
Setelah perkenalan yang secara tiba-tiba di taman kota itu, Hansen seolah-olah tidak mau memperdulikan keberadaan Louis di situ, dan benar-benar hanya terfokus kepada Olivia saja.
Hansen, meskipun hanya memakai kaus tanpa lengan, dan celana pendek, dan dipadankan dengan sepatu lari, justru memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bagus.
Bentuk tubuh yang biasanya dimiliki orang yang rutin berolahraga itu, sesuai dengan wajah tampan yang dimiliki oleh Hansen, yang sedikit mengkilap karena keringat yang membasahi kulitnya.
"Louis." Tanpa sedikitpun terlihat ragu, Louis mengulurkan salah satu tangannya ke arah Hansen, dan memperkenalkan dirinya sendiri.
"Hansen," sahut Hansen sambil berjabat tangan dengan Louis.
Ketika Hansen dan Louis sama-sama melepaskan genggaman tangan mereka, Hansen kembali menatap Olivia, lalu berkata,
"Maafkan aku, Olivia. Tapi, apa mungkin aku telah menyinggung perasaan kekasihmu?"
"Ugh ...?" Olivia kebingungan, lalu melihat ke arah Hansen dan Louis bergantian.
"Umm ...!" Olivia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau begitu, aku anggap kalau Louis bukan kekasihmu, kan?!" Hansen tampak yakin, dan tersenyum puas.
"Apa di lain waktu, aku bisa bertemu lagi denganmu?" tanya Hansen kepada olivia, tanpa mengendurkan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.
Olivia terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Kelihatannya, kamu masih terkejut dengan permintaanku yang mendadak ... Kalau begitu, aku pergi dulu! Senang bisa berkenalan denganmu, Olivia," ujar Hansen, tampak tertawa kecil.
Sambil berjalan menjauh dari tempat Olivia duduk bersama Louis, Hansen masih menyempatkan diri untuk berbalik sebentar, dan melambaikan tangannya.
"Kelihatannya, memang tipe laki-laki seperti itu yang kamu suka. Tapi, seperti yang sudah aku bilang sebelum-sebelumnya. Laki-laki macam itu, adalah laki-laki playboy," kata Louis.
Memang bukan pertama kalinya, Olivia bisa bertemu dengan laki-laki seperti Hansen, melainkan sudah berkali-kali.
Dan jika Louis sampai mengetahuinya, maka Louis pasti akan melarang Olivia untuk berhubungan lebih jauh dengan laki-laki seperti itu.
Padahal menurut Olivia, Louis dan Hansen adalah dua laki-laki dengan ciri-ciri yang sama.
"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan.
"Hey! Kamu anggap itu lucu?" ujar Louis. "Coba saja kalau kamu tidak percaya! Tapi jangan menangis, kalau dia nanti menyakitimu!"
"Okay, okay! ... Tapi karena kamu yang selalu melarangku, aku jadi tidak pernah bisa untuk berkencan," sahut Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukankah aku sudah bilang, agar kamu berkencan denganku saja?!" ujar Louis.
"Hahaha ...! Yeah, right!" Olivia tertawa, karena menurutnya, Louis pasti hanya bercanda seperti biasanya.
Olivia lalu berdiri dari tempat duduknya. "Ayo kita pulang! Aku masih harus pergi ke tempat laundry."
"Okay!" Louis pun tampak mengikuti Olivia, dan segera menyusul dengan berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Hmm ... Tapi aku sudah beberapa kali memikirkannya," celetuk Louis.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Olivia penasaran.
"Apa mungkin, kalau kita berhubungan lebih dari teman?!" ujar Louis.
"Ckckck ...! Don't tease me!" Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahaha ...! Tapi dengan begitu, maka kamu tidak lagi menjadi magnet bagi para lelaki hidung belang," ujar Louis, sambil tertawa.
Iya ... Tertawa.
Itu sebabnya, hingga Olivia tidak pernah menganggap bahwa Louis sedang berbicara serius, setiap kali menyinggung tentang dia yang seolah-olah ingin mengajak Olivia berkencan dengannya.
Sudahlah.... Olivia tidak mau terlalu memusingkan kepalanya dengan hal-hal yang tak berguna, dan hanya bisa membuatnya merasa sedih.
Olivia cukup menjalaninya saja, dan lihat akan berakhir di mana nantinya.
***
Setibanya di apartemen Olivia, Louis lalu bergegas pergi dari sana, tidak berapa lama setelah Olivia keluar dari dalam mobilnya, dan bergegas masuk ke dalam gedung apartemen.
Di dalam kamar apartemennya, Olivia memilih untuk mengurus laundry-nya lebih dulu, dan berencana agar sepulangnya nanti dari tempat mencuci, barulah dia akan mandi.
Semua pakaian dan kain-kain yang kotor dan perlu dicuci, segera dikumpulkan oleh Olivia, dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong plastik berukuran besar.
Dua kantong plastik yang hampir penuh terisi segala sesuatu yang perlu dicuci, kemudian dibawa Olivia ke tempat laundry, yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung apartemennya, dengan berjalan kaki.
Layar ponselnya pun tidak luput dari pandangan dan ibu jari tangannya, yang bergerak menggeser tampilan di layar ponselnya itu.
Olivia melihat-lihat kalau mungkin ada yang menarik di sana, dan bisa membuat waktu menunggunya tidak terasa terlalu lama.
Akan tetapi, saat Olivia melihat video yang menampilkan orang yang sedang makan, justru hanya membuat Olivia semakin tidak sabaran untuk segera menyelesaikan kegiatan mencucinya di tempat itu.
Sesekali, Olivia melirik pintu transparan dari mesin cuci, yang tampak masih memutar isi di dalamnya.
Tadi pagi, Olivia memang tidak sempat sarapan, sehingga di jam sekarang ini, Olivia merasa kalau perutnya sudah sangat lapar.
"Ding!" Suara tanda kalau ada pesan masuk di ponselnya, menarik perhatian Olivia, dan segera memeriksanya.
'Apa kamu mau makan siang bersamaku?'
Begitu isi pesan dari Louis yang bisa dilihat Olivia, di dalam aplikasi pesan.
'Aku masih di tempat laundry, dan aku juga belum mandi. Apa kamu bisa menunggu?'
Olivia mengetikkan pesan balasan, lalu mengirimnya kepada Louis.
"Ding!" Tidak berapa lama setelah pesan dari Olivia tampak bercentang biru, pesan baru dari Louis kembali masuk ke ponsel Olivia.
__ADS_1
'Okay! Kabari saja kalau kamu sudah siap. Aku akan menunggumu!'
Olivia tidak langsung membalas pesan dari Louis itu, dan hanya membiarkannya begitu saja setelah dia membacanya.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, mesin cuci di depannya sudah berhenti beroperasi, dan Olivia bergegas mengeluarkan barang-barangnya dari dalam sana.
***
'Apa kamu masih menungguku?'
Oivia mengetikkan pesan, lalu mengirimkannya pad Louis, setelah semua yang harus dia lakukan di apartemennya, sudah selesai dia lakukan.
Bahkan Olivia sudah mandi dan berganti pakaian, dan siap untuk pergi kapan saja.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Louis tidak membalas pesan Olivia, melainkan menghubungi Olivia lewat panggilan telepon.
"Halo!" sapa Olivia.
"Halo! Olivia! Tunggu sebentar, ya?! Aku sudah di perjalanan ke tempatmu."
Suara Louis dari seberang telepon, terdengar seperti terganggu dengan suara-suara berisik dari bunyi mesin dan klakson-klakson kendaraan.
Dengan begitu, Olivia jadi tahu kalau Louis memang sedang berkendara di jalan raya, sekarang ini.
"Okay! Hati-hati di jalan!" sahut Olivia.
Tanpa menuggu tanggapan balasan dari Louis, Olivia segera memutus sambungan telepon, agar tidak mengganggu Louis yang sedang mengemudi.
***
Tidak berapa lama Olivia menunggu di depan gedung apartemennya, Louis sudah menjemputnya, dan mereka berdua lantas bergegas pergi dari sana.
"Tumben, kamu mengajakku makan siang," celetuk Olivia, ketika mereka sedang di perjalanan, menuju tempat yang menjadi tujuan Louis untuk makan siang bersamanya.
"Aku ingin membeli sesuatu, dan aku mau meminta bantuanmu untuk memilih," sahut Louis, tanpa mengurangi konsentrasinya yang sedang berkendara di jalan raya, yang padat dengan kendaraan bermotor.
"Memangnya, kamu mau membeli apa? Kenapa sampai harus membutuhkan bantuan untuk memilihnya?" tanya Olivia penasaran.
Namun pertanyaan Olivia tidak dijawab oleh Louis, sampai mereka tiba di sebuah rumah makan yang berada di tengah-tengah pusat perbelanjaan.
Bahkan, sampai mereka selesai makan pun, Louis tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu, dan justru mengajak Olivia untuk membicarakan hal yang lain.
Hingga mereka berdua mulai berjalan-jalan di antara pertokoan, barulah Louis mau mengatakan apa yang dia cari.
"Aku mau membeli hadiah untuk seseorang yang spesial," Louis tampak memasang wajah serius, saat menatap Olivia dan bicara padanya.
"Ooh ...! Hadiah untuk laki-laki atau perempuan?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Perempuan," jawab Louis.