Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 68


__ADS_3

Dengan mengetahui bagaimana nekatnya Angelo, hingga bisa melabrak dekan di universitas, memang hanya membuat Olivia merasa semakin khawatir.


Karena kemungkinan besar, Angelo akan melakukan semua ancaman yang dikatakannya, kepada Olivia.


Lalu, bagaimana jika Angelo sampai tahu, jika Hansen dan Johan, telah mengutarakan perasaan mereka, dan mencoba mendekati Olivia?


Apa yang akan terjadi nanti?


Bagaimana jika Angelo memanfaatkan kekuasaan dan pengaruhnya, sebagai salah satu investor terbesar untuk Andersen's Construction, demi membuktikan perkataannya kepada Olivia? 


Olivia tahu dengan baik, kalau latar belakang dari Angelo, sanggup untuk mengacaukan hubungan bisnis, dan mengguncang perusahaan milik Johan.


Dengan demikian, Olivia tidak mau, jika hanya karena masalah pribadinya dengan Angelo, lalu membuat Johan terluka, baik fisik maupun mentalnya.


Hanya dengan membayangkannya saja, akan efek berantai yang kemungkinan bisa terjadi, sanggup untuk membuat lutut Olivia gemetar hebat, saking takutnya.


"Saya tidak tahu harus memulainya dari mana," kata Olivia, dengan suara bergetar.


Kelihatannya, Jericho menyadari kekhawatiran Olivia, walaupun Olivia belum mengutarakan, tentang hal apa yang membuat Olivia menjadi cemas.


Olivia bisa berpikir demikian, karena Jericho yang tiba-tiba berpindah tempat duduk ke sampingnya, lalu mengambil salah satu tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat.


Tingkah Jericho itu, seolah-olah dia sedang ingin menenangkan Olivia, agar bisa bicara terbuka, tanpa merasa ragu.


"Coba saja! Aku akan mendengarkanmu," sahut Jericho, sambil memiringkan kepalanya, seolah-olah sedang berusaha, agar dia bisa bertatapan mata dengan Olivia.


"Sebenarnya, orang yang dicari oleh Angelo adalah saya. Saya lah orang yang masih dianggapnya sebagai kekasihnya," kata Olivia.


Mata Jericho tampak melebar, seolah-olah dia sangat terkejut, saat mendengar perkataan Olivia itu.


"Bukannya katamu tadi, dia hanya mantan kekasihmu?" tanya Jericho, yang tampak menautkan alisnya, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Iya ... Karena saya memutuskan hubungan kami ... Walaupun hanya secara sepihak," jawab Olivia, pelan.


"Lalu, apa kamu berencana, untuk kembali berhubungan dengannya?" tanya Jericho.


"Saya tidak tahu, Sir ... Tapi ... Apa ... yang ... harus ... saya ... lakukan?" Olivia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, hingga suaranya semakin bergetar.


Jericho tiba-tiba memeluk Olivia dengan erat, lalu mengusap-usap punggung Olivia secara perlahan-lahan, sambil berkata,


"Olivia! ... Aku anggap kalau kamu berarti sempat menemuinya tadi. Lalu, apa yang dia katakan padamu? ... Apa yang dikatakan Angelo, hingga membuatmu bisa sampai seperti ini?"


Walaupun Olivia tidak segera menjawab pertanyaannya, Jericho tetap memeluk Olivia dan tidak berhenti mengusap-usap punggung Olivia, seolah-olah dia sedang berusaha keras, agar Olivia bisa kembali tenang.


Perlakuan Jericho kepadanya itu, memang cukup untuk membuat Olivia merasa sedikit lebih tenang, dan juga merasa sedikit yakin untuk bicara terbuka kepada Jericho.


Setelah beberapa kali menghela nafas panjang, Olivia mendorong Jericho, pelan, agar melepaskan pelukannya dari Olivia. 

__ADS_1


Olivia kemudian menceritakan kepada Jericho, tentang apa saja yang dikatakan oleh Angelo kepadanya, hingga membuatnya merasa khawatir.


Olivia bahkan menceritakan bagaimana hubungannya dengan Angelo, hingga alasannya sampai Olivia mengakhirinya.


Berikut juga dengan cara yang dipakai Olivia, untuk memutuskan hubungannya dengan Angelo, hingga Angelo masih menganggap Olivia sebagai kekasihnya, juga tidak luput dari penjelasan Olivia kepada Jericho.


Akan tetapi, karena masih merasa tidak terlalu nyaman, jika Olivia harus menceritakan tentang Johan, sehingga Olivia tidak sepenuhnya bicara jujur saat itu.


Olivia masih menutup-nutupi dari Jericho, kalau yang sebenarnya, Johan juga telah mengungkapkan perasaan tertariknya kepada Olivia.


Olivia hanya menyebutkan Hansen saja, dan mengutarakan kecemasannya, kalau sampai Angelo bertindak nekat, dan kemungkinan hanya akan membuat Hansen terluka.


Sementara Olivia berbicara, Jericho tampak mendengarkan semua perkataan Olivia dengan saksama, tanpa ada tanda-tanda akan menyela perkataan Olivia, walaupun hanya sekali saja.


Jericho tampak sabar mendengarkan curahan hati Olivia, yang menyimpan kecemasan, beserta alasan, yang membuat Olivia tidak mau kembali menjadikan Angelo, sebagai kekasihnya lagi.


"Karena kamu yang ikut dengan kami tadi, jadi aku anggap kalau kamu mungkin belum memberitahu Hansen, tentang hal ini. Benar begitu?" 


Jericho baru membuka mulutnya untuk berbicara, setelah Olivia sudah selesai bercerita kepadanya, dan hanya terdiam untuk beberapa saat.


Olivia mengangguk pelan. "Iya."


"Kamu menyukai Hansen?" tanya Jericho. 


"Saya menyukainya, tapi belum sampai menginginkannya, agar menjadi kekasih saya. Dengan adanya hal ini, saya akan memintanya agar segera menjauh dari saya, dan berhenti menghubungi saya lagi," jawab Olivia.


"Percuma saja, jika kamu menyuruh Hansen menjauhimu. Aku rasa, Hansen tidak akan mendengarkan permintaanmu. Aku mengenal sifatnya dengan baik....


... Apalagi jika hanya karena ancaman dari orang luar, walaupun orang itu adalah Angelo. Justru kalau sampai Hansen tahu tentang hal ini, maka dia akan semakin gencar untuk mendekatimu," kata Jericho.


"Walaupun Hansen tampak seperti orang yang santai, tapi dia adalah orang yang paling berani dan keras kepala, yang pernah aku kenal," lanjut Jericho.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, agar Hansen tidak ikut terlibat?" tanya Olivia, frustrasi.


"Tidak ada ... Kecuali kamu memiliki kekasih, atau menikah dengan orang lain. Karena kalau kamu hanya mencoba untuk menghindari Hansen begitu saja, justru Hansen akan curiga....


... Dan seperti yang aku bilang tadi. Jika Hansen sampai tahu, kalau kamu menghindarinya karena Angelo, maka dia yang mungkin akan memicu pertengkaran lebih dulu dengan Angelo," jawab Jericho.


"Oh, gosh!" ujar Olivia, yang merasa semakin frustrasi, sambil memijat-mijat keningnya, karena kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Hmm ... Kalau kita tidak membicarakan tentang hal ini, maka aku juga mungkin masih tetap salah paham kepadamu," celetuk Jericho.


Olivia yang sempat memejamkan matanya, sambil memijat keningnya tadi, kemudian segera membuka matanya, dan menatap Jericho, lalu berkata,


"Apa maksud anda, Sir?" 


"Aku mengira kalau kamu sudah berkencan dengan Hansen, hingga Hansen jadi lebih protektif terhadapmu, dan seolah-olah mendorongku menjauh," jawab Jericho.

__ADS_1


Olivia jadi teringat kembali, tentang pesan-pesan yang dikirimkan oleh Jericho kepadanya, dan pembicaraan antara dirinya dan Jericho di kafetaria siang tadi.


"Sir! ... Apakah anda berpikir, kalau Hansen mendorong anda menjauh, itu karena saya? Anda mengira, kalau saya akan mendominasi pertemanan anda dengannya? Apa itu maksud dari pesan-pesan yang anda kirimkan kepada saya? 


...Anda meminta maaf berkali-kali. Meminta agar kita bisa bertemu secara pribadi, dengan alasan bahwa anda ingin menjelaskan situasi, yang terjadi di hari ulang tahun Jonah. Anda bertanya berkali-kali, tentang seberapa istimewanya hubungan saya dengan Hansen....


.... Apa itu semua karena anda khawatir, jika Hansen mungkin akan membenci anda, karena tidak memperlakukan saya dengan baik?" ujar Olivia.


Olivia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Maafkan saya, Sir ... Jika kedekatan saya dengan Hansen, hanya membuat anda sampai merasa tersingkir. Tapi anda harus yakin, kalau hal itu tidak akan terjadi....


... Karena saya tidak akan mengambil alih perhatian Hansen, untuk diri saya sendiri. Anda pasti tetap akan menjadi sahabatnya," ujar Olivia.


Dugaan Olivia, jika dia sudah menjelaskan hingga serinci itu, seharusnya Jericho sudah lebih dari puas mendengarnya.


Akan tetapi, setelah Olivia selesai berbicara, Jericho justru memasang raut wajah serius, dan tampak menautkan alisnya, seolah-olah penjelasan Olivia itu, tidak memuaskan baginya. 


"Apa kamu mendengar, apa saja yang kamu katakan?" tanya Jericho. 


"Tentu saja!" sahut Olivia. "Apa anda masih kurang puas dengan penjelasan dari saya?"


"Olivia! ... Tampaknya sekarang ini, justru kamu yang telah salah paham," kata Jericho.


"Apa maksud anda?" tanya Olivia bingung.


"Yang aku cemaskan, adalah jika kamu mungkin membenciku, karena kejadian di malam ulang tahun Jonah, dan yang ternyata juga menjadi hari ulang tahunmu....


... Dan karena aku mengira bahwa kamu telah berkencan dengan Hansen, hingga kamu mungkin memberitahunya tentang kebencianmu itu. Sampai-sampai Hansen memaksaku, untuk meminta maaf kepadamu," kata Jericho.


Walaupun Jericho tampaknya sudah berusaha menjelaskannya, tapi menurut Olivia penjelasan dari Jericho itu masih membingungkan bagi Olivia.


Karena perkataan dari Jericho itu, justru terdengar seperti orang yang sedang merasa cemburu, seolah-olah dia cemburu dengan hubungan antara Olivia dengan Hansen.


Tapi cemburu seperti apa? 


Jericho cemburu karena Hansen yang lebih membela Olivia, dan menyepelekan Jericho? 


Ataukah mungkin Jericho cemburu, karena dia yang mengira, kalau Olivia telah menjadikan Hansen sebagai kekasih?


Tentu untuk pilihan kemungkinan yang ke-dua, harus disingkirkan, karena rasanya, tidak mungkin jika Jericho jatuh cinta kepada Olivia.


"Saya tidak mengerti, Sir," kata Olivia.


Jericho yang sedari tadi memang masih duduk di samping Olivia, kemudian memegang dagu Olivia, dan menahannya.


Olivia yang masih kebingungan, dan tidak tahu akan berkata atau berbuat apa-apa, akhirnya hanya terdiam, saat matanya bertatap-tatapan dengan Jericho.

__ADS_1


Yang terjadi selanjutnya, hanya sepersekian detik saja, hingga Olivia tidak sempat berpikir lagi, ketika bibir Jericho telah menyentuh bibir Olivia, dan menciumnya dengan lembut untuk beberapa saat.


"Apa kamu mengerti sekarang? ... Aku mencintaimu Olivia," kata Jericho, pelan, lalu kembali mendekatkan wajahnya, ke arah Olivia.


__ADS_2