekat meja dapur.


"Okay!" Olivia kemudian mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat roti isi telur, dari dalam lemari es, dan meletakkannya di meja konter dapur.


"Jericho cukup mengejutkanku," celetuk Johan, tiba-tiba.


Olivia hanya melirik ke arah Johan, lalu kembali sibuk dengan persiapan masak-memasaknya, tanpa menanggapi perkataan Johan itu.


"Dia pasti tidak nyaman, karena memikirkan Jonah, yang mungkin dianggapnya hanya akan merepotkanmu saja," kata Johan.


Olivia menautkan kedua alisnya, sambil berpikir.


Jericho berarti tidak mengatakan apa-apa, tentang insiden pertemuannya dengan Angelo kepada Johan.


Itu sebabnya, sehingga Johan kelihatannya telah salah menduga, akan alasan sebenarnya dari kedatangan Jericho yang tiba-tiba.


Dengan demikian, pantas saja jika Johan malam tadi bisa terlihat tenang, saat memberi kesempatan bagi Jericho, untuk berbicara berdua saja dengan Olivia.


"Ini, Sir!" Olivia menyodorkan roti isi telur buatannya, kepada Johan.


Tanpa disuruh, Johan berdiri lalu menuangkan kopi ke dalam dua cangkir, dan menyodorkan salah satunya kepada Olivia.


"Apa ada rencana untuk hari ini?" tanya Johan, setelah kembali duduk di kursi, dan menggigit sebagian roti isinya.


"Saya belum terpikirkan apa-apa," jawab Olivia.


"Kamu tidak sarapan?" tanya Johan, ketika melirik ke salah satu piring, yang berisi roti isi telur, namun tidak disentuh oleh Olivia.


"Tidak ... Nanti saja," kata Olivia, lalu berjalan pergi dari situ.


"Kamu mau ke mana?" tanya Johan, terlihat bingung.


"Saya mau memanggil supir anda, Sir ... Dia juga mungkin belum sarapan," jawab Olivia, yang sempat berbalik sebentar, melihat ke arah Johan.


Setelah memanggil supir pribadi Johan, Olivia berjalan kembali ke dapur, sambil disusul oleh supir pribadi Johan itu.


Di dapur sekarang ini, terlihat sudah ada Jericho di sana, dan duduk bersebelahan dengan Johan.


"Anda mau sarapan apa, Sir?" tanya Olivia kepada Jericho, setelah memberikan roti isi kepada supir pribadi Johan, yang juga ikut duduk di dekat Johan.


Jericho tampak memperhatikan roti isi, yang sedang dimakan oleh Johan dan supir pribadinya, untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia berkata,


"Aku bisa membuat sarapanku sendiri. Tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Terserah anda saja," sahut Olivia, lalu menjauh dari meja konter dapur.


Jericho kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu memasak telur orak-arik, beberapa potong bacon dan dua buah sosis.


Olivia sudah tidak tahu lagi perasaan apa saja yang berkecamuk di dalam dadanya, saat melihat Jericho dan Johan saat ini, namun dia tetap berusaha untuk tetap tenang.


Jika Johan dan Jericho saling mengetahui, kalau mereka sama-sama tertarik kepada Olivia, maka entah apa yang akan terjadi.


Tapi Olivia tidak terlalu mau memikirkannya, dan memilih untuk bertingkah masa bodoh, daripada hanya mengacaukan suasana hatinya saja.


Apalagi, di dalam dapur itu, sekarang ini tenang-tenang saja, seolah-olah memang tidak ada apapun yang bisa membuat siapapun merasa cemas.


Sambil tetap berdiri, Olivia setengah membungkuk menghadap ke arah Johan, membelakangi Jericho, menyandarkan kedua sikunya di atas meja dapur, dan memegang cangkir kopinya dengan kedua tangannya.


"Ini!" kata Jericho tiba-tiba, sambil meletakkan dua buah piring yang berisikan sarapan yang dimasaknya, ke atas meja dapur.


"Terima kasih, Sir! ... Tapi sebenarnya anda tidak perlu repot-repot, karena saya bisa membuat sarapan saya sendiri," ujar Olivia.


"It's okay!" sahut Jericho, lalu menarik kursi seolah-olah sedang mempersilahkan Olivia untuk duduk di kursi, yang berada di antara tempat duduk Johan, dan dirinya sendiri.


Yang pada awalnya Olivia ragu untuk duduk, namun ketika melihat Johan yang juga ikut  mengajaknya dengan gerakan matanya, akhirnya Olivia ikut duduk di samping Johan itu.


Ketika Olivia menoleh ke arah Johan, laki-laki itu tampak tersenyum lebar, lalu berbisik-bisik kepada Olivia, dengan berkata,


"What happened? Looks like he's trying to win your heart."


Olivia mengangkat kedua bahunya bersamaan, lalu berkata,


"Saya tidak tahu, Sir! ... Sebaiknya, anda bertanya langsung saja."


Tidak berapa lama, supir pribadi Johan yang tampaknya sudah selesai sarapan, kemudian permisi untuk pergi dari situ.


"Kapan kamu akan pulang? ... Kalau kamu masih di sini hari ini, apa kamu ada ide, kira-kira yang bisa kita lakukan bersama-sama dengan Olivia dan Jonah?"


Kedengarannya, saat ini Johan sedang bicara kepada Jericho, namun Jericho tidak segera menjawabnya, dan masih terlihat berkonsentrasi dengan sarapan yang sedang dimakannya.


"Aku tidak tahu," kata Jericho, setelah beberapa saat kemudian. "How about water park? Or aquarium?"


"Hmm ... Kalau begitu kita ke water park saja. Bagaimana menurutmu Olivia?" ujar Johan.


"Terserah anda-anda saja, Sir ... Tapi mungkin akan lebih baik, jika menanyakannya kepada Jonah, apa yang ingin dia lakukan," jawab Olivia.


***


Atas persetujuan dari Jonah, sekarang ini, dengan menggunakan mobil Jericho, mereka semua pergi berkunjung ke Aquarium lebih dulu.


Di dalam sebuah gedung yang berisikan tangki-tangki kaca berukuran besar, yang memamerkan berbagai ikan hidup, lengkap dengan tanaman air, menjadi tempat bagi Olivia, Jonah, Johan dan Jericho, menghabiskan waktu bersama-sama.


Tanpa terkecuali, semua biota laut yang dipamerkan di sana, tampak benar-benar menarik perhatian Jonah.


Olivia berusaha menjawab semua pertanyaan Jonah, sambil mengantar Jonah yang bersemangat untuk melihat satu persatu kolam kaca, yang berisikan ikan maupun hewan laut lainnya.


Dengan demikian, Olivia tidak sempat memikirkan Johan maupun Jericho, ataupun berbincang-bincang dengan kedua laki-laki itu, dan benar-benar hanya terpusat perhatiannya kepada Jonah.


"Jonah! ... Can we rest a bit?" tanya Olivia, yang kelelahan.


"Okay, Miss!" Jonah segera duduk di salah satu bangku kosong, yang berada di tengah-tengah ruangan, dan Olivia ikut duduk di sampingnya.


"Daddy! ... Aku haus!" ujar Jonah.

__ADS_1


Jericho yang masih berdiri berdekatan dengan Johan, tampak buru-buru membuka satu botol air minum, dan begitu juga Johan, yang terlihat melakukan hal yang sama.


Ketika Jericho menyodorkan botol air minum kepada Jonah, Johan juga ikut menyodorkan botol air minum, tapi diarahkannya kepada Olivia.


"Kamu pasti sama hausnya," kata Johan kepada Olivia, sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih, Sir!" ucap Olivia, sambil ikut tersenyum.


Saat itu, Olivia sempat menangkap mata Jericho, yang melirik ke arah Johan yang memberikan minuman kepada Olivia.


Namun Olivia tidak terlalu mau memperdulikan tatapan bingung Jericho, yang diperlihatkannya, saat melihat Johan dan Olivia di situ.


Olivia hanya mengambil botol minum dari Johan, dan segera meminum isinya.


Jericho yang kemudian berjongkok di depan Jonah, lalu terlihat sibuk sendiri dengan anak laki-lakinya itu.


Sementara Johan, kemudian ikut duduk di samping Olivia, lalu mengajak Olivia berbincang-bincang seadanya, untuk beberapa waktu, tanpa menghiraukan Jericho dan Jonah.


"Atraksi lumba-lumba akan segera dimulai. Kita bisa pergi ke sana sekarang!" kata Jericho tiba-tiba, di sela-sela percakapan antara Olivia dan Johan.


***


Pertunjukkan yang menampilkan kepintaran dari beberapa hewan laut, kelihatannya tidak terlalu menarik perhatian Jericho, karena Olivia sempat beberapa kali menangkap basah, Jericho yang sedang menatapnya.


Lagi-lagi Olivia tidak terlalu mau memperdulikan Jericho, dan memilih untuk tetap mengawasi Jonah, sambil sesekali berbincang-bincang dengan Johan, yang duduk di sebelahnya.


Tiba-tiba saja, ketika tanpa sengaja Olivia melihat ke arahnya, Jericho menggerakkan jari-jari tangannya hingga tampak melambai-lambai.


Jericho seolah-olah sedang memberi tanda kepada Olivia, agar mendekat kepadanya.


Olivia yang duduk berjarak satu kursi dengan Jericho, karena Jonah yang duduk di antara mereka berdua, kemudian mencondongkan sedikit badannya ke arah Jericho, yang tampak melakukan hal yang sama, hingga jarak mereka berdua bisa lebih dekat.


"Aku masih belum selesai berbicara denganmu semalam. Apa kita tidak ada kesempatan untuk bicara berdua saja?" ujar Jericho, yang berbisik-bisik kepada Olivia.


Olivia tidak menjawabnya, dan hanya mendengus kasar, lalu kembali meluruskan badannya.


Namun Jericho tampaknya tidak mau menyerah, walaupun Olivia tidak menanggapinya.


Setelah semua pertunjukan di tempat itu usai, mereka semua lalu pergi makan siang, kemudian kembali ke rumah, karena Jonah yang harus tidur siang.


Tiba-tiba saja, Johan tampak seperti sengaja memberi kesempatan bagi Jericho, untuk berdua saja dengan Olivia.


Jericho menghampiri Olivia, yang duduk bersantai di teras belakang rumah, sedangkan Johan, tidak kelihatan batang hidungnya.


"Di mana daddy anda?" tanya Olivia, sambil berdiri dari tempat tidur gantung, yang menjadi tempat duduknya.


Olivia berniat untuk menghindari Jericho, dengan masuk ke dalam rumah, namun Jericho segera menahan langkahnya, dengan memegang lengan Olivia.


"Aku yang meminta daddy, agar tidak ikut bergabung dengan kita sebentar. Karena aku ingin bicara denganmu," jawab Jericho.


"Apa lagi yang ingin anda bicarakan, Sir?" tanya Olivia, yang merasa agak sebal.


"Olivia...! Apa kamu membenciku?" Jericho tampak memasang wajah memelas.


"Anda mau jawaban saya yang jujur?" tanya Olivia, sambil menaikkan kedua alisnya.


Jericho tampak buru-buru menganggukkan kepalanya.


"Saya tidak membenci anda ... Tapi saya juga tidak menyukai anda," jawab Olivia.

__ADS_1


__ADS_2