Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 9


__ADS_3

Setelah melihat raut wajah Johan yang tampak kecewa, ketika membicarakan tentang pertemanannya dengan mommy dari Olivia, Olivia merasa sedikit bersalah, karena bukan seperti itu maksud Olivia sebenarnya.


"Hmm ... Sir! ... Mommy pernah menyebut nama anda, hanya saja dia tidak memberitahu saya, kalau anda adalah CEO dari perusahaan tempatnya dan tempat saya bekerja," ujar Olivia, mencoba meluruskan kesalahpahaman.


"Benarkah? ... Hmm ... Salahku kalau begitu. Karena memang waktu itu, saya belum menjadi CEO. Dan hanya menjadi Direktur seperti Jericho sekarang ini," sahut Johan.


"Grandpa!"


Tepat saat Johan berhenti berbicara, tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang setengah berteriak, di dalam ruang perawatan Johan itu.


Semua mata yang ada di dalam ruangan itu, serempak melihat ke arah datangnya suara.


Jonah yang berjalan mendekat, tampak kegirangan, sekaligus juga tampak kebingungan, matanya sibuk melihat ke arah Jericho, Johan dan Olivia bergantian.


Seolah-olah, Jonah kebingungan hendak menyapa siapa dari mereka lebih dulu.


"Halo!" Jonah menyapa sambil melambaikan tangannya.


"Hai, Jonah!" sapa Johan, dan Olivia bersamaan.


"Hai, dad!" sapa Jonah, sambil melihat ke arah Jericho, namun dia hanya berjalan melewati daddy-nya itu, dan terus menghampiri Olivia dan Johan.


"Hai, Miss!" sapa Jonah sambil menatap Olivia, lalu mendekat kepadanya, seolah-olah ingin mendapat pelukan dari Olivia.


Olivia segera memeluk Jonah, dan Jonah membalasnya dengan pelukan yang hangat dan erat.


"Aku menyapa Grandpa dulu, ya?!" ujar Jonah, melepaskan pelukannya dari Olivia.


"Okay!" jawab Olivia sambil tersenyum.


"Grandpa! Apa Grandpa baik-baik saja?" Jonah mengulurkan tangan kecilnya, dan Johan segera menggenggamnya.


"Iya. Grandpa baik-baik saja. Terima kasih untukmu, yang sudah mencarikan bantuan untuk menolong Grandpa," jawab Johan, yang tampak tersenyum lebar.


"Hmm ... Grandpa seharusnya berterima kasih kepada Missโ€”" Jonah tiba-tiba menghentikan kalimatnya, lalu menatap Olivia.


"Olivia." Jericho seakan-akan mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Jonah.


"Iya. Miss Olivia. Grandpa harus berterima kasih kepadanya," lanjut Jonah, sambil menepuk-nepuk pelan tangan Olivia.


Olivia hampir tidak bisa menahan rasanya yang ingin tertawa, karena menurutnya, gerak-gerik Jonah tampak sangat menggemaskan, hingga rasanya ingin mencubit pipi Jonah yang merona merah itu.


"Terima kasih, Olivia !" ucap Johan, mengikuti keinginan Jonah, sambil tersenyum lebar.


"Jonah mau duduk?" tanya Olivia, berniat memberikan kursinya kepada Jonah, tapi anak laki-laki itu malah mengulurkan kedua tangannya ke arah Olivia.


"Bisa aku duduk di pangkuanmu, Miss?" tanya Jonah.

__ADS_1


"Jonah!" ujar Jericho buru-buru, dan tampak memasang raut wajah kesal.


"Tidak apa-apa, Sir!" kata Olivia, lalu kembali melihat Jonah. "Tentu saja."


Olivia lalu mengangkat Jonah, hingga anak itu bisa terduduk di atas pangkuannya.


Jericho tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat tingkah anaknya yang seolah-olah ingin bermanja kepada Olivia.


"Jonah dari mana saja? Kenapa tidak datang bersama-sama daddy?" tanya Johan.


"Aku tadi pergi berbelanja, Grandpa." Jonah kemudian beranjak turun dari atas pangkuan Olivia, lalu menatap Olivia lekat-lekat.


"Tunggu sebentar ya, Miss?!" ujar Jonah, lalu berjalan dengan cepat menjauh dari situ.


Lagi-lagi, semua mata memandangi Jonah, dan mengikuti ke arah mana anak laki-laki itu pergi.


"Apa lagi yang akan dia lakukan kali ini?" Jericho tampak bersungut-sungut, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ketika Jonah kembali, dia membawa satu kantong kertas, lalu menyerahkannya kepada Olivia. "Ini untukmu, Miss! Terima kasih, karena telah menolong Grandpa!"


Olivia terbelalak. "Ugh ...?"


"Jonah tidak perlu repot-repot membelikan sesuatu untukku," ujar Olivia.


"Terimalah, Miss! Aku membelinya dengan uangku, dan bukan memakai uang daddy. Aku juga yang memilihnya sendiri."


"Bagaimana, Miss? Apa Miss menyukai hadiahku?" tanya Jonah.


"Tentu saja! Syal ini sangat indah. Jonah pintar memilihnya. Terima kasih, Jonah!" jawab Olivia, lalu mencubit pelan pipi Jonah, saking gemasnya.


"Miss ...! Jangan mencubit pipiku!" Jonah tampak memiringkan sedikit kepalanya, dan menunjuk ke arah salah satu pipinya yang terarah kepada Olivia.


Menurut dugaan Olivia, Jonah tampaknya ingin mendapatkan kecupan di pipinya itu, dan Olivia pun memegang kedua sisi wajah Jonah, lalu mengecup pipi kiri dan kanannya.


"Ini lebih baik!" ujar Jonah, sambil tersenyum lebar.


Seketika itu juga Johan dan Olivia tertawa terbahak-bahak, sedangkan Jericho tampak mendengus kasar, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Di dalam ruangan perawatan Johan itu, kini jadi lebih ramai dan ceria, karena celoteh demi celotehan Jonah.


Jonah menceritakan banyak hal kepada Olivia.


Mulai dari kejadian malam itu, tentang bagaimana Johan bisa jatuh pingsan di luar gedung.


Olivia jadi tahu, kalau kemarin siang itu Johan baru datang dari luar negeri, dan Jonah ingin sekali bermain dengan Grandpa-nya itu.

__ADS_1


Tapi, karena di dalam gedung terdapat banyak orang, dan tidak ada tempat yang cukup lega bagi Jonah, untuk menghabiskan waktu dengan Johan, sehingga Johan membawa Jonah untuk bermain di luar.


Dan mungkin karena kelelahan di perjalanan, sampai-sampai Johan akhirnya jatuh pingsan di luar gedung itu.


Johan juga ikut mengklarifikasi cerita Jonah, dan membenarkan bagaimana situasi yang terjadi malam tadi, kalau memang benar begitu adanya.


Jonah bahkan menceritakan kepada Olivia, tentang apa saja yang biasanya dia lakukan setiap harinya.


Sampai akhirnya tiba waktunya untuk makan siang, dan Jericho mengajak Olivia untuk makan siang bersamanya dan Jonah.


"Olivia! Ikutlah dengan kami! Kita pergi makan siang," ujar Jericho.


"Hmm ... Baiklah!" sahut Olivia.


Jericho kemudian berjalan ke luar lebih dulu bersama Jonah, dan meninggalkan Olivia di situ untuk berpamitan kepada Johan.


"Sir! Istirahatlah dengan baik. Jangan sampai anda jatuh sakit lagi. Senang bertemu dengan anda. Sampai jumpa lagi!" kata Olivia.


"Iya. Aku juga senang bisa mengenalmu. Apa aku bisa bertemu denganmu lagi?" ujar Johan.


"Maksudku, apa aku bisa mengundangmu makan di luar bersamaku nanti, sebagai ungkapan terima kasih?" lanjut Johan buru-buru.


"Hmm ... Sebenarnya, anda tidak perlu melakukannya. Tapi bisa saja, kalau anda memang mau seperti itu," sahut Olivia.


"Kalau begitu, aku bisa meminta nomor kontak pribadimu?" tanya Johan, terdengar ragu.


Olivia tersenyum. "Iya, Sir."


Johan kemudian terlihat mengambil ponselnya, lalu mengetik di layar ponselnya, sambil Olivia menyebutkan angka-angka dari nomor kontaknya.


"Baik, Sir! Saya pergi dulu! Sir Andersen dan Jonah sudah menunggu," kata Olivia.


"Okay!" sahut Johan. "Hati-hati di jalan!"


"Yes, Sir!" Olivia melambaikan tangannya, sambil tersenyum ke arah Johan, yang juga tampak tersenyum melihatnya.


***


"Apa yang menahanmu di dalam tadi?" tanya Jericho tiba-tiba, saat mereka sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah makan.


"Sir Andersen meminta nomor kontak pribadiku," jawab Olivia, lalu sekalian melirik sebentar ke jok penumpang bagian belakang, di mana Jonah sedang duduk sendiri di situ.


"Untuk apa?" tanya Jericho lagi.


"Hmm ... Katanya tadi, Sir Andersen ingin mengajak saya makan di luar, sebagai bentuk rasa terima kasihnya," jawab Olivia.


"Jadi, kamu menyetujuinya?" Lagi-lagi Jericho bertanya kepada Olivia.

__ADS_1


Olivia lalu menoleh ke arah Jericho di sampingnya. "Iya, Sir."


__ADS_2